LOGINRyan membuka pintu kamarnya dan langsung berhadapan dengan Adel yang sudah berpakaian rapi, siap untuk berangkat kerja.
Rambut hitamnya yang panjang diikat rapi, blazer dan rok pensil membalut tubuhnya dengan sempurna.
Namun, ada sesuatu yang berbeda pagi ini. Adel tampak sedikit canggung, matanya menghindari tatapan Ryan, dan ada semburat merah tipis di pipi
Langit sudah gelap total ketika Ryan Pendragon akhirnya menghentikan langkahnya. Di hadapannya, perkemahan milik Divine Palace berdiri seperti kota kecil yang tidak pernah tidur. Lentera-lentera menggantung di tiap sudut, menerangi tenda-tenda yang berderet rapi sampai ke dalam. Penjaga berpatroli dengan langkah santai, mengobrol pelan, sesekali tertawa kecil di antara mereka. Tidak ada yang curiga. Tidak ada yang waspada. Wajar. Myriad Sword Palace terkurung di balik formasi perlindungan mereka sendiri, tersekap dari dalam seperti orang yang mengunci pintu rumahnya sendiri karena takut perampok. Tidak ada yang akan repot-repot menyerang dari luar. Untuk apa? Siapa yang cukup bodoh untuk berjalan sendirian ke depan gerbang musuh di tengah malam? Tidak ada yang waras. Ryan menyipitkan mata, mengukur jarak ke gerbang. Formasi terlarang di area ini memang menekan semua orang tanpa terkecuali, termasuk dirinya. Tapi justru itu masalahnya buat mereka. Lawannya jauh lebi
BOOM! BOOM! BOOM! Pertarungan itu tidak seimbang dari detik pertama. Sepuluh kultivator Creation menyerang dari berbagai sudut sekaligus, tidak memberikan ruang untuk bernapas, tidak memberikan celah untuk memfokuskan serangan ke satu titik yang bisa dieksploitasi. Jason Klean bergerak di antara mereka seperti seseorang yang sudah memutuskan tidak akan membiarkan dirinya dihabisi tanpa harga yang sepadan. Satu kultivator Ranah Creation dari Divine Palace terlambat menghindar dari sapuan pedang Jason Klean yang tidak peduli dengan pertahanannya sendiri. Pedang itu masuk dari sisi kiri, menembus baju besi, keluar di sisi kanan. Kultivator itu ambruk dengan lubang menganga di dadanya dan tidak bangkit lagi. "BUNUH DIA!" Kultivator Ranah Creation tingkat enam dari Divine Palace melepaskan serangan yang tidak memberikan arah untuk dihindari. Jason Klean menerima sebagian dampaknya, darah menyembur dari punggungnya di mana pedang lawan menyayat melewati pertahanannya. Lututnya m
"Semua orang, bersiap untuk evakuasi!"Tetua Nox sudah setengah berdiri dari posisinya ketika suara itu datang dari arah pintu masuk markas."Tetua Nox, jangan khawatir. Ini aku."Ruangan yang tadi sudah bergerak ke mode siaga berhenti serentak. Kepala-kepala berpaling ke satu arah.Ryan berdiri di ambang pintu aula utama.Kondisinya tidak prima. Ada luka yang belum sepenuhnya sembuh di beberapa bagian yang terlihat, pakaiannya compang-camping di beberapa tempat, dan auranya yang sudah kembali ke Primordial Chaos terasa jauh lebih tipis dari terakhir kali dia ada di sana. Tapi dia berdiri tegak. Dia ada. Dan di belakangnya, seorang pria tua dengan botol labu anggur di tangan berdiri dengan postur seseorang yang sedang mampir santai di sore hari, seolah tidak ada yang terjadi sama sekali.Tetua Nox menatap Harold Guard satu kali, matanya menimbang sebentar, lalu menoleh ke Ryan tanpa mengajukan pertan
Harold Guard berjalan keluar dari gelap, labu anggur di tangannya, langkahnya goyah seperti biasa. Dia berdiri di antara Ryan dan Tetua Fang tanpa mengubah postur atau ekspresinya sedikit pun.Tetua Fang menatap pria tua itu."Siapa kau? Kau tahu ini wilayah Klan Laut? Ikut campur dalam urusan ini, dan kau akan menyesal sampai akhir hayatmu."Harold Guard menoleh ke Ryan satu kali, memastikan kondisinya. Matanya sebentar saja melihat luka di sudut bibir Ryan dan darah di lantai sebelum kembali menghadap Tetua Fang."Sebetulnya," katanya, labu anggurnya terangkat ke mulutnya untuk satu tegukan panjang, "aku yang membawa anak itu kemari untuk mengambil Kristal Ungu Surgawi. Kalau dipikir, ini salahku juga."Dia menurunkan labu anggurnya."Tapi karena aku tidak mau berurusan lebih jauh, lebih baik kau pergi saja.""BERANI KAU—"Setetes anggur keluar dari mulut labu. Bukan dituang, buka
Ryan mengangguk pelan ke arah Marsh Quinn tanpa berkata apa-apa. Dia melirik sekeliling. Tetua Fang berdiri di posisinya dengan mata yang tidak bergerak dari tubuh Ryan, menunggu momen yang tepat dengan sabar. Dari caranya berdiri, jelas dia tidak akan membiarkan Ryan keluar dari ruang ini tanpa melewatinya dulu. 'Melarikan diri bukan pilihan selama Tetua Fang di sini.' Ryan menghela napas singkat. Di depannya, Marsh Quinn dan Davan Quinn sudah bergerak. Ledakan energi dari pertempuran mereka menggetarkan seluruh area bawah penjara es, gelombang demi gelombang menekan ke segala arah bergantian. Tapi Ryan tidak punya kemewahan untuk mengamati pertempuran itu lebih dari satu detik. "MANUSIA LEMAH!" Tetua Fang melesat ke depan. Kemarahannya sudah melewati titik yang bisa dikontrol dengan akal sehat. Leon Frey mati di tangannya. Formasi penyegelnya diangkat dan dilempar balik ke kerumunannya sendiri. Ledakan Seribu Artefak melukainya dua kali. Setiap satu dari itu ada
Tidak ada waktu untuk berhenti. Tangannya merogoh cincin penyimpanannya. Sepuluh artefak tingkat Dao Integration dan dua artefak tingkat ruang-waktu keluar bersamaan, melayang di udara membentuk pola yang sudah pernah dipakai sebelumnya. Senyum tipis muncul di bibirnya. Ironis, tapi tidak ada pilihan lain yang lebih baik dari ini. "Ledakan Seribu Artefak." WENG! Artefak-artefak itu mulai bergetar dengan frekuensi yang membuat air di sekitar mereka berguncang. Pusaran terbentuk dari setiap artefak, saling memperkuat satu sama lain sampai resonansi gabungan mereka melampaui jumlah masing-masing bagiannya. BOOM! Ledakan merobek seluruh area bawah penjara es dalam satu gelombang yang tidak membeda-bedakan apa yang berdiri di jalurnya. Kultivator Klan Laut yang sudah mulai berkumpul kembali dari kekacauan formasi tadi terlempar ulang. Beberapa tidak bangkit lagi. Air yang memenuhi area itu bergolak membentuk pusaran yang menarik ke bawah siapapun yang tidak cukup kuat untuk
"Aku tidak tahu tentang hal itu, jadi tolong beri tahu aku dengan detail," kata Ryan dengan nada tenang yang menyembunyikan niatnya. Demon King Zealot Brook menghela napas panjang, matanya menatap jauh seolah mengenang masa lalu. "Baiklah, akan kujelaskan dari awal. Dunia ini... Gunung Langit Biru
"Energi yang terkandung dalam inti binatang iblis ini tidak buruk!" komentar Ryan sambil mengamati inti berwarna ungu di tangannya."Esensi darah emas… Ini juga hebat!"Ryan mengulurkan tangan kirinya, dan kekuatan hisap meledak dari telapak tangannya, yang menyerap seluruh dara
Sementara itu, di Istana Demon Palace, suasana yang semula meriah berubah menjadi tegang. Seekor binatang iblis buaya yang sedang memimpin upacara berdiri di samping Demon King dan menatap Pangeran Ferix bersama permaisurinya di tengah aula. "Mari kita lanjutkan pernikahannya secara resmi!" teria
"Tapi meskipun kau memenuhi syarat untuk melawan para Kultivator Ranah Demigod, bagaimana dengan para Kultivator yang tersisa dari Klan Spirit Blood?" "Apa kau pikir Yulaw Hodge dan yang lainnya bisa menghentikan mereka?" "Setiap Kultivator Ranah Demigod setengah langkah akan membawa Artefak Immo







