LOGINMata Ryan yang sudah kemerahan dari darah menatap Heavenly Sword Saint tanpa berkedip.Tubuhnya tidak dalam kondisi yang bisa disebut baik dari standar apa pun. Setiap tarikan napas terasa seperti menarik udara melalui sesuatu yang sudah tidak utuh dari dalam. Seperti menyedot melalui celah yang tidak bisa ditutup dengan menghendakinya saja. Esensi Pedang Abadi dari serangan tadi masih bekerja dari dalam, merusak perlahan tapi tidak berhenti, seperti racun yang sudah masuk dan tidak peduli berapa lama prosesnya butuh waktu untuk selesai.Tapi kakinya tidak bergerak ke belakang.'Aku belum kalah.'Pedang Iblis Darah di tangannya bergetar kecil, gemetar yang tidak terlihat dari jarak jauh tapi terasa jelas di telapak tangannya. Bukan dari kelemahan. Dari sesuatu yang mengalir masuk ke dalamnya dari telapak tangan Ryan, dari pemahaman yang baru saja menemukan bentuknya dipaksa oleh serangan yang tadi ia tidak punya cara lain selain menerimanya sepenuhnya.Di luar ruangan, Tuan Nove s
Seorang pemuda.Mungkin seusia Ryan secara penampilan, meski waktu yang ada di balik mata itu tidak bisa disebut muda dari parameter mana pun yang manusia biasa gunakan untuk mengukur usia. Rambutnya tidak rapi tapi bukan berantakan, lebih seperti seseorang yang tidak pernah menjadikan penampilannya sebagai prioritas karena ada hal lain yang lebih penting. Jubah yang tidak istimewa, tapi pada tubuh itu terasa seperti pilihan yang disengaja bukan karena tidak punya yang lebih baik. Dan di tangannya, sebuah pedang yang masih di dalam sarungnya, dipegang dengan jari yang melingkar longgar di gagangnya, cara seseorang yang tidak perlu mengeluarkannya untuk membuat siapa pun mengerti bahwa ia tahu cara menggunakannya.Tapi yang paling tidak bisa diabaikan dari semua itu adalah matanya.Dingin bukan karena membenci seseorang atau sesuatu secara spesifik. Dingin karena sudah terlalu lama berdiri di tempat yang tidak ada orang lain yang bisa mencapainya, dan sudah lama tidak menemukan ala
Saint King Lyra Crimson pernah menjadi kultivator yang namanya dikenal luas di masanya, nama yang tidak perlu dijelaskan kepada siapa pun yang hidup di zaman yang sama dengannya. Di masa mudanya, ia bukan hanya cantik, tapi seorang jenius yang tidak mudah ditemukan sekali dalam beberapa generasi. Tapi dibandingkan dengan apa yang baru saja ia saksikan dari seorang pemuda di depannya, ada jarak yang tidak bisa ditutup hanya dengan kata-kata apa pun.Sosoknya memudar perlahan, dimulai dari ujung jarinya dan bergerak ke tengah, sampai tidak ada lagi.Ryan tidak merasa perlu merayakan apa pun, dan tidak ada bagian dari dirinya yang mencari alasan untuk melakukannya.Siapa pun yang berhasil mengalahkan seseorang setingkat Heavenly Saint mungkin akan menceritakannya berulang kali sampai akhir hidupnya, kepada siapa pun yang mau mendengar. Tapi yang ada di dalam dada Ryan bukan kebanggaan atas sesuatu yang sudah dilakukan. Lebih deka
Kekuatan jiwanya bergerak lagi, kali ini tidak ke dalam satu titik tapi ke atas.Di dalam lanskap pikirannya, ada sesuatu yang selama ini sudah ada di sana, mengambang di tempat yang tidak ia sadari keberadaannya, tidak pernah ia sentuh karena tidak ada yang pernah mengajarinya cara mendekatinya dan ia sendiri tidak pernah terpikir bahwa itu bisa didekati.Dao Surgawi.Konsep yang di dunia nyata bukan sesuatu yang bisa disentuh oleh siapa pun. Kekuatan yang menopang seluruh aturan kultivasi, seluruh sistem alam semesta yang ada. Bahkan Heavenly Saint pun tidak pernah mendekatinya dengan cara seperti yang sedang Ryan pikirkan sekarang, tidak dari referensi apa pun yang pernah ia dengar atau baca.'Aku tidak akan menyebutnya sebagai Dao Surgawi. Ini hanya konsep yang aku buat dari pemahamanku tentangnya.'Ryan mengumpulkan seluruh sisa kekuatan jiwanya dan membentuknya bukan menjadi pedang, bukan menjadi teratai, tapi me
Ryan tahu ia tidak akan bisa bertahan lama dengan cara seperti ini. Kekuatan jiwa Saint King Lyra Crimson tidak seperti sesuatu yang bisa diukur dengan satuan yang ia kenali. Setiap gelombang yang dikirimkan lebih rapi, lebih terarah, dan lebih efisien dari serangan sebelumnya. Tidak ada pemborosan, tidak ada celah yang dibiarkan terbuka oleh lalai. Di dalam pikiran Ryan, pita-pita merah terus bergerak mengikis pertahanannya dari setiap sudut yang tersedia secara bersamaan. Satu lapisan pertahanan sudah runtuh. Lapisan kedua retak di tepinya, getarannya terasa sampai ke inti kesadarannya. Ryan memaksakan dirinya untuk tidak panik. Kepanikan hanya akan mempercepat keruntuhannya, dan ia sudah cukup lama bertarung untuk tahu bahwa itu adalah satu-satunya pilihan yang tidak boleh diambil. Yang perlu ia lakukan bukan bertahan lebih keras dari sebelumnya, tapi menemukan sudut yang belum ia coba sama sekali. 'Terus bertahan seperti ini tidak akan menghasilkan apa-apa. Lebih baik
Ryan menundukkan kepalanya sedikit. "Terima kasih, Senior." Tanpa pertarungan dengan Heavenly Saint Cael Ironblood, ia tidak tahu kapan ia akan menemukan prinsip itu sendiri. Bukan pemahaman yang bisa datang dari membaca kitab atau mendengarkan ceramah di tempat yang nyaman. Hanya dari tubuh yang sudah tidak punya pilihan lain selain menemukan cara baru untuk bertahan hidup. "Ini kemampuanmu sendiri." Cael Ironblood berdiri dengan susah payah dari dasar kawah, gerakannya berhati-hati seperti orang yang tahu setiap gerakan menguras sisa yang ada. Auranya melemah dengan cara yang terasa seperti seseorang yang sudah memutuskan bahwa sudah waktunya untuk pergi. "Aku menunggu di sini puluhan ribu tahun, dan sekarang saatnya pergi sepenuhnya." Ia berhenti sebentar. "Sampaikan salamku ke Harold Guard. Dia memilih orang yang tepat." Sosoknya memudar. Bukan secara dramatis dengan cahaya yang meledak ke mana-mana. Lebih seperti salju yang mencair di bawah cahaya matahari yang tidak
"Apa yang terjadi?" Jared Weed bertanya dengan tangan gemetar. "Paman Jared, masalah ini tidak bisa dijelaskan dengan jelas melalui telepon. Ada seseorang di sini yang ingin menantang sekolah. Tolong cepat datang..." Begitu pria itu selesai berbicara, sambungan terputus. Jared Weed bergegas mengen
Dalam sekejap, tangan Ryan sudah mencengkeram leher Phage Weight dan mengangkat tubuh pria itu hingga kakinya tidak menyentuh lantai. "Ugh... le-lepaskan aku!" Phage Weight meronta sekuat tenaga, namun cengkeraman Ryan seperti cakar besi yang tak bisa dilepaskan. Ryan menatapnya dengan sorot mata
Ryan mengerutkan kening, sedikit terkejut dengan keramahan mendadak ini. Namun ia tetap mengangguk mengiyakan. Wajah wanita itu semakin cerah. "Nama saya Wendy, dosen bahasa Inggris di sini. Saya baru bergabung setengah tahun lalu, dan kebetulan tinggal di seberang Anda." "Ryan," balas pemuda itu
Yura Dustin dan ibunya, merasakan ada yang tidak beres, bergegas menghampiri pintu. Begitu melihat pemandangan di luar, mata mereka terbelalak kaget. Keduanya berdiri terpaku, seolah berubah menjadi patung. 'Apakah pemalsuan Ryan telah ditemukan?' batin Yura Dustin panik. 'Apakah militer seefisie







