LOGIN"Anak muda," Nyonya Blackwood berkata dengan suara bergetar, "kau tidak sedang mempermainkan kami, kan? Benarkah Jeremy akan segera sadar?"
Ryan mengangguk mantap, matanya memancarkan keyakinan meski wajahnya menunjukkan kelelahan. "Saya jamin, Nyonya. Saya bukan tipe orang yang suka membual tentang kemampuan saya."
Air mata haru mengalir di pipi Nyonya Blackwood. Dengan
Ryan mengerutkan kening satu kali, singkat, lalu membiarkan wajahnya kembali datar.PLAK! PLAK!Dua tamparan mendarat di pipi kedua penjaga itu dalam gerakan yang hampir terlalu cepat untuk diikuti mata. Keduanya melayang ke udara sebelum tubuh mereka menyusul arah yang sama dengan pipi mereka yang baru saja dihantam, lalu menghantam tanah di sisi kanan dan kiri pintu gerbang dengan suara berdebum yang memadamkan semua aktivitas di area sekitarnya seketika.Tidak ada sepatah kata pun. Tidak ada peringatan. Tidak ada ancaman yang diucapkan terlebih dahulu.BOOM!Satu tendangan ke daun pintu. Kayu tebal yang dilapisi logam itu pecah berkeping-keping dari engselnya, serpihan beterbangan ke dalam halaman utama kediaman Keluarga Clark seperti hujan yang tidak punya sopan santun. Debu mengepul naik. Udara di dalam halaman berdenyut dari kekuatan yang baru saja melewatinya, meninggalkan rasa berat yang terasa bahkan oleh orang-orang yang berdiri di ujung halaman."SIAPA YANG BERANI BERLAKU
Dua kekuatan yang masing-masing mengaku lebih besar dari yang lain sedang memperebutkan sebuah cincin yang bahkan ia sendiri tidak tahu isinya. Dan keduanya menginginkan dirinya memilih salah satu pihak, seolah-olah dirinya adalah penentu yang tidak punya kepentingan sendiri dalam urusan ini.Yang lebih menarik bukan cincin itu sendiri. Yang menarik adalah fakta bahwa keduanya muncul karena benda itu. Mata Iblis, yang selama ini jarang bersuara kecuali di momen yang benar-benar tidak bisa ia abaikan, memilih untuk berkompetisi terbuka dengan seseorang yang mengaku pernah menantang Dao Surgawi secara langsung.Apa sebenarnya yang ada di dalam cincin itu?Ryan memasukkan cincin penyimpanan itu lebih dalam ke lipatan jubahnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada keduanya. Lalu ia berdiri dan berjalan keluar dari Kuburan Pedang tanpa menoleh.Keheningan dari dua entitas itu terasa lebih keras dari teriakan mana pun y
Ryan tidak langsung bergerak.Nada suara dari dalam batu nisan itu bukan nada orang yang menawarkan sesuatu yang murah. Ada bobot di baliknya, semacam urgensi yang dikendalikan dengan sangat rapi oleh seseorang yang sudah sangat terbiasa menyembunyikan apa yang sebenarnya ia inginkan.'Apa sebenarnya yang ada di dalam cincin penyimpanan ini?'Lana Clark pernah menyerahkannya begitu saja, dengan cara yang terasa seperti menitipkan sesuatu yang tidak terlalu penting, seperti memberikan titipan kecil yang tidak perlu dijelaskan panjang-panjang. Tapi kalau ada Kultivator bergelar "Dewa" yang memperebutkannya sekarang dari dalam Kuburan Pedang, jelas benda itu bukan sesuatu yang sesederhana kelihatannya."Aku belum tahu identitas aslimu," kata Ryan akhirnya, suaranya hati-hati tapi tidak ragu. "Kalau kau mau aku mempertimbangkan kesepakatan ini, setidaknya aku perlu tahu dengan siapa aku berbicara."WUSHHH!Sosok m
Ryan terdiam sebentar sebelum menjawab. "Aku hanya tahu bahwa sesuatu terjadi pada Guru dan bahwa beliau terjebak di Death Universe Domain." Kata-katanya keluar pelan dan dipilih dengan hati-hati. "Mengenai apakah aku bisa menghubunginya, aku tidak bisa menjamin itu." Jiwa Eliot Lane sudah menghilang. Itu fakta yang Ryan simpan di dalam. Tidak perlu semua dijabarkan di sini, di hadapan dua orang yang belum tentu perlu tahu sejauh itu sekarang. Icy Sword God tidak langsung merespons. Alisnya berkerut tipis, matanya menatap ke titik yang tidak spesifik selama beberapa detik sebelum beralih kembali ke Ryan. "Apakah beliau meninggalkan sesuatu untukmu sebelum menghilang?" tanyanya. "Sesuatu yang spesifik." Ryan menggeleng. "Beliau tidak meninggalkan apa pun. Hanya beberapa instruksi." "Instruksi apa?" "Beliau meminta aku untuk membantu melindungi Myriad Swords Palace." Ryan mengatakan itu dengan tenang, tanpa dramatis. "Aku bersedia mengikuti kedua Senior ke sana." Icy Sword God me
"Adik seperguruan." Jessica Neuro menatap Ryan dengan pandangan yang berbeda dari sebelumnya, lebih dalam, lebih penuh tanda tanya yang tidak tahu dari mana harus mulai. "Sepertinya aku melewatkan banyak hal selama kau di dalam sana." Ryan tidak menjawab. Ia hanya mengusap hidung dengan canggung, satu gerakan kecil yang entah mengapa terlihat lebih jujur dari kata-kata apa pun yang bisa ia ucapkan. Jessica memandangi Tetua Nox dan Tetua Laurel yang kini berdiri diam di belakang Ryan seperti dua bayangan yang punya bobot yang tidak terlihat tapi terasa. Di matanya, ada proses penghitungan yang berlangsung diam-diam tanpa ia pamerkan ke siapa pun, seperti seseorang yang sedang merevisi banyak asumsi sekaligus dalam waktu yang sangat singkat. Fondasi keduanya terlalu dalam untuk diabaikan meski tersembunyi sangat rapi. Dan mereka memanggil seorang kultivator Primordial Chaos dengan "Tuan Muda" tanpa ada keraguan di dalamnya. 'Apakah masih masuk akal mengajaknya menjadi murid bias
"Tunggu! Tunggu! Kalau kau membunuhku, Mad Demon Palace tidak akan pernah membiarkanmu hidup tenang!""Mad Demon Palace?" Ryan melangkah ke depan, berdiri di samping Tetua Nox. Matanya menatap ahli yang menggantung itu dari bawah ke atas, pelan, seperti seseorang yang sedang memeriksa sesuatu yang tidak terlalu menarik perhatiannya. "Menurutmu, kalau aku membiarkanmu hidup, Mad Demon Palace akan membiarkanku pergi begitu saja?"Tidak ada yang menjawab. Bahkan angin terasa seperti menahan dirinya sendiri."Lagipula," lanjut Ryan, nada suaranya tidak naik sedikit pun, "mengapa aku harus peduli dengan Mad Demon Palace?"Dingin. Tapi bukan dingin yang kosong atau dibuat-buat. Di baliknya ada sesuatu yang spesifik dan terukur, seperti seseorang yang sudah mengambil keputusan tentang Mad Demon Palace jauh hari lalu dan tidak pernah mempertimbangkan untuk mengubahnya.Ryan melirik Tetua Nox setengah detik.Pesan yang
Namun, tak lama kemudian, dia menggelengkan kepalanya dengan keras. "Ryan mungkin telah mengalami transformasi sejak insiden di Alchemy Tower, tetapi jarak kekuatan kami masih terlalu besar." "Waktu yang dihabiskannya untuk berkultivasi juga terlalu singkat. Bahkan jika dia terbangun dengan kekuat
Setelah Monica menghilang, lima makhluk yang memancarkan aura sangat menakutkan perlahan turun dari angkasa. Kelima sosok ini berbeda dalam penampilan, namun semuanya memiliki tanda merah darah yang sama di dahi mereka. Mereka adalah anggota Klan Spirit Blood yang tersisa di Alam Rahasia Spirit
Tentu saja, Ryan tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada Yakou Zedd. Meski tidak dekat dengan Yakou Zedd, tetapi hubungan mereka dapat dianggap baik. Terlebih lagi, mereka berdua adalah kultivator bebas, dan mengingat situasinya, bagaimana mungkin Ryan meninggalkannya begitu saja? Sebagai se
"Garis keturunan makhluk itu berasal dari zaman kuno," lanjut Sphinx. "Jika kau bisa menaklukkannya, kau akan memiliki kekuatan untuk menghancurkan setidaknya tiga Kultivator Ranah Supreme Emperor. Bahkan di Alam Rahasia Spirit Blood, para Kultivator Klan Spirit Blood tak akan berani menyentuhmu."







