MasukIni bab kedua pagi ini. Selamat Beraktivitas (◠‿・)—☆
"Tablet Reinkarnasi ini bernama Dust!" Setelah mengucapkan nama itu, pria tua tersebut mengelus janggutnya. Tatapannya menerawang, seolah sedang mengingat masa yang telah berlalu ribuan tahun lalu. "Pada awal terciptanya dunia, alam semesta melahirkan sebuah batu ilahi," katanya. "Batu itu mampu mengendalikan dua kutub besar, gelap dan terang, serta memiliki hubungan dengan roda reinkarnasi." Ryan mendengarkan tanpa menyela. "Setelah melewati waktu yang tak terhitung, batu ilahi itu jatuh ke tangan seorang penguasa. Ia membelahnya menjadi sepuluh bagian dan menyebarkannya ke berbagai dunia fana. Sepuluh pecahan itulah yang kemudian dikenal sebagai Tablet Reinkarnasi." Ryan mulai memahami betapa berharganya benda di hadapannya. Tablet itu bukan sekadar artefak kuno. Asal-usulnya bahkan mendahului banyak hukum yang dikenal di Benua Valorisia. Pria tua itu melanjutkan, "Setiap tablet menyimpan kekuatan berbeda. Hanya orang yang memiliki kemampuan dan takdir tertentu yang bisa mengen
Ryan berdiri di hadapan binatang buas itu tanpa bergerak. Makhluk raksasa tersebut masih terjebak dalam efek Domain Pembantaian. Sepasang matanya dipenuhi ketakutan, sementara Jiwa Primordialnya belum pulih dari ilusi kematian yang baru saja dialaminya. Ryan sebenarnya bisa mengakhiri pertarungan saat itu juga. Namun ia memilih menunggu sampai kesadaran lawannya kembali sepenuhnya. Binatang itu telah mempermainkan dan menghinanya. Karena itu, Ryan ingin makhluk tersebut memahami dengan jelas siapa yang akan membunuhnya. Beberapa detik kemudian, kabut di mata binatang buas itu mulai menghilang. Ia akhirnya menyadari bahwa adegan ketika cakarnya menghancurkan tubuh Ryan hanyalah ilusi. Pemuda di depannya masih berdiri di tempat semula, tubuhnya berlumuran darah, tetapi tatapannya tetap dingin. Cakar raksasa yang terangkat mendadak berhenti. Ketakutan yang baru saja mereda kembali muncul, kali ini jauh lebih kuat. Ryan mengangkat Pedang Feralrot. Energi di dalam Domain Pemban
"Apa?!" Binatang buas raksasa itu memekik kaget. Keempat matanya membelalak, seolah baru saja melihat sesuatu yang mustahil. Tidak mungkin. Ini pasti hanya ilusi. Pasti karena tubuhnya sudah terlalu lelah setelah bertarung begitu lama. Namun ketika ia melihat niat membunuh yang menyelimuti Ryan mulai berubah menjadi sesuatu yang hampir nyata, seluruh tubuhnya langsung menegang. Niat membunuh itu tidak lagi sekadar aura. Ia memadat. Ia menyebar. Ia membentuk tekanan yang menguasai ruang di sekitar Ryan. Mata binatang buas itu menyipit tajam. Suaranya bergetar saat ia berseru, "Itu... kekuatan domain!" Ia menatap Ryan seperti sedang menatap monster. "Bagaimana mungkin?!" Ryan hanyalah kultivator Ranah Dao Integration. Bagi kultivator pada tingkat itu, sekadar menyentuh jejak kekuatan hukum saja sudah sangat langka. Orang semacam itu pasti akan dianggap jenius di antara para jenius. Namun kekuatan domain? Itu sama sekali berbeda. Domain bukan sesuatu yang bisa dipaham
Ryan yang sejak tadi berjalan perlahan ke arah binatang buas itu tiba-tiba berhenti. Langkahnya terhenti begitu saja. Binatang buas itu terpaku sesaat ketika melihatnya. Lalu, secercah harapan muncul di keempat matanya. Apakah akhirnya manusia ini sudah mencapai batas? Setelah bertarung begitu lama, bahkan dirinya sendiri hampir tidak sanggup lagi mempertahankan napas. Tubuhnya penuh luka, energi spiritualnya kacau, dan kekuatannya sudah terkuras jauh lebih banyak dari yang ia bayangkan. Kalau seekor binatang kuno Ranah Star Seed sepertinya saja sudah mulai kelelahan, bagaimana mungkin Ryan bisa bertahan lebih lama? Pemuda itu hanya kultivator Ranah Dao Integration. Terlebih lagi, sepanjang pertarungan tadi, Ryan sudah berkali-kali menerima luka yang seharusnya cukup untuk membunuhnya. Namun kali ini, binatang buas itu tidak langsung menyerang. Ia sudah pernah dibuat lengah sebelumnya. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Binatang itu menarik napas dalam-dalam,
Binatang buas itu terengah-engah. Dada lebarnya naik turun dengan berat, dan napas panas menyembur dari lubang hidungnya seperti asap. Serangan cahaya kelabu barusan jelas menguras banyak tenaga, bahkan bagi makhluk kuno sekuat dirinya. Namun ia tidak berhenti. Tidak mungkin berhenti. Selama Ryan masih bergerak, selama manusia itu belum benar-benar mati, kegelisahan di dalam hatinya tidak akan hilang. Tubuh raksasanya kembali melangkah maju. Boom! Setiap pijakan membuat tanah domain berguncang. Retakan menyebar di permukaan kelabu yang tandus, sementara kabut iblis di sekitarnya berputar semakin liar. Binatang itu mendekati Ryan, lalu mengayunkan cakarnya tanpa jeda. Satu sabetan. Dua sabetan. Tiga sabetan. Setiap serangan membawa gemuruh angin yang merobek udara. Bayangan cakar memenuhi pandangan, seolah ingin mencincang tubuh Ryan sampai tidak ada bagian utuh yang tersisa. Di sisi lain, keadaan Ryan jauh dari baik. Cahaya kelabu tadi menghantam tubuhnya secara telak
Niat membunuh yang meledak dari tubuh Ryan langsung membanjiri seluruh domain.Tekanan itu menyapu ke segala arah seperti banjir besar yang menelan semua yang dilewatinya. Kabut iblis di dalam domain bergolak liar, seolah dipaksa tunduk oleh kekuatan yang tidak seharusnya ada di tempat ini.Binatang buas itu langsung menyadari ada yang salah.Wilayah ini adalah domainnya.Di dalam domain ini, ia seharusnya menjadi penguasa mutlak. Setiap jengkal ruang, setiap gumpal hawa iblis, bahkan tekanan yang menghimpit tubuh Ryan, semuanya seharusnya berada di bawah kendalinya.Namun sekarang, cengkeraman itu mulai longgar.Niat membunuh Ryan sedang mengganggu kendalinya atas domain.Bukan sekadar menahan.Bukan sekadar melawan tekanan.Niat membunuh itu benar-benar melemahkan hubungan binatang itu dengan domainnya sendiri.Keempat mata binatang buas itu membelalak.Bagaimana
Hanna melangkah maju dan meludah dengan nada menuduh, "Jangan kira kau bisa lolos dengan kartu debit palsu! Jika transaksi ini gagal, kau akan masuk penjara karena penipuan!"Matanya berkilat penuh kebencian, seolah-olah dia berharap Ryan akan langsung hancur di tempat. Adel, yang berdiri di sampin
Melanie menatap ibunya yang baru saja diselamatkan Ryan dari percobaan bunuh diri. Napas lega keluar dari mulutnya, dan ia hendak mengucapkan terima kasih. Namun, kata-kata Ryan berikutnya membuatnya tertegun.Melanie merasakan kepalanya berdenyut. Berbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya.'Buk
Ketika Ryan mendengar ini, wajahnya dipenuhi ekstasi yang tidak bisa disembunyikan.Hadiah ini begitu besar sehingga bahkan jika ia harus mempertaruhkan nyawanya lagi, ia bersedia melakukannya tanpa ragu!Pada saat itu, pancaran tujuh warna akhirnya menghilang perlahan seperti e
"Semuanya, ini baru hadiah pertama dari banyak kejutan." Suara Ryan yang santai memecah keheningan mencekam. "Aku tidak pernah pelit kepada teman-temanku, dan aku tidak pernah menunjukkan belas kasihan kepada musuh-musuhku!" Wajahnya penuh senyum ceria yang mengerikan, seolah baru saja memberikan







