MasukTerima Kasih Kak Aiyub, Kak Yan, Kak Lawyer, Kak Ayub, dan Kak Mohammad atas dukungan Gem-nya (. ❛ ᴗ ❛.) Bab Bonus: 1/3 Bab Antrian: 42 Selamat Membaca dan Selamat makan siang (◠‿・)—☆
Jessica melihat perubahan ekspresi itu dan tampak sedikit terkejut, tapi tidak bertanya."Konon, Kolam Langit mengandung darah yang ditinggalkan oleh seorang kultivator kuno dari Benua Valorisia." "Tidak ada yang tahu persis siapa kultivator itu. Tapi jejak yang ditinggalkannya sudah ada jauh lebih lama dari Sekte Moon Flower sendiri."Ryan diam, mendengarkan."Kolam itu terbagi tiga area: merah muda, merah tua, dan area darah ilahi." "Setiap tahun saat Pertandingan berlangsung, Kolam Langit diaktifkan satu kali. Tiga orang terbaik bisa masuk, masing-masing satu ke setiap area." Jessica berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Manfaatnya adaah dapat mengaktifkan garis darah dan memperkuat fondasi kultivasi seseorang." "Tapi ingat, ini hanya bisa dilakukan sekali seumur hidup. Masuk untuk kedua kali tidak akan memberikan efek apa pun.""Dan selain itu..." Jessica memandang ke depan, ke arah yang sudah mulai terlihat bayangan alam rahasia dari kejauhan. "Ada kemungkinan mendapatkan s
Divine God Beast Tamer jarang memuji siapa pun.Itu yang membuat kata-katanya kali ini terasa beda."Perolehanmu kali ini memang tidak kecil." Suaranya naik dari kedalaman Kuburan Pedang dengan nada yang tidak biasa, ada sesuatu di dalamnya yang bukan sekadar penilaian teknis. "Kau sudah menyentuh hukum. Energi Gao-mu dan Immortal Divine Body-mu keduanya melompat secara signifikan." Jeda. "Bakat semacam ini... memang mengkhawatirkan."Dari seseorang yang jauh lebih sering berkomentar dingin daripada memberi pengakuan, kalimat itu sudah cukup. Ryan mengerti maksudnya.Dia melangkah keluar dari pintu asrama sambil tersenyum tipis. Tidak perlu dijawab lebih jauh.Tapi di dalam Kuburan Pedang, Divine God Beast Tamer berdiri diam setelah Ryan pergi. Tidak bergerak. Tidak bersuara.Pikirannya berputar ke Myriad Sword Palace. Ke pemandangan yang tidak mudah dilupakannya, seorang pemuda Ranah Primordial Chaos yang mem
Suara itu naik dari kedalaman Kuburan Pedang, berat dan tidak terburu-buru."Logam Gao dulu. Esensi Kristal Ungu Surgawi bukan sesuatu yang bisa kau sentuh dengan kondisi tubuhmu sekarang.""Kalau dipaksakan, kau tidak akan sempat merasakan manfaatnya dan pergi ke akhirat."Ryan menatap Esensi Kristal Ungu Surgawi itu. "Seseram itu?""Lebih dari itu." Jeda. "Logam Gao dulu. Perkuat fondasi. Baru setelah itu kita bicara soal yang satu ini."Ryan menyimpan kembali Esensi Kristal ke dalam tas simpanannya. Lalu ia duduk bersila di tengah kamar, mengatur napas, dan membiarkan energi spiritual dari kabut di sekelilingnya mulai mengalir masuk. Perlahan, satu demi satu, setiap helaan napas menarik lebih banyak dari kabut itu ke dalam tubuhnya.Logam Gao melayang ke udara di depannya, berputar pelan, memancarkan dingin yang tidak pernah mencair.**Satu hari satu malam berlalu.Cahaya keemasa
Sergio Moras berhenti di depan sebuah bangunan yang berdiri di antara pepohonan tua.Kabut tujuh warna mengambang di sekelilingnya, padat dan diam, tidak terusik angin sedikit pun. Bukan kabut biasa yang akan tersapu saat seseorang berjalan melewatinya. Kabut ini seolah sudah memilih tempatnya dan tidak akan bergeser ke mana-mana."Ini tempatmu." Sergio membuka pintu pagar dengan gerakan santai. "Silakan masuk."Ryan melangkah masuk dan berhenti begitu tangannya menyentuh lapisan kabut itu.Energi spiritual yang meresap ke dalam pori-pori kulitnya bukan energi yang biasa dia rasakan. Lebih bersih, lebih padat, dan ada sesuatu di dalamnya yang terasa seperti hidup, seperti bukan sekadar energi yang mengalir masuk dari luar.Dia mengangkat tangannya dan mengusir kabut itu pelan. Lapisan demi lapisan bergerak mengikuti gerakan tangannya, merekah seperti tirai yang disingkap.'Energi spiritual ini sudah mengkristal di udara.' Penilaian itu jatuh pelan di benaknya. 'Bukan energi yang ma
Ryan belum sempat menjawab ketika suara lain memotong duluan."Tentu saja mau, Guru!" Jessica Neuro melangkah ke depan dengan wajah bersinar, nyaris tanpa ragu. "Ambil saja dia."Ryan menatap Jessica dengan ekspresi datar.'Kau memutuskan ini untuk siapa?'Jessica menangkap tatapannya. Ia memiringkan kepala sedikit ke arah Ryan, lalu berbisik dengan volume yang secara teknis seharusnya tidak terdengar siapapun, tapi anehnya tetap sampai ke telinga semua yang berdiri di sekitar mereka."Guruku baru keluar dari pertapaan. Ini kesempatan yang tidak akan datang dua kali." Jeda sedetik. "Dan soal benda itu... jangan sebut di sini."Benda itu.Ryan mengerti seketika. Tablet Reinkarnasi.Dia melirik sekali lagi ke arah Tetua Agung kurus itu, lalu mengangguk.Tetua Agung itu tidak terlihat senang. Juga tidak terlihat tidak senang. Wajahnya datar seperti batu, tidak berubah sama sekali."Baik."Tangannya bergerak dari belakang punggung ke depan, dan sebuah benda kecil melayang pelan ke arah R
Pandangan Xavier Dragvine menyapu ketiga tetua di hadapannya, pelan dan penuh perhitungan.Tetua Quincy berdiri tenang dengan rambut putih dan wajah yang tidak mengungkapkan apa-apa.Elgar Stroud menatap balik dengan mata biru yang tidak lazim itu, tanpa berkedip.Dan Tetua Jorvath, yang berdiri setengah langkah lebih maju dari dua rekannya, tubuhnya seperti tembok batu memancarkan aura yang paling dekat dengan sesuatu yang mengalir dalam darah Xavier sendiri.Xavier tidak perlu lama.Matanya berhenti di Jorvath.Perubahan di wajah tetua itu langsung terlihat. Kerutan dalam di sekitar mata emasnya mengendur. Garis rahang yang biasanya keras itu melembut.Sudah bertahun-tahun dia mencari murid dengan garis darah yang cukup serasi dengannya. Dan sekarang, akhirnya ada yang berdiri di depannya.'Anak ini.' Tekadnya sudah bulat sebelum langkah pertamanya selesai. 'Aku akan mewariskan semuanya padanya.'Dia
Wilayah Utara, markas besar Spirit Hall. Theodore Ghostkin, yang berada di area inti, mengerahkan kekuatan dengan kedua tangannya ketika tiba-tiba, sebuah serangan balik yang kuat menghantamnya. Pfft! Dia memuntahkan seteguk darah dan terlempar ke belakang, menabrak dinding di dekatnya dan mengha
lTubuh Innate Poison! Ryan terkejut ketika mendengar kata-kata Eliot Lane.Baginya, Lina Jirk hanyalah seorang gadis kecil yang nakal. Bagaimana mungkin dia berhubungan dengan fisik langka Benua Valorisia ini?Namun, setelah dipikirkan kembali, alasan mengapa
"Aku bahkan bisa mengatakan bahwa meski Ryan membunuh tanpa ragu-ragu, dia mungkin seorang pengecut," lanjut kultivator berjubah bersulam itu dengan penuh semangat. "Mungkin dia bahkan akan berlutut dan memohon belas kasihan di depan Venerable Immortal Flame Lance dengan air mata dan ingus di mata
Rain Beaster menatap kakeknya dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu yang besar. "Tetua Agung, apakah menurut Anda Ryan akan dapat melarikan diri hari ini dengan selamat?" Tetua Agung Keluarga Beaster tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam mengamati setiap gerakan di medan pertempuran deng







