LOGINMalam semua (◍•ᴗ•◍) ini adalah bab terakhir hari ini. othor mau beristirahat setelah nulis beberapa bab hari ini untuk dua hari ke depan. cukup teler, bikin kepala seakan mau pecah. othor harus pulang kampung besok, jadi besok siang othor buat bab terjadwal. Selamat berlibur (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 6/6 Bab (komplit) Bab Reguler: 1/1 Bab (Komplit)
"Kami yang berada di sini sebenarnya cuma hasil percobaan yang gagal," lanjut pria tinggi kurus itu dengan suara gemetar. "Untungnya, Kepala Spirit Hall menanamkan segel di tubuh kami." "Segel itu membuat garis darah yang dirampas dari kultivator lain bisa menyatu dengan tubuh kami, meskipun hanya untuk sementara." Ryan mengerutkan kening. Penjelasan tersebut sesuai dengan kejanggalan yang sebelumnya dirasakannya. Kekuatan para anggota Spirit Hall memang meningkat, tetapi tubuh mereka tidak cukup kuat untuk menampung garis darah asing. Tanpa segel penahan, mereka mungkin sudah mati akibat perubahan yang dipaksakan itu. "Ada lagi?" tanyanya. "Semalam aku melihat Kepala Spirit Hall bersama beberapa tetua Klan Spirit Blood memasuki sebuah taman terpencil," jawab tawanan itu cepat. "Aura para tetua itu luar biasa kuat. Sepertinya mereka hendak menemui seseorang yang sangat penting." "Kalau dugaanku benar, orang tersebut berasal dari Kerajaan Ilahi." Mata Ryan menajam. Kecurig
Ryan menghadapi pilar api merah darah yang menyambar ke arahnya tanpa sedikit pun mundur. Pedang Feralrot bergerak dalam genggamannya, lalu sebuah sinar pedang melesat menembus kegelapan gurun.Sinar itu tampak seperti bintang jatuh, tetapi kekuatannya justru seolah menyerap segala sesuatu yang dilaluinya. Begitu bertabrakan dengan pilar api, tebasan Ryan langsung membelahnya dari ujung hingga pangkal. Kobaran merah yang sebelumnya memenuhi pandangan hancur menjadi asap dan tersapu angin malam.Harapan yang baru saja muncul di wajah pria tinggi kurus itu lenyap. Teknik terlarang yang susah payah digunakannya ternyata tidak sanggup menahan satu tebasan Ryan.Pria itu tidak berani membuang waktu. Ia memaksa keluar sebagian esensi darahnya, kemudian mengeluarkan dua token giok sekaligus. Salah satunya merupakan token Spirit Hall, sedangkan yang lain memiliki lambang Klan Spirit Blood.Energi darah dan energi ib
Pria tinggi kurus dan pria botak membeku melihat apa yang terjadi pada kedua rekan mereka. Tinju Ryan memang tidak diarahkan kepada mereka, tetapi pemandangan itu sudah cukup untuk menghancurkan keberanian yang tadi masih tersisa.Kakak Kedua dan Kakak Ketiga tidak sekadar terlempar akibat pukulan. Kepala keduanya hancur lebih dulu, lalu tubuh mereka meledak karena tidak sanggup menahan sisa kekuatan tinju Ryan. Kabut darah perlahan turun ke pasir, bercampur serpihan tulang dan daging di dasar lubang.'Apa sebenarnya kekuatan bocah ini?'Kedua anggota Spirit Hall yang masih hidup tidak mampu memahami apa yang baru saja mereka saksikan. Kelelawar Haus Darah, binatang iblis yang bahkan sulit dilukai Kultivator Ranah Star Sealed, mendadak jatuh dengan darah mengalir dari mata dan telinganya.Belum selesai mereka memikirkan keadaan kelelawar tersebut, dua rekan yang memiliki tubuh hasil mutasi justru tewas hanya dengan sa
Pria tinggi kurus itu meraung, lalu menepuk tubuh Kelelawar Haus Darah yang berada di sampingnya. Di antara seluruh anggota kelompok, hanya dialah yang masih mampu mengendalikan binatang iblis tersebut, meski tidak sepenuhnya. Amarahnya sudah memuncak setelah mendengar ucapan Ryan. Namun firasat buruk jg muncul sejak pertama kali melihat pemuda bertopeng itu belum juga hilang. Karena itulah, ia tidak berniat menguji kekuatan lawan sedikit demi sedikit. Kalau memang harus bertarung, ia akan mengerahkan seluruh kekuatan sejak awal. Kelelawar Haus Darah membuka mulut dan mengeluarkan pekikan melengking. Suaranya menusuk telinga seperti logam yang digesekkan dengan keras. Sepasang sayap raksasanya terbentang, lalu tubuh hitam itu melesat ke langit, membawa embusan angin pekat yang menghamburkan pasir. Dalam sekejap, bayangannya menutupi cahaya bulan. Kelelawar itu berputar sebentar di udara sebelum menukik lurus ke arah Ryan dengan mulut terbuka lebar. Pada saat bersamaan, kee
"Hehe, Adik Ketiga, ada yang aneh dengan bocah ini," ujar seorang pria bertubuh lebar. Suaranya serak, sementara matanya terus mengamati Ryan dari kepala sampai kaki. "Kultivasinya memang hanya Ranah Creation, tetapi darah di dalam tubuhnya terasa begitu menggoda." "Lihat juga binatang roh yang ditungganginya. Garis darahnya pasti tidak biasa." Pria itu menjilat bibir sebelum melanjutkan, "Kalau kita membawa keduanya dan menyerap garis darah mereka, mungkin Tuan Lucas Ravenclaw akan memberi hadiah lebih besar kepada kita." Seorang pria botak yang berdiri di belakang Ryan tampak semakin tidak sabar. Ia memandang pemuda bertopeng itu seperti pemangsa yang menemukan mangsa empuk. "Kakak Ketiga, Kakak Kedua, tunggu apa lagi? Kultivasinya memang rendah, tetapi garis darahnya murni. Bukankah Tuan Lucas sedang mencari orang-orang seperti ini?" Setelah mengatakan itu, pria botak tersebut melangkah maju. Dua rekannya langsung mengikuti, perlahan mempersempit jarak dengan Ryan. Keserak
Kelelawar raksasa di tengah kelompok berjubah hitam mendadak gelisah ketika melihat Ryan dan Dark Ray. Sayapnya mengepak keras, menghamburkan pasir hingga beberapa tawanan terpaksa menundukkan kepala. Para pria berpakaian hitam saling pandang. Mereka segera berusaha menenangkan binatang itu, tetapi kepakan sayapnya justru semakin liar. Sorot mata kehijauan kelelawar tersebut terus tertuju pada Dark Ray, seakan ada sesuatu dalam tubuh tunggangan Ryan yang membuatnya sulit mengendalikan diri. Pemimpin kelompok itu, seorang pria bertubuh tinggi dan kurus, mengerutkan kening. Tanpa banyak bicara, ia mencengkeram salah satu tawanan yang sedang berlutut di tanah dan mengangkatnya begitu saja. Pria kurus yang tertangkap langsung meronta. Matanya yang semula kosong dipenuhi ketakutan begitu menyadari apa yang akan terjadi. "Jangan! Lepaskan aku! Aku bersedia menyerahkan garis darahku!" teriaknya putus asa. Tubuh tawanan itu gemetar hebat hingga ia mengompol. Sementara itu, para ta







