LOGINPagi itu terasa berbeda. Udara di taman sekolah Ethan masih diselimuti embun, aroma rerumputan basah bercampur dengan bau samar bunga kamboja dari halaman sebelah.
Anak-anak berlarian kecil, beberapa orang tua sibuk berbincang, tapi Ariana duduk diam di salah satu bangku taman, seolah dunia di sekitarnya berhenti berputar.
Tangannya menggenggam cangkir kopi yang sudah dingin, matanya menatap kosong ke arah ayunan yang berayun pelan ditiup angin.
Di benaknya, suara Kirana semalam terus bergaung—nada manipulatifnya, tangis palsunya, dan cara dia memutarbalikkan fakta di depan Jason.
Ariana menghela napas panjang. Ia tahu Kirana tidak akan berhenti di situ. Wanita itu terlalu cerdik untuk menyerah hanya karena sekali gagal.
Langkah kaki pelan terdengar mendekat dari arah belakang. “Kau melamun lagi,” suara bariton yang lembut terdengar akrab di telinganya.
Ariana menoleh pelan. Jonas berdiri di sana, mengenakan kemeja biru mud
Di sebuah ruang kerja yang luas namun pengap oleh aroma cerutu dan kemarahan, Ronald Alexander berdiri dengan napas memburu.Keheningan ruangan itu baru saja pecah oleh dentuman keras saat Ronald menggebrak permukaan meja mahoninya dengan segenap tenaga.Wajahnya yang biasa terlihat licin dan sombong, kini memerah padam dengan urat-urat yang menonjol di pelipis.“Apa kau bilang?! Ulangi sekali lagi!” teriak Ronald dan suaranya menggelegar menembus dinding kedap suara ruangan tersebut.Anak buahnya yang berdiri di hadapannya tertunduk dalam, tubuhnya gemetar ketakutan.“Maaf, Tuan Muda. Kami sudah mendatangi kediaman Gavin, namun rumah itu sudah kosong melompong. Gavin melarikan diri entah ke mana. Kami juga memantau rumah Tuan Jason, namun Maria tidak terlihat di sana.”Ronald menarik napas kasar, matanya melotot tajam. “Lalu di mana wanita itu? Dia seharusnya sudah berada di bawah pengawasanku sekarang!”“Informan kami melaporkan bahwa Maria dan Jonas sedang bepergian jauh, Tuan. Dan
Pagi itu, kediaman keluarga Lubis diselimuti oleh pancaran sinar matahari yang menerobos masuk melalui jendela besar di ruang makan.Ariana baru saja menyesap kopi hangatnya ketika ponsel yang terletak di atas meja marmer bergetar hebat. Sebuah notifikasi panggilan video muncul di layar, menampilkan nama Maria.Tanpa membuang waktu, Ariana menggeser ikon hijau dan segera memasang wajah pura-pura galak begitu wajah cantik Maria muncul di layar.“Maria! Apa-apaan ini?” semprot Ariana seketika, meski binar jenaka terpancar dari matanya.“Bisa-bisanya kau menghubungi aku di saat kau seharusnya sedang menikmati setiap detik bulan madumu? Letakkan ponselmu dan kembalilah pada Jonas. Jangan menggangguku!”Di seberang sana, Maria justru terkekeh mendengar omelan yang sudah dia duga sebelumnya.Latar belakang video memperlihatkan hamparan pantai berpasir putih dengan air laut biru jernih yang memanjakan mata.“Maaf, Ariana,” jawab Maria di sela tawa kecilnya. “Aku hanya tidak tahan untuk tidak
Pukul sebelas malam, di kediaman keluarga Lubis telah tenggelam dalam keheningan yang dalam, namun di kamar utama, atmosfernya justru memanas dengan tegangan yang berbeda.Jason masih bersandar pada kepala tempat tidur, kacamata bertengger di hidungnya sementara matanya terpaku pada layar tablet yang menampilkan grafik saham dan laporan hukum.Namun, fokus pria itu pecah berkeping-keping saat pintu balkon yang sedikit terbuka membawa semilir angin, diikuti oleh aroma parfum vanila dan melati yang sangat ia kenal.Ia mendongak, dan sedetik kemudian, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.Ariana berdiri di sana, hanya beberapa langkah dari tempat tidur. Cahaya lampu tidur yang temaram membiaskan bayangan yang menggoda pada tubuhnya.Dia mengenakan lingerie hitam transparan dari bahan lace halus yang nyaris tidak menyembunyikan apa pun dari lekuk tubuhnya yang indah.Potongan kain itu begitu berani, hingga mengekspos kulit putihnya yang kontras dengan warna gelap bahan tersebut.Jason
Pukul sebelas malam. Di luar sana, suara debur ombak yang menghantam tebing karang terdengar seperti ritme jantung bumi yang purba.Namun, di dalam kamar utama vila yang hanya diterangi oleh pendar cahaya rembulan dari balik jendela besar, suasana jauh lebih panas dan mendalam.Lampu kamar telah dipadamkan, menyisakan siluet dua raga yang saling terpaku dalam keheningan yang sarat akan gairah.Jonas tidak membiarkan satu inci pun jarak tercipta. Ia memposisikan dirinya di atas Maria, menopang tubuhnya dengan kedua tangan, sementara matanya mengunci tatapan Maria dengan intensitas yang seolah mampu membakar.“Kau masih merasa sakit?” bisik Jonas. Suaranya terdengar serak, berat karena hasrat yang tertahan, beradu dengan suara napas Maria yang mulai memburu.Maria menggeleng pelan di atas bantal sutra yang berantakan. Ia melingkarkan lengannya di leher Jonas, menarik pria itu lebih dekat. “Sedikit ... tapi rasa ini lebih besar dari rasa sakit itu, Jonas.”Jonas tersenyum tipis, sebuah s
Angin laut yang hangat menyapu helai rambut Maria saat ia berdiri di balkon vila pribadi milik keluarga Lubis.Tempat itu tersembunyi di balik tebing karang yang menjulang, menghadap langsung ke hamparan Samudra Hindia yang membiru luas.Pasir putih di bawah sana tampak seperti permata yang berkilauan tertimpa cahaya matahari sore.Seumur hidupnya, Maria hanya mengenal hiruk-pikuk pasar, sudut-sudut dapur yang sempit, dan rutinitas di dalam pagar tinggi rumah Jason.Ia tidak pernah membayangkan bahwa dunia memiliki sisi seindah ini. Pemandangan panorama tepi pantai ini seolah menghapus sisa-sisa trauma yang ditinggalkan oleh ayahnya dan ancaman Ronald, meski hanya untuk sesaat.“Indah, bukan?”Suara berat dan lembut itu mengejutkan Maria. Sebelum dia sempat berbalik, sepasang lengan kekar sudah melingkar posesif di pinggangnya.Jonas menghampiri Maria dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu.Maria bisa merasakan detak jantung Jonas yang stabil dan tenang di punggungnya.
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela besar ruang makan kediaman Lubis, memantul di atas peralatan makan perak yang tertata rapi.Aroma kopi yang baru diseduh dan roti panggang hangat memenuhi ruangan. Namun, ada sesuatu yang terasa ganjil pagi itu.Ariana melangkah masuk dengan gaun rumahan yang elegan, namun langkahnya terhenti seketika.Matanya menyipit saat melihat sosok wanita yang sangat dia kenal sedang sibuk menata piring buah di atas meja. Maria.Wanita itu mengenakan pakaian rapi, namun wajahnya tampak sedikit pucat meski ada rona bahagia yang tersisa dari malam tadi.Ariana mengerutkan keningnya, melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia berjalan mendekat dan menyentuh pundak Maria lembut.“Maria? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Ariana heran.Maria sedikit terperanjat, lalu menoleh dengan senyum canggung. “Oh, selamat pagi, Ariana. Aku sedang menyiapkan sarapan. Lucas sebentar lagi bangun, dan aku harus memastikan bekal Ethan sudah s







