Share

Bab 3

Author: Leona Valeska
last update Huling Na-update: 2025-07-31 14:34:30

Ariana mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Air matanya menggenang, tapi ia menahan agar tidak jatuh. Ia tidak boleh menangis terlalu keras; rumah ini terlalu sunyi, dan siapa pun bisa mendengar.

Tidak lama setelahnya, Jason berdiri di ujung meja makan. Tatapannya tajam, tapi ada sedikit kerutan di dahinya.

“Ada apa?” tanyanya dengan nada yang tegas. “Kenapa wajahmu sembab seperti itu?”

Ariana cepat-cepat menggeleng. “Tidak ada apa-apa, Tuan. Saya hanya … lelah.”

Jason melangkah mendekati Ariana lalu menatapnya dengan tatapan lekatnya. “Lelah? Matamu bengkak dan aku bukan anak kecil yang bisa dibohongi. Kau habis menangis, kan?”

Ariana menelan ludahnya. Rupanya Jason menyadarinya. Ia kemudian menunduk, berusaha menghindari tatapan itu. “Bukan hal penting, Tuan. Saya tidak ingin mengganggu Anda.”

“Aku tidak suka kebohongan, Ariana. Kalau ada masalah, katakan. Aku benci melihat orang di bawah atapku menyembunyikan sesuatu dariku.”

Ariana menggigit bibir bawahnya. Hatinya berdebat sengit—antara mempertahankan harga diri atau menyelamatkan rumah ibunya.

Akhirnya, ia mengangkat kepala dan menatap Jason dengan mata yang memerah. “Saya … sebenarnya butuh bantuan, Tuan.”

Jason menyilangkan tangan di dada. “Bantuan seperti apa?”

Napas Ariana tersengal. “Uang.”

Alis Jason terangkat. “Berapa?”

“Seratus ribu dolar,” jawab Ariana dengan suara yang hampir berbisik.

Ruangan itu menjadi hening. Jason menatapnya tanpa berkedip selama beberapa detik.

“Seratus ribu dolar? Untuk apa?”

Ariana menarik napas dalam-dalam lalu menceritakan semuanya—tentang utang ayahnya, rumah yang ditempati ibunya, dan ancaman rentenir yang akan menyita rumah itu besok.

“Kalau saya tidak membayar malam ini atau paling lambat besok pagi, rumah itu akan diambil. Dan Ibu saya ….” Suara Ariana bergetar menahan tangisnya lagi, “tidak punya tempat tinggal lagi.”

Jason terdiam mendengarnya dan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan.

“Kalau Tuan mau meminjamkan pada saya, saya akan berterima kasih sekali,” ucapnya kemudian menggigit bibirnya.

Jason berjalan ke jendela dan memandang keluar sejenak. “Kau tahu, Ariana. Seratus ribu dolar memang tidak besar bagiku. Tapi untuk meminjamkan uang sebesar itu pada orang yang baru kukenal, itu bukan keputusan yang ringan.”

Ariana lantas mendekatinya. “Tuan … apa pun yang Anda mau, saya akan penuhi. Apa pun. Asal Anda mau membantu saya kali ini.”

Jason menoleh perlahan, matanya menyapu wajah Ariana lalu turun menelusuri lekuk tubuhnya.

Gaun sederhana yang ia kenakan malam itu tidak banyak menutupi bentuk tubuhnya yang ramping namun menggoda.

Ia mendekat selangkah menatap lekat wajah Ariana. “Apa pun?” tanyanya dengan nada beratnya.

Ariana mengangguk, meski ada kilatan ragu di matanya. “Ya, Tuan.”

Jason berdiri begitu dekat sekarang, aromanya memenuhi ruang kecil itu. Tatapannya menusuk, seolah ingin memastikan Ariana tahu konsekuensi dari ucapannya.

Lalu bibirnya bergerak, mengucapkan pertanyaan yang membuat darah Ariana berhenti mengalir sesaat.

“Kau masih perawan?”

Ariana membeku, kedua matanya membesar mendengarnya. Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba dan menusuk ke inti privasinya.

Diam beberapa menit, dia akhirnya membuka mulut lalu menutupnya lagi, tidak tahu harus menjawab atau tidak. Namun, tatapan Jason terlalu kuat untuk dihindari.

Ariana kemudian mengangguk pelan. “Ya. Saya masih perawan,” suaranya nyaris tak terdengar.

Sudut bibir Jason terangkat sedikit, entah senyum atau smirk yang menandakan permainan baru. “Menarik.”

Tiba-tiba, tangannya terulur dan menyentuh dagu Ariana dengan ujung jarinya. Sentuhan itu ringan, tapi membuat bulu kuduk Ariana berdiri.

“Kau tahu, Ariana, di dunia ini, tidak ada yang gratis. Apalagi untuk jumlah sebesar itu.”

Ariana menelan ludah, matanya mencari-cari jawaban yang aman, tapi tatapan Jason terlalu dominan.

“Aku mau, kau menjadi pemuas nafsuku.”

Mata Ariana sontak membola mendengarnya. Tangannya saling bertautan mendengar ucapan Jason tadi.

“A-apa? Apa saya tidak salah dengar, Tuan?” ucap Ariana nyaris berbisik.

“Tidak. Kau tidak salah dengar. Aku bahkan bisa memberimu lebih, asalkan kau menandatangani perjanjian selama menjadi pemuas nafsuku.”

Jason menatapnya dengan lekat. “Kalau kau setuju,” lanjut Jason pelan, “kau akan menjadi milikku sepenuhnya. Bagaimana? Apa kau setuju?”

Ariana terdiam. Dia tidak tahu apakah harus menggadaikan harga dirinya, atau menolak permintaan gila majikannya itu.

Dia memejamkan matanya sejenak. Matanya tertuju pada adiknya yang akan selesai sekolah, ibunya yang sedang sakit berada di dalam rumah yang akan disita oleh rentenir.

“Apa tidak ada syarat lain selain itu, Tuan?” tanyanya kemudian.

“Tidak ada. Yes or not. Hanya itu pilihanmu,” jawab Jason dengan suara dinginnya.

Ariana merasakan kakinya lemas dengan jari saling bertaut. Menimbang-nimbang tawaran mencengangkan yang diberikan oleh Jason padanya. 

“Pikirkan baik-baik penawaranku, Ariana. Kalau kau setuju, datang temui aku lagi.” 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan   Extra Part VII

    Hari itu, kota padat itu seolah berhenti berdetak untuk menyaksikan “Pernikahan Abad Ini”.Gereja katedral dihias dengan ribuan bunga bakung putih impor yang aromanya memenuhi udara, menciptakan ilusi suci yang menipu.Cassandra berdiri di depan cermin besar ruang rias, menatap bayangannya sendiri.Dia mengenakan gaun pengantin lace karya desainer ternama Paris yang nilainya cukup untuk membeli sebuah kompleks perumahan.Jika ada yang melihatnya, Cassandra adalah definisi pengantin yang diimpikan setiap wanita.Namun, di balik kerudung transparan itu, matanya kosong. Ia merasa seperti domba kurban yang sedang didandani sebelum diserahkan kepada sang predator.Pesta pernikahan di hotel mewah berlangsung seperti mimpi yang menjadi kenyataan bagi orang awam.Ribuan tamu bersulang untuk kebahagiaan mereka. Ethan berdiri di sampingnya, tampak sangat tampan dan berwibawa dalam balutan tuksedo hitam yang dijahit sempurna.Sepanjang acara, Ethan bertindak layaknya suami yang paling penuh perh

  • Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan   Extra Part VI

    Suasana meriah di aula utama masih terdengar lamat-lamat, namun di dalam ruang transit VIP yang kedap suara, ketegangan yang tercipta jauh lebih menyesakkan daripada ribuan kamera di luar sana.Cassandra berdiri dengan napas tersengal, jemarinya mencengkeram kain gaun emerald-nya hingga kusut.Di depannya, Ethan Lubis berdiri dengan santai, melepas kancing tuksedonya seolah baru saja menyelesaikan tugas ringan, bukan baru saja meledakkan bom informasi di depan publik.“Kau gila, Ethan,” desis Cassandra. Ini pertama kalinya dia memanggil pria itu tanpa sebutan formal.“Apa yang kau lakukan tadi? Kau menarikku ke atas panggung, mengumumkan hal yang mustahil. Kau melakukan itu hanya untuk membuat Tuan Jason berhenti menjodohkanmu, kan? Kau butuh tameng, dan kau memilihku karena aku ada di sana?”Ethan terdiam, namun matanya menatap Cassandra dengan intensitas yang membuat wanita itu ingin mundur.“Kita tidak akan benar-benar menikah, kan?” tanya Cassandra lagi, suaranya mulai bergetar. “

  • Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan   Extra Part V

    Malam puncak perayaan ulang tahun Lubis Corp ke-50 diubah menjadi sebuah simfoni kemewahan yang tak tertandingi. Grand Ballroom hotel bintang lima milik keluarga Lubis didekorasi dengan nuansa emas dan hitam, memancarkan aura kekuasaan yang absolut.Ratusan tamu dari kalangan elit, mulai dari pejabat tinggi, konglomerat lintas negara, hingga selebriti papan atas memenuhi ruangan, berbisik-bisik tentang masa depan imperium bisnis tersebut.Di atas panggung utama, Jason Lubis berdiri dengan gagah mengenakan tuksedo hitam klasik.Di sampingnya, Ariana Lubis tampak mempesona dalam gaun couture berwarna perak yang berkilauan di bawah lampu kristal.Mereka adalah definisi pasangan penguasa yang sempurna. Setelah menyampaikan pidato keberhasilan perusahaan yang menggetarkan, Jason mencondongkan tubuh ke mikrofon dengan senyum penuh teka-teki.“Malam ini, di tengah perayaan emas ini, saya juga ingin mengumumkan babak baru bagi keluarga kami,” ujar Jason dengan suara yang berat dan berwibawa

  • Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan   Extra Part IV

    Keesokan siangnya, udara di lantai lima puluh terasa lebih berat daripada hari-hari sebelumnya.Bukan karena volume pekerjaan, melainkan karena kehadiran sosok legendaris yang jarang sekali menampakkan diri di kantor sejak pensiun total.Jason Lubis, sang “Iblis Senior”, melangkah masuk ke ruangan CEO dengan langkah mantap yang masih mengintimidasi, meski rambut di pelipisnya telah memutih.Cassandra, yang sedang meletakkan nampan berisi teh earl grey di meja kerja Ethan, seketika membeku.Dia merasakan tatapan sepasang mata elang yang sangat mirip dengan milik Ethan sedang membedahnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.“Sekretaris baru?” tanya Jason dengan suara berat yang berwibawa, memecah keheningan ruangan.Ethan, yang sedang meninjau laporan di tabletnya, tidak mendongak. “Ya, Dad. Namanya Cassandra.”Jason tidak segera duduk. Dia justru berjalan mendekat ke arah Cassandra, membuat wanita itu menunduk sopan sembari menahan napas.Jason menatap tanda pengenal di leher Cassandra

  • Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan   Extra Part III

    Malam itu, kota itu seolah sedang ditenggelamkan oleh langit.Hujan deras mengguyur kota dengan amukan yang membuat jarak pandang menjadi terbatas, menyisakan suara hantaman air yang konstan pada dinding kaca gedung Lubis Corp.Di lantai lima puluh, suasana sunyi merayap di setiap sudut koridor yang gelap, kecuali di ruangan CEO. Cahaya lampu temaram dari dalam ruangan itu menjadi satu-satunya tanda kehidupan di menara pencakar langit tersebut.Cassandra masih duduk tegak di meja kerjanya yang berada tepat di depan pintu masuk ruangan Ethan.Jemarinya menari di atas papan ketik, mencoba menyelesaikan revisi laporan merger yang diminta Ethan tepat satu jam yang lalu.Matanya terasa panas, namun dia tidak berani beranjak. Di dalam ruangan sana, sang bos masih terjaga.Pintu kaca besar itu terbuka perlahan. Ethan muncul, namun kali ini dia tidak mengenakan jasnya.Kemeja putihnya sudah tidak dikancingkan di bagian kerah, dan lengannya digulung hingga siku, menampilkan sisi yang lebih san

  • Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan   Extra Part II

    Minggu pertama Cassandra di Lubis Corp bukan sekadar tantangan profesional; itu adalah ujian ketahanan mental.Baginya, setiap pagi terasa seperti melangkah masuk ke dalam sangkar singa yang sedang dalam suasana hati buruk.Ethan Lubis tidak hanya mewarisi takhta ayahnya, ia juga mewarisi kemampuan untuk mengintimidasi siapa pun hanya dengan keheningan.Ethan adalah seorang perfeksionis yang kejam. Ia tidak pernah memberikan instruksi dua kali. Baginya, pengulangan adalah bentuk kegagalan komunikasi, dan dia tidak menoleransi kegagalan.Setiap kali Cassandra melintasi pintu jati besar itu untuk menyerahkan laporan atau sekadar mengonfirmasi jadwal, atmosfer di dalam ruangan seolah mendadak turun beberapa derajat.Suhu pendingin ruangan terasa lebih tajam, dan suara detak jarum jam di dinding terdengar seperti hitungan mundur menuju sebuah ledakan.Pagi itu, jam menunjukkan pukul delapan lewat dua menit.Cassandra masuk membawa nampan kecil berisi secangkir kopi hitam tanpa ampas, pesa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status