Share

Bab 4

Author: Leona Valeska
last update Huling Na-update: 2025-07-31 14:43:48

Pagi itu, Ariana duduk di tepi ranjang di kamarnya tengah menatap kosong ke arah jendela.

Tawaran Jason semalam masih terngiang jelas di pikirannya. Suaranya, tatapannya, bahkan jeda panjang di antara kata-katanya, seakan membentuk jerat yang membelit pikirannya.

Dia sudah menyebutkan angka itu—seratus ribu dolar—dan syarat yang membuat Ariana ingin menangis setiap kali mengingatnya.

Menjadi pemuas nafsu Jason. Hal yang tidak pernah ada dalam kamus hidupnya sekali pun.

Ariana menggigit bibirnya. Tidak, dia tidak boleh langsung menyerah begitu saja. Mungkin masih ada cara lain yang bisa membuatnya keluar dari jerat Jason.

Ia kemudian meraih ponselnya dan mulai menelpon satu per satu orang yang pernah dekat dengannya. Teman SMA, kenalan lama, bahkan beberapa rekan kerja di tempat lamanya.

Namun jawaban yang dia dapat hanya membuat hatinya makin terpuruk.

“Aduh, Ariana, bukannya aku tidak mau bantu, tapi uang sebanyak itu, aku pun tidak punya,” suara teman kuliahnya terdengar ragu.

“Sorry, aku pun sama, sedang tidak ada uang,” sahut yang lain singkat.

Ada pula yang bahkan tidak mengangkat teleponnya sama sekali.

Ariana menunduk seraya menahan air mata. Napasnya tersengal. Sementara waktu terus berjalan dan ancaman itu semakin dekat.

Ponselnya bergetar lagi, kali ini sebuah notifikasi masuk. Ia segera meraih ponselnya dan seketika itu matanya membelalak.

Pesan dari nomor rentenir itu: "Aku sudah di depan rumah ibumu."

Jantung Ariana seperti berhenti berdetak ketika melihatnya.

Tangannya gemetar saat dia menekan tombol telepon dan menempelkan ponsel ke telinganya.

“Tuan, jangan … jangan lakukan itu, saya mohon,” ucapnya dengan suara bergetar.

Suara dingin di seberang menjawab tanpa belas kasihan, “Janji tinggal janji, Ariana. Kau pikir aku main-main kemarin, hah? Rumah itu sudah jadi jaminan utang keluargamu.”

“Saya—saya akan bayar, tapi jangan sekarang. Beri saya waktu sampai sore ini!” Ariana memohon bahkan hampir menangis.

Keheningan sesaat di ujung sana membuat jantungnya berdegup kencang. “Jam enam sore. Kalau sampai lewat, rumah itu jadi milik kami. Titik!”

Klik. Sambungan terputus.

Ariana duduk terdiam sembari memegang ponselnya dengan tangan gemetar. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya jatuh.

Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Tidak ada lagi pilihan untuk menyelamatkan rumah itu. Dia harus … menerima tawaran itu.

**

Sore harinya, Ariana berdiri di depan pintu ruang kerja Jason. Tangan kanannya terangkat, namun ragu untuk mengetuk. Ia bisa mendengar samar-samar suara pena menggores kertas di dalam sana.

Dengan tarikan napas panjang, dia akhirnya mengetuk pintu itu dengan pelan.

“Masuk.”

Jason duduk di balik meja kerjanya yang besar, tatapannya yang tajam mengamati setiap langkah Ariana.

“Sudah ada keputusan?” tanyanya kemudian.

Ariana menggenggam erat kedua tangannya di depan tubuh tengah mencoba mengumpulkan keberanian.

“Tentang tawaran semalam ….” Ariana tidak sanggup melanjutkannya.

“Saya mau, Tuan. Asalkan Tuan menepati janji Tuan. Saya ingin Tuan membayarnya dengan cash!”

Sudut bibir Jason terangkat sedikit, entah itu senyum atau sebenarnya ejekan. Ia berdiri lalu berjalan ke lemari besi di sudut ruangan. Ariana mengikuti gerakan itu dengan gugup.

Jason membuka brankas dan mengambil sebuah buku cek.

Ia duduk kembali dan mengisi nominal dengan gerakan mantap lalu menandatangani tanpa ragu.

Dengan satu gerakan tenang, dia menyodorkannya ke hadapan Ariana.

“Aku sudah tahu kau akan datang padaku,” katanya sambil menatap mata Ariana tanpa berkedip.

Ariana menelan ludah, tangannya sedikit gemetar saat menerima cek itu.

Rasanya seperti memegang kunci untuk menyelamatkan rumah ibunya, tapi sekaligus membuka pintu ke dunia yang membuatnya takut.

Jason kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri Ariana yang masih berdiri di sana. Matanya menatap lekat wajah Ariana dan menyunggingkan senyum misterius.

“Aku bukan pria tukang ingkar janji, apalagi setelah mendapatkan apa yang aku inginkan, Ariana,” bisiknya dengan suara beratnya.

Ariana membuka mulut, tapi suaranya tertelan saat Jason menggeser jemarinya dari pinggang ke punggung, lalu naik perlahan menyentuh tengkuknya.

Jason menunduk, napasnya menyapu kulit Ariana. “Katakan sekali lagi, Ariana. Bersedia menjadi pemuas nafsuku?”

Ariana menarik napasnya dalam-dalam kemudian mengangguk dengan pelan. “Ya. Saya bersedia.”

Jason menyeringai. “Good! Kalau begitu, besok datang ke kamarku, pukul sepuluh malam.” 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan   Extra Part VII

    Hari itu, kota padat itu seolah berhenti berdetak untuk menyaksikan “Pernikahan Abad Ini”.Gereja katedral dihias dengan ribuan bunga bakung putih impor yang aromanya memenuhi udara, menciptakan ilusi suci yang menipu.Cassandra berdiri di depan cermin besar ruang rias, menatap bayangannya sendiri.Dia mengenakan gaun pengantin lace karya desainer ternama Paris yang nilainya cukup untuk membeli sebuah kompleks perumahan.Jika ada yang melihatnya, Cassandra adalah definisi pengantin yang diimpikan setiap wanita.Namun, di balik kerudung transparan itu, matanya kosong. Ia merasa seperti domba kurban yang sedang didandani sebelum diserahkan kepada sang predator.Pesta pernikahan di hotel mewah berlangsung seperti mimpi yang menjadi kenyataan bagi orang awam.Ribuan tamu bersulang untuk kebahagiaan mereka. Ethan berdiri di sampingnya, tampak sangat tampan dan berwibawa dalam balutan tuksedo hitam yang dijahit sempurna.Sepanjang acara, Ethan bertindak layaknya suami yang paling penuh perh

  • Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan   Extra Part VI

    Suasana meriah di aula utama masih terdengar lamat-lamat, namun di dalam ruang transit VIP yang kedap suara, ketegangan yang tercipta jauh lebih menyesakkan daripada ribuan kamera di luar sana.Cassandra berdiri dengan napas tersengal, jemarinya mencengkeram kain gaun emerald-nya hingga kusut.Di depannya, Ethan Lubis berdiri dengan santai, melepas kancing tuksedonya seolah baru saja menyelesaikan tugas ringan, bukan baru saja meledakkan bom informasi di depan publik.“Kau gila, Ethan,” desis Cassandra. Ini pertama kalinya dia memanggil pria itu tanpa sebutan formal.“Apa yang kau lakukan tadi? Kau menarikku ke atas panggung, mengumumkan hal yang mustahil. Kau melakukan itu hanya untuk membuat Tuan Jason berhenti menjodohkanmu, kan? Kau butuh tameng, dan kau memilihku karena aku ada di sana?”Ethan terdiam, namun matanya menatap Cassandra dengan intensitas yang membuat wanita itu ingin mundur.“Kita tidak akan benar-benar menikah, kan?” tanya Cassandra lagi, suaranya mulai bergetar. “

  • Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan   Extra Part V

    Malam puncak perayaan ulang tahun Lubis Corp ke-50 diubah menjadi sebuah simfoni kemewahan yang tak tertandingi. Grand Ballroom hotel bintang lima milik keluarga Lubis didekorasi dengan nuansa emas dan hitam, memancarkan aura kekuasaan yang absolut.Ratusan tamu dari kalangan elit, mulai dari pejabat tinggi, konglomerat lintas negara, hingga selebriti papan atas memenuhi ruangan, berbisik-bisik tentang masa depan imperium bisnis tersebut.Di atas panggung utama, Jason Lubis berdiri dengan gagah mengenakan tuksedo hitam klasik.Di sampingnya, Ariana Lubis tampak mempesona dalam gaun couture berwarna perak yang berkilauan di bawah lampu kristal.Mereka adalah definisi pasangan penguasa yang sempurna. Setelah menyampaikan pidato keberhasilan perusahaan yang menggetarkan, Jason mencondongkan tubuh ke mikrofon dengan senyum penuh teka-teki.“Malam ini, di tengah perayaan emas ini, saya juga ingin mengumumkan babak baru bagi keluarga kami,” ujar Jason dengan suara yang berat dan berwibawa

  • Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan   Extra Part IV

    Keesokan siangnya, udara di lantai lima puluh terasa lebih berat daripada hari-hari sebelumnya.Bukan karena volume pekerjaan, melainkan karena kehadiran sosok legendaris yang jarang sekali menampakkan diri di kantor sejak pensiun total.Jason Lubis, sang “Iblis Senior”, melangkah masuk ke ruangan CEO dengan langkah mantap yang masih mengintimidasi, meski rambut di pelipisnya telah memutih.Cassandra, yang sedang meletakkan nampan berisi teh earl grey di meja kerja Ethan, seketika membeku.Dia merasakan tatapan sepasang mata elang yang sangat mirip dengan milik Ethan sedang membedahnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.“Sekretaris baru?” tanya Jason dengan suara berat yang berwibawa, memecah keheningan ruangan.Ethan, yang sedang meninjau laporan di tabletnya, tidak mendongak. “Ya, Dad. Namanya Cassandra.”Jason tidak segera duduk. Dia justru berjalan mendekat ke arah Cassandra, membuat wanita itu menunduk sopan sembari menahan napas.Jason menatap tanda pengenal di leher Cassandra

  • Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan   Extra Part III

    Malam itu, kota itu seolah sedang ditenggelamkan oleh langit.Hujan deras mengguyur kota dengan amukan yang membuat jarak pandang menjadi terbatas, menyisakan suara hantaman air yang konstan pada dinding kaca gedung Lubis Corp.Di lantai lima puluh, suasana sunyi merayap di setiap sudut koridor yang gelap, kecuali di ruangan CEO. Cahaya lampu temaram dari dalam ruangan itu menjadi satu-satunya tanda kehidupan di menara pencakar langit tersebut.Cassandra masih duduk tegak di meja kerjanya yang berada tepat di depan pintu masuk ruangan Ethan.Jemarinya menari di atas papan ketik, mencoba menyelesaikan revisi laporan merger yang diminta Ethan tepat satu jam yang lalu.Matanya terasa panas, namun dia tidak berani beranjak. Di dalam ruangan sana, sang bos masih terjaga.Pintu kaca besar itu terbuka perlahan. Ethan muncul, namun kali ini dia tidak mengenakan jasnya.Kemeja putihnya sudah tidak dikancingkan di bagian kerah, dan lengannya digulung hingga siku, menampilkan sisi yang lebih san

  • Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan   Extra Part II

    Minggu pertama Cassandra di Lubis Corp bukan sekadar tantangan profesional; itu adalah ujian ketahanan mental.Baginya, setiap pagi terasa seperti melangkah masuk ke dalam sangkar singa yang sedang dalam suasana hati buruk.Ethan Lubis tidak hanya mewarisi takhta ayahnya, ia juga mewarisi kemampuan untuk mengintimidasi siapa pun hanya dengan keheningan.Ethan adalah seorang perfeksionis yang kejam. Ia tidak pernah memberikan instruksi dua kali. Baginya, pengulangan adalah bentuk kegagalan komunikasi, dan dia tidak menoleransi kegagalan.Setiap kali Cassandra melintasi pintu jati besar itu untuk menyerahkan laporan atau sekadar mengonfirmasi jadwal, atmosfer di dalam ruangan seolah mendadak turun beberapa derajat.Suhu pendingin ruangan terasa lebih tajam, dan suara detak jarum jam di dinding terdengar seperti hitungan mundur menuju sebuah ledakan.Pagi itu, jam menunjukkan pukul delapan lewat dua menit.Cassandra masuk membawa nampan kecil berisi secangkir kopi hitam tanpa ampas, pesa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status