Share

Bab 4 Dia Mengambil Milikku

Pagi ini, pekerjaanku lumayan banyak. Semenjak Yuni sudah tidak lagi bekerja untuk kami, aku mengambil alih semua tugas dia. Aku masih belum mau mencari pengganti Yuni. Entahlah, masih ada sedikit trauma dengan yang namanya pembantu. Aku memakai jasa wanita yang berumur saja banyak sekali tingkahnya, apalagi jika aku mempekerjakan wanita remaja. Ahh, tidak-tidak. Belum terjadi saja aku sudah bergidig ngeri membayangkannya.

Usai pekerjaan rumahku selesai, aku ingin pergi ke suatu tempat. Aku juga sudah membuat janji dengan sahabatku yang sudah mengetahui permasalahanku. Menurutnya, apa yang disampaikan Mas Tito tidak masuk akal. Kemungkinan besar, suamiku memang ada main dengan si jalang Yuni itu.

Sejujurnya, aku juga merasakan apa yang temanku rasakan. Rasanya penjelasan Mas Tito terlalu sederhana. Dia berusaha berkelit, namun semua bukti sudah mengarah padanya. Terlebih, satu minggu yang lalu Mas Tito selama dua hari tidak pulang ke rumah. Alasannya dia ada kerjaan di luar kota. Tentu saja aku tidak tinggal diam. Aku menyelidikinya dan bertanya pada sekretaris juga rekan kerjanya di kantor. Sesuai dugaanku, tidak ada pekerjaan apapun yang dilakukan di luar kota.

Sepertinya petualang ini harus segera dimulai.

Lagi pula, aku tidak takut jika nanti aku mengetahui kebenarannya dan Mas Tito menceraikanku. Aku tidak rugi sama sekali, yang ada dia yang paling merasa rugi. Aku yakin, Ayah akan menarik kembali apa yang sudah dia berikan untuk Mas Tito.

Apa Mas Tito gak berfikir sampai ke sana? Kita lihat saja, bagaimana endingnya.

***

“Des, sorry ya, aku harus bawa kamu terlibat dalam masalah rumah tanggaku. Sebenarnya, aku merasa sungkan.” Kami sudah dalam perjalanan menuju ke alamat yang menjadi target pertama kami.

“Apa aku mengatakan keberatan sama kamu? Fit, kita bersahabat sudah sangat lama, jadi hilangin deh rasa sungkan kamu itu,” sahut Desi. Ah, dia ini memang benar-benar sahabatku. Kami sudah saling mengenal sejak masih berada di bangku SMP, bahkan saat berkuliah pun kami mengambil fakultas dan jurusan yang sama.

Aku menarik napas panjang, Desi belum menikah, dia masih sibuk mengejar kariernya hingga saat ini, “Seandainya aku ikutin jejak kamu, Des. Menunda pernikahan. Mungkin kita akan jadi wanita sukses,” sesalku. Walaupun saat ini aku tidak merasa kekurangan, namun tetap saja. Aku merasa gagal dalam menjalani rumah tangga.

“Kamu gak perlu menyesali apapun, Fit. Kita sudah memiliki garis takdir masing-masing. Lagi pula, kamu itu masih punya orang tua, anak, dan sahabat yang akan selalu jadi support system buat kamu. Sekarang mending kita fokus sama tujuan kita, lupain semua penyesalan kamu,” tukas Desi.

Benar, ini semua tidak akan berakhir jika aku terus menyesali semuanya.

“Tunggu, Fit. Itu, bukannya mobil suami kamu?” Tiba-tiba saja Desi menyentuh tanganku dan menunjuk ke arah toko perlengkapan rumah. Dan benar, mobil Mas Tito terparkir di sana. Padahal, tujuan kita bukan ke sini, namun siapa sangka target kita dapatkan dengan mudah.

“Oh iya, itu mobil Mas Tito? Dia lagi ngapain di sana? Seingatku, kami belum butuh perlengkapan apapun?” ucapku heran. Aku memberhentikan mobil di sebrang jalan.

“Ayo ke luar, Des! Ini saat yang tepat buat labrak dia! Aku yakin Mas Tito pasti lagi sama di jalang Yuni itu!” Aku segera membuka seat belt dan bersiap untuk turun, namun Desi menghentikannya.

“Jangan gegabah, Fitri! Kita harus pantau dulu dari jauh apa yang suami kamu lakukan. Kalau begini caranya, kita gak akan dapat hasil apa-apa! Yang ada, malah munculin masalah baru!” cegah Desi.

Mana sempat aku berfikir jernih. Aku rasanya sudah ingin menghabisi mereka berdua saja.

“Tapi, Des, aku takut nanti mereka keburu pergi dan … kita gak sempat kasih pelajaran ke mereka berdua!” Aku tetap berusaha memaksa ke luar.

“Itu yang aku maksud, Fitri! Kita bisa buntuti mereka untuk tahu ke mana tujuan mereka berdua. Lagi pula, kita juga belum tahu pasti, yang bawa mobil itu benar suami kamu atau mungkin orang lain,” sambung Desi.

“Baiklah, semoga saja setelah ini kita bisa mendapatkan bukti dan aku bisa menghabisi Yuni!” ancamku.

Desi hanya mengangguk, kami kemudian kembali fokus pada mobil tersebut dan menunggu tuannya segera ke luar dari toko.

***

Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, seorang wanita tua muncul dari dalam toko dengan membawa beberapa alat kebersihan. Di belakangnya, disusul seorang wanita yang begitu aku kenali, “Itu Yuni! Sama siapa dia, Des?” Aku menepuk pundak Desi dan menujuk ke arah mereka berdua dengan mata terbuka lebar.

“Iya, itu Yuni! Aku juga gak tau dia sama siapa,” timpal Desi. Setelahnya, wanita tua tadi masuk lebih dulu ke kabin tengah mobil suamiku. Yuni tampak berjalan ke belakang mobil dan membuka bagasi. Dia meletakkan semua barang belanjaan dia di sana.

“Ikutin, Fit!” perintah Desi saat mobil itu mulai melaju. Aku tidak melihat Mas Tito, aku hanya melihat Yuni dan juga wanita tua tadi.

Aku sengaja menjaga jarak agak Yuni tidak curiga. Aku yakin, dia pasti mengenali mobilku ini.

***

Aku terpaku saat melihat Yuni memarkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah megah. “Ini rumah Ayahku, Des!” ucapku lemas. Bagaimana Yuni bisa masuk ke sana sementara yang mengetahui semua hal tentang rumah itu adalah Mas Tito.

Ayahku memang sudah mengatakan akan menghadiahkan rumah itu untuk Mas Tito, namun beliau belum mengurus surat-suratnya.

“Apa-apaan suami kamu, Fit? Jika hanya dia yang tahu akses rumah ini, berarti kemungkinan besar dia yang membawa Yuni ke sini! Gila! Selingkuh gak modal!” maki Desi geram.

“Binatang mereka semua, Des! Mereka memanfaatkan fasilitas orangtuaku untuk melakukan hal bejat??”

Apa kalian bisa membayangkan betapa kesal dan jengkelnya aku? Suamiku berselingkuh dengan pembantuku lalu, yang lebih parah adalah Mas Tito memanfaatkan apa yang dimiliki keluargaku untuk menyembunyikan selingkuhannya?

Aku hampir gila rasanya.

“Aku ke luar sekarang, Des!”

Tekadku bulat

“Hentikan, Fitri! Gak bisa hari ini! Sebaiknya kita susun strategi terlebih dulu,” larang Desi.

“Strategi apalagi, Des? Aku sudah gak bisa biarkan mereka menikmati apa yang aku punya? Apalagi Yuni, dengan santainya dia keluar masuk rumah orangtuaku! Aku saja yang anak kandungnya belum pernah menempati rumah itu. Lalu … pembantu sialan dan kampungan itu yang lebih dulu menempatinya!”

Amukku pada Desi. Muncul rasa menyesal kenapa aku harus mengajak dia.

“Aku tahu dan mengerti perasaan kamu, Fit! Aku pun merasakannya! Tapi, kita gak bisa asal labrak mereka begitu aja! Kita gak tahu, mungkin aja mereka sudah menyiapkan strategi di dalam sana. Aku yakin, Tito sudah menduga hal ini kalau kamu lambat laun pasti akan tahu semuanya!” Desi menatapku. Air mata tidak lagi mampu aku bendung. “Percaya sama aku, Fit! Kita sama-sama akan hancurkan mereka. Tapi, kita butuh perencanaan yang matang! Bisa?” Desi terus berusaha meyakinkan aku.

Entahlah, aku sudah tidak bisa diajak bicara. Pikiranku kini hanya ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.

“Kita tukar posisi, biar aku yang bawa mobil. Kamu lebih baik tenangkan diri dulu, ayok!”

Aku menurut, meski hati menolaknya. Tapi aku benar-benar kehilangan daya. Tubuhku begitu lunglai mendapati takdir yang begitu pahit.

***

“Besok, kita akan mulai melancarkan misi kita, Fit. Persiapkan diri kamu! Ingat, kamu harus tenang dan tidak boleh gegabah!”

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status