Share

Bab 352

Author: Atieckha
last update Last Updated: 2026-01-07 10:47:37

“Aduh, aduh. Pagi-pagi ada, Om Ryan. Nia senang deh,” ucapnya dengan suara manja.

Ryan menoleh dan membalas senyum anak atasannya. Hanya ada Nia di sana. Gadis kecil ini terlihat sangat menggemaskan. Sepertinya Nia Baru saja habis mandi, wangi, rambutnya dikepang dua, dan pakaian yang dikenakan selalu berwarna cerah. Nia juga suka banget pakai mini dress meski hanya di rumah saja.

Walaupun begitu, gadis kecil berusia 3 tahun itu tetap memakai celana pendek di dalamnya. Terlebih kalau sedang berantem dengan kakak kembarnya, Nia bisa berubah menjadi perempuan tomboy yang tidak takut saling pukul dengan kakaknya.

“Gimana rak kaca ini? Bagus kan?” tanya Ryan sambil membungkuk. Sudah ada dua kaca berukuran sangat besar. Bahkan mereka sangat kesulitan untuk membawa rak itu ke lantai 3. Tidak hanya itu, mereka juga harus menyusun ulang semua rak yang ada di sana agar tetap kelihatan rapi dan bikin ruangan gak nampak penuh.

“Bagus banget. Makasih ya, Om Ryan.” Nia memeluk Ryan, bahkan dia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pemuas Hasrat Atasanku   Bab 361

    “Harusnya aku pasang kamera tersembunyi juga di kamar Maria. Dia sangat berbahaya sekali kalau dibiarkan seperti ini. Kelakuannya benar-benar tidak bisa diampuni. Bahkan terhadap anak sekecil Dika diperlakukan dengan buruk. Gajinya 3 kali lipat dari gajiku, sementara semenjak nyonya dan Tuan pergi berlibur, rumah ini seperti rumahnya sendiri,” gumam sang pelayan.Dia menatap pintu kamar Maria yang masih tertutup. “Kasihan sekali Dika harus mendapatkan pengasuh seperti ini,” gumamnya lagi. Dia pun segera turun ke lantai 1 menuju ke kamarnya yang berada di dekat dapur. Besok dia akan meletakkan kamera tersembunyi di kamar Maria.Di sisi lain, Maria mengurung diri di dalam kamarnya dengan dada naik turun tak beraturan. Pintu ditutup keras sejak tadi, seolah itu satu-satunya cara meluapkan amarah yang menumpuk di kepalanya. Pikirannya kacau, wajahnya memerah, tangannya gemetar. Semua yang dia rencanakan hari ini berantakan tanpa sisa. Kesempatan untuk masuk ke rumah Devan Wijaya lenyap b

  • Pemuas Hasrat Atasanku   Bab 360

    Setelah memastikan Maria benar-benar keluar dari kamar Dika dan langkah kakinya sudah tak lagi terdengar di lorong, pelayan itu berdiri beberapa detik di depan pintu. Dadanya terasa sesak, bukan karena lelah, tapi karena marah dan sedih bercampur jadi satu. Sejak tadi dia mendengar jelas suara Maria yang membentak, disusul tangis tertahan seorang anak kecil. Hatinya langsung tidak tenang.Pelayan itu akhirnya masuk ke kamar Dika dengan langkah pelan. Lampu kamar sengaja dibiarkan redup. Di atas ranjang, Dika meringkuk kecil, wajahnya menghadap ke dinding. Bahunya naik turun, tanda bocah itu masih sesenggukan. Matanya sembap, hidungnya merah. Melihat itu saja, air mata pelayan itu langsung jatuh tanpa bisa ditahan.“Dika… ini mbak. Bangun, sayang,” panggilnya lembut sambil mendekat ke ranjang.Dika menoleh pelan. Matanya yang masih basah menatap pelayan itu ragu-ragu, seolah takut dimarahi lagi. Saat melihat wajah yang familiar dan nada suara yang berbeda dari Maria, dia sedikit lega.

  • Pemuas Hasrat Atasanku   Bab 359

    “Dev, kamu makan dulu aja. Semua udah terjadi mau bilang apa. Tinggal doakan agar El cepat pulih.”“Iya, nek,” balasnya.“Daddy tadi kemana? Kok gak nemenin Mommy di rumah sakit?” tanya Nia.“Daddy kerja, sayang. Ada rapat,” balas Devan. Nia mengangguk meski tak paham.Setelah makan malam selesai, Devan tidak langsung membiarkan Nia dan Dika kembali melamun di ruang tamu. Dia mengajak keduanya pindah ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Film anak-anak diputar, warna-warninya memenuhi layar, tapi perhatian dua bocah itu sebenarnya tidak sepenuhnya ada di sana. Mata mereka memang menatap televisi, namun pikiran mereka jelas masih tertinggal pada satu nama yang sejak sore tidak muncul menemani mereka.Nia duduk bersandar di sisi Devan, tubuhnya menempel rapat seperti biasanya. Sesekali gadis kecil itu melirik ke arah tangga, berharap El turun dan ikut bergabung. Dika duduk di sisi lain, posisinya rapi, tangannya diletakkan di atas paha. Wajahnya terlihat penuh rasa ingin tahu. Ana

  • Pemuas Hasrat Atasanku   Bab 358

    “Sayang, maafin aku. Tadi…” ucapan Devan terpotong begitu saja.“Berisik!”Satu kata itu sudah cukup bikin Devan berhenti bicara. Dia menghela napas berat, menatap punggung Luna yang duduk membelakangi ranjang. Bahu istrinya terlihat kaku, jelas masih menahan emosi. Devan sudah sangat hafal tanda-tanda seperti ini. Kalau Luna sudah begini, artinya bukan marah biasa.Sejak menikah, Luna tercatat sudah empat kali ngambek parah. Bukan tipe yang teriak atau membanting barang, tapi diamnya itu justru lebih bikin Devan kalang kabut. Kalau kesalahannya masih ringan, Luna biasanya bisa diluluhkan dengan pelukan atau obrolan panjang. Tapi kalau sudah menyangkut anak, apalagi sampai El masuk rumah sakit, Devan tahu posisinya benar-benar salah.“Aku mandi dulu ya,” ucap Devan pelan, masih berharap ada respons.Luna tetap diam. Tidak menoleh, tidak menjawab, bahkan tidak memberi tanda kalau dia mendengar.Devan memilih mundur. Dia melangkah ke ruang ganti, membuka kancing kemejanya satu per satu.

  • Pemuas Hasrat Atasanku   Bab 357

    “Puas kamu melihat anakmu seperti huh? Udah tahu anak minum obat alergi, kamu malah mematikan hp. Lebih penting cari duit apa keselamatan anakmu, huh?” Meski Nyonya Wijaya berusaha menekan suaranya, tapi tetap saja beliau tidak bisa menutupi kemarahannya serta kekecewaannya pada Devan. Ini bukan masalah sepele, Ini masalah serius. “Maafin Devan, nek.“Maaf, maaf. Kamu pikir semua bisa dilebur dengan maaf. Kalau sampai Luna maafin kamu, benar-benar dah. Nenek harap kamu gak diajak ngomong sama Luna.”Devan menatap sang nenek dengan nanar, bisa-bisanya neneknya yang harusnya menjadi penengah justru mendoakan Devan agar kena marah oleh Luna. Kalau Luna sedang ngambek, lama sekali untuk dibujuk. Memang jarang sekali Luna ngambek apalagi marah, tapi sekalinya dia marah rasanya sampai mampus buat membujuk istrinya itu. Dan sekarang Devan yakin istrinya nggak akan mau ngomong dengan dia.Nia menatap sang Daddy, “sabar, Dad. Sabar. Tarik napas. Buang. Tarik napas, buang,” ucapnya seperti bur

  • Pemuas Hasrat Atasanku   Bab 356

    “Dad,” Nia naik ke gendongan sang Daddy saat Devan baru saja sampai di rumah. Langkah Devan yang tadinya terasa berat karena kelelahan seharian langsung berhenti. Tangannya refleks mengangkat tubuh kecil itu, memeluknya erat. Devan mencium pipi gadis kecilnya berkali-kali. Wangi parfum El dan Nia selalu menenangkan, seolah semua beban di kepalanya luruh seketika begitu saja.Nia tertawa kecil, lengannya melingkar manja di leher sang ayah. Devan sempat menutup mata sesaat, menikmati momen singkat itu. Baru setengah hari berada di kantor, rasanya seperti sudah berhari-hari dia tidak bertemu anak-anaknya.Dika keluar dari pintu utama. Bocah itu tampak rapi, rambutnya masih tersisir rapi dan dia sangat ceria. Anak ini benar-benar mandiri dan punya adab yang baik.“Om,” sapanya. Dia mencium punggung tangan Devan dengan sopan, kebiasaan yang selalu membuat orang dewasa di rumah itu tersenyum. Sekali lagi mereka tahu kalau Dika seperti ini atas didikan mantan susternya yang sebelumnya. Dika

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status