Mag-log inBeberapa bulan kemudian. Aku turun dari mobil membawa dua kantong besar di tangan kanan dan satu kotak tertutup di tangan kiri. Motel itu kecil dan kumuh, cat temboknya mengelupas, papan nama yang hampir pudar digantung miring. Aku mendengar desas-desus dari pengacara Nathaniel bahwa Derek sekarang bekerja sebagai sopir taksi online. Penghasilan tidak menentu. Tempat tinggalnya berpindah-pindah sampai akhirnya menetap di motel pinggir kota yang sewaannya murah.Aku mengetuk pintu kamar nomor 17.Beberapa detik kemudian pintu terbuka.Anita berdiri di ambang. Rambutnya berantakan, dikucir asal-asalan. Wajahnya pucat, tanpa riasan. Tubuhnya agak gendut dibanding dulu, perut masih sedikit menggembung, dan payudaranya kendor, jelas bekas menyusui. Dia memakai kaos longgar yang sudah kusam dan celana pendek. Di belakangnya, aku mendengar suara bayi menangis.Matanya melebar saat mengenali aku.“Apa yang kau lakukan di sini?”Aku tidak masuk. Aku hanya mengulurkan kantong-kantong itu.
Suatu pagi, aku terbangun lebih awal dari biasanya. Rumah ayahku masih sepi. Aku turun ke ruang keluarga hanya dengan memakai sweater longgar dan celana pendek, rambut masih berantakan. Televisi menyala dengan volume rendah.Layar menampilkan studio berita pagi dan di sana, duduk di belakang meja panjang dengan latar belakang logo Whitmore Group, adalah Nathaniel.Aku terkejut di tengah ruangan.Dia mengenakan setelan hitam yang rapi, dasi abu-abu, wajahnya tenang seperti biasa.“Selamat pagi. Saya Nathaniel Whitmore. Hari ini saya berdiri di sini untuk berbicara secara terbuka mengenai beberapa hal yang telah menjadi perhatian publik dalam beberapa minggu terakhir.”Aku duduk perlahan di sofa, seolah kaki saya tiba-tiba tidak kuat menahan tubuh.“Pertama, saya ingin meminta maaf secara langsung terkait skandal yang melibatkan saya dan putra saya, Derek Whitmore. Saya menyadari bahwa apa yang terjadi telah mengecewakan banyak pihak, investor, mitra bisnis, karyawan, dan masyarakat yan
Akhirnya, hari itu tiba.Perceraianku dengan Derek resmi selesai di ruang sidang. Hakim mengetuk palu, dokumen ditandatangani, dan dalam hitungan menit statusku berubah. Bukan lagi istri Derek Whitmore. Hanya Seraphina VossNathaniel berdiri di sampingku sepanjang proses. Kekuatannya memang luar biasa. Dalam hitungan minggu dia berhasil meredam hampir seluruh pemberitaan skandal kami.Artikel-artikel yang semula ganas perlahan menghilang dari halaman utama. Beberapa media besar bahkan menarik berita lama mereka setelah “pernyataan resmi” dan tekanan hukum yang diam-diam dia gerakkan. Nama kami masih disebut di sudut-sudut internet, tapi tidak lagi menjadi api yang membakar setiap hari.Setelah sidang, kami dipanggil ke ruang terpisah untuk penyelesaian harta. Derek sudah duduk di sana, wajahnya kaku. Anita duduk di belakangnya dengan bayi di gendongan, tidak menatap siapa pun. Pengacara Nathaniel membacakan hasil pembagian.Karena terbukti bukan anak kandung, Derek hanya berhak atas
Aku tidak sempat berpikir panjang. Ketika Nathaniel melangkah keluar dan mobil hitamnya mulai bergerak meninggalkan halaman, tubuhku bergerak lebih cepat dari pikiranku. Tanpa ragu, aku berlari mengejarnya. Sepatu hakku berdentum keras di anak tangga, lalu bergema di aspal yang dingin. "Nathaniel! Tunggu!" Suaraku pecah di udara malam. Mobil itu melambat, lalu berhenti dengan lampu rem yang menyala merah. Pintu belakang terbuka dari dalam, dan tanpa ragu aku meluncur masuk, duduk di sebelahnya dengan napas yang masih memburu. Nathaniel menatapku dengan tatapan bingung, satu tangannya masih bertengger di setir. "Sera? Kau..." "Ayah mengizinkanku ikut denganmu," kataku, masih berusaha mengatur napas. Nathaniel terdiam sejenak. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya—semacam kelegaan yang tertahan, sebuah ketegangan yang akhirnya terurai. Kemudian, senyum tipis terukir di bibirnya. Tanpa berkata apa-apa, dia menarikku ke dalam pelukan di kursi belakang yang luas. Lengan kekarnya me
Aku duduk di meja makan malam yang terlalu besar untuk tiga orang. Ayah di ujung meja, Ethan di sisi kirinya. Aku di sebelah kanan, tepat di depan kursi kosong yang biasanya diisi tamu.Mereka berdua diam.Bukan diam yang nyaman. Diam yang penuh kata-kata tidak terucap. Ayah memotong dagingnya dengan gerakan lambat, Ethan menggulir sesuatu di tablet sambil sesekali mengangguk pada ayah. Pembicaraan bisnis. Saham, merger, kerugian yang diderita perusahaan Voss sejak skandal meledak. Namaku tidak disebut, tapi setiap angka yang mereka bicarakan terasa seperti tamparan.Aku makan pelan. Nasi terasa hambar, sayuran seperti kapas. Sejak dikunci di kamar kemarin, nafsu makanku belum kembali sepenuhnya. Tapi aku memaksa diri. Ethan sempat melirikku tadi, memberi isyarat agar aku makan. Aku menurut.“Proyeksi kuartal depan turun 18 persen. Investor asing mulai menarik diri. Mereka menunggu pernyataan resmi dari keluarga," kata Ethan.Ayah mengangguk tanpa menoleh. “Kita keluarkan pernyataan m
Derek memarkir mobilnya di basement gedung itu dengan kasar. Mesin dimatikan, tapi dia masih duduk diam beberapa detik, tangan mencengkeram setir. Seharian penuh dia bertemu pengacara, mencoba menarik dana yang dibekukan, mencoba menyangkal laporan korupsi. Semuanya buntu. Nama Whitmore yang dulu membuka setiap pintu kini menjadi tembok.Dia naik lift ke lantai 48. Pintu penthouse terbuka otomatis saat kartu aksesnya didekatkan tapi hanya untuk beberapa detik. Di dalam, suasana sudah berbeda. Tidak ada lampu menyala. Perabotan masih ada, tapi terasa kosong.Anita berdiri di koridor luar, bayi laki-laki itu digendong di dada, dibungkus selimut tebal. Wajahnya pucat, mata merah. Di sampingnya ada dua koper besar dan tas bayi.“Mereka datang pagi ini. Orang-orang dari pengadilan. Mereka bilang tempat ini disita. Aset perusahaan. Kita harus keluar sebelum sore.”“Apa?”“Penthose ini sudah bukan milik kita lagi. Mereka kasih waktu sampai jam enam," kata Anita.Derek mengusap wajahnya kasar







