Share

Bab 109

Penulis: Author Marr
last update Tanggal publikasi: 2026-09-29 16:18:41

Setelah makan siang di sebuah restoran kecil yang tenang di pinggiran kota, Nathaniel menggenggam tanganku di atas meja dan menatapku dengan tatapan yang sulit kubaca.

"Ada satu hal lagi yang belum kubilang," katanya.

"Apa?"

"Bulan madu."

Aku menaikkan alis. "Bulan madu? Kita bahkan belum menikah."

"Justru karena itu aku sudah menyiapkannya." Dia tersenyum tipis, lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka beberapa foto. "Aku sudah memesan semuanya kemarin, setelah kau tertidur."

Dia menyerahkan po
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 118

    Beberapa jam kemudian, kami sudah berada di dalam jet pribadi menuju London. Di depanku, Nathaniel duduk dengan wajah tegang, sesekali menatap layar ponsel yang menampilkan update kondisi Derek dari rumah sakit.Aku menggenggam tangannya di atas sandaran kursi. Jari-jarinya dingin, kaku, tapi dia tidak menariknya pergi. Justru dia membalas genggamanku."Kau belum makan sejak siang," kataku.Nathaniel menggeleng singkat. "Tidak selera.""Aku tahu tapi kau butuh tenaga. Kau tidak akan berguna untuk Derek kalau kau sendiri tumbang."Dia menoleh ke arahku."Kau selalu tahu apa yang harus dikatakan," kataku."Aku hanya mengatakan apa yang kau butuhkan untuk dengar."Aku memanggil pramugari dan meminta sup hangat serta roti panggang. Nathaniel mengerutkan kening, tapi aku menatapnya dengan tatapan yang tidak menerima penolakan. Akhirnya dia menurut. Dia makan perlahan, beberapa suap, lalu berhenti tapi setidaknya ada warna yang kembali ke wajahnya.Setelah pesawat mencapai ketinggian jelaja

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 117

    Kami masih duduk di pasir yang hangat ketika suara langkah kaki terdengar dari arah villa.Aku menoleh. Seorang pria berpakaian rapi, kemeja putih dan celana chino, sedang berjalan cepat mendekati kami. Wajahnya familiar. Itu Marcus, asisten pribadi Nathaniel yang biasanya selalu berada di belakang layar. Kali ini dia tampak terburu-buru, dahi berkilat oleh keringat.Nathaniel langsung menegakkan tubuh. Lengannya yang semula melingkar di perutku perlahan melepaskan diri.“Marcus? Ada apa?”Marcus berhenti beberapa langkah di depan kami. Dia menunduk singkat sebagai salam, lalu menatap Nathaniel dengan wajah yang jelas membawa berita buruk.“Maaf mengganggu bulan madu Anda, Sir, tapi ini penting. Saya baru menerima telepon dari London.”Nathaniel tidak bilang apa-apa. Hanya menunggu.Marcus menarik napas. “Derek mengalami kecelakaan mobil tadi malam. Dia sekarang bekerja sebagai sopir taksi. Mobilnya ditabrak dari samping di persimpangan dekat East London. Kondisinya kritis. Sekarang m

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 116

    Keesokan harinya matahari sudah tinggi ketika aku membuka mata.Nathaniel masih di sampingku, tapi kali ini dia sudah bangun lebih dulu. Dia duduk di tepi ranjang dengan handuk dililitkan di pinggang, rambut basah menandakan dia baru selesai mandi. Saat merasakan aku bergerak, dia menoleh dan tersenyum.“Pagi, istriku,” sapaannya pelan. “Staf sudah siapkan sarapan di teras. Ayo turun sebelum telur dadarnya dingin.”Aku mengangguk, masih semi mengantuk. Tubuhku terasa lega dan sedikit pegal setelah semalam. Nathaniel membungkuk, mencium keningku sebentar, lalu membantu ku bangun. Kami mandi cepat secara terpisah kali ini—dia bersikeras aku memakai gaun putih longgar yang menutupi tubuhku dengan baik sebelum turun.Di teras, meja sudah ditata indah. Buah-buahan tropis segar, telur dadar keju, roti panggang, yogurt, dan dua cangkir kopi yang masih mengepul. Laut di depan kami tenang, ombak kecil pecah di pantai berpasir putih dengan suara yang menenangkan.Nathaniel menarik kursi untukku

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 115

    Setelah berjalan di pantai hingga matahari mulai condong ke barat, kami kembali ke villa. Nathaniel tidak banyak bicara, tapi tangannya selalu menemukan cara untuk menyentuhku, di pinggang saat menaiki tangga, di punggung saat aku menuangkan air minum, di leher saat aku tertawa mendengar lelucon kecilnya tentang staf yang terlalu formal.Makan malam disiapkan di teras yang sama. Lampu-lampu kecil digantung di antara tiang kayu, membuat suasana terasa intim. Kami makan perlahan, saling menyuapi sesekali, tertawa pelan. Tidak ada pembicaraan berat. Hanya tentang ombak, tentang bintang yang mulai muncul, tentang betapa anehnya merasa bebas setelah bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang nama Voss.Ketika piring terakhir diangkat staf, Nathaniel berdiri dan mengulurkan tangan.“Naik,” katanya. Aku tahu apa artinya.Nathaniel melepas kemeja linennya pelan, lalu menarikku mendekat. Ciumannya kali ini berbeda, lebih dalam, lebih penuh rasa syukur. Seolah dia ingin mengucapkan terima ka

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 114

    Aku terbangun saat matahari sudah tinggi.Nathaniel masih di sampingku, tapi kali ini dia sudah bangun. Dia duduk bersandar di sandaran ranjang, satu tangan memegang ponsel, tangan lainnya masih memegang pinggangku seolah tidak rela melepaskan.Saat merasakan aku bergerak, dia menoleh. Senyum tipis muncul di wajahnya yang masih sedikit mengantuk.“Pagi, istriku.”Suara itu rendah dan serak. Aku tersenyum malu, wajahku masih menempel di dadanya.“Pagi…”Nathaniel meletakkan ponselnya di meja, lalu menarikku lebih dekat hingga tubuhku hampir menindihnya. Bibirnya menempel di dahiku, lalu turun ke pelipis, lalu ke ujung hidungku.“Kau tidur nyenyak?”Aku mengangguk. “Karena kau di sini.”Dia tertawa pelan. Getaran suaranya terasa di dada yang menempel padaku.“Bagus aku memikirkan apa yang kau katakan tadi malam.”Aku menegang sedikit. “Tentang anak?”“Hmm.” Nathaniel mengusap punggungku pelan. “Aku serius, Sera. Aku tidak menikahimu untuk mendapatkan penerus. Aku menikahimu karena aku i

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 113

    Malam sudah larut ketika aku membuka mata. Jam di meja samping ranjang menunjukkan pukul setengah dua.Nathaniel tidur telentang, satu lengan terlipat di bawah bantal, lengan lainnya masih melingkar longgar di pinggangku seolah bahkan dalam tidur pun dia takut melepaskanku. Rambut hitamnya berantakan di atas dahinya. Bulu mata panjangnya menorehkan bayangan lembut di tulang pipi. Bibirnya sedikit terbuka. Dia terlihat sangat tampan. Lebih tampan daripada saat dia berdiri di altar siang tadi, lebih tampan daripada saat dia mengisiiku di sofa, lebih tampan daripada semua foto yang pernah muncul di majalah bisnis.Aku menatapnya lama sekali.Pelan-pelan aku melepas lengannya dari pinggangku. Dia bergumam pelan tapi tidak bangun. Aku turun dari ranjang, kaki telanjang menyentuh lantai kayu yang agak dingin. Lemari terbuka. Di dalamnya sudah tersedia beberapa gaun yang dipersiapkan staf villa. Aku memilih yang paling sederhana, gaun tidur sutra berwarna champagne, tipis, longgar di bagi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status