แชร์

Bab 16

ผู้เขียน: Author Marr
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-20 20:13:47

Aku berjalan ke kamar mandi utama, membuka keran air hangat. Uap mulai mengepul, memenuhi ruangan dengan kelembapan. Aku menuangkan minyak esensial lavender ke dalam bak marmer putih yang luas, minyak yang dulu Derek sukai, tapi sekarang aku tidak peduli lagi apa yang dia sukai.

Aku melakukan semua ini dengan wajah datar, tanpa emosi. Seperti robot. Seperti pelayan yang menjalankan perintah.

Derek masuk beberapa saat kemudian, melepas kemejanya dan celananya dengan malas. Tubuhnya masih tampan,
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 16

    Aku berjalan ke kamar mandi utama, membuka keran air hangat. Uap mulai mengepul, memenuhi ruangan dengan kelembapan. Aku menuangkan minyak esensial lavender ke dalam bak marmer putih yang luas, minyak yang dulu Derek sukai, tapi sekarang aku tidak peduli lagi apa yang dia sukai.Aku melakukan semua ini dengan wajah datar, tanpa emosi. Seperti robot. Seperti pelayan yang menjalankan perintah.Derek masuk beberapa saat kemudian, melepas kemejanya dan celananya dengan malas. Tubuhnya masih tampan, perut rata, dada bidang, otot lengan yang tegas. Tapi aku tidak lagi merasa apa-apa saat melihatnya. Tidak ada hasrat. Tidak ada cinta. Hanya kebencian yang dingin."Airnya sudah siap," kataku datar.Derek mengangguk, melangkah ke dalam bak mandi. Air hangat memercik, membasahi tubuhnya. Dia menghela napas panjang, menutup matanya, dan bersandar di tepi bak."Tunggu di sini," katanya, tanpa membuka mata. "Aku mungkin butuh sesuatu."Aku duduk di kursi kecil di sudut kamar mandi, tanganku terlip

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 15

    Hari Minggu berlalu dengan lambat. Aku menghabiskan waktu di taman mansion, duduk di bawah pohon rindang sambil membaca buku yang tidak benar-benar aku baca. Pikiranku melayang ke mana-mana kepada Nathaniel, kepada ayahku, kepada Derek yang belum juga pulang.Matahari mulai condong ke barat saat aku mendengar suara mobil memasuki gerbang. Aku menoleh, melihat Aston Martin hitam Derek melaju pelan ke garasi.Derek pulang.Aku menarik napas panjang, merapikan gaun rumahku, dan berjalan ke ruang tamu. Aku harus bersikap normal. Aku harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.Derek masuk melalui pintu depan, jasnya kusut, dasinya longgar, dan wajahnya tampak kelelahan. Matanya sedikit merah, seolah dia kurang tidur. Atau mungkin karena begadang di hotel bersama Anita."Kau baru pulang," kataku, berusaha terdengar netral.Derek menghela napas berat, melemparkan jasnya ke sofa."Aku sangat lelah, Sera. Jangan mulai."Aku menatapnya, merasakan amarah yang mulai membara di dadaku. Tapi

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 14

    Matahari pagi menyinari kamarku melalui celah tirai tebal. Aku terbangun dengan tubuh yang masih terasa sakit, otot-otot di pahaku terasa kram, dan di antara kakiku masih terasa perih yang mengingatkanku pada malam yang menghabiskan dua jam di pelukan Nathaniel.Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap bekas merah di leherku di cermin. Bekas gigitan Nathaniel. Aku menutupnya dengan selendang tipis, berharap tidak ada yang melihat.Di luar, aku mendengar suara mobil masuk ke garasi. Derek? Jantungku berdegup kencang. Tapi kemudian aku mendengar suara lain, suara yang sudah lama tidak kudengar.Suara ayahku.Aku berjalan cepat ke jendela, membuka tirai sedikit. Di bawah, sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir di halaman mansion. Seorang pria dengan setelan jas abu-abu keluar dari mobil, tubuhnya tinggi, rambutnya mulai beruban, wajahnya tegas dan berwibawa.Ayahku, Harrison Voss.Jantungku berdegup kencang. Ayah datang. Tanpa memberitahu. Ini bukan kunjungan biasa.Aku berganti paka

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 13

    Aku terbaring di samping Nathaniel, tubuhku lemas seperti boneka kain. Napasku masih tersengal-sengal, dadaku naik turun dengan cepat, dan di antara pahaku terasa hangat dan basah, bekas dari dua jam yang terasa seperti mimpi basah yang nyata.Hampir dua jam.Aku menatap langit-langit kamar yang gelap, mencoba mengatur pikiranku yang kacau. Di sampingku, Nathaniel berbaring dengan tenang, dadanya yang bidang naik turun perlahan. Meskipun usianya sudah tidak lagi muda, kerutan halus di sudut matanya, tubuhnya tetap kuat. Kekar, perkasa dan tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sama sekali.Aku menoleh, menatap profilnya. Tulang rahangnya yang tegas, bibirnya yang tipis dan tegas, matanya yang tertutup dengan bulu mata panjang.Pria ini, ayah mertuaku, baru saja menghancurkanku di tempat tidur dengan cara yang tidak pernah Derek lakukan dalam tujuh tahun pernikahan.Aku menggigit bibir, perasaan aneh bercampur di dadaku. Rasa bersalah, kenikmatan, kebingungan, dan sedikit rasa malu.P

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 12

    Nathaniel tersenyum puas, tapi senyum itu penuh nafsu liar. Dia tidak menarik keluar. Sebaliknya, dia mulai bergerak lagi, lambat dulu, lalu semakin dalam, semakin keras. Batang tebalnya masih kaku sempurna di dalam diriku yang basah dan berdenyut.“Masih keras, Daddy…” desahku, suaraku serak. “Derek… Derek cuma tahan tujuh menit… kau… kau tidak habis-habis…”“Tujuh menit?” Nathaniel tertawa rendah, suara seraknya membuat tubuhku bergidik. “Anak itu memang tidak tahu cara memakai batangnya. Aku bisa mengisimu sepanjang malam, sayang. Lihat masih tegang banget, kan?”Dia menghentak dalam sekali, membuat perutku yang gendut berguncang. Aku mengerang keras.“Ahhh! fuck! Daddy… pelan… ahh…”“Pelan? Tadi kau bilang terus. Sekarang kau minta pelan?” Dia menarik hampir seluruhnya keluar, lalu menusuk masuk sampai ke pangkal dengan tenaga penuh. “Tubuhmu yang gendut ini empuk banget. Aku suka sekali. Payvdara besarmu, perutmu yang lembut, pantatmu yang montok semuanya buatku gila.”Dia menari

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 11

    Nathaniel langsung berhenti bergerak, tubuhnya masih tertanam dalam diriku sampai ke pangkal. Napasnya berat, dadanya naik-turun di atasku. Matanya menatapku tajam, penuh perhatian, bukan hanya nafsu.“Shh… pelan-pelan, sayang,” bisiknya serak. Tangannya mengusap rambutku yang basah keringat, lalu turun ke pipiku. “Aku tahu aku terlalu besar buatmu. Derek tidak pernah mengisimu sebegini dalam. Tapi aku tidak akan memaksamu. Bernapaslah… pelan.”Aku mengangguk, masih meringis. Perih itu nyata seolah dinding dalamnya meregang paksa, dipaksa menerima sesuatu yang jauh lebih tebal dan panjang dari yang pernah aku kenal tapi di balik rasa sakit itu, ada rasa kenyang yang aneh, rasa dipenuhi sampai ke ujung.“Daddy… pelan,” desahku, suaraku gemetar.Dia mencium keningku, lalu bibirku, lembut sekali. “Ya. Pelan.”Gerakannya dimulai lagi, sangat lambat. Hampir tidak bergerak, hanya menggeser sedikit keluar, lalu masuk lagi seinci demi seinci. Setiap kali kepala kontolnya menggesek titik dalam

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status