Share

Bab 97

Author: Author Marr
last update publish date: 2026-09-25 09:37:43
Aku tidak sempat berpikir panjang. Ketika Nathaniel melangkah keluar dan mobil hitamnya mulai bergerak meninggalkan halaman, tubuhku bergerak lebih cepat dari pikiranku. Tanpa ragu, aku berlari mengejarnya. Sepatu hakku berdentum keras di anak tangga, lalu bergema di aspal yang dingin.

"Nathaniel! Tunggu!"

Suaraku pecah di udara malam. Mobil itu melambat, lalu berhenti dengan lampu rem yang menyala merah. Pintu belakang terbuka dari dalam, dan tanpa ragu aku meluncur masuk, duduk di sebelahn
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 98

    Akhirnya, hari itu tiba.Perceraianku dengan Derek resmi selesai di ruang sidang. Hakim mengetuk palu, dokumen ditandatangani, dan dalam hitungan menit statusku berubah. Bukan lagi istri Derek Whitmore. Hanya Seraphina VossNathaniel berdiri di sampingku sepanjang proses. Kekuatannya memang luar biasa. Dalam hitungan minggu dia berhasil meredam hampir seluruh pemberitaan skandal kami.Artikel-artikel yang semula ganas perlahan menghilang dari halaman utama. Beberapa media besar bahkan menarik berita lama mereka setelah “pernyataan resmi” dan tekanan hukum yang diam-diam dia gerakkan. Nama kami masih disebut di sudut-sudut internet, tapi tidak lagi menjadi api yang membakar setiap hari.Setelah sidang, kami dipanggil ke ruang terpisah untuk penyelesaian harta. Derek sudah duduk di sana, wajahnya kaku. Anita duduk di belakangnya dengan bayi di gendongan, tidak menatap siapa pun. Pengacara Nathaniel membacakan hasil pembagian.Karena terbukti bukan anak kandung, Derek hanya berhak atas

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 97

    Aku tidak sempat berpikir panjang. Ketika Nathaniel melangkah keluar dan mobil hitamnya mulai bergerak meninggalkan halaman, tubuhku bergerak lebih cepat dari pikiranku. Tanpa ragu, aku berlari mengejarnya. Sepatu hakku berdentum keras di anak tangga, lalu bergema di aspal yang dingin. "Nathaniel! Tunggu!" Suaraku pecah di udara malam. Mobil itu melambat, lalu berhenti dengan lampu rem yang menyala merah. Pintu belakang terbuka dari dalam, dan tanpa ragu aku meluncur masuk, duduk di sebelahnya dengan napas yang masih memburu. Nathaniel menatapku dengan tatapan bingung, satu tangannya masih bertengger di setir. "Sera? Kau..." "Ayah mengizinkanku ikut denganmu," kataku, masih berusaha mengatur napas. Nathaniel terdiam sejenak. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya—semacam kelegaan yang tertahan, sebuah ketegangan yang akhirnya terurai. Kemudian, senyum tipis terukir di bibirnya. Tanpa berkata apa-apa, dia menarikku ke dalam pelukan di kursi belakang yang luas. Lengan kekarnya me

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 96

    Aku duduk di meja makan malam yang terlalu besar untuk tiga orang. Ayah di ujung meja, Ethan di sisi kirinya. Aku di sebelah kanan, tepat di depan kursi kosong yang biasanya diisi tamu.Mereka berdua diam.Bukan diam yang nyaman. Diam yang penuh kata-kata tidak terucap. Ayah memotong dagingnya dengan gerakan lambat, Ethan menggulir sesuatu di tablet sambil sesekali mengangguk pada ayah. Pembicaraan bisnis. Saham, merger, kerugian yang diderita perusahaan Voss sejak skandal meledak. Namaku tidak disebut, tapi setiap angka yang mereka bicarakan terasa seperti tamparan.Aku makan pelan. Nasi terasa hambar, sayuran seperti kapas. Sejak dikunci di kamar kemarin, nafsu makanku belum kembali sepenuhnya. Tapi aku memaksa diri. Ethan sempat melirikku tadi, memberi isyarat agar aku makan. Aku menurut.“Proyeksi kuartal depan turun 18 persen. Investor asing mulai menarik diri. Mereka menunggu pernyataan resmi dari keluarga," kata Ethan.Ayah mengangguk tanpa menoleh. “Kita keluarkan pernyataan m

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 95

    Derek memarkir mobilnya di basement gedung itu dengan kasar. Mesin dimatikan, tapi dia masih duduk diam beberapa detik, tangan mencengkeram setir. Seharian penuh dia bertemu pengacara, mencoba menarik dana yang dibekukan, mencoba menyangkal laporan korupsi. Semuanya buntu. Nama Whitmore yang dulu membuka setiap pintu kini menjadi tembok.Dia naik lift ke lantai 48. Pintu penthouse terbuka otomatis saat kartu aksesnya didekatkan tapi hanya untuk beberapa detik. Di dalam, suasana sudah berbeda. Tidak ada lampu menyala. Perabotan masih ada, tapi terasa kosong.Anita berdiri di koridor luar, bayi laki-laki itu digendong di dada, dibungkus selimut tebal. Wajahnya pucat, mata merah. Di sampingnya ada dua koper besar dan tas bayi.“Mereka datang pagi ini. Orang-orang dari pengadilan. Mereka bilang tempat ini disita. Aset perusahaan. Kita harus keluar sebelum sore.”“Apa?”“Penthose ini sudah bukan milik kita lagi. Mereka kasih waktu sampai jam enam," kata Anita.Derek mengusap wajahnya kasar

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 94

    Author'sNathaniel duduk di kursi belakang mobil yang sedang melaju kencang menuju gedung kantor pusat. Wajahnya tenang, tapi jari-jarinya mengetuk-ngetuk lutut dengan tidak sabar. Dia mencoba nomor Sera untuk yang kelima kalinya pagi itu. Nada sibuk. Lalu pesan otomatis: nomor tidak aktif.Dia menghela napas, lalu menekan nama lain di daftar kontak. Harisson Voss.Layar ponsel menyala. Beberapa detik kemudian wajah Harisson muncul. Latar belakangnya ruang kerja di rumah, tirai masih tertutup.“Nathaniel,” sapa Harisson datar. Tidak ada basa-basi.“Kenapa nomor Sera tidak aktif? Aku sudah mencoba sejak tadi pagi. Apa yang kau lakukan?”Harisson menatap kamera tanpa berkedip. “Jangan menghubunginya lagi.”Nathaniel mengangkat alis. “Kekanakan sekali, kau mengunci anakmu sendiri di kamar dan mematikan nomornya? Kita bukan hidup di abad ke-19.”“Orang gila mana yang meniduri menantunya sendiri? Kau yang kekanakan. Kau yang tidak tahu malu. Kau seumuran denganku, kau seharusnya menjadi co

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 93

    Ponselku bergetar di atas meja nakas. Aku masih terbungkus selimut, tubuh telanjang masih hangat oleh sisa-sisa malam bersama Nathaniel, saat nama “Ethan” muncul di layar. Aku ragu sejenak sebelum mengangkatnya.“Sera.” Suara kakakku terdengar serak, seolah dia tidak tidur semalaman. “Pulang sekarang. Setidaknya jangan melarikan diri.”Aku duduk, selimut turun ke pinggang. “Aku tidak melarikan diri, aku hanya butuh waktu.”“Ayah sakit.”Dua kata itu membuat darahku seolah berhenti. “Apa?”“Ayah sakit, dokter bilang tekanan darahnya naik drastis sejak kemarin. Dia tidak mau dirawat di rumah sakit. Dia hanya diam di rumah. Pulang lah ke rumah sebelum semuanya lebih parah.”Aku menelan ludah. “Aku segera pulang.”Telepon terputus. Aku duduk mematung beberapa detik, lalu menoleh ke Nathaniel yang sudah berdiri di ambang pintu balkon, masih bertelanjang dada, rokok di jari.“Ethan bilang ayahku sakit. Aku harus pulang.”Nathaniel mematikan rokok, masuk, lalu mengangguk sekali. “Aku antar.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status