LOGINAku terbaring di samping Nathaniel, tubuhku lemas seperti boneka kain. Napasku masih tersengal-sengal, dadaku naik turun dengan cepat, dan di antara pahaku terasa hangat dan basah, bekas dari dua jam yang terasa seperti mimpi basah yang nyata.Hampir dua jam.Aku menatap langit-langit kamar yang gelap, mencoba mengatur pikiranku yang kacau. Di sampingku, Nathaniel berbaring dengan tenang, dadanya yang bidang naik turun perlahan. Meskipun usianya sudah tidak lagi muda, kerutan halus di sudut matanya, tubuhnya tetap kuat. Kekar, perkasa dan tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sama sekali.Aku menoleh, menatap profilnya. Tulang rahangnya yang tegas, bibirnya yang tipis dan tegas, matanya yang tertutup dengan bulu mata panjang.Pria ini, ayah mertuaku, baru saja menghancurkanku di tempat tidur dengan cara yang tidak pernah Derek lakukan dalam tujuh tahun pernikahan.Aku menggigit bibir, perasaan aneh bercampur di dadaku. Rasa bersalah, kenikmatan, kebingungan, dan sedikit rasa malu.P
Nathaniel tersenyum puas, tapi senyum itu penuh nafsu liar. Dia tidak menarik keluar. Sebaliknya, dia mulai bergerak lagi, lambat dulu, lalu semakin dalam, semakin keras. Batang tebalnya masih kaku sempurna di dalam diriku yang basah dan berdenyut.“Masih keras, Daddy…” desahku, suaraku serak. “Derek… Derek cuma tahan tujuh menit… kau… kau tidak habis-habis…”“Tujuh menit?” Nathaniel tertawa rendah, suara seraknya membuat tubuhku bergidik. “Anak itu memang tidak tahu cara memakai batangnya. Aku bisa mengisimu sepanjang malam, sayang. Lihat masih tegang banget, kan?”Dia menghentak dalam sekali, membuat perutku yang gendut berguncang. Aku mengerang keras.“Ahhh! fuck! Daddy… pelan… ahh…”“Pelan? Tadi kau bilang terus. Sekarang kau minta pelan?” Dia menarik hampir seluruhnya keluar, lalu menusuk masuk sampai ke pangkal dengan tenaga penuh. “Tubuhmu yang gendut ini empuk banget. Aku suka sekali. Payvdara besarmu, perutmu yang lembut, pantatmu yang montok semuanya buatku gila.”Dia menari
Nathaniel langsung berhenti bergerak, tubuhnya masih tertanam dalam diriku sampai ke pangkal. Napasnya berat, dadanya naik-turun di atasku. Matanya menatapku tajam, penuh perhatian, bukan hanya nafsu.“Shh… pelan-pelan, sayang,” bisiknya serak. Tangannya mengusap rambutku yang basah keringat, lalu turun ke pipiku. “Aku tahu aku terlalu besar buatmu. Derek tidak pernah mengisimu sebegini dalam. Tapi aku tidak akan memaksamu. Bernapaslah… pelan.”Aku mengangguk, masih meringis. Perih itu nyata seolah dinding dalamnya meregang paksa, dipaksa menerima sesuatu yang jauh lebih tebal dan panjang dari yang pernah aku kenal tapi di balik rasa sakit itu, ada rasa kenyang yang aneh, rasa dipenuhi sampai ke ujung.“Daddy… pelan,” desahku, suaraku gemetar.Dia mencium keningku, lalu bibirku, lembut sekali. “Ya. Pelan.”Gerakannya dimulai lagi, sangat lambat. Hampir tidak bergerak, hanya menggeser sedikit keluar, lalu masuk lagi seinci demi seinci. Setiap kali kepala kontolnya menggesek titik dalam
"Lebih besar dari suamimu?" bisik Nathaniel di telingaku, suaranya serak oleh hasrat.Aku mengangguk malu, wajahku memerah. Tidak pernah aku membayangkan akan mengatakan hal seperti apalagi kepada ayah mertuaku sendiri. Tapi di sini, di bawah tubuhnya yang kekar, dengan kehangatannya yang mengisi diriku, semua batasan terasa kabur."Katakan," desaknya, gerakannya berhenti sejenak, hanya ujungnya yang masih di dalam diriku. "Katakan dengan jelas. Lebih besar dari siapa?"Aku menggigit bibir, rasa malu bercampur gairah membakar seluruh tubuhku. "Lebih besar dari Derek," kataku, suaranya nyaris tak terdengar. "Jauh lebih besar."Nathaniel tersenyum puas."Bagus karena mulai sekarang, kau tidak akan mengingat Derek lagi. Hanya aku."Dia mendorong lebih dalam, dan aku menarik napas tajam, merasakan setiap inci dari dirinya mengisi kekosongan yang selama ini ada. Tanganku mencengkeram punggungnya yang bidang, kukuku menusuk kulitnya."Kau sangat ketat," desahnya, gerakannya lambat dan dala
"Apa kau benar-benar ingin aku menghancurkanmu?" bisiknya, jari-jarinya menyusuri tulang selangkaku dengan lembut, membuatku menggigil.Aku mengangguk, tak mampu berkata-kata."Katakan lagi, Aku ingin mendengarnya sekali lagi," perintahnya.Aku menelan ludah, keberanianku memuncak"Break me, Daddy. Buat aku lupa siapa aku. Buat aku lupa Derek. Buat aku hanya mengingat namamu."Nathaniel tersenyum, Dia menunduk, bibirnya menyentuh leherku, menggigitnya dengan lembut. Aku menjerit pelan, campuran rasa sakit dan kenikmatan yang membuat kepalaku berputar."Kau tahu, aku sudah membayangkan ini setiap malam. Kau di bawahku, merengek meminta lebih dan sekarang..." dia menggigit lebih keras, meninggalkan bekas merah di leherku, "...sekarang kau benar-benar di sini."Tangannya yang kekar meraih piyamaku yang sudah terbuka, menariknya perlahan, melepaskan seluruh kain dari tubuhku. Udara dingin menyentuh kulitku yang telanjang. Aku meringkuk, instingku untuk menutupi diri, tapi Nathaniel tidak
Aku tersentak mendengar suaranya. Nathaniel berdiri di ambang pintu, tubuhnya setengah telanjang, hanya mengenakan celana panjang hitam yang melingkar rendah di pinggangnya. Otot-otot dadanya terlihat jelas di bawah cahaya lampu kamar yang redup, rambut peraknya sedikit acak-acakan."Kau..." aku bangkit dari tempat tidur, jantungku berdegup kencang. "Kau tidak seharusnya ada di sini. Derek bisa pulang kapan saja...""Derek sedang di hotel bersama Anita, Dia tidak akan pulang sampai besok sore. Aku sudah memastikannya."Aku mundur, punggungku menghantam dinding. Nathaniel terus mendekat, langkahnya pelan dan penuh percaya diri, seperti singa yang mengintai mangsanya."Kau mau menghindar lagi, Sayang?" tanyanya, suaranya rendah dan menggoda. "Semalam kau pergi. Hari ini kau menonton Derek dengan Anita. Kapan kau akan menyadari bahwa kau milikku?"Aku menelan ludah, tubuhku gemetar. "Ayah...""Panggil aku Daddy," potongnya, sekarang hanya beberapa inci di depanku. Tangannya terangkat, me







