MasukApoy yang pingsan segera dibawa ke atas sofa. Zinc dan Leo yang mengangkat Apoy. Keduanya mencoba mencari cara untuk menyadarkan Apoy.
“Aku akan ambil minyak angin,” kata Zinc yang bergerak cepat. “Baiklah. Aku ambil minuman hangat. Kasihan dia.” Leo pun segera ke dapur. Sedangkan saat ini Ralf masih sibuk menasihati Gan dan Joe. “Kalian tahu kalau perkelahian ini bisa berefek buruk pada karier kita?” “Dia dulu yang buat masalah. Memangnya dia suka dengan Tante Almara atau dia itu saudaranya, tidak, kan? Kenapa dia panas saat kami membicarakan wanita itu?” Joe mendengus kesal tidak terima dikira menjadi biang kerok. “Iya, benar kata Joe. Kalau tidak ada urusan apa-apa dengan Tante Almara, harusnya jangan marah,” imbuh Gan yang merasa tidak bersalah. “Kalian dan kami, sama-sama kerja di bawah naungan Tante Almara. Harusnya, kita semua menghormati orang yang berjuang mengorbitkan kita. Jangan menjadikan bahan bercandaan atau jadi bahan imajinasi kalian!” gertak Ralf yang merasa kesal dengan kedua partnernya itu. Hidup dalam karantina sebelum launching memang bukan hal yang mudah, apalagi kondisi semakin panas karena perbedaan pendapat. Namun, mereka adalah tim. Mau tidak mau, harus kompak. Zinc dan Leo kembali ke sofa dan mencoba menyadarkan Apoy. Beberapa usaha akhirnya membuahkan hasil. Apoy sadar. “Apoy, maafkan aku. Karena aku, kamu jadi ....” Belum selesai Leo bicara, Apoy langsung memotong pembicaraannya. “Bukan karena kamu, Leo. Ini semua karena kedua teman kita tidak tahu diri. Aku tahu, kamu pasti merasa Gan dan Joe tidak seharusnya berpikir dan berkata demikian.” Apoy sangat paham hal seperti ini harusnya tidak terjadi. Beberapa saat kemudian, anak buah Tante Almara masuk. Dua pria bertubuh tegap dan tinggi. “Kami mendapatkan laporan, kalian bertengkar. Nona Almara memerintahkan kalian semua masuk kamar dan Leo ikut kami!” Perintah itu jelas membuat semua anggota Light menjadi khawatir. Leo yang dibawa pergi oleh kedua pria bertubuh kekar itu, padahal Gan dan Joe yang membuat masalah. Namun, kenapa Leo yang dibawa pergi. Semua masuk ke kamar dan Leo dibawa pergi. Apoy merasa kasihan melihat Leo yang lengan tangannya dipegang kuat oleh pria suruhan Tante Almara. Tante Almara ternyata menyuruh orang itu untuk melerai pertikaian lebih lanjut. Dia juga khawatir dengan Leo. Semua bisa dilihat dari CCTV yang terpasang di seluruh ruangan rumah karantina calon boyband. Saat Leo masuk ke ruangan Tante Almara, kedua pria yang membawanya tadi segera pergi. Dia ditinggalkan dalam ruangan wanita itu. Tante Almara langsung mendekat dan bertanya, “Leo, kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu berkelahi dengan Gan dan Joe?” Padahal Tante Almara sudah tahu semua yang terjadi, tetapi dia ingin bertanya untuk memeriksa kejujuran Leo. Leo pun menatap wanita di hadapannya. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tidak bisa menyembunyikan amarahku ketika mereka menghinamu. Aku tidak bisa membiarkan mereka menjadikanmu bahan imajinasi. Aku ....” “Kamu kenapa?” Tante Almara mendekat hingga tubuhnya merapat pada tubuh Leo. Jantung Leo mulai berdegup kencang tak karuan. Dia menatap wanita yang saat ini wajahnya semakin menempel di wajahnya. Hanya tinggal beberapa sentimeter lagi, untuk keduanya menempel tanpa batasan apa pun. “Aku ....” Leo menelan salivanya perlahan. Sulit baginya untuk mengungkapkan perasaan, tetapi semua membuncah dan tidak bisa dibendung lagi. “Aku cemburu. Aku cemburu, Tante! Aku ... Tidak mau kehilangan kamu atau melihatmu disentuh pria lain. Pria mana pun. Termasuk berondong mau pun anggota boyband yang lain.” Leo melontarkan kalimat itu dari lubuk hati yang paling dalam. Dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Menjalani debut bersama boyband memang menjadi impiannya, tetapi sejak bersama Tante Almara, ada sesuatu yang berbeda. “Kamu cemburu? Kamu cemburu bibirku dikecup pria lain?” Tante Almara menyentuh bibir Leo perlahan. Lalu, tangannya meraba ke tubuh Leo. “Kami juga cemburu kalau ada pria lain yang menyentuh tubuhku?” Leo merasakan getaran hebat dalam tubuhnya. Hal yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Awalnya, menjalani hubungan terlarang dan tersembunyi dengan Tante Almara merupakan sebuah keterpaksaan. Namun, saat ini tidak bisa dipungkiri, Leo mulai ketagihan. Bahkan satu hal terdengar gila, Leo menyukai Tante Almara! “Tante ... Aku ....” Leo ingin sekali menyatakan cinta, tetapi lidahnya keluar, tak bisa melanjutkan ucapannya. “Kamu juga cemburu kalau ada pria lain yang menjilatku?” Tante Almara langsung mengecup bibir Leo. Kecupan itu disambut hangat oleh Leo yang merindukan bersentuhan dengan Tante Almara. Kecupan itu berubah menjadi ciuman yang panas. Keduanya pun saling melumat, lidah mereka saling bermain. Entah mengapa, Tante Almara merasa begitu bergairah ketika bersama Leo. Dia bahkan melupakan Faizal sudah dibayar awal sebulan untuk bersamanya. Hal yang dipikirkan hanya Leo dan Leo. Sentuhan Leo, kecupan Leo, bahkan jilatannya Leo membuat Tante Almara menjadi lupa diri. Hal yang membuat terbawa suasana dan seperti melayang-layang di surga dunia. “Leo ....” Tante Almara mengentikan ciuman panas itu. “Ya, Tante? Ada apa?” Leo menatap dengan sendu wajah wanita cantik di hadapannya. “Apakah kamu benar-benar masih perjaka?” Pertanyaan yang mengejutkan. Namun, kenyataannya Leo masih perjaka dan Tante Almara masih perawan. “I-iya, Tante. Ada apa?” Leo menelan salivanya kembali. Merasa bingung dengan pertanyaan itu. Tante Almara yang terbakar gelora asmara, mencoba untuk bertahan. Dia pun memilih jalan seperti biasa, hanya bermain lidah. “Tidak apa-apa, Sayang. Apa kamu merindukan milikku?” Tante Almara meraba bagian bawah miliknya dengan perlahan. Leo pun mengedipkan matanya. Dia merasa tertarik dan ketagihan untuk memuaskan Tante Almara. Dia senang ketika Tante Almara menggeliat keenakan dan akhirnya mencapai surga dunia hingga mengerang karena nikmat. “Iya, Tante. Aku ... Rindu memuaskan kamu. Aku ... Ingin menjadi bagian dari hidupmu. Meski hanya memainkan lidah, tak apa.” Leo sadar betul konsekuensinya. Dia terjebak dalam hubungan yang sulit untuk dijelaskan. Tante Almara langsung melangkah mundur. Dia membaringkan tubuhnya di atas sofa yang empuk. Dia segera menarik dress press body miliknya dan menurunkan celana dalam hingga ke mata kaki. Kakinya yang mulus dan jenjang langsung terbuka memperlihatkan gundukan di bawah merekah terbuka. Leo menatap itu sambil berkali-kali menelan salivanya. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa, hal yang jelas, dia ketagihan menjilat milik Tante Almara. “Buktikan, Sayang. Buktikan seberapa kemampuanmu. Bawa aku ke surga,” kata Tante Almara yang merasa begitu bergelora. Leo langsung berlutut di hadapan kaki jenjang Tante Almara yang sudah terbuka. Dia tidak keberatan menjadi pemuas hasrat tante muda yang ada di hadapannya. Baginya, pengalaman ini yang pertama dan yang terakhir. Dia diam-diam jatuh cinta kepada Tante Almara. “Ya, Tante. Aku akan bawa kamu ke surga dunia. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali. Aku janji,” ucap Leo yang kemudian mendekatkan wajahnya ke kebun kecil terawat milik Tante Almara. Dia merindukan kebun itu untuk menyentuh dengan lidahnya.“Leo, kalau kamu terus menggendongku seperti ini, bagaimana kita bisa sampai ke ruang makan? Ibumu sudah menunggu sejak tadi, dan Tante yakin beliau akan mengira kita sengaja menghindari sarapan bersama.”Almara tertawa ketika Leo menurunkannya perlahan di depan pintu kamar. Lelaki itu masih mengenakan kaus santai, sementara Almara sudah bersiap dengan gaun rumah sederhana yang membuatnya terlihat jauh lebih muda daripada biasanya.“Tidak apa-apa, sayang. Ibu pasti mengerti kalau pengantin baru membutuhkan waktu untuk menikmati pagi mereka.”Almara langsung menepuk lengannya.“Leo, jangan bicara sembarangan. Kita baru menikah kemarin, tetapi kamu sudah mulai menggunakan alasan pengantin baru untuk menghindari sarapan.”Leo tersenyum jahil, kemudian menggenggam tangan istrinya.“Kalau begitu, aku akan menemani Tante sarapan sekarang. Tetapi setelah itu, kita harus membicarakan rencana liburan pertama kita sebagai pasangan suami istri.”Almara mengangkat alis.“Rencana liburan? Kamu bah
“Leo, kamu yakin ingin menikah sesederhana ini? Tante bahkan belum sempat memesan gaun yang benar-benar sesuai dengan keinginanku.”Almara berdiri di depan cermin ruang rias, mengenakan gaun pengantin putih dengan potongan elegan dan sederhana. Rambut panjangnya ditata rapi, sementara sebuah buket bunga putih berada di tangannya. Ia terlihat cantik, tetapi kegugupan membuatnya terus memperhatikan detail kecil pada penampilannya.Di belakangnya, ibu Leo tersenyum sambil membetulkan ujung veil yang sedikit miring.“Almara, kamu sudah terlihat sangat cantik. Jangan terlalu memikirkan hal-hal kecil, karena Leo pasti lebih memperhatikan wajahmu daripada gaun yang kamu kenakan.”Almara tertawa pelan.“Bu, justru itu yang membuat saya semakin gugup. Leo selalu mengatakan hal-hal manis ketika saya sedang tidak siap.”Tiba-tiba pintu ruang rias terbuka, dan Leo muncul dengan setelan jas hitam yang membuat penampilannya terlihat jauh lebih dewasa. Ia berhenti beberapa langkah dari Almara, menat
“Leo, Tante sudah bilang kamu tidak perlu membawa banyak orang ke rumahku, tetapi kenapa sekarang ibumu, Rama, dan hampir seluruh anggota boyband ikut datang?”Almara berdiri di depan pintu rumahnya dengan wajah terkejut, sementara Leo yang berada di barisan paling depan justru tersenyum lebar. Di belakangnya, seorang perempuan paruh baya membawa buket bunga, disusul beberapa anggota boyband yang berusaha menahan tawa karena melihat Almara kebingungan.“Maaf, Tante, tetapi aku tidak mungkin meminta izin menikah tanpa memperkenalkan perempuan yang selama ini membuatku bahagia kepada ibuku.”Almara menatap perempuan paruh baya itu, lalu segera merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.“Ya ampun, kenapa tidak memberi kabar lebih dulu? Rumahku bahkan belum siap menerima tamu sebanyak ini.”Ibu Leo tertawa lembut, kemudian mengulurkan tangan untuk menyapa Almara.“Tidak apa-apa, Nak. Kami datang bukan untuk menilai rumahmu, tetapi untuk mengenal perempuan yang sangat berarti bagi anakku
“Tante, kalau hari ini aku mengajakmu berkencan, jangan membawa laptop, jangan membicarakan kontrak, dan jangan menerima telepon dari siapa pun selama dua jam.”Almara menatap Leo yang berdiri di depan pintu ruang kerjanya sambil membawa sebuah kotak kecil berwarna putih. Sejak pagi, lelaki itu sudah tiga kali mengingatkan tentang janji mereka, sampai Almara merasa dirinya sedang menghadapi artis paling manja di seluruh agensi.“Leo, Tante masih punya rapat dengan tim produksi pukul empat sore, jadi jangan membuat rencana yang terlalu jauh.”Leo menghela napas panjang, kemudian meletakkan kotak kecil itu di meja.“Makanya aku mengajak Tante pergi sekarang, supaya kita punya waktu sebelum rapat itu dimulai. Aku bahkan sudah meminta Rama memastikan tidak ada jadwal latihan yang mengganggu.”Almara mengangkat alis.“Kamu meminta Rama mengatur jadwalku juga?”“Tidak, aku hanya meminta dia memastikan Tante tidak membatalkan kencan kita dengan alasan pekerjaan.”Almara tertawa kecil, lalu m
“Kalau Tante terus memandangku seperti itu, aku bisa lupa kalau kita sedang berada di kantor dan semua orang sedang menunggu keputusanmu.”Almara yang berdiri di dekat jendela langsung memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang sejak tadi muncul tanpa izin. Leo memang selalu punya cara untuk membuatnya kehilangan ketegasan, bahkan ketika perempuan itu sedang menghadapi masalah yang seharusnya membuat kepalanya pusing.“Leo, kamu bisa tidak berhenti menggodaku sebentar saja? Tante sedang mencoba menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk sejak kemarin.”“Bisa, tetapi Tante juga harus berhenti memanggilku berondong kesayangan hanya ketika sedang membutuhkan bantuan.”Almara menoleh dengan mata membulat.“Siapa yang memanggilmu begitu? Jangan sembarangan membuat cerita, nanti orang-orang kantor mengira Tante benar-benar tidak bisa menjaga jarak dengan artisnya sendiri.”Leo tertawa kecil, kemudian berjalan mendekat sambil membawa dua gelas kopi yang baru dibelinya dari kafe
“Almara, jangan bilang kau sudah menemukan dia!” "Maksudnya? A-aku tak paham." Suara Almara terdengar gemetar ketika panggilan telepon itu masih tersambung.Adrian Mahendra tersenyum tipis, seolah baru saja menemukan celah yang selama ini disembunyikan perempuan itu. Sementara Leo berdiri di samping Almara, berusaha memahami mengapa nama Maya mampu membuat wajah perempuan yang biasanya begitu tegar mendadak pucat.“Siapa Maya, Tante?” tanya Leo pelan, tetapi Almara tidak segera menjawab.Dari pengeras suara, terdengar suara perempuan yang cukup tenang meskipun ada kesedihan tertahan di dalamnya.“Almara, aku sudah berada di Jakarta, dan aku membawa sesuatu yang seharusnya sudah sampai kepadamu sejak bertahun-tahun lalu.”Adrian mengulurkan tangan hendak mengambil ponsel itu, tetapi Almara langsung menjauhkan perangkatnya.“Jangan sentuh ponselku, Adrian, karena kali ini aku tidak akan membiarkanmu mengatur hidupku lagi!”“Kenapa kau begitu takut mendengar kabar dari Maya?” Adrian men







