LOGIN"Kamu dibayar untuk memuaskan aku, bukan hal lain!" Almara merupakan wanita cantik dengan usia matang yang pernah trauma dengan pria. Dia masih perawan, tetapi selalu membayar mahal para pria muda untuk memuaskan gairah hasratnya hanya dengan lidah, tidak lebih. Cantik, kaya raya, punya kekuasaan membuat Almara bisa dengan mudah berganti-ganti pria muda. Namun, ketika seseorang yang awalnya terpaksa melayani, justru jadi jatuh hati ... Apakah Almara akan luluh hatinya?
View More"Terus sayang .... Terus ...."
Ucapan yang tertahan dari bibir wanita nan menggoda itu membuat suaranya bergema di seluruh penjuru kamar. Membuat gelora asmara semakin memuncak karena keinginan melakukan penyatan semakin kuat. Tante Almara, namanya. Wanita usia empat puluh lima tahun itu masih terlihat cantik, awet muda, dan seksi dengan lingerie warna hitam kontras dengan kulit putih mulusnya. Seorang pria muda berusia dua puluh tahun tengah berkonsentrasi untuk memuaskan Tante Almara di bagian bawah. Pria itu memberikan pelayanan maksimal demi mendapatkan uang yang dijanjikan. Berondong bagi Tante Almara adalah obat mujarab dari segala kekesalan dalam hidup. Meski sebenarnya hal ini sudah banyak dilakukan orang-orang kesepian, tetap saja Tante Almara menyembunyikan sifat haus sentuhan dari khalayak ramai. Dia tidak mau nama baiknya tercemar. "Fast ... Sayang ... terus .... Sayang ...." Tante Almara menekan kepala pria muda itu agar semakin tenggelam dalam kenikmatan duniawi yang tengah dirasakan. Tante Almara hanya membayar para pria muda yang berhasil membuatnya pelepasan melalui sentuhan tangan dan lidah. Tanpa berhubungan badan sama sekali. Hal itu yang membuat para berondong merasa tidak keberatan karena tidak perlu melepaskan keperjakaan bagi Tante Almara, tetapi bayarannya luar biasa besar. Setelah Tante Almara berteriak, tubuhnya bergetar hebat, dan sampai di puncak kenikmatan. Akhirnya tugas berondong itu selesai. Tante Almara meminta pria itu tiduran di sampingnya. Tidak peduli bagian bawah pria itu sudah berdiri tegak dan keras, Tante Almara tidak akan memberikan keperawanannya. Sampai saat ini Tante Almara ternyata masih perawan meski sudah pernah merasakan lidah dari seratus pria lebih selama hidupnya. "Ta- Tante .... Aku ... Aku pingin ...." lirih pria itu memberanikan diri. "Cepitin pintu aja! Kan, aku udah bilang kalau nggak akan hubungan badan denganmu. Ingat tugasmu hanya memuaskanku!" hardik Tante Almara yang langsung bangun dari ranjang karena kesal. Wanita itu segera mengenakan kimono untuk menutupi tubuhnya yang setengah terbuka. "Ini uangmu. Pakai baju dan segera pergi dari sini!" Tante Almara menyodorkan dua gepok uang seratus ribuan berjumlah sepuluh juta rupiah cash untuk biaya memuaskan selama tiga hari ini. Pria murahan. Itulah anggapan Tante Almara bagi para berondong yang mau memuaskan bagian bawah Tante Almara demi uang. Bukankah kup-kupu malam itu bukan hanya wanita? Pria pun bisa jadi kupu-kupu malam! "Terima kasih, Tante. Maaf kalau aku membuat Tante tidak suka. Tapi tolong pakai jasaku lagi. Aku butuh uang lebih untuk berobat Ayahku." Pria muda itu mengambil uang dari tangan Tante Almara, lalu bergegas mengenakan pakaian yang sudah dipungut dari lantai. "Satu hal yang aku tak suka, yaitu ... Meminta hubungan lebih saat memuaskanku. Harusnya kamu tahu itu! Tapi berhubung aku suka mulut dan lidahmu ... Aku akan pakai kamu lagi. Bagaimana kalau sekalian sebulan penuh? Aku akan berikan seratus juta langsung ke rekeningmu tapi syaratnya kamu tinggal di sini dan tidak boleh ke mana-mana selama tiga puluh hari. Melayani aku jika aku sampai di sini, bagaimana?" Tante Almara memberikan tawaran yang sangat sulit untuk ditolak. Pria itu bernama Faisal. Dia masih kuliah semester empat dan kekurangan biaya sejak ayahnya sakit. Ibu dan adiknya juga butuh uang untuk bertahan hidup. Jadi Faisal yang mengenal Tante Almara dari sebuah website akhirnya mau menjadi pesuruh dan pemuas segala keinginan Tante Almara. Bagi Faisal, tak apa menjadi kupu-kupu malam asal mendapatkan cukup uang untuk keluarganya. "Ba- baik, Tante. Aku mau!" "Baguslah! Kalau begitu sekarang kamu bisa pergi dan aku akan mentransfer uang ke rekening mu. Mulai besok kamu harus tinggal di sini selama tiga puluh hari dan jangan pergi ke mana-mana. Setiap aku butuh kamu, kamu harus siap sedia! Paham?!" "Ya, Tante." Faisal hanya bisa menuruti perintah dari Tante Almara karena membutuhkan uang dalam jumlah besar dan waktu yang singkat. Lagi pula, Faisal masih perjaka dan tugasnya hanya oral hingga Tante Almara puas. Bukankah ini pekerjaan mudah? "Bagus!" Tante Almara tersenyum karena menjadi pihak yang dominan. Masa lalu yang buruk membuat wanita cantik itu tidak percaya cinta dan tidak mau menikah. Pria hanya menjadi alat pemuas bagi Tante Almara, tidak lebih. Tante Almara akan mengerjakan proyek bersama dengan manajemen lain untuk mencari idola baru untuk boyband ala Korea. Dia selalu saja merasa butuh belaian ketika banyak masalah atau banyak pekerjaan sehingga uang seratus juta yang diberikan kepada Faisal tidak seberapa bagi Tante Almara. Lebih baik mengeluarkan uang untuk kepuasan diri sendiri daripada menikah tapi tidak bahagia. Faisal pun pergi meninggalkan apartemen tempat Tante Almara tinggal secara diam-diam. Ya, apartemen itu bukan tempat tinggal Tante Almara sesungguhnya. Setiap orang kaya raya mempunyai privasi, bukan? Begitu juga bagi Tante Almara. Hubungan tanpa status itu berjalan begitu saja. Berganti berondong dari satu ke lainnya. Hanya mengejar kepuasan semata. *** Dalam sebuah gedung perkantoran .... "Salam kenal. Senang bekerja sama dengan Anda." Seorang pria tampan berusia empat puluhan mengulurkan tangannya ke arah Tante Almara. "Salam kenal juga. Senang berkenalan denganmu. Kita bicara santai saja tidak perlu dengan kata formal 'saya dan Anda'. Bukankah usia kita hampir sama?" Tante Almara melemparkan senyum yang menggoda. "Oke, baiklah. Kalau begitu, mari kita bahas soal rencana kolaborasi manajemen." "Baik, Hansen. Senang bisa bekerja sama denganmu." Baru kali ini Tante Almara bertemu dengan pria yang usianya hampir sama dan terpesona. Biasanya Tante Almara hanya mengincar berondong demi kepuasan semata, tetapi kali ini pesona Hansen begitu menggiurkan. Namun, Tante Almara bisa mengendalikan diri dan menahan keinginan lebih dari sekedar kerja sama. Dia harus profesional kerja. Demi memajukan bisnis, Tante Almara bisa mengesampingkan keinginan hati. Lagi pula Hansen sudah menikah dan hidup bahagia, bukan? Tak ada berita miring juga tentang pernikahan Hansen. Setelah rapat bersama manajemen A.M (Almara Maheswara) milik Tante Almara dan manajemen H.C (Hansenry Club) milik Hansen berlangsung selama dua jam, akhirnya kesepakatan pun ditetapkan. Mulai besok A.M dan H.C manajemen akan bekerja sama untuk membuat audisi boyband yang diselenggarakan di kota-kota besar Indonesia. Semua yang masuk kriteria akan dijadikan satu dan dipilih lima besar untuk menjadi boyband andalan yang akan mengguncang tanah air. Tentu saja syarat utama untuk diterima adalah pria yang tampan, tubuh ideal, suara merdu, pintar menari, dan ... Hal yang tidak diketahui Hansen, yaitu bisa memuaskan Tante Almara. Tante Almara sudah tidak sabar membuat boyband yang akan menjadi pemuasnya. Hansen sama sekali tidak tahu tentang kepribadian kurang baik yang dimiliki oleh Tante Almara.Jantung Leo berdetak semakin keras. Tangannya masih menggenggam ponsel milik Tante Almara yang berisi pesan terakhir wanita itu."Maafkan Tante. Apa pun yang terjadi nanti, jangan tinggalkan panggung. Selamatkan konser ini."Bagaimana mungkin dia tetap berdiri di atas panggung ketika wanita yang dicintainya sedang berada dalam bahaya?"Leo!" Suara manajer membuatnya menoleh."Kamu di sini? Semua orang mencari kamu! Lima menit lagi pembukaan!"Leo menggertakkan rahangnya. "Bu Almara hilang."Manajer mengernyit. "Apa maksudmu?""Seseorang membawanya pergi."Belum sempat manajer bertanya lebih jauh, Rama datang berlari sambil membawa tablet di tangannya. "Leo!""Ada kabar?"Rama mengangguk cepat. "Aku berhasil menemukan rekaman CCTV yang sempat hilang.""Lihat."Leo menatap layar tablet. Rekaman itu hanya berlangsung beberapa detik. Terlihat Tante Almara berjalan seorang diri menuju lorong servis di bawah tribun stadion. Wajahnya tenang, tetapi langkahnya terlihat tergesa-gesa, seolah se
Pagi hari yang seharusnya menjadi awal paling membahagiakan bagi Almara Entertainment justru dipenuhi kecemasan. Sejak pukul enam, kawasan sekitar stadion sudah dipadati para penggemar. Ribuan lightstick berwarna biru muda memenuhi pelataran. Spanduk raksasa bergambar Leo dan anggota boyband lainnya terbentang di berbagai sudut.Namun, di balik kemeriahan itu, suasana di ruang kontrol keamanan jauh dari kata tenang. "Semua akses belakang sudah diperiksa?""Sudah, Pak.""Tim keamanan VIP?""Lengkap.""Petugas backstage?""Stand by."Rama berdiri di depan monitor CCTV bersama kepala keamanan. Puluhan layar menampilkan setiap sudut stadion. Tetapi perasaannya justru semakin tidak nyaman."Tambah personel di pintu barat," perintah Rama."Kenapa?""Perasaanku nggak enak."Di ruang ganti artis, Leo sedang mengenakan kostum panggung. Hari itu seharusnya menjadi hari yang selama bertahun-tahun dia impikan. Tur nasional pertama. Puluhan ribu penonton. Siaran langsung ke berbagai platform digit
Suasana di depan gedung Almara Entertainment berubah kacau. Puluhan wartawan berdesakan di depan pintu utama. Kilatan kamera menyala tanpa henti. Beberapa reporter bahkan melakukan siaran langsung. "Benarkah CEO Almara Entertainment memiliki hubungan spesial dengan salah satu artisnya?" "Apakah berita yang beredar di media sosial itu benar?" "Siapa idol yang dimaksud?" Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan. Petugas keamanan berusaha menahan mereka agar tidak memasuki area lobi. Di lantai dua puluh, Tante Almara berdiri memandangi kerumunan itu dari balik kaca. Tangannya perlahan mengepal. "Dia berhasil..." Leo berdiri tidak jauh darinya. Tatapannya sama dinginnya. "Belum." Tante Almara menoleh. "Ini baru permulaan." Di ruang rapat darurat, seluruh jajaran direksi sudah berkumpul. Ekspresi mereka tampak tegang. "Bu Almara, harga saham perusahaan mulai bergerak turun setelah rumor itu menyebar." "Kami juga mendapat telepon dari dua sponsor utama." "Mere
Pagi itu suasana di kantor pusat Almara Entertainment jauh lebih sibuk daripada biasanya. Para staf berlalu-lalang membawa berkas. Tim promosi sibuk membahas jadwal tur nasional boyband yang dipimpin Leo, sementara divisi media terus menerima telepon dari berbagai pihak.Namun di balik kesibukan itu, Tante Almara sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Semalaman dia tidak tidur. Pesan terakhir Faizal terus menghantui pikirannya."Nikmati dua hari terakhir kalian sebelum semuanya berubah."Kalimat itu bukan lagi terdengar seperti ancaman. Melainkan sebuah rencana. Sebuah rencana yang sudah disusun dengan matang.--------Leo memasuki ruang direktur tanpa mengetuk. Wajahnya terlihat tegang. "Tante."Tante Almara langsung berdiri. "Ada apa?"Leo menyerahkan tablet yang dibawanya. "Coba lihat."Di layar terpampang sebuah akun media sosial anonim. Akun itu baru dibuat beberapa jam lalu. Namun unggahan pertamanya langsung menarik ribuan perhatian. Isinya hanyalah sebuah foto siluet seorang w












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.