MasukTante Almara cantik dan belum pernah menikah, dikenal sebagai direktur agensi hiburan ternama. Hidupnya selalu dipenuhi pekerjaan sampai kehadiran Edo, pemuda yang mendaftar sebagai anggota boyband di agensinya, mulai mengusik ketenangan hati. Menggunakan nama panggung Leo, Edo memiliki pesona yang sulit diabaikan. Di hadapan orang lain, dia adalah trainee yang sopan dan penuh ambisi. Namun, di hadapan Tante Almara, dia justru berani menunjukkan sisi manja sekaligus menggoda. “Kalau Leo debut nanti, Tante masih mau dekat denganku?” Tante Almara tertawa kecil, menganggapnya candaan. Sampai suatu malam, Edo menatapnya serius dan berkata, “Aku daftar agensi ini bukan cuma untuk debut, Tante. Aku datang karena ingin mendapatkan hati Tante!”
Lihat lebih banyak"Terus sayang .... Terus ...."
Ucapan yang tertahan dari bibir wanita nan menggoda itu membuat suaranya bergema di seluruh penjuru kamar. Membuat gelora asmara semakin memuncak karena keinginan melakukan penyatan semakin kuat. Tante Almara, namanya. Wanita usia empat puluh lima tahun itu masih terlihat cantik, awet muda, dan seksi dengan lingerie warna hitam kontras dengan kulit putih mulusnya. Seorang pria muda berusia dua puluh tahun tengah berkonsentrasi untuk memuaskan Tante Almara di bagian bawah. Pria itu memberikan pelayanan maksimal demi mendapatkan uang yang dijanjikan. Berondong bagi Tante Almara adalah obat mujarab dari segala kekesalan dalam hidup. Meski sebenarnya hal ini sudah banyak dilakukan orang-orang kesepian, tetap saja Tante Almara menyembunyikan sifat haus sentuhan dari khalayak ramai. Dia tidak mau nama baiknya tercemar. "Fast ... Sayang ... terus .... Sayang ...." Tante Almara menekan kepala pria muda itu agar semakin tenggelam dalam kenikmatan duniawi yang tengah dirasakan. Tante Almara hanya membayar para pria muda yang berhasil membuatnya pelepasan melalui sentuhan tangan dan lidah. Tanpa berhubungan badan sama sekali. Hal itu yang membuat para berondong merasa tidak keberatan karena tidak perlu melepaskan keperjakaan bagi Tante Almara, tetapi bayarannya luar biasa besar. Setelah Tante Almara berteriak, tubuhnya bergetar hebat, dan sampai di puncak kenikmatan. Akhirnya tugas berondong itu selesai. Tante Almara meminta pria itu tiduran di sampingnya. Tidak peduli bagian bawah pria itu sudah berdiri tegak dan keras, Tante Almara tidak akan memberikan keperawanannya. Sampai saat ini Tante Almara ternyata masih perawan meski sudah pernah merasakan lidah dari seratus pria lebih selama hidupnya. "Ta- Tante .... Aku ... Aku pingin ...." lirih pria itu memberanikan diri. "Cepitin pintu aja! Kan, aku udah bilang kalau nggak akan hubungan badan denganmu. Ingat tugasmu hanya memuaskanku!" hardik Tante Almara yang langsung bangun dari ranjang karena kesal. Wanita itu segera mengenakan kimono untuk menutupi tubuhnya yang setengah terbuka. "Ini uangmu. Pakai baju dan segera pergi dari sini!" Tante Almara menyodorkan dua gepok uang seratus ribuan berjumlah sepuluh juta rupiah cash untuk biaya memuaskan selama tiga hari ini. Pria murahan. Itulah anggapan Tante Almara bagi para berondong yang mau memuaskan bagian bawah Tante Almara demi uang. Bukankah kup-kupu malam itu bukan hanya wanita? Pria pun bisa jadi kupu-kupu malam! "Terima kasih, Tante. Maaf kalau aku membuat Tante tidak suka. Tapi tolong pakai jasaku lagi. Aku butuh uang lebih untuk berobat Ayahku." Pria muda itu mengambil uang dari tangan Tante Almara, lalu bergegas mengenakan pakaian yang sudah dipungut dari lantai. "Satu hal yang aku tak suka, yaitu ... Meminta hubungan lebih saat memuaskanku. Harusnya kamu tahu itu! Tapi berhubung aku suka mulut dan lidahmu ... Aku akan pakai kamu lagi. Bagaimana kalau sekalian sebulan penuh? Aku akan berikan seratus juta langsung ke rekeningmu tapi syaratnya kamu tinggal di sini dan tidak boleh ke mana-mana selama tiga puluh hari. Melayani aku jika aku sampai di sini, bagaimana?" Tante Almara memberikan tawaran yang sangat sulit untuk ditolak. Pria itu bernama Faisal. Dia masih kuliah semester empat dan kekurangan biaya sejak ayahnya sakit. Ibu dan adiknya juga butuh uang untuk bertahan hidup. Jadi Faisal yang mengenal Tante Almara dari sebuah website akhirnya mau menjadi pesuruh dan pemuas segala keinginan Tante Almara. Bagi Faisal, tak apa menjadi kupu-kupu malam asal mendapatkan cukup uang untuk keluarganya. "Ba- baik, Tante. Aku mau!" "Baguslah! Kalau begitu sekarang kamu bisa pergi dan aku akan mentransfer uang ke rekening mu. Mulai besok kamu harus tinggal di sini selama tiga puluh hari dan jangan pergi ke mana-mana. Setiap aku butuh kamu, kamu harus siap sedia! Paham?!" "Ya, Tante." Faisal hanya bisa menuruti perintah dari Tante Almara karena membutuhkan uang dalam jumlah besar dan waktu yang singkat. Lagi pula, Faisal masih perjaka dan tugasnya hanya oral hingga Tante Almara puas. Bukankah ini pekerjaan mudah? "Bagus!" Tante Almara tersenyum karena menjadi pihak yang dominan. Masa lalu yang buruk membuat wanita cantik itu tidak percaya cinta dan tidak mau menikah. Pria hanya menjadi alat pemuas bagi Tante Almara, tidak lebih. Tante Almara akan mengerjakan proyek bersama dengan manajemen lain untuk mencari idola baru untuk boyband ala Korea. Dia selalu saja merasa butuh belaian ketika banyak masalah atau banyak pekerjaan sehingga uang seratus juta yang diberikan kepada Faisal tidak seberapa bagi Tante Almara. Lebih baik mengeluarkan uang untuk kepuasan diri sendiri daripada menikah tapi tidak bahagia. Faisal pun pergi meninggalkan apartemen tempat Tante Almara tinggal secara diam-diam. Ya, apartemen itu bukan tempat tinggal Tante Almara sesungguhnya. Setiap orang kaya raya mempunyai privasi, bukan? Begitu juga bagi Tante Almara. Hubungan tanpa status itu berjalan begitu saja. Berganti berondong dari satu ke lainnya. Hanya mengejar kepuasan semata. *** Dalam sebuah gedung perkantoran .... "Salam kenal. Senang bekerja sama dengan Anda." Seorang pria tampan berusia empat puluhan mengulurkan tangannya ke arah Tante Almara. "Salam kenal juga. Senang berkenalan denganmu. Kita bicara santai saja tidak perlu dengan kata formal 'saya dan Anda'. Bukankah usia kita hampir sama?" Tante Almara melemparkan senyum yang menggoda. "Oke, baiklah. Kalau begitu, mari kita bahas soal rencana kolaborasi manajemen." "Baik, Hansen. Senang bisa bekerja sama denganmu." Baru kali ini Tante Almara bertemu dengan pria yang usianya hampir sama dan terpesona. Biasanya Tante Almara hanya mengincar berondong demi kepuasan semata, tetapi kali ini pesona Hansen begitu menggiurkan. Namun, Tante Almara bisa mengendalikan diri dan menahan keinginan lebih dari sekedar kerja sama. Dia harus profesional kerja. Demi memajukan bisnis, Tante Almara bisa mengesampingkan keinginan hati. Lagi pula Hansen sudah menikah dan hidup bahagia, bukan? Tak ada berita miring juga tentang pernikahan Hansen. Setelah rapat bersama manajemen A.M (Almara Maheswara) milik Tante Almara dan manajemen H.C (Hansenry Club) milik Hansen berlangsung selama dua jam, akhirnya kesepakatan pun ditetapkan. Mulai besok A.M dan H.C manajemen akan bekerja sama untuk membuat audisi boyband yang diselenggarakan di kota-kota besar Indonesia. Semua yang masuk kriteria akan dijadikan satu dan dipilih lima besar untuk menjadi boyband andalan yang akan mengguncang tanah air. Tentu saja syarat utama untuk diterima adalah pria yang tampan, tubuh ideal, suara merdu, pintar menari, dan ... Hal yang tidak diketahui Hansen, yaitu bisa memuaskan Tante Almara. Tante Almara sudah tidak sabar membuat boyband yang akan menjadi pemuasnya. Hansen sama sekali tidak tahu tentang kepribadian kurang baik yang dimiliki oleh Tante Almara.“Leo, kalau kamu terus menggendongku seperti ini, bagaimana kita bisa sampai ke ruang makan? Ibumu sudah menunggu sejak tadi, dan Tante yakin beliau akan mengira kita sengaja menghindari sarapan bersama.”Almara tertawa ketika Leo menurunkannya perlahan di depan pintu kamar. Lelaki itu masih mengenakan kaus santai, sementara Almara sudah bersiap dengan gaun rumah sederhana yang membuatnya terlihat jauh lebih muda daripada biasanya.“Tidak apa-apa, sayang. Ibu pasti mengerti kalau pengantin baru membutuhkan waktu untuk menikmati pagi mereka.”Almara langsung menepuk lengannya.“Leo, jangan bicara sembarangan. Kita baru menikah kemarin, tetapi kamu sudah mulai menggunakan alasan pengantin baru untuk menghindari sarapan.”Leo tersenyum jahil, kemudian menggenggam tangan istrinya.“Kalau begitu, aku akan menemani Tante sarapan sekarang. Tetapi setelah itu, kita harus membicarakan rencana liburan pertama kita sebagai pasangan suami istri.”Almara mengangkat alis.“Rencana liburan? Kamu bah
“Leo, kamu yakin ingin menikah sesederhana ini? Tante bahkan belum sempat memesan gaun yang benar-benar sesuai dengan keinginanku.”Almara berdiri di depan cermin ruang rias, mengenakan gaun pengantin putih dengan potongan elegan dan sederhana. Rambut panjangnya ditata rapi, sementara sebuah buket bunga putih berada di tangannya. Ia terlihat cantik, tetapi kegugupan membuatnya terus memperhatikan detail kecil pada penampilannya.Di belakangnya, ibu Leo tersenyum sambil membetulkan ujung veil yang sedikit miring.“Almara, kamu sudah terlihat sangat cantik. Jangan terlalu memikirkan hal-hal kecil, karena Leo pasti lebih memperhatikan wajahmu daripada gaun yang kamu kenakan.”Almara tertawa pelan.“Bu, justru itu yang membuat saya semakin gugup. Leo selalu mengatakan hal-hal manis ketika saya sedang tidak siap.”Tiba-tiba pintu ruang rias terbuka, dan Leo muncul dengan setelan jas hitam yang membuat penampilannya terlihat jauh lebih dewasa. Ia berhenti beberapa langkah dari Almara, menat
“Leo, Tante sudah bilang kamu tidak perlu membawa banyak orang ke rumahku, tetapi kenapa sekarang ibumu, Rama, dan hampir seluruh anggota boyband ikut datang?”Almara berdiri di depan pintu rumahnya dengan wajah terkejut, sementara Leo yang berada di barisan paling depan justru tersenyum lebar. Di belakangnya, seorang perempuan paruh baya membawa buket bunga, disusul beberapa anggota boyband yang berusaha menahan tawa karena melihat Almara kebingungan.“Maaf, Tante, tetapi aku tidak mungkin meminta izin menikah tanpa memperkenalkan perempuan yang selama ini membuatku bahagia kepada ibuku.”Almara menatap perempuan paruh baya itu, lalu segera merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.“Ya ampun, kenapa tidak memberi kabar lebih dulu? Rumahku bahkan belum siap menerima tamu sebanyak ini.”Ibu Leo tertawa lembut, kemudian mengulurkan tangan untuk menyapa Almara.“Tidak apa-apa, Nak. Kami datang bukan untuk menilai rumahmu, tetapi untuk mengenal perempuan yang sangat berarti bagi anakku
“Tante, kalau hari ini aku mengajakmu berkencan, jangan membawa laptop, jangan membicarakan kontrak, dan jangan menerima telepon dari siapa pun selama dua jam.”Almara menatap Leo yang berdiri di depan pintu ruang kerjanya sambil membawa sebuah kotak kecil berwarna putih. Sejak pagi, lelaki itu sudah tiga kali mengingatkan tentang janji mereka, sampai Almara merasa dirinya sedang menghadapi artis paling manja di seluruh agensi.“Leo, Tante masih punya rapat dengan tim produksi pukul empat sore, jadi jangan membuat rencana yang terlalu jauh.”Leo menghela napas panjang, kemudian meletakkan kotak kecil itu di meja.“Makanya aku mengajak Tante pergi sekarang, supaya kita punya waktu sebelum rapat itu dimulai. Aku bahkan sudah meminta Rama memastikan tidak ada jadwal latihan yang mengganggu.”Almara mengangkat alis.“Kamu meminta Rama mengatur jadwalku juga?”“Tidak, aku hanya meminta dia memastikan Tante tidak membatalkan kencan kita dengan alasan pekerjaan.”Almara tertawa kecil, lalu m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.