LOGINTante Lestari menatap Joko lama. Tatapan tajamnya perlahan meredup, berganti sesuatu yang lebih lembut.
Dia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mengaitkan kedua tangannya di leher Joko. "Kamu ini yah..." bisiknya. Sebelum Joko sempat membalas, Tante Lestari lebih dulu menarik wajahnya mendekat dan mencium bibirnya. Joko sempat terkejut. Wanita yang biasanya kalem dan menjaga wibawa itu, malam ini justru yang berinisiatif lebiDua minggu berlalu. Laboratorium di kompleks Lintang Medika kini tak pernah sepi. Siang dan malam, para peneliti terbaik Verona bekerja tanpa henti, membedah kandungan pil kecantikan buatan Joko. Joko sendiri hampir setiap hari datang ke sana. Dia tidak paham mesin-mesin canggih itu, tapi dia paham herbal. Dia yang menjelaskan khasiat setiap tanaman, urutan meracik, dan takaran yang tepat. Para peneliti yang awalnya meragukan pemuda tanpa gelar ini, perlahan mulai menatapnya dengan hormat. Masalah terbesar ada pada empat herbal langka. “Kami tidak bisa mendapatkan Bunga Salju Lembah dan tiga herbal lainnya dalam jumlah besar,” jelas kepala peneliti, pria paruh baya berkacamata bernama Pak Hendra. “Bahkan satu batang pun sangat sulit dicari di pasaran.” Joko sudah menduganya. Dia tak mungkin mengeluarkan persediaan dari cincinnya untuk produksi massal. Selain jumlahnya terbatas, itu juga akan memancing te
Keesokan paginya, Joko mengajak Nadya dan Nyonya Desi duduk bertiga di gazebo halaman belakang. Di meja kayu di antara mereka, tiga cangkir teh mengepul pelan. Para wanita lain sedang berlatih di halaman, dipimpin Bila dan Rinda yang kini sudah cukup mahir mengulang gerakan dasar ajaran Nyonya Desi. “Aku mau tahu semua soal keluarga Rico,” ucap Joko langsung. “Terutama kakeknya.” Nadya dan Nyonya Desi saling pandang. “Kamu mau menyerang lebih dulu?” tanya Nadya. “Mereka sudah tahu lokasi vila ini. Mereka sudah mencatat berapa jumlah kalian, kapan aku keluar, kapan vila ini kosong,” jawab Joko tenang. “Aku gak mau menunggu sampai mereka datang ke sini.” Nadya menghela napas, lalu meletakkan cangkirnya. “Kemarin malam aku sudah tanya ke Kakek.” Joko menatapnya. “Kakek Rico itu dikenal sebagai Tuan Besar di keluarganya,” lanjut Nadya. “Dia satu-satunya Grand Master di keluarga itu. Di bawahnya, ada tiga Mas
Ferrari SF90 melaju meninggalkan Toko Antik Cahaya Lestari. Joko melirik kaca spion. Sedan abu-abu itu mulai bergerak, menjaga jarak beberapa mobil di belakangnya. Joko tersenyum tipis. Alih-alih mengambil jalan pulang ke Vila Bintang, dia memutar setir ke arah lain. Jalan raya yang ramai perlahan berganti jalan yang lebih sepi, lalu jalan kecil di pinggiran kota yang diapit lahan kosong dan gudang-gudang tua. Sedan abu-abu itu terus mengikutinya. Di depan sebuah gudang terbengkalai, Joko menghentikan mobilnya. Dia turun dengan santai, bersandar di pintu mobil, lalu menyalakan sebatang rokok. Sedan itu ikut berhenti sekitar lima puluh meter di belakang. Mesinnya masih menyala, tapi tak ada yang keluar. Joko mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya perlahan. “Mau sampai kapan kalian di dalam?” serunya. “Aku capek nungguin.” Beberapa detik hening. Lalu pintu sedan itu terbuka. Dua
Beberapa hari kemudian, Joko menepati janji lain yang hampir dia lupakan. Siang itu, Ferrari SF90 berhenti di depan Toko Antik Cahaya Lestari. Joko turun sambil membawa sebuah kotak kecil di tangannya. Lonceng pintu berbunyi saat dia melangkah masuk. “Selamat datang di Toko Antik Cahaya Lestari, ada yang bisa—” Bella yang sedang merapikan etalase menoleh, lalu matanya langsung berbinar. “Joko!” Dia meletakkan kain lap di tangannya, lalu melangkah cepat menghampiri Joko dengan senyum lebar. Hari itu dia mengenakan blouse putih berkerah rendah dan rok span hitam. Semangka besarnya nyaris tumpah dari balik kain blouse yang ketat. “Akhirnya kamu datang juga,” ucapnya sambil menggandeng lengan Joko tanpa permisi. “Aku sudah menunggu-nunggu, tahu. Kamu gak pernah menghubungiku.” “Maaf, Nona Bella. Akhir-akhir ini banyak urusan,” jawab Joko sambil tersenyum. “Bella saja,” potong Bella sambil mengerling. “Panggil Nona itu
Satu minggu berlalu dengan cepat. Setiap pagi sebelum matahari terbit, Joko sudah duduk bersila di halaman belakang. Dia mengikis serpihan kecil Pil Pemurnian Fisik, menelannya, lalu menahan rasa panas yang membakar tubuhnya dari dalam selama berjam-jam. Hari demi hari, rasa sakitnya semakin berkurang. Tubuhnya semakin terbiasa. Dan serpihan yang dia telan pun perlahan dia tambah ukurannya. Siang harinya, dia mengurung diri di ruang alkemis, berlatih meramu pil dengan bahan-bahan dari cincin. Malam harinya, dia mempelajari Teknik Akupunktur Jarum Hidup Mati dari buku kakeknya. Teknik itu yang paling sering membuatnya termenung. Jika sempurna, teknik ini bisa menghidupkan orang yang sudah di ambang kematian. Membangunkan orang yang koma, tentu bukan hal mustahil. Setiap kali membaca halaman demi halaman, wajah Nadya yang berkaca-kaca saat menceritakan orang tuanya selalu terbayang di kepalanya. “Belum,” gumamnya pada diri sendiri. “Aku belum cukup menguasainya. Kalau gaga
Joko menatap layar ponselnya sambil tersenyum lebar. Verona yang berdiri di dekatnya ikut melirik. “Kenapa senyum-senyum begitu?” “Nadya sama Sonya mau pindah ke sini,” jawab Joko. Ruang tengah langsung riuh. “Serius?!” seru Bila. “Kak Nadya mau tinggal di sini?” “Wah, makin ramai saja,” ucap Ayu sambil tertawa. Lana yang baru turun dari tangga dengan rambut masih berantakan ikut menyahut, “Kamarnya cukup gak, Sayang? Vila ini memang besar, tapi penghuninya makin banyak.” “Lantai tiga masih ada beberapa kamar kosong,” jawab Joko santai. Tante Lestari menggeleng pelan sambil tersenyum. “Joko, Joko. Lama-lama vila ini bisa jadi asrama.” Semua orang tertawa. Hanya Verona yang terdiam sejenak. Dia menatap para wanita yang begitu akrab satu sama lain, lalu menatap Joko yang dikelilingi mereka. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di hatinya, perasaan aneh yang tak bisa dia jelaskan. Dia buru-buru menepisnya, lalu meraih tasnya. “Aku pulang dulu. Minggu depan aku hubungi kamu soal
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh







