Beranda / Urban / Pemuda Pemikat Gadis Desa / Bab 4 Bu Tika Lebih Berani

Share

Bab 4 Bu Tika Lebih Berani

Penulis: Tristar
last update Tanggal publikasi: 2026-03-26 20:11:01

Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam.

Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya yang terlihat usang dan jauh dari kata bagus.

Joko membuka media sosial di ponselnya, dia menonton video-video wanita cantik yang berseliweran di sana.

"Hmm, kalau aku kaya... mungkin, para wanita cantik kayak gini ~ pasti berdatangan kepadaku," ucap Joko dengan nada pahit.

Imajinasi Joko mulai kotor, apalagi saat menonton video wanita cantik berpakaian seksi yang sedang berjoget.

"Owh ~ sial, dadanya sangat besar!" ucap Joko. Matanya memandang ke dada wanita di dalam video itu, dengan sorot mata panas.

Joko merasakan batang miliknya menjadi panas dan perlahan mengeras. Tanpa sadar, dia menyentuh batangnya itu, lalu mengusap-usap nya.

Tak lama kemudian, Joko kembali sadar. Dia buru-buru menyingkirkan tangannya dari batangnya sendiri, lalu dia buru-buru memindahkan ke video yang lain.

"Bisa-bisa aku hilang akal! kalau nonton video kayak gitu!" ucap Joko sambil menggelengkan kepalanya.

Video selanjutnya yang di putar, adalah sebuah video potongan film pendek dengan judul "Sukses dari hasil menjadi gigolo." Joko menontonnya video itu dengan penuh minat.

Senyuman nakal terlukis di bibirnya.

“Kalau bisa kayak pemeran pria itu, aku gak perlu capek-capek cari uang,” katanya sambil terkekeh pelan. "Cukup menemani wanita tidur, langsung dapat uang. Sudah enak, menguntungkan lagi."

Joko terus menonton potongan film itu sampai selesai. Imajinasinya semakin liar, namun itu hanya sekedar imajinasi, Joko tidak memiliki sedikit pun niat untuk mencobanya.

Saat malam mulai larut, Joko bergegas masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur tua yang sudah usang dimakan usia. Setiap kali tubuhnya bergerak, kasur itu berderit pelan, seolah mengeluh menahan beban di tengah sunyinya malam.

===

Keesokan paginya, Joko pergi menjemput Bu Tika, karena mulai hari ini ia harus mengantar wanita itu pergi ke pasar.

Sampai di tempat biasa Bu Tika menunggu, wanita itu belum berada di sana. Joko menunggu dengan sabar, sambil menikmati sebatang rokok yang terselip di antara jarinya.

Tak lama kemudian, Joko melihat Bu Tika berjalan keluar dari dalam gang yang menuju ke rumahnya. Saat wanita itu melihat Joko, ia mempercepat langkahnya.

"Joko, maaf yah... apa kamu menunggu lama?" tanya Bu Tika dengan nada meminta maaf, wajahnya tampak sedikit canggung.

"Gak apa-apa, belum lama juga! ayo naik bu!" balas Joko dengan nada riang, tidak mempermasalahkan sama sekali.

Bu Tika mengangguk, lalu naik ke motor. Setelah wanita itu duduk dengan nyaman, Joko melajukan motornya.

Selama di perjalanan, pandangan Bu Tika tak pernah lepas dari sisi wajah Joko. Rasa nyaman yang di rasakan Bu Tika dari pria itu, membuat wanita itu tanpa sadar lebih melekatkan tubuhnya ke tubuh Joko.

Joko tentu merasakan tubuh Bu Tika melekat di punggungnya. Namun Joko tak berkata apapun, sebaliknya ia diam-diam menikmati.

"Kurasa, wanita ini lebih berani, apa dia sedang merayu ku?" gumam Joko di dalam hati. Senyuman nakal tersungging di bibirnya. Pria itu mulai menebak-nebak liar di dalam hatinya.

Sampai di pasar, seperti biasa Bu Tika menyuruh Joko menunggunya belanja. Joko tentu saja tak menolaknya.

Beberapa saat kemudian, Bu Tika kembali, tampak di tangannya tergantung beberapa kresek belanja.

"Sudah bu?" tanya Joko sambil mengambil kresek-kresek itu, lalu meletakkannya di depan.

"Sudah, ayo pulang!" balas Bu Tika sambil naik ke motor.

Setelah Bu Tika duduk dengan benar, Joko melangkah motornya dari tempat tersebut.

Bu Tika sama seperti tadi, posisi duduknya sangat menempel dengan punggung Joko.

Rasa kenyal dada wanita itu, bisa Joko rasakan di sepanjang jalan yang membuat pria itu sedikit terangsang.

"Pria muda ini, membuatku sangat nyaman!" gumam Bu Tika di dalam hati. Tangannya perlahan di letakkan di paha Joko.

Merasakan itu, Joko menjadi semakin kepanasan. Namun, Joko memutuskan membiarkannya saja.

"Kalau benar... wanita ini memiliki niat menggodaku, aku gak akan nolak!" gumam Joko di dalam hati dengan nada nakal. "Tapi... dia punya suami, kalau sampai suaminya tahu pasti berbahaya," ucapnya lagi dengan ragu.

"Huh, lihat saja di masa depan! kalau wanita ini benar-benar menggodaku, aku gak akan sungkan... selama di rahasiakan ~ gak akan ada yang tahu juga, hehe."

Bu Tika bertindak semakin berani, tangannya itu mengusap-usap paha Joko.

"Pria ini gak menanggapi sama sekali, apa dia masih normal?" gumamnya dengan nada bingung. "Apa kode ini masih kurang?"

Karena hasratnya, wanita itu memilih dorongan untuk melakukan hal gila bersama Joko. Dia sudah tidak peduli dengan statusnya sebagai wanita bersuami.

Ketika hampir sampai di kampung, Bu Tika menjaga jarak agar tubuhnya tidak bersentuhan dengan Joko karena khawatir ada orang yang melihat.

"Kenapa menjauh bu? sangat nyaman kalau ibu kayak tadi," ujar Joko dengan nada main-main, dia memutuskan sedikit menggoda wanita itu.

"Takut ada yang liat!" balas Bu Tika dengan santai. Dia tidak terlihat gugup sama sekali.

Joko tertawa pelan.

"Hehehe..."

Bu Tika menyunggingkan senyuman tipis.

"Kamu suka yah? kalau dadaku menempel di punggungmu," ucap Bu Tika dengan berani. Nada bicaranya terdengar menggoda.

Joko sedikit terkejut dengan perkataan berani Bu Tika. Karena wanita itu sudah menunjukkan keberaniannya, Joko tak sungkan lagi untuk menanggapinya.

"Tentu saja aku suka, apalagi... kalau bisa menyentuhnya secara langsung," ujar Joko dengan nada nakal.

"Kamu ternyata... nakal juga yah," balas Bu Tika sambil menyenggol dada besarnya itu di punggung Joko.

"Hehe, aku bercanda Bu, jangan di anggap serius," ucap Joko dengan riang.

"Yakin hanya bercanda?" goda Bu Tika. "Tadinya aku mau memperbolehkanmu menyentuhnya," lanjutnya sambil menempelkan gunung besarnya itu.

"Gluk." Joko menelan ludah kasar saat mendengar perkataan berani wanita itu.

"Apa Ibu serius?" tanya Joko. Ia merasakan hasrat membara dengan cepat. "Kalau serius, tentu aku mau," lanjutnya dengan nada nakal.

Bu Tika hanya tertawa kecil, ia tak menjawab pertanyaan Joko.

Ekspresi Joko tampak pahit, saat Bu Tika tak meresponsnya lagi. Akhirnya, Joko menganggap Bu Tika hanya bercanda.

Tak lama kemudian, mereka sampai di tempat awal Joko menjemput Bu Tika. Setelah wanita itu turun dari motor, Joko memberikan belanjaannya.

Bu Tika mengambil belanjaan itu, lalu ia memberikan uang 30 ribu kepada Joko.

"Bu... kenapa sangat banyak?" tanya Joko dengan nada heran.

Bu Tika mengedipkan matanya dengan kedipan genit, lalu dia menjawab, "Gak apa-apa, buat kamu beli kopi!"

"Benaran Bu?" Joko tampak sangat senang.

"Benaran dong. Ya sudah, aku pergi dulu!" ucap Bu Tika sambil mengedipkan matanya dengan genit, lalu berbalik pergi.

Joko menatap uang di tangannya, wajahnya tampak sangat cerah. "Masih pagi, sudah dapet segini, lumayan!" ucapnya, lalu dia memasukkan uang itu ke dalam kantung celananya.

Joko kembali mengingat godaan Bu Tika tadi. Ekspresinya berubah menjadi sedikit pahit.

"Aku kira... tadi itu, dia serius! kalau serius... aku pasti sangat puas, bisa mencicipi dada besarnya itu," gumam Joko dengan nada penuh keluhan.

Namun, dalam sekejap, ekspresinya berubah kembali, menjadi penuh tekad. Senyuman tipis terukir jelas di bibirnya.

"Bu Tika semakin berani kepadaku. Kalau begini terus... Aku yakin, pada akhirnya dia akan membiarkan ku mencicipinya!" gumam Joko dengan penuh rasa percaya diri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 363 Rahasia Keluarga Permata

    Beberapa saat kemudian, kamar yang tadinya riuh oleh desahan dan suara benturan kulit, perlahan berubah senyap. Hanya tersisa suara napas yang tersengal. Joko dan Nadya berbaring berpelukan di atas ranjang yang berantakan. Tubuh keduanya basah oleh keringat. Seprai kusut tak berbentuk, bantal-bantal berjatuhan ke lantai. Nadya menyandarkan kepalanya di dada Joko. Tubuhnya terasa lemas sekali, seolah seluruh tenaganya terkuras habis. Bahkan untuk mengangkat tangan pun rasanya berat. “Kamu ini manusia apa bukan, sih?” gerutunya dengan suara serak. “Kok bisa kuat banget?” Joko terkekeh sambil mengelus rambut Nadya yang lembap. “Hehe, tentu saja aku manusia. Manusia yang bisa memuaskan wanita.” Nadya memukul pelan dadanya. “Dasar sombong.” Tapi dalam hati, dia akhirnya mengerti. Selama ini dia tak habis pikir kenapa Joko bisa punya begitu banyak wanita di sisinya. Sekarang dia paham. Dengan stamina seperti itu, satu wanita jelas tidak akan sanggup menampungnya. Untuk beberapa saat

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 362 Memecah Segel Nadya

    Ciuman Nadya begitu menuntut, membuat Joko sempat kewalahan. Tapi hanya sebentar. Detik berikutnya, dia membalas dengan sama ganasnya. Lidah mereka saling membelit, napas mereka saling memburu. Tangan Joko bergerak ke punggung Nadya, melepaskan kaitan renda hitam itu dengan satu gerakan. Dua bongkahan kenyal Nadya terbebas, memantul pelan di hadapannya. Joko tak membuang waktu. Dia membenamkan wajahnya di sana, meremas keduanya dengan kuat, lalu menghisap puncak merah mudanya dengan rakus. “Ahh! Jo...” Nadya melenguh panjang. Punggungnya melengkung, jemarinya meremas rambut Joko, menekannya lebih dalam. “Punyamu padat banget,” bisik Joko di sela-sela kecupannya. “Harum lagi. Aku bisa gila.” “Jangan... banyak omong...” desah Nadya dengan wajah merah padam. Tapi tangannya justru semakin erat mencengkeram rambut Joko. Joko terkekeh. Satu tangannya perlahan turun, menyusuri perut rata Nadya yang bergetar, lalu terus ke bawah. Begitu jemarinya menyentuh bagian paling sensitif itu,

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 361 Kompensasi Untuk Nadya

    Joko menimbang sejenak. Berbohong pun percuma, Nadya pasti akan tahu juga cepat atau lambat. “Sonya ada di sini,” jawabnya jujur. “Di hotel. Sama aku.” Hening di seberang telepon. Joko bisa membayangkan wajah Nadya yang perlahan menggelap. “Mana Sonya?” ucap Nadya akhirnya, suaranya datar. “Aku mau bicara sama dia.” Joko melirik wanita yang masih terlelap di pelukannya. “Dia lagi tidur. Kecapekan.” Hening lagi. Kali ini lebih lama. “Kecapekan,” ulang Nadya dengan nada yang membuat bulu kuduk Joko sedikit berdiri. Joko terkekeh pelan, tak berani menjawab. “Setelah dia bangun, suruh dia pulang ke vila,” ucap Nadya tegas. “Kamu juga ikut ke sini.” Sambungan telepon langsung terputus sebelum Joko sempat membalas. Joko menatap layar ponselnya sejenak, lalu perlahan tersenyum. Nada suara Nadya barusan jelas bukan nada wanita yang tidak peduli. Itu nada wanita yang sedang cemburu. Pikiran-pikiran nakal mulai bermunculan di benaknya. === Vila Nadya, satu jam kemudian... Ferrari

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 360 Memecah Segel Sonya

    Joko terdiam. Dia menatap wajah Sonya lekat-lekat. Wanita yang biasanya paling berani menggoda, yang tadi menyeretnya ke hotel dengan penuh nafsu, kini terbaring di bawahnya dengan wajah tegang. Jemarinya mencengkeram lengan Joko, dan bibirnya sedikit gemetar. “Sonya, kamu kenapa?” tanya Joko heran. “Kok tiba-tiba gugup gitu?” Sonya memalingkan wajahnya. Pipinya memerah, kali ini bukan karena gairah. “Aku...” Dia menggigit bibirnya. “Aku masih segel.” Joko membeku. Matanya membelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka. Dia menatap Sonya seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil. Selama ini, dia mengira Sonya adalah wanita yang sudah berpengalaman. Setiap kali bertemu, Sonya selalu menempel padanya tanpa malu. Barusan di kantor pun, wanita itu menggodanya habis-habisan dengan begitu lihai. Tak pernah sekali pun terlintas di benak Joko bahwa wanita segenit itu ternyata b

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 359 Pelan-Pelan Ya!

    Untuk beberapa saat, Sonya hanya bersandar di dada Joko dengan mata terpejam, membiarkan remasan tangan Joko membuatnya terbuai. Laporan di layar komputer masih terbuka, kursornya berkedip-kedip di tengah kalimat yang belum selesai. Joko mendekatkan bibirnya ke telinga Sonya. “Masih lama gak?” bisiknya. “Aku gak tahan nih.” Sonya membuka matanya perlahan, lalu menoleh ke belakang. Bibirnya menyentuh bibir Joko dalam kecupan singkat. “Tunggu sebentar, ya,” ucapnya manja. “Tinggal sedikit lagi. Kalau gak selesai, Nadya bisa ngomel.” Dia memaksa dirinya kembali menatap layar komputer, berusaha mengetik dengan jemari yang sedikit gemetar. Namun Joko tidak berhenti. Tangannya bergerak ke depan, melepaskan kancing kemeja Sonya satu per satu. Sonya meliriknya sekilas, tapi tidak melarang. Dia justru menegakkan punggungnya, membusungkan dada, sengaja memberi Joko akses lebih leluasa. Kemeja itu terbuka. Joko menurunkan penutup terakhir di baliknya, membebaskan dua semangka besar Sonya.

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 358 Boleh Ke Hotel Sama Sonya?

    Restoran Bintang Samudra, salah satu restoran paling mewah di Ibu Kota... Seorang pelayan berseragam rapi langsung menyambut mereka begitu turun dari mobil. Begitu Nadya menyebut namanya, pelayan itu membungkuk hormat dan mengantar mereka ke lantai atas, menuju ruang VIP dengan dinding kaca yang menghadap pemandangan kota. Ruangan itu luas dan tenang. Meja bundar dari kayu jati mengilap, kursi-kursi berlapis beludru, dan lampu kristal yang menggantung anggun di langit-langit. Sonya langsung mengambil kursi di samping Joko. Nadya duduk di seberang mereka sambil membuka buku menu. “Pesan apa saja yang kalian mau,” ucap Joko santai. “Hari ini aku yang traktir.” Nadya mengangkat alis. “Bukannya aku yang janji traktir kamu?” “Sudahlah. Hari ini aku lagi dapat rezeki besar,” balas Joko sambil tersenyum lebar. Sonya langsung menoleh dengan mata berbinar penuh rasa penasaran. “Rezeki besar? Rezeki apa, Tampan?” Joko melirik Nadya. Nadya menghela napas, lalu meletakkan buku menunya. “

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 7 Ada Yang Cemburu

    Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 6 Bantu Puaskan Aku, Bang!

    Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 5 Godaan Dan Tawaran

    Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 3 Goda Wanita Bersuami

    Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status