Home / Urban / Pemuda Pemikat Gadis Desa / Bab 5 Godaan Dan Tawaran

Share

Bab 5 Godaan Dan Tawaran

Author: Tristar
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-26 20:11:34

Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya.

Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea.

Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh waktu lama untuk Joko sampai di sana.

Sampai di depan Kosan Dea, Joko mengeluarkan ponselnya untuk mengabari gadis itu. Tak lama kemudian, seorang wanita muda yang sangat cantik dan memiliki tubuh yang menggoda keluar dari dalam Kosan.

Mata Joko menatap gadis itu dengan sorot mata terpesona. Kecantikan gadis itu sulit di abaikan, dan lekukan tubuhnya membuat Joko merasa kepanasan. Walaupun gadis itu menggunakan pakaian sekolah, namun keluk tubuhnya tak bisa di sembunyikan sama sekali. Apalagi, bagian dadanya yang tampak menjulang megah.

Di tatap seperti itu, Dea tidak menunjukkan kegugupan sama sekali, sebaliknya dia dengan berani menatap balik Joko dengan tatapan genit.

"Aku cantik yah? sampai segitunya liat aku," ucap Dea dengan nada main-main.

"Hehe, Nona memang sangat cantik," balas Joko terus terang.

"Hihi..." Dea terkikik pelan. "Ayo kak, kita berangkat!"

"Ayo! silakan naik," balas Joko dengan riang.

Dea naik ke motor dengan pakaian duduk menyamping. Tanpa banyak berkata, Dea berpegangan kepada Joko dengan cara memeluknya.

"Gadis ini lebih berani dari kemarin," gumam Joko di dalam hati. "Apa dia juga tertarik kepadaku?" Joko mulai menebak-nebak liar.

Saat pertama kali mengojek, Dea tidak melakukan hal seperti sekarang.

"Di pikir-pikir, gadis ini lebih berani dari Bu Tika," Senyuman tipis terukir jelas di bibirnya.

Setelah wanita itu duduk dengan nyaman, Joko melajukan motornya.

"Kak, gak apa-apa pegangan kayak gini?" tanya Dea dengan nada genit.

"Gak apa-apa, santai saja," jawab Joko santai, meskipun dalam hatinya ia merasa sangat gembira.

"Kak, tubuhmu sangat kekar yah," ucap Dea. Tangannya menyentuh area perut Joko.

"Iya dong, aku sering olahraga, jadi tubuhku kekar," balas Joko dengan bangga.

Dea menggigit bibirnya, wajahnya sedikit memerah. Imajinasi gadis itu menjadi liar yang membuatnya menjadi terangsang.

Dea bukanlah gadis polos yang tidak tahu apa-apa tentang masalah antara pria dan wanita. Meski dia masih muda, tapi itu belum tentu ~ dia belum memiliki pengalaman tentang hal-hal nakal seperti itu.

"Tubuhnya sangat kekar, pasti dia kuat kalau bermain di ranjang," gumam Dea di dalam hati. "Ahh, apa aku benar-benar tergoda olehnya? ayolah Dea... dia hanya tukang ojek! tapi... dia pria yang begitu sempurna kalau soal penampilan," Dea bergelut dengan perasaannya sendiri.

Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sekolah. Dea turun dari motor, lalu memberikan ongkos sebesar 20 rb, lebih dari tarif yang seharusnya hanya 10 rb.

"Nona, ini kebanyakan," ucap Joko.

"Gak apa-apa kak, buat kakak! mulai sekarang, setiap aku naik ojek kakak, aku akan bayar 20 rb," balas Dea dengan riang.

"Gak bisa gitu dong, lagian kamu masih mengandalkan uang dari orang tua! jangan boros kayak gini!" ucap Joko menasihati.

"Udah kak terima saja! aku gak kekurangan uang kok," balas Dea lalu dia berbalik pergi.

Joko menghela nafas.

"Huh... kayaknya dia anak orang kaya," gumamnya dalam hati. "Tapi bagus juga sih... aku bisa dapet uang lebih banyak," lanjutnya dengan nada gembira.

Joko memasukkan uang itu, lalu memutar balik motornya, ia pergi ke Kosan Mia.

Ketika Joko sampai di Kosan Mia, ternyata gadis itu sudah menunggu Joko di depan Kos.

Joko menatap gadis itu dengan sorot mata sedikit panas.

"Gadis ini lebih mantap dari Dea! tubuhnya benar-benar sangat indah," gumam Joko di dalam hati.

Kecantikan gadis bernama Mia itu tidak kalah dari Dea. Bahkan bisa dibilang Mia lebih unggul dari Dea dalam hal bentuk tubuh.

Lekuk tubuh Mia tampak lebih matang dari Dea. Apalagi, bagian dadanya yang terlihat jelas lebih besar dari milik Dea. Di usianya yang mungkin sekitar 18 tahun, lekuk tubuh gadis bernama Mia itu, sudah sangat unggul di bandingkan gadis seusianya.

Mia menatap Joko sambil tersenyum cerah.

"Maaf yah, tadi aku mengantar dulu langganan yang lain," ucap Joko dengan nada canggung.

"Gak apa-apa kak, ayo berangkat," balas Mia dengan santai, dia tidak mempermasalahkannya sama sekali.

"Ayo naik!"

Mia naik ke motor dengan posisi duduk menyamping.

"Kak Joko, aku bolehkan peluk kakak? aku takut jatuh," ucap Mia dengan nada manja.

"Tentu boleh dong," balas Joko dengan riang. Joko tentu tidak menolak di pelukan seorang wanita cantik.

Mia memeluk Joko. Secara otomatis dada besarnya itu melekat erat di punggung Joko.

Joko melajukan motornya sambil bergumam di dalam hati. "Mimpi apa aku semalam. Hari ini, sudah tiga dada wanita yang menempel erat di punggungku."

Selama di perjalanan, Mia sesekali menggoda Joko dengan cara menggesekkan dadanya di punggung Joko yang membuat pria itu menebak, jika wanita ini memiliki ketertarikan kepadanya.

"Nona, jangan di gesek-gesek terus dong," ucap Joko dengan berani. Dia penasaran dengan reaksi Mia.

Mia tersenyum tipis.

"Apa kakak gak suka?" balas Mia dengan nada menggoda.

Mendengar jawaban wanita itu, Joko berkata lebih berani lagi. "Aku pria normal, tentu saja suka! tapi... kalau Nona terus melakukan itu, aku gak tahan jadinya."

"Hihihi..." Mia terkikik pelan. "Kalau gak tahan, keluarin aja kak!"

Perkataan Mia yang semakin berani itu membuat Joko semakin panas.

"Gak mau ah, kalau gak ada yang bantu keluarin! kalau ada yang bantu sih mau-mau aja."

"Kalau aku bantu... mau gak?" Mia menawarkan tanpa berpikir panjang.

Joko sedikit terkejut dengan tawaran berani wanita itu. Tak lama kemudian, keterkejutannya menghilang di gantikan dengan kegembiraan.

"Nona serius gak? jangan-jangan cuma bercanda," ucap Joko dengan nada santai. Dia masih menyembunyikan kegembiraannya itu.

"Aku gak bercanda kok! kalau kakak mau... pulang sekolah nanti, aku bisa bantu kakak," balas Mia. Tangan hinggap di area batang Joko, lalu mengelus area itu dengan lembut.

Hasrat Joko semakin dibuat menyala oleh wanita muda itu.

"Aku gak akan nolak!" tegas Joko. "Tapi... paling bisa nanti agak sore... soalnya aku harus ngojek dulu,"

"Gak masalah, nanti sore kakak datang saja ke kosanku," balas Mia dengan nada menggoda.

"Kayaknya... aku akan melepas masa perjakaku!" gumam Joko di dalam hati. Ekspresi wajahnya tampak sangat nakal. "Gak nyangka, baru dua hari ngojek di daerah sini, aku bisa dapet keuntungan kayak gini."

Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sekolah. Mia turun dari motor, lalu memberikan uang pecahan 50 ribu kepada Joko.

Saat Joko hendak memberi kembalian, Mia menolaknya. "Jangan di kembalian! itu ongkos buat pulang pergi," ucap Mia buru-buru.

"Tapi pulang cuma 20 ribu!" tegas Joko.

"Ya sudah, sisanya buat kakak beli roko! dah... aku pergi dulu," Mia berbalik pergi.

"Aku sangat beruntung, memiliki pelanggan yang begitu royal! selain royal... mereka juga memberi kenikmatan," Gumam Joko di dalam hati.

Ia memasukkan uang itu ke dalam sakunya, lalu melakukan motornya. Joko pergi ke warung Bu Sinta untuk mangkal di sana.

Dari kejauhan Joko bisa melihat, kalau warung Bu Sinta sepi tidak ada pembeli. Samar-samar Joko melihat Bu Sinta sedang sibuk mengerjakan sesuatu di dalam warung.

Ketika Joko sampai di sana, wanita dewasa cantik itu langsung menyambutnya.

"Udah dapet dapet berapa nih?" goda Bu Sinta.

Joko tertawa pelan.

"Hehehe..."

"Lumayan lah, buat beli rokok sama kopi," ucapnya dengan riang.

"Jadi buatin kopi sekarang nih, atau nanti?" tanya Bu Sinta.

"Sekarang dong! aku gak sabar minum kopi buatan Bu Sinta," balas Joko dengan nada main-main.

"Oke. Tunggu sebentar, yah!"

Bu Sinta buru-buru membuatkan kopi untuk Joko. Seperti biasa, Joko tampak fokus memandangi tubuh Bu Sinta.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 362 Memecah Segel Nadya

    Ciuman Nadya begitu menuntut, membuat Joko sempat kewalahan. Tapi hanya sebentar. Detik berikutnya, dia membalas dengan sama ganasnya. Lidah mereka saling membelit, napas mereka saling memburu. Tangan Joko bergerak ke punggung Nadya, melepaskan kaitan renda hitam itu dengan satu gerakan. Dua bongkahan kenyal Nadya terbebas, memantul pelan di hadapannya. Joko tak membuang waktu. Dia membenamkan wajahnya di sana, meremas keduanya dengan kuat, lalu menghisap puncak merah mudanya dengan rakus. “Ahh! Jo...” Nadya melenguh panjang. Punggungnya melengkung, jemarinya meremas rambut Joko, menekannya lebih dalam. “Punyamu padat banget,” bisik Joko di sela-sela kecupannya. “Harum lagi. Aku bisa gila.” “Jangan... banyak omong...” desah Nadya dengan wajah merah padam. Tapi tangannya justru semakin erat mencengkeram rambut Joko. Joko terkekeh. Satu tangannya perlahan turun, menyusuri perut rata Nadya yang bergetar, lalu terus ke bawah. Begitu jemarinya menyentuh bagian paling sensitif itu,

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 361 Kompensasi Untuk Nadya

    Joko menimbang sejenak. Berbohong pun percuma, Nadya pasti akan tahu juga cepat atau lambat. “Sonya ada di sini,” jawabnya jujur. “Di hotel. Sama aku.” Hening di seberang telepon. Joko bisa membayangkan wajah Nadya yang perlahan menggelap. “Mana Sonya?” ucap Nadya akhirnya, suaranya datar. “Aku mau bicara sama dia.” Joko melirik wanita yang masih terlelap di pelukannya. “Dia lagi tidur. Kecapekan.” Hening lagi. Kali ini lebih lama. “Kecapekan,” ulang Nadya dengan nada yang membuat bulu kuduk Joko sedikit berdiri. Joko terkekeh pelan, tak berani menjawab. “Setelah dia bangun, suruh dia pulang ke vila,” ucap Nadya tegas. “Kamu juga ikut ke sini.” Sambungan telepon langsung terputus sebelum Joko sempat membalas. Joko menatap layar ponselnya sejenak, lalu perlahan tersenyum. Nada suara Nadya barusan jelas bukan nada wanita yang tidak peduli. Itu nada wanita yang sedang cemburu. Pikiran-pikiran nakal mulai bermunculan di benaknya. === Vila Nadya, satu jam kemudian... Ferrari

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 360 Memecah Segel Sonya

    Joko terdiam. Dia menatap wajah Sonya lekat-lekat. Wanita yang biasanya paling berani menggoda, yang tadi menyeretnya ke hotel dengan penuh nafsu, kini terbaring di bawahnya dengan wajah tegang. Jemarinya mencengkeram lengan Joko, dan bibirnya sedikit gemetar. “Sonya, kamu kenapa?” tanya Joko heran. “Kok tiba-tiba gugup gitu?” Sonya memalingkan wajahnya. Pipinya memerah, kali ini bukan karena gairah. “Aku...” Dia menggigit bibirnya. “Aku masih segel.” Joko membeku. Matanya membelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka. Dia menatap Sonya seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil. Selama ini, dia mengira Sonya adalah wanita yang sudah berpengalaman. Setiap kali bertemu, Sonya selalu menempel padanya tanpa malu. Barusan di kantor pun, wanita itu menggodanya habis-habisan dengan begitu lihai. Tak pernah sekali pun terlintas di benak Joko bahwa wanita segenit itu ternyata b

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 359 Pelan-Pelan Ya!

    Untuk beberapa saat, Sonya hanya bersandar di dada Joko dengan mata terpejam, membiarkan remasan tangan Joko membuatnya terbuai. Laporan di layar komputer masih terbuka, kursornya berkedip-kedip di tengah kalimat yang belum selesai. Joko mendekatkan bibirnya ke telinga Sonya. “Masih lama gak?” bisiknya. “Aku gak tahan nih.” Sonya membuka matanya perlahan, lalu menoleh ke belakang. Bibirnya menyentuh bibir Joko dalam kecupan singkat. “Tunggu sebentar, ya,” ucapnya manja. “Tinggal sedikit lagi. Kalau gak selesai, Nadya bisa ngomel.” Dia memaksa dirinya kembali menatap layar komputer, berusaha mengetik dengan jemari yang sedikit gemetar. Namun Joko tidak berhenti. Tangannya bergerak ke depan, melepaskan kancing kemeja Sonya satu per satu. Sonya meliriknya sekilas, tapi tidak melarang. Dia justru menegakkan punggungnya, membusungkan dada, sengaja memberi Joko akses lebih leluasa. Kemeja itu terbuka. Joko menurunkan penutup terakhir di baliknya, membebaskan dua semangka besar Sonya.

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 358 Boleh Ke Hotel Sama Sonya?

    Restoran Bintang Samudra, salah satu restoran paling mewah di Ibu Kota... Seorang pelayan berseragam rapi langsung menyambut mereka begitu turun dari mobil. Begitu Nadya menyebut namanya, pelayan itu membungkuk hormat dan mengantar mereka ke lantai atas, menuju ruang VIP dengan dinding kaca yang menghadap pemandangan kota. Ruangan itu luas dan tenang. Meja bundar dari kayu jati mengilap, kursi-kursi berlapis beludru, dan lampu kristal yang menggantung anggun di langit-langit. Sonya langsung mengambil kursi di samping Joko. Nadya duduk di seberang mereka sambil membuka buku menu. “Pesan apa saja yang kalian mau,” ucap Joko santai. “Hari ini aku yang traktir.” Nadya mengangkat alis. “Bukannya aku yang janji traktir kamu?” “Sudahlah. Hari ini aku lagi dapat rezeki besar,” balas Joko sambil tersenyum lebar. Sonya langsung menoleh dengan mata berbinar penuh rasa penasaran. “Rezeki besar? Rezeki apa, Tampan?” Joko melirik Nadya. Nadya menghela napas, lalu meletakkan buku menunya. “

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 357 Ciuman Panas Nadya

    Joko menatap wajah Nadya dari dekat. Pipi wanita itu masih merona, bibir merahnya sedikit terbuka. "Nadya," bisiknya. "Aku mau ciuman." Nadya tersentak. Wajahnya seketika memerah padam. "A-apa sih! Tiba-tiba minta yang aneh-aneh!" "Tadi kan sudah hampir," balas Joko sambil menyeringai. "Gara-gara si brengsek itu, jadi batal." Nadya menunduk, menggigit bibirnya. Dia tidak menjawab, tapi juga tidak memalingkan wajah. Joko menyentuh dagunya, mengangkat wajah Nadya perlahan. Mata mereka bertemu. "Kalau kamu gak mau, bilang saja," ucapnya pelan. Nadya terdiam beberapa detik. Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, dia berbisik, "Siapa bilang aku gak mau..." Joko tak menunggu lagi. Dia langsung melumat bibir Nadya dengan penuh gairah. Nadya sempat terkejut oleh keberanian ciuman itu. Tangannya refleks mendorong dada Joko, tapi hanya sesaat.

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 1 Pangkalan Baru

    "Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 7 Ada Yang Cemburu

    Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 6 Bantu Puaskan Aku, Bang!

    Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 4 Bu Tika Lebih Berani

    Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status