Se connecterCiuman Nadya begitu menuntut, membuat Joko sempat kewalahan. Tapi hanya sebentar. Detik berikutnya, dia membalas dengan sama ganasnya. Lidah mereka saling membelit, napas mereka saling memburu. Tangan Joko bergerak ke punggung Nadya, melepaskan kaitan renda hitam itu dengan satu gerakan. Dua bongkahan kenyal Nadya terbebas, memantul pelan di hadapannya. Joko tak membuang waktu. Dia membenamkan wajahnya di sana, meremas keduanya dengan kuat, lalu menghisap puncak merah mudanya dengan rakus. “Ahh! Jo...” Nadya melenguh panjang. Punggungnya melengkung, jemarinya meremas rambut Joko, menekannya lebih dalam. “Punyamu padat banget,” bisik Joko di sela-sela kecupannya. “Harum lagi. Aku bisa gila.” “Jangan... banyak omong...” desah Nadya dengan wajah merah padam. Tapi tangannya justru semakin erat mencengkeram rambut Joko. Joko terkekeh. Satu tangannya perlahan turun, menyusuri perut rata Nadya yang bergetar, lalu terus ke bawah. Begitu jemarinya menyentuh bagian paling sensitif itu,
Joko menimbang sejenak. Berbohong pun percuma, Nadya pasti akan tahu juga cepat atau lambat. “Sonya ada di sini,” jawabnya jujur. “Di hotel. Sama aku.” Hening di seberang telepon. Joko bisa membayangkan wajah Nadya yang perlahan menggelap. “Mana Sonya?” ucap Nadya akhirnya, suaranya datar. “Aku mau bicara sama dia.” Joko melirik wanita yang masih terlelap di pelukannya. “Dia lagi tidur. Kecapekan.” Hening lagi. Kali ini lebih lama. “Kecapekan,” ulang Nadya dengan nada yang membuat bulu kuduk Joko sedikit berdiri. Joko terkekeh pelan, tak berani menjawab. “Setelah dia bangun, suruh dia pulang ke vila,” ucap Nadya tegas. “Kamu juga ikut ke sini.” Sambungan telepon langsung terputus sebelum Joko sempat membalas. Joko menatap layar ponselnya sejenak, lalu perlahan tersenyum. Nada suara Nadya barusan jelas bukan nada wanita yang tidak peduli. Itu nada wanita yang sedang cemburu. Pikiran-pikiran nakal mulai bermunculan di benaknya. === Vila Nadya, satu jam kemudian... Ferrari
Joko terdiam. Dia menatap wajah Sonya lekat-lekat. Wanita yang biasanya paling berani menggoda, yang tadi menyeretnya ke hotel dengan penuh nafsu, kini terbaring di bawahnya dengan wajah tegang. Jemarinya mencengkeram lengan Joko, dan bibirnya sedikit gemetar. “Sonya, kamu kenapa?” tanya Joko heran. “Kok tiba-tiba gugup gitu?” Sonya memalingkan wajahnya. Pipinya memerah, kali ini bukan karena gairah. “Aku...” Dia menggigit bibirnya. “Aku masih segel.” Joko membeku. Matanya membelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka. Dia menatap Sonya seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil. Selama ini, dia mengira Sonya adalah wanita yang sudah berpengalaman. Setiap kali bertemu, Sonya selalu menempel padanya tanpa malu. Barusan di kantor pun, wanita itu menggodanya habis-habisan dengan begitu lihai. Tak pernah sekali pun terlintas di benak Joko bahwa wanita segenit itu ternyata b
Untuk beberapa saat, Sonya hanya bersandar di dada Joko dengan mata terpejam, membiarkan remasan tangan Joko membuatnya terbuai. Laporan di layar komputer masih terbuka, kursornya berkedip-kedip di tengah kalimat yang belum selesai. Joko mendekatkan bibirnya ke telinga Sonya. “Masih lama gak?” bisiknya. “Aku gak tahan nih.” Sonya membuka matanya perlahan, lalu menoleh ke belakang. Bibirnya menyentuh bibir Joko dalam kecupan singkat. “Tunggu sebentar, ya,” ucapnya manja. “Tinggal sedikit lagi. Kalau gak selesai, Nadya bisa ngomel.” Dia memaksa dirinya kembali menatap layar komputer, berusaha mengetik dengan jemari yang sedikit gemetar. Namun Joko tidak berhenti. Tangannya bergerak ke depan, melepaskan kancing kemeja Sonya satu per satu. Sonya meliriknya sekilas, tapi tidak melarang. Dia justru menegakkan punggungnya, membusungkan dada, sengaja memberi Joko akses lebih leluasa. Kemeja itu terbuka. Joko menurunkan penutup terakhir di baliknya, membebaskan dua semangka besar Sonya.
Restoran Bintang Samudra, salah satu restoran paling mewah di Ibu Kota... Seorang pelayan berseragam rapi langsung menyambut mereka begitu turun dari mobil. Begitu Nadya menyebut namanya, pelayan itu membungkuk hormat dan mengantar mereka ke lantai atas, menuju ruang VIP dengan dinding kaca yang menghadap pemandangan kota. Ruangan itu luas dan tenang. Meja bundar dari kayu jati mengilap, kursi-kursi berlapis beludru, dan lampu kristal yang menggantung anggun di langit-langit. Sonya langsung mengambil kursi di samping Joko. Nadya duduk di seberang mereka sambil membuka buku menu. “Pesan apa saja yang kalian mau,” ucap Joko santai. “Hari ini aku yang traktir.” Nadya mengangkat alis. “Bukannya aku yang janji traktir kamu?” “Sudahlah. Hari ini aku lagi dapat rezeki besar,” balas Joko sambil tersenyum lebar. Sonya langsung menoleh dengan mata berbinar penuh rasa penasaran. “Rezeki besar? Rezeki apa, Tampan?” Joko melirik Nadya. Nadya menghela napas, lalu meletakkan buku menunya. “
Joko menatap wajah Nadya dari dekat. Pipi wanita itu masih merona, bibir merahnya sedikit terbuka. "Nadya," bisiknya. "Aku mau ciuman." Nadya tersentak. Wajahnya seketika memerah padam. "A-apa sih! Tiba-tiba minta yang aneh-aneh!" "Tadi kan sudah hampir," balas Joko sambil menyeringai. "Gara-gara si brengsek itu, jadi batal." Nadya menunduk, menggigit bibirnya. Dia tidak menjawab, tapi juga tidak memalingkan wajah. Joko menyentuh dagunya, mengangkat wajah Nadya perlahan. Mata mereka bertemu. "Kalau kamu gak mau, bilang saja," ucapnya pelan. Nadya terdiam beberapa detik. Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, dia berbisik, "Siapa bilang aku gak mau..." Joko tak menunggu lagi. Dia langsung melumat bibir Nadya dengan penuh gairah. Nadya sempat terkejut oleh keberanian ciuman itu. Tangannya refleks mendorong dada Joko, tapi hanya sesaat.
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia







