LOGIN
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"
Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian.
Usianya dua puluh lima tahun. Ia memiliki wajah tampan dengan garis tegas, tubuh kekar hasil kebiasaannya berolahraga, serta pembawaan santai yang memancarkan pesona alami. Senyumnya mudah membuat orang merasa nyaman, sementara sikapnya yang sederhana justru membuatnya tampak menarik di mata banyak wanita. Banyak wanita menganggap Joko hanya pemuda tampan dengan pesona sederhana. Namun, jika mereka mengetahui sisi lain dari dirinya, sesuatu yang jauh lebih menarik dari sekadar penampilan, mungkin mereka akan benar-benar tergila-gila padanya. ==== Di jalanan pedesaan, Joko terlihat mengendarai motor tuanya dengan kecepatan sedang. Angin sore berembus pelan menerpa wajah pria itu tampak lesu tak ada semangat sama sekali. "Huh... sampai sore begini baru dapet dua penumpang! pada ke mana yah... kok sepi banget sih," gerutu Joko dengan nada mengeluh. Ia menghela napas panjang. Namun beberapa saat kemudian, ekspresi wajahnya berubah, seolah mencoba membangkitkan kembali semangatnya yang hampir padam. "Joko, kamu gak boleh ngeluh! harus tetap semangat, demi masa depan yang cerah!" dia menasihati dirinya sendiri. Walaupun ia sekarang hanya sekedar tukang ojek di desa, Joko menyimpan impian besar di hatinya. Ia ingin sukses, hidup berkecukupan, bergelimang harta, seperti orang-orang sukses di luar sana. "Biar lebih semangat, mending ngopi dulu ahh, di warung Bu Sinta, yang cantik itu," ucap Joko sambil menyunggingkan senyuman nakal. Joko melajukan motornya ke lokasi warung yang ia maksud. Tak lama kemudian, Joko tiba di tempat tujuan. Begitu ia berhenti dan turun dari motor, seorang wanita dewasa cantik menyambutnya dengan senyum hangat dari balik meja warung "Eh, Joko...udah dapet berapa penumpang, hari ini?" ucap Bu Sinta dengan nada hangat. "Lagi sepi bu..." balas Joko dengan nada penuh keluhan. "Gak apa-apa, namanya kerja ~ seperti itu...kadang rame, kadang juga enggak...yang penting kamu tetap semangat!" Bu Sinta menasihati. "Kalo itu, selalu bu!" balas Joko dengan pasti. "Si tampan ini akan tetap semangat, sampai kapanpun!" lanjutnya sambil menepuk-nepuk dadanya ~ tampak meyakinkan. Tatapan wanita itu tertuju pada Joko dengan sorot penuh kekaguman, disertai percikan panas yang sulit disembunyikan. Ia mengagumi Joko yang selalu tampak bersemangat dan ceria, meski hidupnya tidak mudah. Namun, di balik kekaguman itu, terselip pula gairah halus saat ia memandang pria tersebut ~ ketampanan wajah dan kegagahan tubuh Joko seakan memiliki daya tarik yang sulit diabaikan olehnya. "Bu... aku mau kopi hitam!" ucap Joko dengan nada riang. "Jangan pakai gula... soalnya udah manis kalau ngopinya sambil lihat Bu Sinta, hehe," Joko tertawa kecil. "Ah, bisa aja..." Bu Sinta pura-pura tersipu. "Jangan godain aku! aku ini istri orang lho..." Bu Sinta mengingatkan dengan nada main-main. Joko hanya terkekeh, tak berkata apapun lagi. Tapi matanya terus menatap Bu Sinta yang sedang membuatkan kopi untuknya. Wanita itu memiliki wajah yang sangat cantik dengan kulit putih mulus yang tampak bersinar diterpa cahaya sore. Parasnya lembut, namun ada terselip sedikit kegenitan di sorot matanya, menciptakan pesona godaan yang begitu alami. Tubuhnya matang dan menggoda. Lekuk tubuhnya terbentuk sempurna, dengan payudara besar 38E+ dan pinggul montok yang berayun anggun setiap kali ia bergerak. Posturnya memancarkan pesona kewanitaan yang sangat menggairahkan, yang membuatnya lebih menonjol di pandangan para pria. "Bu Sinta, begitu cantik dan menarik, tapi sayangnya ~ punya suami yang bejat!" gumam Joko di dalam hati. Wanita secantik Bu Sinta seolah tidak beruntung dalam urusan rumah tangga. Ia harus menjalani kehidupan bersama seorang suami yang dikenal sebagai pemabuk, gemar berjudi, dan sering bersikap kasar kepadanya. Kehidupan yang seharusnya penuh kebahagiaan justru berubah menjadi beban yang harus ia pikul setiap hari. Namun, Bu Sinta tidak jauh berbeda dengan Joko ~ ia sangat pandai menyembunyikan kesulitannya. Setiap hari ia selalu tampak ceria, menebarkan senyum hangat kepada siapa pun yang datang. Tak ada yang menyangka, di balik keceriaan itu tersimpan kepedihan dan beban berat yang diam-diam terus ia pikul seorang diri. Saat Bu Sinta selesai membuat kopi, Joko buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Nih....sudah jadi!" ucap Bu Sinta sambil menyajikan segelas kopi itu di hadapan Joko. Setelah itu ia duduk menghadap ke arah Joko. Joko mengeluarkan sebungkus rokok dari kantung celananya, mengambil satu batang, lalu menyalakannya. Joko menghembuskan asap rokok, lalu meraih cangkir kopi di hadapannya dan menyeruputnya. "Ahh...memang paling nikmat kalau ngerokok sambil ngopi, apalagi kopinya di buatkan Bu Sinta," ucap Joko dengan nada setengah bercanda. "Kamu... sangat bermulut manis," ujar Bu Sinta sambil menyunggingkan senyuman tipis. Joko terkekeh pelan. Saat Bu Sinta sedang menatap Joko ~ tiba-tiba sebuah ide yang mungkin bisa membantu usaha Joko terlintas di benaknya. “Joko… aku punya saran untukmu,” ucap Bu Sinta dengan nada lebih serius dari biasanya. “Saran apa tuh?” tanya Joko santai sambil meletakkan cangkir kopinya. “Daripada kamu terus berkeliling mencari penumpang atau hanya mengandalkan yang memanggilmu, mending kamu mangkal saja di satu tempat,” ujar Bu Sinta. "Tapi kamu harus mangkal di tempat yang memiliki potensi besar untuk dapat penumpang." Joko menghela napas panjang. Saran Bu Sinta sebenarnya sudah pernah terlintas di pikirannya. “Aku juga pernah berpikir begitu… tapi sampai sekarang belum menemukan lokasi yang cocok,” ucap Joko dengan nada berat. Bu Sinta tersenyum tipis, lalu menunjuk ke arah sisi warungnya. “Kenapa kamu gak mangkal saja di samping warung ini? Tempatnya cukup strategis untuk mencari penumpang. Warga di kawasan sini, biasanya suka menunggu ojek lewat di sini, dan ada juga SMA, saat jam pulang sekolah ~ sangat banyak siswa yang gak bawa kendaraan, butuh ojek untuk pulang,” Bu Sinta menjelaskan dengan sabar. "Tapi...di sekitar sini sudah banyak tukang ojek," ucap Joko ragu. "Pangkalan ojeknya juga gak jauh dari sini, kalau anak SMA pulang sekolah, pasti ~ banyak ojek yang datang mencari penumpang." Bu Sinta baru ingat di sini memang banyak tukang ojek. Namun, sebuah ide kembali terlintas di benaknya. "Joko... kamu gak perlu takut kalah saing dengan ojek yang lain! kamu memiliki wajah tampan, tubuh gagah, dan sikap yang gampang bergaul, kamu bisa pakai itu menjadi modal untuk menarik penumpang," ucap Bu Sinta dengan nada serius. "Apa lagi... penumpang wanita! pasti kamu sangat di minati mereka," ucap Bu Sinta dengan nada pelan namun terdengar menggoda. Joko memikirkan kata-kata wanita itu. Meskipun terdengar seperti lelucon, ia tahu ucapan tersebut bukanlah lelucon dan sangat masuk akal. Seketika, sorot matanya berbinar. Sebuah harapan baru tampak terpantul di kedua matanya. “Ide Bu Sinta ~ sepertinya layak di uji!” ucap Joko penuh semangat. Senyum cerah pun langsung menghiasi wajahnya. Melihat Joko menerima sarannya, hati Bu Sinta ikut terasa senang. “Kalau begitu, mulai besok kamu mangkal di sini saja,” ujar Bu Sinta tegas, namun dengan nada hangat. Joko mengangguk mantap, seolah telah menemukan secercah harapan untuk masa depannya. “Aku yakin… dengan ketampananmu itu, kamu bisa menarik banyak penumpang wanita, apalagi para siswi SMA ~ soalnya mereka sangat pemilih,” lanjut Bu Sinta sambil tersenyum menggoda. "Dan Ingat, kamu harus membuat penumpang nyaman... kalau mereka nyaman, mungkin bisa jadi langganan nantinya!" "Oke siap! aku akan melakukannya!" balas Joko tegas dan penuh semangat. Joko sudah memiliki ide agar dia bisa menarik para penumpang. Mata Joko memandang ke arah Bu Sinta dengan sorot menggoda. “Bu Sinta, aku rasa… Bu Sinta perhatian banget sama aku. Jangan-jangan Bu Sinta suka yah ~ sama aku?” tanya Joko dengan nada main-main. Bu Sinta langsung terkejut dan salah tingkah. “E-eh, enggak gitu! Kamu ini ada-ada saja. Aku sudah punya suami, mana mungkin berpikir kayak gitu!" ucapnya kaku sambil memalingkan wajah. Ekspresi Joko semakin nakal saat melihat reaksinya, ia mengambil keputusan untuk mengambil langkah lebih berani lagi, lalu ia berkata dengan suara pelan penuh godaan. "Serius nih...? kalau suka bilang aja! gak usah malu-malu gitu. Aku tahu kok! Bu Sinta sangat kesepian ~ Suami Bu Sinta hanya fokus berjudi, jarang sekali menemuimu, kalau Bu Sinta benar kesepian... aku bisa kok..." Joko menghentikan ucapannya. Matanya menatap Bu Sinta semakin dalam dan panas. Namun, maksud ucapan Joko sudah cukup bisa di mengerti dengan jelas oleh Bu Sinta. "Bocah ini... mulai berani menggodaku terang-terangan! apa aku layani saja, yah? lagipula, yang di katakannya memang benar!" gumam Bu Sinta di dalam hati. Ia tak terlihat kesal ataupun marah, sebaliknya ada rasa senang dan gairah yang mulai menyala. Bu Sinta menarik napas, lalu menatap Joko lagi, kali ini dengan senyum tipis yang beraniJoko tampak canggung. "Itu gak pantas kan?" tanyanya. Nadya mengernyit. "Kenapa gak pantas?" "Identitas Nona sangat besar, sementara aku ini cuma pria biasa," balas Joko. "Biasa apanya? Kamu itu seorang ahli beladiri. Identitas kamu gak kalah sama sekali dari aku!" tegas Nadya sambil melemparkan tatapan tajam. Joko menghela nafas. "Huh... baiklah, kalau gitu aku gak akan sungkan lagi." Nona Sonya yang berada di dapur ~ mendengar obrolan itu. Dia pun menyahut. "Kamu juga bisa panggil aku Sonya saja! Kalau saling panggil nama, kita bisa lebih dekat," ucapnya itu dengar genit. Mendengar perkataan Sonya, Nadya ekspresi Nadya sedikit berfluktuasi dan hatinya sedikit terasa tidak enak. Namun, dia hanya diam berkata apapun. Tante Riana menatap Joko dengan tatapan penuh arti. Senyuman tipis terlukis di bibir merahnya. Di sela-sela obrolan, Joko mengirim pesan kepada para wanita langganannya dan wanita yang sudah bisa di sebut wanitanya. Dia memberi tahu mereka, tentang keberangkatann
Nona Nadya menghela nafas panjang, dia berusaha menenangkan hatinya yang bergejolak. Perlahan, senyuman cerah terlukis di bibir merahnya. "Tuan, saya percaya kepadamu! Tuan tenang saja, di perjalanan ini saya akan kasih bayaran yang memuaskan!" ucapnya. Joko menggosok-gosok tangannya dengan ekspresi wajah yang penuh senyuman. "Nona cantik, kalau boleh tahu... berapa bayarannya?" Tante Riana menusuk pinggang Joko dengan jari telunjuknya yang membuat Joko kegelian. "Hei, kamu tenang saja, Nona Nadya gak akan kasih uang yang cuma beberapa juta! Kamu gak akan rugi pokoknya!" Nona Nadya berkata. "Kalau Tuan berhasil menjaga keselamatanku selama di Kota Awan, aku akan kasih 500 juta!" Mendengar nominal itu, mata Joko berbinar terang. "Nona tenang saja, aku pasti menjamin keselamatanmu!" ucapnya dengan penuh semangat sambil menepuk-nepuk dadanya. "Huh... kamu ini yah, mendengar nominal uang langsung semangat banget!" ucap Tante Riana. Joko terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tida
Namun, wanita yang mengenakan gaun emas hanya menunjukkan perubahan tipis. Alisnya sedikit terangkat, sementara tatapannya menjadi lebih tajam seolah sedang menilai Joko. Berbeda dengan wanita berpakaian formal. Sorot matanya seketika berbinar, dan semburat merah perlahan menghiasi kedua pipinya."Nyonya, siapa pria tampan ini?" tanya wanita berpakaian formal dengan nada sedikit genit."Nona Nadya, Nona Sonya, perkenalkan ini Joko! Seorang ahli yang bisa mengalahkan puluhan orang sekaligus," ucap Tante Riana.Tatapan wanita berpakaian emas semakin lekat. Wanita berpakaian formal pun menjadi serius, semua ekspresi genitnya terhapus.Tante Riana melirik Joko. Dia menunjuk ke arah wanita berpakaian emas. "Jo, ini Nona Nadya." Dia menunjuk wanita berpakaian formal. "Dan ini Nona Sonya, asisten Nona Nadya."Joko tersadari, dia buru-buru bangkit. Kemudian, dia melemparkan senyuman dan anggukan kecil. "Nona Nadya, Nona Sonya," sapa Joko.
Dia perlahan menatap Tante Riana. "Tante, kalau boleh tahu... jadi pengawalnya itu harus sekuat apa?" Joko tak ingin gegabah. Meski dia cukup percaya diri dengan kekuatannya sekarang. "Temanku bilang, dia butuh pengawal yang kekuatannya bisa mengalahkan puluhan orang biasa. Kalau bisa, harus lebih kuat!" balas Tante Riana. Joko mengangguk-angguk. "Jangankan orang biasa, kalau aku melawan puluhan ahli di ranah pendekatan tahap awal pun ~ aku pasti mengalahkan mereka dengan mudah," gumam Joko di dalam hati. "Kalau kamu gak sanggup, lupakan saja!" ucap Tante Riana. "Aku sanggup!" tegas Joko. "Kamu serius Jo?" Tante Riana sedikit terkejut. Joko mengangguk. "Aku cukup kuat. Yah... kekuatanku sekarang ~ cukup untuk bertarung sama 100 orang," balas Joko. "Ka-kamu serius?" Tante Riana merasa ragu dengan ucapan Joko. Tadinya dia mengira Joko hanya sebatas mampu melawan beberapa orang. "Tentu saja serius! Ngapa
Keesokan harinya, Joko pergi ke kota sendirian. Karena hari ini, dia mendapatkan informasi dari sales dealer mobil jika plat nomor mobilnya sudah jadi. Tadinya sales itu menawarkan untuk mengantarkan plat itu, tapi Joko memutuskan untuk mengambilnya sendiri. Karena sekalian, dia ingin menemui Tante Riana di tokonya. Karena tadi pagi wanita itu mengirim pesan, menyuruh Joko datang ke tokonya jika ada waktu luang. Sampai di kota, Joko pergi mengambil plat nomor mobilnya terlebih dahulu di dealer. Selama proses pengambilan, sales yang kemarin terus menerus memberikan godaan kepada Joko. Namun, kecantikan sales itu belum cukup menggoyahkan Joko, jadi dia mengabaikannya. "Hmm... Tuan ini ternyata sangat sulit di rayu," gumam Sales itu dengan ekspresi sedikit cemberut. Jika sales itu datang pas Joko belum banyak mencicipi wanita cantik, pasti Joko akan langsung menerkamnya. Setelah semua proses selesai, dia pergi dari dealer ~ melajukan mobilnya menuju Mal. Tiba di sana, Joko tidak la
Joko tak langsung memosisikan batangnya, dia menyentuh area inti wanita itu dengan jarinya terlebih dahulu, untuk mengecek kondisi di sana. Tubuh Ririn menegang, saat jari Joko menyentuh area intinya. Pertanda, kalau wanita itu sangatlah sensitif. "Kamu sudah becek banget ternyata, sudah siap di tusuk," ucap Joko sambil mengelus area itu. "Ahh... ahh," desahan manja keluar dari mulut Ririn dengan tubuh yang sedikit bergetar. "Ahh... Tuan, ahh... aku sudah gatal banget!" ucap Ririn dengan nada manja. Joko narik jarinya, lalu membuka paha Ririn sedikit lebih lebar. Setelah itu, dia memosisikan batangnya di apem wanita itu. Joko menggesekkan ujung batangnya itu terlebih dahulu, sampai ujungnya basah oleh cairan wanita itu. "Nikmati yah, aku masukin nih!" ucap Joko sambil mendorong pinggangnya ke depan. Terlihat batang besar itu perlahan masuk ke dalam celah apem yang cukup tembem dan berair. Tubuh Ririn menegang, saat merasakan sensasi tusukan itu. "Ahhh... Tuan..." desah
Di sisi lain, tampak seorang pemuda turun dari motornya, lalu ia berjalan masuk ke dalam sebuah bangunan. Di dalam bangunan tersebut, terlihat banyak pria yang sedang bermain kartu. Di antara para pria itu, ada dua pria yang pasti di kenali oleh Joko. Mereka adalah Darto dan Seno. Pemuda yan
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in







