Beranda / Urban / Pemuda Pemikat Gadis Desa / Bab 1 Pangkalan Baru

Share

Pemuda Pemikat Gadis Desa
Pemuda Pemikat Gadis Desa
Penulis: Tristar

Bab 1 Pangkalan Baru

Penulis: Tristar
last update Tanggal publikasi: 2026-03-26 20:06:42

"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"

Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian.

Usianya dua puluh lima tahun. Ia memiliki wajah tampan dengan garis tegas, tubuh kekar hasil kebiasaannya berolahraga, serta pembawaan santai yang memancarkan pesona alami.

Senyumnya mudah membuat orang merasa nyaman, sementara sikapnya yang sederhana justru membuatnya tampak menarik di mata banyak wanita.

Banyak wanita menganggap Joko hanya pemuda tampan dengan pesona sederhana. Namun, jika mereka mengetahui sisi lain dari dirinya, sesuatu yang jauh lebih menarik dari sekadar penampilan, mungkin mereka akan benar-benar tergila-gila padanya.

====

Di jalanan pedesaan, Joko terlihat mengendarai motor tuanya dengan kecepatan sedang. Angin sore berembus pelan menerpa wajah pria itu tampak lesu tak ada semangat sama sekali.

"Huh... sampai sore begini baru dapet dua penumpang! pada ke mana yah... kok sepi banget sih," gerutu Joko dengan nada mengeluh.

Ia menghela napas panjang. Namun beberapa saat kemudian, ekspresi wajahnya berubah, seolah mencoba membangkitkan kembali semangatnya yang hampir padam.

"Joko, kamu gak boleh ngeluh! harus tetap semangat, demi masa depan yang cerah!" dia menasihati dirinya sendiri.

Walaupun ia sekarang hanya sekedar tukang ojek di desa, Joko menyimpan impian besar di hatinya. Ia ingin sukses, hidup berkecukupan, bergelimang harta, seperti orang-orang sukses di luar sana.

"Biar lebih semangat, mending ngopi dulu ahh, di warung Bu Sinta, yang cantik itu," ucap Joko sambil menyunggingkan senyuman nakal.

Joko melajukan motornya ke lokasi warung yang ia maksud.

Tak lama kemudian, Joko tiba di tempat tujuan. Begitu ia berhenti dan turun dari motor, seorang wanita dewasa cantik menyambutnya dengan senyum hangat dari balik meja warung

"Eh, Joko...udah dapet berapa penumpang, hari ini?" ucap Bu Sinta dengan nada hangat.

"Lagi sepi bu..." balas Joko dengan nada penuh keluhan.

"Gak apa-apa, namanya kerja ~ seperti itu...kadang rame, kadang juga enggak...yang penting kamu tetap semangat!" Bu Sinta menasihati.

"Kalo itu, selalu bu!" balas Joko dengan pasti. "Si tampan ini akan tetap semangat, sampai kapanpun!" lanjutnya sambil menepuk-nepuk dadanya ~ tampak meyakinkan.

Tatapan wanita itu tertuju pada Joko dengan sorot penuh kekaguman, disertai percikan panas yang sulit disembunyikan. Ia mengagumi Joko yang selalu tampak bersemangat dan ceria, meski hidupnya tidak mudah. Namun, di balik kekaguman itu, terselip pula gairah halus saat ia memandang pria tersebut ~ ketampanan wajah dan kegagahan tubuh Joko seakan memiliki daya tarik yang sulit diabaikan olehnya.

"Bu... aku mau kopi hitam!" ucap Joko dengan nada riang. "Jangan pakai gula... soalnya udah manis kalau ngopinya sambil lihat Bu Sinta, hehe," Joko tertawa kecil.

"Ah, bisa aja..." Bu Sinta pura-pura tersipu. "Jangan godain aku! aku ini istri orang lho..." Bu Sinta mengingatkan dengan nada main-main.

Joko hanya terkekeh, tak berkata apapun lagi. Tapi matanya terus menatap Bu Sinta yang sedang membuatkan kopi untuknya.

Wanita itu memiliki wajah yang sangat cantik dengan kulit putih mulus yang tampak bersinar diterpa cahaya sore. Parasnya lembut, namun ada terselip sedikit kegenitan di sorot matanya, menciptakan pesona godaan yang begitu alami.

Tubuhnya matang dan menggoda. Lekuk tubuhnya terbentuk sempurna, dengan payudara besar 38E+ dan pinggul montok yang berayun anggun setiap kali ia bergerak. Posturnya memancarkan pesona kewanitaan yang sangat menggairahkan, yang membuatnya lebih menonjol di pandangan para pria.

"Bu Sinta, begitu cantik dan menarik, tapi sayangnya ~ punya suami yang bejat!" gumam Joko di dalam hati.

Wanita secantik Bu Sinta seolah tidak beruntung dalam urusan rumah tangga. Ia harus menjalani kehidupan bersama seorang suami yang dikenal sebagai pemabuk, gemar berjudi, dan sering bersikap kasar kepadanya. Kehidupan yang seharusnya penuh kebahagiaan justru berubah menjadi beban yang harus ia pikul setiap hari.

Namun, Bu Sinta tidak jauh berbeda dengan Joko ~ ia sangat pandai menyembunyikan kesulitannya. Setiap hari ia selalu tampak ceria, menebarkan senyum hangat kepada siapa pun yang datang. Tak ada yang menyangka, di balik keceriaan itu tersimpan kepedihan dan beban berat yang diam-diam terus ia pikul seorang diri.

Saat Bu Sinta selesai membuat kopi, Joko buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Nih....sudah jadi!" ucap Bu Sinta sambil menyajikan segelas kopi itu di hadapan Joko.

Setelah itu ia duduk menghadap ke arah Joko.

Joko mengeluarkan sebungkus rokok dari kantung celananya, mengambil satu batang, lalu menyalakannya.

Joko menghembuskan asap rokok, lalu meraih cangkir kopi di hadapannya dan menyeruputnya.

"Ahh...memang paling nikmat kalau ngerokok sambil ngopi, apalagi kopinya di buatkan Bu Sinta," ucap Joko dengan nada setengah bercanda.

"Kamu... sangat bermulut manis," ujar Bu Sinta sambil menyunggingkan senyuman tipis.

Joko terkekeh pelan.

Saat Bu Sinta sedang menatap Joko ~ tiba-tiba sebuah ide yang mungkin bisa membantu usaha Joko terlintas di benaknya.

“Joko… aku punya saran untukmu,” ucap Bu Sinta dengan nada lebih serius dari biasanya.

“Saran apa tuh?” tanya Joko santai sambil meletakkan cangkir kopinya.

“Daripada kamu terus berkeliling mencari penumpang atau hanya mengandalkan yang memanggilmu, mending kamu mangkal saja di satu tempat,” ujar Bu Sinta. "Tapi kamu harus mangkal di tempat yang memiliki potensi besar untuk dapat penumpang."

Joko menghela napas panjang. Saran Bu Sinta sebenarnya sudah pernah terlintas di pikirannya.

“Aku juga pernah berpikir begitu… tapi sampai sekarang belum menemukan lokasi yang cocok,” ucap Joko dengan nada berat.

Bu Sinta tersenyum tipis, lalu menunjuk ke arah sisi warungnya.

“Kenapa kamu gak mangkal saja di samping warung ini? Tempatnya cukup strategis untuk mencari penumpang. Warga di kawasan sini, biasanya suka menunggu ojek lewat di sini, dan ada juga SMA, saat jam pulang sekolah ~ sangat banyak siswa yang gak bawa kendaraan, butuh ojek untuk pulang,” Bu Sinta menjelaskan dengan sabar.

"Tapi...di sekitar sini sudah banyak tukang ojek," ucap Joko ragu. "Pangkalan ojeknya juga gak jauh dari sini, kalau anak SMA pulang sekolah, pasti ~ banyak ojek yang datang mencari penumpang."

Bu Sinta baru ingat di sini memang banyak tukang ojek.

Namun, sebuah ide kembali terlintas di benaknya.

"Joko... kamu gak perlu takut kalah saing dengan ojek yang lain! kamu memiliki wajah tampan, tubuh gagah, dan sikap yang gampang bergaul, kamu bisa pakai itu menjadi modal untuk menarik penumpang," ucap Bu Sinta dengan nada serius. "Apa lagi... penumpang wanita! pasti kamu sangat di minati mereka," ucap Bu Sinta dengan nada pelan namun terdengar menggoda.

Joko memikirkan kata-kata wanita itu. Meskipun terdengar seperti lelucon, ia tahu ucapan tersebut bukanlah lelucon dan sangat masuk akal. Seketika, sorot matanya berbinar. Sebuah harapan baru tampak terpantul di kedua matanya.

“Ide Bu Sinta ~ sepertinya layak di uji!” ucap Joko penuh semangat. Senyum cerah pun langsung menghiasi wajahnya.

Melihat Joko menerima sarannya, hati Bu Sinta ikut terasa senang.

“Kalau begitu, mulai besok kamu mangkal di sini saja,” ujar Bu Sinta tegas, namun dengan nada hangat.

Joko mengangguk mantap, seolah telah menemukan secercah harapan untuk masa depannya.

“Aku yakin… dengan ketampananmu itu, kamu bisa menarik banyak penumpang wanita, apalagi para siswi SMA ~ soalnya mereka sangat pemilih,” lanjut Bu Sinta sambil tersenyum menggoda. "Dan Ingat, kamu harus membuat penumpang nyaman... kalau mereka nyaman, mungkin bisa jadi langganan nantinya!"

"Oke siap! aku akan melakukannya!" balas Joko tegas dan penuh semangat.

Joko sudah memiliki ide agar dia bisa menarik para penumpang.

Mata Joko memandang ke arah Bu Sinta dengan sorot menggoda.

“Bu Sinta, aku rasa… Bu Sinta perhatian banget sama aku. Jangan-jangan Bu Sinta suka yah ~ sama aku?” tanya Joko dengan nada main-main.

Bu Sinta langsung terkejut dan salah tingkah. “E-eh, enggak gitu! Kamu ini ada-ada saja. Aku sudah punya suami, mana mungkin berpikir kayak gitu!" ucapnya kaku sambil memalingkan wajah.

Ekspresi Joko semakin nakal saat melihat reaksinya, ia mengambil keputusan untuk mengambil langkah lebih berani lagi, lalu ia berkata dengan suara pelan penuh godaan.

"Serius nih...? kalau suka bilang aja! gak usah malu-malu gitu. Aku tahu kok! Bu Sinta sangat kesepian ~ Suami Bu Sinta hanya fokus berjudi, jarang sekali menemuimu, kalau Bu Sinta benar kesepian... aku bisa kok..." Joko menghentikan ucapannya. Matanya menatap Bu Sinta semakin dalam dan panas.

Namun, maksud ucapan Joko sudah cukup bisa di mengerti dengan jelas oleh Bu Sinta.

"Bocah ini... mulai berani menggodaku terang-terangan! apa aku layani saja, yah? lagipula, yang di katakannya memang benar!" gumam Bu Sinta di dalam hati.

Ia tak terlihat kesal ataupun marah, sebaliknya ada rasa senang dan gairah yang mulai menyala.

Bu Sinta menarik napas, lalu menatap Joko lagi, kali ini dengan senyum tipis yang berani

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Rahutama Y Ardiansyah
nitip sandal
goodnovel comment avatar
Bernard Tampubolon
awal yg baik
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 134 Nguping, Jadi Pengen

    Di kamar kos sebelah, terlihat seorang wanita cantik, berambut pirang, dan bertubuh hot yang di balut dengan pakaian kerja ~ sedang berbaring di tempat tidur.Satu tangan wanita itu tampak sibuk meremas buah semangkanya sendiri. Sementara itu, tangan yang lainnya bergerak-gerak di dalam celana ~ di area apemnya."Sial... aku kira sudah usai! Kenapa mereka lanjut lagi. Kalau gini terus aku bisa gila," gerutu wanita berambut pirang itu.Suara menggairahkan Joko dan Dea ternyata terdengar sampai ke kamar tersebut. Walaupun tidak keras, namun itu cukup jelas di dengar dari sana.Meski merasa tersiksa oleh suara-suara itu, wanita berambut pirang itu di buat penasaran oleh sosok pria yang sedang bercinta dengan Dea tersebut."Pria itu... kok kuat banget! Dea juga bilang... sangat besar, sangat mentok, emang sebesar apa ~ sepanjang apa batang pria itu," itu lah yang terus di pikirkan wanita berambut pirang itu.Wanita itu terus saja mendengarkan suara-suara menggairahkan Dea dan Joko. Dia ta

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 133 Dea Di Buat Enak

    Joko bangkit ~ menegakkan tubuhnya. Kemudian, dia meletakkan ujung batangnya di lubang apem basah gadis itu. "Kamu udah siap?" tanya Joko. Dea mengangguk. "Silakan masukin kak! Pelan-pelan... punya kakak sangat besar, pasti bakalan agak sakit," balas Dea. Joko perlahan mendorong pinggangnya ke depan. Terlihat, batang besarnya itu, perlahan masuk ke dalam apem Dea. "Ahhh..." Dea mendesah indah, dengan tubuh yang sedikit menegang, saat sensasi tusukan benda besar itu di rasakan oleh apemnya. "Be-besar... banget, kak!" ucap Dea dengan nada berat. Ekspresinya mengernyit erat, seperti sedang menahan beban yang berat. "Punya kamu masih sangat sempit!" balas Joko sambil terus menusukkan batang besarnya itu. Joko lebih memberikan banyak tenaga ke dalam dorongannya. "Arghh... agak sakit, kak!" pekik Dea. "Tahan sebentar!" ucap Joko. Setelah batangnya masuk setengahnya, Joko menghentak keras. Seketika, batang itu masuk sampai mentok di dalam apem gadis itu. BLESS "Ahhh...." desaha

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 132 Jilatan Maut Joko

    Tanpa mengeringkan tubuh terlebih dahulu, Joko langsung saja membaringkan tubuh Dea, lalu menekan tubuh wanita itu di bawahnya. "Kak... cium aku!" pinta Dea sambil melingkarkan tangannya di leher Joko. Joko menyeringai tipis, lalu dia melumat ganas bibir wanita itu. Mendapatkan ciuman ganas itu, Dea langsung menanggapinya ~ tak kalah ganas. Tangan Joko hinggap di buah semangka gadis itu, lalu meremasnya dengan keras. Sampai wanita itu, mengeluarkan suara desahan, walau yang keluar hanya suara desahan tertahan, karena bibirnya yang tersegel oleh bibir Joko. "Mmm... Mmm..." Setelah puas berciuman, bibir Joko turun ke leher putih mulus wanita itu, lalu kecupan dan jilatan dia daratkan di sana. "Ahhh.... ahh... Kak," Dea mendesah indah, dengan ekspresi yang tampak sangat menikmati. Kecupan dan jilatan Joko terus turun ke bawah, akhirnya berhenti di buah semangka gadis itu. "Ahhh... kak, isap putingku!" pinta Dea. Joko tidak langsung mengisapnya, dia menjilati permukaan buah seman

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 131 Mandi Bareng

    Setelah pintu kamar di kunci, Dea meletakkan tas nya, lali dengan cepat dia melepaskan pakaian sekolahnya. Saat pakaian bagian atas terlepas, tubuh berlekuk indah itu masuk ke pandangan Joko. Bagian yang paling menarik perhatian, tentu saja bagian buah semangka wanita itu yang masih tertutup oleh Bra hitam. Terlihat, buah semangka itu sangat penuh di dalam Bra. Walau ukuran milik Dea tak sebesar Tania, tapi ukurannya hampir sama seperti milik Mia. Melihat Joko yang terpana menatapnya, Dea dengan sengaja menampilkan pose menggoda. "Jangan natap aku terus dong! Kakak juga cepetan buka pakaian!" ucap Dea dengan nada menggoda. Tanpa basa basi, Joko melepaskan pakaiannya. Melihat tubuh kokok Joko yang berotot, membuat Dea merasa sangat terpesona. Dia mendekati Joko, lalu meletakkan jari tangannya di dada pria itu. "Tubuh kakak... sangat bagus!" ucap Dea dengan nada memuji. Setelah itu, dia menggigit bibirnya. Karena dia merasakan, hasrat di dalam tubuhnya semakin bergejolak.

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 130 Dea Dikasih Tahu Mia

    Joko kembali ke warung Sinta, sementara Darto dan bawahannya pergi ke rumah sakit. Tadinya... Joko ingin ikut bersama mereka, tapi mereka tidak memperbolehkannya. Setibanya di warung, Sinta langsung menghampiri Joko dengan ekspresi yang penuh kekhawatiran. "Jo, kamu gak apa-apa, kan?" tanya Sinta sambil terus memandangi sekujur tubuh Joko. "Aku baik-baik saja! Cuma baju aku kotor," balas Joko sambil membolak balik tubuhnya. "Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja," Sinta tampak lega setelah memastikan pria itu dalam kondisi baik, tak ada sedikitpun lecet. "Terus... para sampah itu gimana sekarang? Kamu pasti berantem hebat kan? Sama mereka," tanya Sinta dengan penuh rasa penasaran. Joko duduk di kursi, lalu dia mulai menceritakan kejadian tadi. Dia tak mengurangi dan melebih-lebih kan sedikitpun cerita. Sinta sangat terpana saat mendengar cerita itu. Dia memercayai 100% cerita Joko, karena selama ini Joko tak pernah membohonginya. Tak ada untungnya juga Joko membohonginya tentang

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 129 Kekejaman Joko

    Joko menepuk-nepuk tangannya, seperti sedang membersihkannya dari debu. Saat matanya melihat ke arah pakaiannya yang kini sudah kotor karena debu dan keringat, dia tanpa sadar menghela nafas."Huh... pakaian baru ku, udah kotor lagi!" ucap Joko.Meski begitu, Joko tak memiliki jejak luka karena senjata tajam. Bahkan, lebam pun tidak ada.Joko menatap Darto dan yang lainnya. "Kalian, gak apa-apa?" tanya Joko.Mereka semua menggelengkan kepalanya."Gak apa-apa, Bang! Aman... aman! Cuma luka kecil saja," balas Darto."Pulang dari sini, kalian ke rumah sakit! Bawa mereka yang lukanya agak parah, buat di obati!" perintah Joko. "Masalah biaya, aku yang bayar nanti!""Gak... gak perlu Bang! Kita juga punya uang kok! Mengobati luka kecil gini sama sekali gak mahal," balas Seno.Karena Joko tahu mereka tak akan menerima, akhirnya dia hanya menganggukkan kepalanya.Joko berbalik, lalu melangkah menghampiri Bima s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status