Home / Urban / Pemuda Pemikat Gadis Desa / Bab 2 Memiliki Hasrat Besar

Share

Bab 2 Memiliki Hasrat Besar

Author: Tristar
last update publish date: 2026-03-26 20:07:29

Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu.

Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat.

"Bu Sri... mau ke mana? ini sudah mau malam lho!"

"Ini, mau ke apotek. Tapi... kayaknya tukang ojek udah jarang, yah?" balas wanita paruh baya itu.

Joko yang mendengar jika wanita paruh baya itu membutuhkan ojek, dia langsung menyela.

"Bu Sri... saya kan ojek! kalau ibu mau, saya bisa mengantarkan ibu," ucap Joko dengan nada sopan dan penuh keceriaan.

"Eh, Joko... kebetulan sekali, ayo antar saya ke apotek!" wanita paruh baya bernama Bu Sri itu langsung setuju, dia tampak gembira. "Mata aku sudah rabun... jadi gak lihat ada Joko tadi."

"Hehe, kalau gitu, ayo bu!"

Joko berbalik ke arah Bu Sinta, sambil merogoh sakunya. Dia mengeluarkan uang 5000, lalu memberikannya kepada Bu Sinta untuk membayar kopi.

"Aku bilang apa! di sini cocok buat cari penumpang," ucap Bu Sinta sambil mengambil uang Joko, sambil sedikit mengelus tangan Joko untuk menggodanya.

Joko terkekeh pelan, sambil menatap wanita itu dengan tatapan nakalnya.

"Iya, kayaknya tempat ini cocok untukku," ujarnya. "Kalau gitu, aku pergi dulu!" lanjutnya sambil membalikkan tubuh, lalu melangkah ke arah motornya yang terparkir.

"Jangan lupa, besok mangkal di sini!" Bu Sinta kembali mengingatkan.

"Oke. Siap..." balas Joko dengan nada riang.

Joko naik ke motornya, lalu Bu Sri naik. Setelah wanita paruh baya itu duduk dengan nyaman, barulah Joko melanjutkan motornya.

Bu Sinta menatap kepergian Joko, senyuman tipis penuh makna terukir di bibirnya.

"Kalau tadi di lanjutkan, apa mungkin... Huh, sudahlah jangan pikirkan hal-hal itu!" Bu Sinta menepis semua pikiran liarnya, dan berusaha meredam gairahnya yang tadi mulai bangkit.

Setelah selesai dengan Bu Sinta, ada tugas lain untuk Joko.

Joko mengantarkan Bu Sri ke apotek, setelah wanita paruh baya itu selesai membeli obat, Joko pun mengantarkan Bu Sri pulang ke rumahnya.

Sampai di rumahnya, wanita paruh baya itu memberikan ongkos sebesar 20 ribu.

"Bu... ini kembaliannya, ongkosnya 10 ribu saja," Joko hendak memberi kembalian.

"Gak apa-apa, jangan di kembalian, buat Joko saja! Makasih sudah mau nganter, ke apotek," Bu Sri menolak kembalian dari Joko.

"Benaran nih bu?" Joko memastikan.

"Iya... benaran, buat Joko saja!" setelah berkata, Bu Sri berjalan pergi, masuk ke rumahnya.

Joko memandang uang itu dengan, raut wajahnya tampak gembira.

"Kalau sudah rezeki, emang gak akan ke mana,"

Joko memasukkan uang itu ke saku jaketnya, lalu melajukan motornya. Joko tak berniat mencari penumpang lagi, dia memutuskan untuk pulang.

===

Keesokan harinya, di pagi hari, Joko sudah siap berangkat ke pangkalan barunya.

Hari ini, ada yang berbeda dari penampilan Joko. Pria itu tampak lebih rapi, bahkan rambutnya pun tertata rapi.

Sambil memanaskan motor tuanya, Joko bercermin di kaca spion motornya. Dia terus memperhatikan wajahnya sendiri yang terpantul di dalam cermin.

"Kalau bergaya rapi begini, di lihat-lihat, aku semakin tampan. Aku yakin, para wanita yang tertarik kepadaku akan tambah tertarik, hehe.." ucap Joko sambil terkekeh pelan.

"Kalau berhasil memikat para wanita itu, siapa tahu saja, aku bisa dapet beberapa keuntungan dari mereka," ucap Joko dengan nada main-main. Ekspresi wajahnya tampak sedikit nakal.

Selama ini, Joko menyadari bahwa banyak wanita yang tertarik kepadanya. Namun, dahulu ia tidak pernah meladeni mereka.

Kini keadaan berbeda. Joko memiliki ide untuk menarik perhatian para wanita itu. Tujuannya hanya satu, untuk menambah jumlah pelanggan ojeknya.

Setelah motor cukup di panaskan, Joko menaikinya lalu melanjutkan motornya dari halaman rumahnya.

Baru melaju beberapa puluh meter, Joko melihat seorang wanita dewasa cantik berusia sekitar 30 tahun dengan tubuh yang menggoda berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangan untuk menghentikannya.

Joko pun menghentikan motornya.

"Eh, Bu Tika... ada apa Bu?" tanya Joko dengan nada hangat. "Apa ibu mau ngojek?"

Wanita dewasa itu bernama Tika. Dia istri Pak RW.

"Iya. Biasa... antar ibu ke pasar!" ucap Bu Tika dengan nada sedikit genit. Mata wanita itu Joko dengan sorot mata menggoda.

Namun Joko tak menyadari itu.

"Silakan naik bu, saya antar ibu ke pasar ~ dengan selamat," ucap Joko dengan nada riang.

Bu Tika tertawa kecil, lalu naik ke motor Joko. Setelah wanita itu duduk nyaman, Joko melanjutkan motornya.

"Di lihat-lihat, hari ini ~ kamu lebih tampan," ucap Bu Tika dengan nada yang terdengar agak genit.

"Hehe, setiap hari aku selalu tampan kok... hanya saja ~ hari ini aku sedikit merapikan diri," balas Joko terus terang.

"Tumben, pengen rapi. Apa kamu lagi nyari pasangan?" tebak Bu Tika.

"Enggak kok bu. Aku pengen penumpang yang memakai jasa ojekku lebih nyaman saja," ucap Joko menjelaskan dengan nada riang.

"Oh, gitu... kirain buat menarik perhatian wanita, hehe," ujar Bu Tika sambil tertawa pelan.

Karena jalan aspal di sana sudah banyak berlubang motor Joko tak sengaja masuk ke lubang yang cukup besar.

"Aduh..." Bu Tika kaget, secara refleks memeluk Joko, otomatis payudara besarnya itu melekat di punggung Joko.

"Maaf bu... gak sengaja," ucap Joko dengan nada meminta maaf.

"Gak apa-apa, sudah biasa... jalan di sini memang sangat jelek," balas wanita itu, sambil melepaskan pelukannya, lalu kembali mengambil sedikit jarak agar payudaranya tidak bersentuhan langsung dengan punggung Joko.

Joko merasa enggan saat wanita itu melepaskan pelukannya.

"Sial...gunung Bu Tika memang sangat mantap, tapi sayangnya, gak bisa merasakannya secara langsung, hanya bisa merasakannya menempel di punggung," gumam Joko di dalam hati dengan nada sedikit sedih.

"Kalau aku bisa merabanya, mungkin itu akan sangat... nyaman," lanjutnya dengan nada nakal.

Di balik sikapnya yang terlihat baik, Joko sebenarnya menyimpan sisi nakal terhadap wanita. Ia memiliki hasrat yang besar, namun selama ini selalu menahannya dan belum pernah menyalurkannya.

Bu Tika menggigit bibirnya, dia mengingat kembali kejadian tadi saat payudaranya melekat kuat di punggung Joko. Wajahnya sedikit memerah, entah karena malu atau karena berhasrat.

"Kenapa yah? saat aku bersentuhan dengannya, aku merasa sangat nyaman dan juga... gairah ku terpancing," gumam Bu Tika di dalam hati.

Beberapa saat kemudian, mereka sampai di pasar.

"Joko, kamu tunggu saja! ibu belanja sebentar kok! tenang saja, nanti ongkos ibu tambah," ucap Bu Tika sambil mengedipkan matanya dengan kedipan genit.

"Oke, siap bu!" balas Joko dengan penuh semangat.

Bu Tika melangkah pergi masuk ke dalam pasar.

Sekitar 10 menit menunggu, akhirnya, Bu Tika kembali. Tampak beberapa kantung plastik berisi sayuran dan bahan masakan.

"Sini Bu, simpan saja di depan! kalau di pegang, nanti ibu pegal," ucap Joko penuh perhatian.

Bu Tika mengangguk sambil tersenyum, lalu memberikan beberapa kantung plastik itu kepada Joko untuk di tata di depan.

Setelah selesai, Bu Tika naik ke motor.

"Sudah siap bu?" tanya Joko memastikan.

"Siap.. ayo," balas Bu Tika.

Joko pun melanjutkan motornya meninggalkan tempat tersebut.

"Joko... mulai besok, kamu antar ibu ke pasar setiap pagi," ucap Bu Tika.

"Benaran bu?" tanya Joko memastikan, dia tampak antusias.

"Benaran dong!" tegas Bu Tika.

"Hehe, mulai besok, aku akan mengantar ibu ke pasar. Ibu bisa tenang, aku pasti tepat waktu!" tegas Joko dengan penuh semangat.

Bu Tika menatap sisi wajah Joko dengan sorot mata panas, sambil menyunggingkan senyuman tipis yang sulit di artikan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 205 Mengambil Uangnya

    Mendengar itu, mata Joko menajam. Dia mencubit dagunya, tampak sedang berpikir. "Dia orang jahat! Gak ada salahnya mengambil semua uangnya," gumam Joko di dalam hati. Kemudian, dia menatap Darto. "Ya sudah, ambil saja!" Darto mengangguk dengan ekspresi berseri-seri. Dia menoleh dua wanita Juragan Rusdi yang sedang ketakutan di pojok ruangan. Kemudian, dia melangkah menghampiri kedua wanita itu. Melihat Darto datang, dua wanita itu lebih ketakutan. Sampai salah satu dari mereka kencing di sana. "Tu-tuan Darto, to-tolong jangan sakiti kami," ucap salah satu wanita itu. "Kalau kalian gak mau aku hajar juga, tunjukan di mana si gemuk itu menyimpan uang dan semua hartanya!" ucap Darto. Tanpa ragu, kedua wanita itu mengangguk setuju. "Ma-mari saya antar!" Juragan Rusdi yang masih sadar, jelas mendengar apa yang dikatakan Darto. Dia merasa sangat putus asa. "Jangannnn.... jangannn ambil uangku!" teriak Juragan Rusdi dengan seluruh tenaganya. BUGHH! Seno meninju wajah Juragan R

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 204 Datangi Biang Masalah

    Di tempat Juragan Rusdi berada, terlihat pria itu sedang duduk santai sambil di pijat oleh dua wanita cantik. Di depannya, duduk seorang pria tua berpakaian hitam."Rusdi, kamu yakin ~ dia sekuat itu?" tanya pria tua berpakaian hitam tersebut. Sebelumnya, Juragan Rusdi menceritakan tentang Joko yang katanya bisa mengalahkan banyak dari bawahannya."Bawahanku sendiri yang memberi tahu aku! Cuma satu pukulan ~ dia bisa menumbangkan bawahanku!" balas Juragan Rusdi."Apa dia masih muda?" tanya pria tua itu dengan ekspresi serius."Iya. Dia masih sangat muda! Paling sekitar umur 25 tahun," balas Juragan Rusdi.DEG!Hati pria tua berdebar. Seketika, ekspresi wajah pria tua itu berubah. "Mu-mungkin kah... orang yang sama, yang menghajar ku?" gumam pria tua itu di dalam hatinya.Melihat ada yang salah dengan ekspresi pria tua itu, Juragan Rusdi buru-buru bertanya dengan nada yang dalam. "Ada apa? Apa kamu kenal si Joko itu?"Pria tua itu buru-buru menggelengkan kepalanya."Aku gak kenal!" J

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 203 Di Keroyok

    Joko melajukan mobil itu dengan kecepatan sangat tinggi. Sampai mesin mobil itu meraung cukup keras. Hanya dalam beberapa menit, Joko pun sampai di markas Darto.Dari luar markas pun, Joko dengan jelas mendengar suara keributan di dalam. Namun yang jelas terdengar, adalah suara tawa dan cacian. Wajah Joko tampak sangat dingin, matanya memerah karena amarahnya yang memuncak. Dia buru-buru turun dari mobil, lalu berlari masuk ke dalam Markas.Sampai di dalam, Joko melihat Darto dan kelompoknya sudah dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Mereka sedang di pukuli sambil di caci maki oleh para bawahan Juragan Rusdi. Joko meraih batang besi panjang yang tergeletak tidak jauh dari dirinya, lalu dia menerjang sambil berteriak keras."Para bajingan! Apa kalian inginku hancurkan!"Semua bawahan Juragan Rusdi menoleh ke arah datangnya suara. "Itu... itu dia! Dia si Joko!" teriak salah satu bawahan Juragan Rusdi yang mengenal Joko."Bagus... kau malah datang sendiri! Kita gak perlu cape mencar

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 202 Tidak Terima

    Wanita itu bangkit perlahan, lalu mengeluarkan batang pria gemuk itu dari sangkarnya. Terlihat batang kecil itu sudah sangat tegak. Wanita itu berjongkok di atas batang itu, lalu memosisikan ujung batang itu di apemnya. Saat wanita itu hendak menurunkan tubuhnya, terdengar suara pintu di ketuk dan teriakan seorang pria dari luar ruangan tersebut.Tok... Tok... Tok"Juragan! Juragan!"Juragan Rusdi mengerutkan keningnya. "Ada apa sih, mengganggu saja," gerutunya.Wanita muda itu buru-buru turun dari tubuh Juragan Rusdi, lalu mengenakan pakaian tipisnya. Juragan Rusdi membenarkan celana sambil berterik. "Masuk!"Pintu terbuka dan seorang pria bertato yang wajahnya tampak babak belur masuk ke dalam ruangan dengan langkah cepat.Melihat pemandangan itu, kening Juragan Rusdi seketika berkerut erat."Kau kenapa?" tanya Juragan Rusdi.Pria itu berlutut di hadapan Juragan Rusdi. "Juragan... di-dia... si-si Joko itu, ternyata sangat kuat! Kami semua di kalahkan sama dia," ucap pria itu denga

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 201 Pemuda Terhebat

    Setelah semua selesai, mereka semua pun pergi dari rumah Doni. Joko, Sinta, dan Lana, pergi ke rumah Joko. Sementara Darto dan kelompoknya, langsung pulang ke markas. Setibanya di rumah, Joko duduk di sofa. "Akhirnya selesai juga," ucapnya dengan nada lega. Sinta tersenyum nakal, lalu dia duduk di pangkuan Joko dan melingkarkan tangannya di leher pria itu. "Sayang, makasih yah. Karena kamu, aku bisa terlepas dari pria sialan itu," ucap Sinta dengan nada genit.Joko mengangguk pelan sambil menyunggingkan senyum tipis. "Kamu kan sudah jadi janda nih... gimana kalau kita rayakan," ucap Joko dengan ekspresi nakal. Satu tangannya mengelus paha Sinta dan tangan lainnya melingkar di pinggang Sinta."Mau ratakan gimana nih?" tanya Sinta sambil mengedipkan matanya.Lana mendekat, lalu memeluk tangan Joko."Tentu saja rayakan di ranjang! Iya gak sayang?" ujar Lana dengan nada menggoda."Nah, betul!" balas Joko."Ayo! Aku gak akan nolak! Mau sampai lemas pun, aku siap!" ucap Sinta sambil me

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 200 Perceraian Sinta, Berkah Tersembunyi Joko

    Darto masuk ke dalam sambil berkata. "Bang, dia ketangkap di warung Bu Sinta. Ternyata dia ada di sana sama beberapa bawahan Juragan Rusdi. Kayaknya dia mau nangkap Bu Sinta." "Hmm... gak kapok-kapok ternyata," ucap Joko dengan sorot mata sinis. "Hehe, tadi aku memukul dia terlalu keras! Jadi tangan sama kakinya patah!" balas Darto dengan nada riang. "Bagus! Dia pantas mendapatkannya!" bukan Joko yang menjawab, melainkan Lana. Melihat putranya yang tampak sangat menyedihkan itu, pasangan paruh baya itu buru-buru menghampirinya. Meski mereka merasa marah di dalam hatinya, tapi mereka tak punya sedikitpun keberanian buat memarahi Darto. "Dia masih sadar?" tanya Joko. "Masih!" balas Darto. Kemudian dia menatap Doni. "Bajingan, cepat jelaskan yang sebenarnya! Kalau nggak aku patahkan semua kali dan tanganmu," ancam Darto. Dengan suara lemah, Doni mulai menjelaskan semuanya. Dia tidak berani berbohong sedikit pun. Setelah babak belur seperti ini, dia tidak ingin menerima pukulan tam

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 43 Dokter Cantik

    Joko memacu motornya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit, karena darah dari luka sayatan itu terus mengalir. Karena darah terus mengalir, Joko merasa kepalanya sedikit pusing. Mungkin gara-gara kehilangan darah.Beberapa saat kemudian, Joko tiba di rumah sakit. Ia segera

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 42 Joko Terluka

    Melihat serangan Joko, preman itu hendak menghindar, namun serangan itu datang sangat cepat. "Lambat!" teriak Joko. BUGHH! Tendangannya mengenai dada preman itu dengan telak, sampai preman itu terlempar ke belakang beberapa meter. BR

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 41 Hajar Preman Pasar

    Beberapa saat kemudian, mereka sampai di pasar. Bu Tika turun dari motor, lalu ia melangkah masuk ke dalam pacar. Seperti biasa, Joko menunggu Bu Tika berbelanja. Sambil menunggu, Joko menyalakan sebatang rokok, lalu menikmatinya.Baru saja Joko mengisap rokok beberapa isapan,

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 36 Pertama Kali Di Jilat

    Joko melanjutkan isapannya itu. Kali ini, isapan yang ia lakukan lebih keras dari sebelumnya.Bu Tika berusaha sedikit menekan desahannya agar tidak keluar terlalu keras. Sampai ia menutupi mulutnya menggunakan selimut yang ada di sana.Satu tangannya Joko turun ke apem wanita i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status