Mag-log inPagi-pagi sekali, Rain yang sudah membersihkan diri dan berpakaian rapi, melangkah menuju kamar Tasya. Ia membangunkan sahabat sekaligus saudaranya yang terlelap di balik selimut tebal."Sya, bangun. Anterin aku ke rumah sakit," kata Rain. Tangannya bergerak menarik selimut yang menutupi tubuh Tasya yang agak bulat seperti bola sepak yang agak kempes.Tasya yang benar-benar masih terlelap, menggeliat kecil tanpa membuka matanya sedikit pun. Bahkan, tubuh gadis tua itu semakin meringkuk di atas tempat tidur."Sya, buruan bangun! Atau aku pergi sendiri, biar kamu dimarahin Ayah dan Bunda!"Berulang kali membangunkan Tasya, tetapi wanita itu tak juga membuka mata, hingga Rain menjadi kesal dibuatnya.Di pinggiran tempat tidur tersebut, Rain menghela napas kasar. Lalu kembali menutupi tubuh Tasya yang tidur dengan posisi meringkuk.Setelah itu, ia pun memesan taksi online dan minta diantarkan ke rumah sakit. Menunggu Tasya bangun, yang ada tengah hari baru berangkat."Emang bener-bener si
"Rain, ngapain malem-malem di sini? Kamu sakit?!"Rain dan Tasya yang berjalan pelan menyusuri lorong rumah sakit, seketika menghentikan langkah mereka dan menatap ke arah sumber suara.Melihat wajah orang yang menyapa dan bertanya padanya, Rain menghela napas pelan dan membuang muka, tak mau melihat orang itu lebih lama.Sedangkan Tasya, seketika mencebikkan bibirnya. Menunjukkan jika ia tak suka dan sangat malas melihat wajah menyebalkan orang tersebut.Andrean yang baru keluar dari ruangan rawat ibunya, tersenyum kecil saat melihat wajah Rain yang dirindukannya beberapa minggu terakhir."Rain, kamu sakit?"Tak dipedulikan oleh Rain dan Tasya, Andrean kembali bertanya sembari melangkah mendekati mantan istrinya tersebut.Namun, baru saja mendekat, Tasya sudah lebih dulu menghalangi. Wanita bertubuh agak pendek itu menarik tubuh Rain, tak membiarkan Andrean mengganggunya."Rain lagi gak enak badan, jadi gak usah deket-deket," kata Tasya dengan mode julid on.Sepasang mata gadis tua i
"Akhirnya... aku dapet donor darah buat Satria!"Suara heboh Tasya yang katanya menemukan pendonor untuk Satria membuat Pak Anjas, Bu Karina, Rain, dan Bu Yohana langsung menatap ke arahnya.Mereka semua menatap serempak, hingga Tasya yang menyadari jika saat ini berada di rumah sakit langsung menutup mulutnya dan menyengir kuda."Hee, maaf. Aku dapet donor darah buat Satria ini," kata Tasya sambil menunjuk layar ponselnya yang menyala."Kamu serius, Sya? Gak lagi bercanda, kan?" tanya Rain memastikan. Matanya yang memerah dan sembab menatap serius wajah sahabatnya.Ditanya, Tasya yang memang sedang serius dan tidak bercanda itu pun menganggukkan kepalanya dengan cepat."Hmm, aku serius. Ini ada dua bersaudara yang punya golongan darah O negatif dan bersedia donor. Tapi ada syaratnya, mereka minta bayarin semua biaya rumah sakit ibu mereka yang menderita gagal ginjal dan dirawat di Rumah Sakit Sido Mulyo!""Setujui, cepat setujui. Bukan cuma biaya rumah sakit yang akan kulunasi, ibuny
Tuan Seno yang berada di atas ranjang dengan tubuh nyaris polos, menyunggingkan sudut bibirnya saat melihat sang istri keluar dari kamar mandi. Tubuh polosnya yang sedikit bulat, dibalut dengan handuk singkat terlihat begitu menggoda dan menggairahkan."Udah bener-bener selesai datang bulannya?" tanya Tuan Seno, sepasang matanya menatap lekukan tubuh istrinya tanpa berkedip.Sudah seminggu tidak melakukan hubungan intim dan menikmati kemontokan istrinya. Kini pria paruh baya itu sudah tidak tahan ingin memuaskan hasratnya dan juga menyenangkan sang istri yang memang selalu tergila-gila dengan keperkasaannya.Diana, istri dari Tuan Seno yang posesif dan pencemburu, mengangguk sembari melangkah pelan mendekati sang suami yang duduk bersandar di kepala ranjang.Di pinggiran ranjang, wanita paruh baya yang masih cukup cantik dengan tubuh montok itu melepaskan handuk yang melilit tubuh polosnya. Lalu melemparkan handuk tersebut secara asal ke lantai.Selanjutnya, dengan tubuh telanjang bul
"Pasien kehilangan banyak darah, saat ini sedang melakukan transfusi. Tapi, ada kendala yang ingin kami sampaikan, golongan darah pasien O negatif. Dan stok darah dengan golongan O negatif hanya ada dua kantong di rumah sakit ini. Kami sudah menghubungi rumah sakit lain dan juga pusat, tapi belum juga mendapatkan darah dengan golongan tersebut." Degh! Melotot lebar sepasang mata Bu Yohana. Tubuhnya melemas dan kembali terduduk di kursi tunggu IGD tersebut. Golongan darah O negatif, bukankah golongan tersebut golongan darah langka? Batin wanita paruh baya itu. "Golongan darah saya O negatif, Suster. Ambil darah saya sebanyak yang dibutuhkan!" kata Tuan Arya, menyodorkan pergelangan tangannya ke hadapan perawat yang berdiri di depan pintu IGD. Perawat tersebut memandang wajah tegang dan cemas Tuan Arya dengan kening berkerut. Lalu ia pun menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyum. "Baiklah, kita lakukan pemeriksaan sekarang. Jika tidak ada masalah, bisa langsung dilakukan trans
Tap, tap, tap!Derap langkah kaki terdengar beriringan menyusuri lorong rumah sakit dengan begitu terburu-buru.Tuan Arya dan yang lainnya mendatangi rumah sakit Citra Medika, tempat di mana Satria yang katanya mengalami kecelakaan dirawat.Tujuan keluarga besar tersebut adalah ruangan IGD, tempat Satria ditangani oleh dokter dan perawat saat ini.Tiba di depan ruangan IGD, Tuan Arya, Rain dan Bu Yohana menghampiri perawat yang kebetulan keluar dari ruangan tersebut."Suster, apa pasien dengan nama Satria Rendra berada di dalam?" tanya Rain wajah pucat dan air mata berderai.Wanita hamil itu bertanya sambil mencekal pergelangan tangan perawat tersebut.Perawat tersebut menghentikan langkahnya dan mengangguk, "Benar, Mbak. Yang berada di dalam adalah Satria Rendra, korban kecelakaan di jalan simpang.""Lalu, gimana keadaannya sekarang, Sus?" Tuan Arya ikut bertanya. Keringat jagung membasahi keningnya, menunjukkan jika pria paruh baya itu sedang panik tingkat maksimal."Keadaan pasien
Dasar brandal! Cepat pergi, jangan ganggu ketenangan penghuni gedung apartemen ini!" Di dorong tubuhnya dengan kasar, Satria yang semula bersikap sopan, kini menepis tangan Satpam yang sudah bersikap arogan padanya. Wajah pemuda itu memerah dan terlihat marah. Ia kesal diperlakukan tidak pantas d
"Argh, sial! Semakin hari Rain semakin keras kepala dan jadi pembangkang!" Andrean yang baru saja kembali ke kediaman Damara, tak hentinya mengumpat dan marah-marah. Pria itu kesal pada istrinya yang tak mau menurut dan patuh seperti dulu. Padahal, ia sudah bela-bela mengalah dan merendah, tetapi
"Enggak, Bang. Baru dua hari ini Tika gak sekolah. Kata wali kelas, Tika gak boleh ikut belajar kalau tunggakan SPPnya belum dilunasi!" Melotot lebar mata Satria. Perkataan yang keluar dari mulut adiknya, membuat dadanya terasa sesak. Kenapa? Kenapa ia sampai melupakan biaya sekolah Atika? Sebag
Satria melajukan motornya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang cukup sepi pengendara di pagi menjelang siang hari. Sesekali, pemuda itu menoleh ke kiri dan ke kanan, memperhatikan jalanan di sekitarnya. Hingga, tatapannya berhenti pada seorang remaja yang sedang memungut barang-bar







