LOGINSatria yang baru saja bangun dari komanya terlihat diam tanpa ekspresi. Hanya sepasang matanya saja yang berkedip dan terbuka sayu.Kini, pemuda itu duduk bersandar pada kepala ranjang. Wajahnya yang penuh luka begitu pucat seperti mayat hidup."Sayang, akhirnya kamu sadar. Aku senang banget!" Rain yang merasa senang tersenyum sambil memeluk tubuh sang kekasih.Namun, Satria yang dipeluk dan diajak berbicara tetap tak memberikan reaksi. Pemuda itu tetap diam, tak merespons perkataan orang-orang yang ada di sekitarnya."Kamu tahu gak? Aku, Ibu, Papa, dan yang lainnya cemas banget sama keadaan kamu," lanjut Rain dengan suara bergetar menahan tangis.Satria yang dipeluk memejamkan matanya sesaat dan mengembuskan napas pelan. Ia mengepalkan kedua tangannya yang terasa lemah, lalu mendorong tubuh Rain yang memeluknya."Lepaskan saya!"Mendengar perkataan Satria dan juga penolakannya, Rain terkejut bukan main. Spontan wanita hamil itu melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang kekasih."S
"Walaupun ketemu aku secara langsung, jawabannya tetep sama, Mas. Aku gak akan mengizinkan siapa pun buat ketemu anakku untuk saat ini, termasuk kakakku sendiri!"Degh!Kalimat bernada santai tetapi terdengar serius milik Tuan Arya yang baru saja kembali, membuat Tuan Seno langsung menoleh ke arah sumber suara.Melihat wajah adiknya yang terlihat datar, Tuan Seno menghela napas pelan. Di hadapan adiknya itu, ia pun memaksakan senyumannya dan melangkah mendekat."Ar, gimana keadaan anakmu? Mas dan Diana ke sini, mau lihat keadaannya," kata Tuan Seno. Perkataannya yang semula bernada tinggi terhadap Pak Anjas, kini bernada rendah dan santai.Di hadapan adiknya, pria paruh baya itu tersenyum ramah. Berbeda sekali dengan sikap sombong dan kasar yang semula ia tunjukkan."Iya, Ar. Katanya anak kamu yang hilang udah ketemu, jadi kami bela-belain ke sini buat jenguk!" sambung Diana dengan sudut bibir tersungging.Melihat wajah kakak dan iparnya, Tuan Arya menghela napas pelan. Jelas sekali j
"Argh... anakku, tolong anakku. Jangan biarkan dia kenapa-kenapa! Tolong selamatkan Narendra-ku!"Nyonya Laras yang terduduk di lantai, menjerit histeris sambil memegangi kepalanya. Wanita paruh baya itu menangis, meminta tolong agar putranya diselamatkan.Terkejut, Tuan Arya segera merengkuh dan memeluk tubuh istrinya. Ia berusaha menenangkan sang istri yang panik ketakutan."Laras, tenang... jangan panik kayak gini. Anak kita baik-baik aja dan sekarang lagi dalam masa pemulihan," kata Tuan Arya sembari mengusap punggung istrinya yang bergetar."Aku gak mau kehilangan Naren. Anakku gak boleh mati kayak Mas Beni... jangan sampai mereka nyakitin anak kita lagi!" kata Nyonya Laras.Degh!Mendengar perkataan Nyonya Laras yang menyebut nama 'BENI', Tuan Arya semakin terkejut. Dalam hati ia berpikir, apakah kesadaran istrinya sudah membaik dan kembali?"Mas, ada apa? Mbak Laras kenapa?"Pak Anjas dan Bu Karina yang ikut terkejut, memasuki ruangan rawat tersebut. Pasangan suami istri itu me
Di dalam ruangan VVIP tempat Satria dirawat, Rain duduk di kursi samping ranjang pasien. Dengan setia, wanita hamil itu menemani calon suaminya yang mengalami koma, bahkan tak henti mengajak pemuda itu berbicara, berharap Satria bangun dan merespons perkataannya."Kalau kamu gak kecelakaan, harusnya besok hari pernikahan kita. Tapi sekarang, kamu malah tiduran di sini," ucap Rain. Suaranya pelan dan bergetar, menunjukkan jika ia begitu sedih melihat keadaan calon suaminya.Bibir wanita hamil itu berbicara, sedangkan tangannya bergerak mengusap lembut lengan Satria yang terasa begitu dingin.Wajah pucat Satria yang penuh luka, dibalut perban di bagian kening dan kepala, membuat perasaan Rain terasa begitu sakit. Dalam waktu beberapa bulan terakhir, sudah berapa kali Satria masuk rumah sakit tersebut. Dan kali ini adalah yang terparah."Kamu tahu gak, Sayang? Semalam aku tidurnya gak nyenyak, selalu kepikiran kamu," kata Rain, mengadu jika ia tak dapat beristirahat dengan tenang lantara
Andrean yang tak sengaja melihat Rain mendatangi rumah sakit di pagi hari tersebut, memutuskan untuk membuntuti lantaran merasa penasaran.Pria itu ingin tahu, siapa orang yang dikunjungi oleh mantan istrinya di pagi buta tersebut."Rain, ngapain lagi dia ke sini? Kemarin pulang malam dan sekarang pagi-pagi banget udah datang lagi ke rumah sakit ini," gumam Andrean yang begitu penasaran.Saking penasarannya, Andrean mengikuti langkah Rain sampai ke depan ruangan VVIP.Melihat Rain berhenti di depan ruangan tersebut dan berbincang-bincang dengan Tuan Arya dan orang tua angkatnya, kening pria itu berkerut."Bukannya orang itu Arya Mandala, pemimpin Mandala Prima Grup. Kenapa bisa deket sama Rain?" kata Andrean yang bersembunyi.Rasa penasaran pria itu semakin meletup-letup. Ia menjadi kepo dengan segala urusan mantan istrinya.Penyesalan karena bercerai dari Rain kini semakin besar dan membuatnya bersikeras ingin memiliki wanita itu lagi."Ada hubungan apa Rain sama Tuan Arya Mandala da
Pagi-pagi sekali, Rain yang sudah membersihkan diri dan berpakaian rapi, melangkah menuju kamar Tasya. Ia membangunkan sahabat sekaligus saudaranya yang terlelap di balik selimut tebal."Sya, bangun. Anterin aku ke rumah sakit," kata Rain. Tangannya bergerak menarik selimut yang menutupi tubuh Tasya yang agak bulat seperti bola sepak yang agak kempes.Tasya yang benar-benar masih terlelap, menggeliat kecil tanpa membuka matanya sedikit pun. Bahkan, tubuh gadis tua itu semakin meringkuk di atas tempat tidur."Sya, buruan bangun! Atau aku pergi sendiri, biar kamu dimarahin Ayah dan Bunda!"Berulang kali membangunkan Tasya, tetapi wanita itu tak juga membuka mata, hingga Rain menjadi kesal dibuatnya.Di pinggiran tempat tidur tersebut, Rain menghela napas kasar. Lalu kembali menutupi tubuh Tasya yang tidur dengan posisi meringkuk.Setelah itu, ia pun memesan taksi online dan minta diantarkan ke rumah sakit. Menunggu Tasya bangun, yang ada tengah hari baru berangkat."Emang bener-bener si
"Buka bentar, Bang. Tika mau mastiin sesuatu!" Kyak! Melotot lebar mata Satria, saking lebarnya seperti anak sapi yang tersedak susu induknya. Pemuda mantan gigolo itu kaget mendapati aksi gila adiknya.Bagaimana tidak? Atika yang mendekat, berjongkok di bawah Satria yang duduk di kursi. Lalu me
Di ruang makan rumahnya yang sederhana, di sanalah kini Satria dan adik-adiknya berada. Pagi itu mereka sarapan bersama. "Makan yang banyak biar belajarnya gak ngantuk!" Satria berbicara pada Danu dan Ayu, meminta kedua adiknya yang hendak ke sekolah itu sarapan yang banyak. Kepala Danu dan Ayu
"Ka-ka-kalau pu-pu-punya masalah, ce-ce-cerita sama gue! Ja-ja-jangan di-di-dipendem sendiri!" Satria menghela napas kasar, lalu beringsut dari posisinya dan duduk bersila di samping Tono yang berbicara. Selanjutnya, pemuda mantan pria bayaran itu menghela napas sebelum akhirnya buka suara. "Gue
"Bang Danu, itu motornya Bang Sat!"Ayu dan Danu yang baru saja pulang dari sekolah, menunjuk motor Satria yang terparkir di teras rumah. Mata bocah SD itu berbinar melihat motor kakak tertuanya. Ia yang rindu pada sosok Satria, berlari menuju teras, diikuti oleh Danu di belakangnya. "Jangan lari







