Partager

97. PPPN

Auteur: Callme_Tata
last update Date de publication: 2026-05-10 21:11:08

Dokter dan petugas rumah sakit berlarian, mencari pasien VVIP mereka yang kabur dari ruang perawatan.

Wajah mereka terlihat panik dan ketakutan, takut pada kemarahan Tuan Arya, suami dari pasien VVIP mereka.

"Astaga, di mana kamu, Sayang?" gumam Tuan Arya yang menyusuri lorong rumah sakit dan memeriksa setiap tempat yang mungkin di datangi istrinya.

Pria separuh baya itu panik, takut istrinya melakukan hal yang dapat membahayakan nyawanya seperti biasa.

"Tuan, itu Nyonya!" tunjuk Asisten Tu
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   207. PPPN

    Satria yang baru saja bangun dari komanya terlihat diam tanpa ekspresi. Hanya sepasang matanya saja yang berkedip dan terbuka sayu.Kini, pemuda itu duduk bersandar pada kepala ranjang. Wajahnya yang penuh luka begitu pucat seperti mayat hidup."Sayang, akhirnya kamu sadar. Aku senang banget!" Rain yang merasa senang tersenyum sambil memeluk tubuh sang kekasih.Namun, Satria yang dipeluk dan diajak berbicara tetap tak memberikan reaksi. Pemuda itu tetap diam, tak merespons perkataan orang-orang yang ada di sekitarnya."Kamu tahu gak? Aku, Ibu, Papa, dan yang lainnya cemas banget sama keadaan kamu," lanjut Rain dengan suara bergetar menahan tangis.Satria yang dipeluk memejamkan matanya sesaat dan mengembuskan napas pelan. Ia mengepalkan kedua tangannya yang terasa lemah, lalu mendorong tubuh Rain yang memeluknya."Lepaskan saya!"Mendengar perkataan Satria dan juga penolakannya, Rain terkejut bukan main. Spontan wanita hamil itu melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang kekasih."S

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   206. PPPN

    "Walaupun ketemu aku secara langsung, jawabannya tetep sama, Mas. Aku gak akan mengizinkan siapa pun buat ketemu anakku untuk saat ini, termasuk kakakku sendiri!"Degh!Kalimat bernada santai tetapi terdengar serius milik Tuan Arya yang baru saja kembali, membuat Tuan Seno langsung menoleh ke arah sumber suara.Melihat wajah adiknya yang terlihat datar, Tuan Seno menghela napas pelan. Di hadapan adiknya itu, ia pun memaksakan senyumannya dan melangkah mendekat."Ar, gimana keadaan anakmu? Mas dan Diana ke sini, mau lihat keadaannya," kata Tuan Seno. Perkataannya yang semula bernada tinggi terhadap Pak Anjas, kini bernada rendah dan santai.Di hadapan adiknya, pria paruh baya itu tersenyum ramah. Berbeda sekali dengan sikap sombong dan kasar yang semula ia tunjukkan."Iya, Ar. Katanya anak kamu yang hilang udah ketemu, jadi kami bela-belain ke sini buat jenguk!" sambung Diana dengan sudut bibir tersungging.Melihat wajah kakak dan iparnya, Tuan Arya menghela napas pelan. Jelas sekali j

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   205. PPPN

    "Argh... anakku, tolong anakku. Jangan biarkan dia kenapa-kenapa! Tolong selamatkan Narendra-ku!"Nyonya Laras yang terduduk di lantai, menjerit histeris sambil memegangi kepalanya. Wanita paruh baya itu menangis, meminta tolong agar putranya diselamatkan.Terkejut, Tuan Arya segera merengkuh dan memeluk tubuh istrinya. Ia berusaha menenangkan sang istri yang panik ketakutan."Laras, tenang... jangan panik kayak gini. Anak kita baik-baik aja dan sekarang lagi dalam masa pemulihan," kata Tuan Arya sembari mengusap punggung istrinya yang bergetar."Aku gak mau kehilangan Naren. Anakku gak boleh mati kayak Mas Beni... jangan sampai mereka nyakitin anak kita lagi!" kata Nyonya Laras.Degh!Mendengar perkataan Nyonya Laras yang menyebut nama 'BENI', Tuan Arya semakin terkejut. Dalam hati ia berpikir, apakah kesadaran istrinya sudah membaik dan kembali?"Mas, ada apa? Mbak Laras kenapa?"Pak Anjas dan Bu Karina yang ikut terkejut, memasuki ruangan rawat tersebut. Pasangan suami istri itu me

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   204. PPPN

    Di dalam ruangan VVIP tempat Satria dirawat, Rain duduk di kursi samping ranjang pasien. Dengan setia, wanita hamil itu menemani calon suaminya yang mengalami koma, bahkan tak henti mengajak pemuda itu berbicara, berharap Satria bangun dan merespons perkataannya."Kalau kamu gak kecelakaan, harusnya besok hari pernikahan kita. Tapi sekarang, kamu malah tiduran di sini," ucap Rain. Suaranya pelan dan bergetar, menunjukkan jika ia begitu sedih melihat keadaan calon suaminya.Bibir wanita hamil itu berbicara, sedangkan tangannya bergerak mengusap lembut lengan Satria yang terasa begitu dingin.Wajah pucat Satria yang penuh luka, dibalut perban di bagian kening dan kepala, membuat perasaan Rain terasa begitu sakit. Dalam waktu beberapa bulan terakhir, sudah berapa kali Satria masuk rumah sakit tersebut. Dan kali ini adalah yang terparah."Kamu tahu gak, Sayang? Semalam aku tidurnya gak nyenyak, selalu kepikiran kamu," kata Rain, mengadu jika ia tak dapat beristirahat dengan tenang lantara

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   203. PPPN

    Andrean yang tak sengaja melihat Rain mendatangi rumah sakit di pagi hari tersebut, memutuskan untuk membuntuti lantaran merasa penasaran.Pria itu ingin tahu, siapa orang yang dikunjungi oleh mantan istrinya di pagi buta tersebut."Rain, ngapain lagi dia ke sini? Kemarin pulang malam dan sekarang pagi-pagi banget udah datang lagi ke rumah sakit ini," gumam Andrean yang begitu penasaran.Saking penasarannya, Andrean mengikuti langkah Rain sampai ke depan ruangan VVIP.Melihat Rain berhenti di depan ruangan tersebut dan berbincang-bincang dengan Tuan Arya dan orang tua angkatnya, kening pria itu berkerut."Bukannya orang itu Arya Mandala, pemimpin Mandala Prima Grup. Kenapa bisa deket sama Rain?" kata Andrean yang bersembunyi.Rasa penasaran pria itu semakin meletup-letup. Ia menjadi kepo dengan segala urusan mantan istrinya.Penyesalan karena bercerai dari Rain kini semakin besar dan membuatnya bersikeras ingin memiliki wanita itu lagi."Ada hubungan apa Rain sama Tuan Arya Mandala da

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   202. PPPN

    Pagi-pagi sekali, Rain yang sudah membersihkan diri dan berpakaian rapi, melangkah menuju kamar Tasya. Ia membangunkan sahabat sekaligus saudaranya yang terlelap di balik selimut tebal."Sya, bangun. Anterin aku ke rumah sakit," kata Rain. Tangannya bergerak menarik selimut yang menutupi tubuh Tasya yang agak bulat seperti bola sepak yang agak kempes.Tasya yang benar-benar masih terlelap, menggeliat kecil tanpa membuka matanya sedikit pun. Bahkan, tubuh gadis tua itu semakin meringkuk di atas tempat tidur."Sya, buruan bangun! Atau aku pergi sendiri, biar kamu dimarahin Ayah dan Bunda!"Berulang kali membangunkan Tasya, tetapi wanita itu tak juga membuka mata, hingga Rain menjadi kesal dibuatnya.Di pinggiran tempat tidur tersebut, Rain menghela napas kasar. Lalu kembali menutupi tubuh Tasya yang tidur dengan posisi meringkuk.Setelah itu, ia pun memesan taksi online dan minta diantarkan ke rumah sakit. Menunggu Tasya bangun, yang ada tengah hari baru berangkat."Emang bener-bener si

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   179. PPPN

    "Pak Anjas, tunggu!" Mendengar seseorang memanggilnya, Pak Anjas menghentikan langkah, lalu menoleh dan menatap seorang pria yang baru saja keluar dari lift. Kening pria separuh baya itu spontan berkerut dalam saat melihat orang yang memanggilnya. Orang itu adalah Tuan Seno, kakak dari Tuan Arya.

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   178. PPPN

    Bu Karina yang berdiri di pintu balkon, spontan mengerutkan keningnya dalam-dalam, membuat kedua alisnya bertautan. Sedangkan sepasang matanya menatap Pak Anjas yang terlihat mengobrol serius melalui sambungan telepon. "Baiklah, besok aku bakalan ke sana!" Tut, tut! Pak Anjas yang berdiri d

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   177. PPPN

    "Bu, kalau mulai besok aku kerja di rumah sakit, boleh gak?" Satria berbicara sembari menyodorkan sebungkus nasi padang yang sudah dibukanya ke harapan Bu Yohana. Kening Bu Yohana spontan berkerut dalam. Sedangkan sepasang matanya menatap wajah Satria dengan tatapan yang sulit diartikan. Pikirnya

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   175. PPPN

    "Ada sesuatu yang mau aku tunjukkin ke Om!" Rain berbicara sembari meraih dan membuka tas jinjingnya. Lalu, mengeluarkan kalung milik Satria yang sebelumnya ia simpan. Wanita hamil itu menunjukkan kalung sang kekasih pada Pak Anjas dan meminta pria separuh baya itu untuk memeriksanya. Melihat ka

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status