Se connecterGrania kembali ke mejanya dan mencoba menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas.
Ia berusaha keras mengabaikan ingatan tentang insiden bibirnya yang tak sengaja bersentuhan dengan pria asing tadi pagi. Bukan bibir itu yang mengganggunya, melainkan respons tubuhnya yang sungguh tidak masuk akal. ‘Ayo, Grania, jangan mikir yang macam-macam. Semoga aja pria tadi orang baik-baik dan nggak akan memperpanjang masalah,’ batinnya menenangkan diri. Sepanjang siang, Grania berusaha fokus pada laporan divisi pemasaran. Namun, matanya tak bisa kompromi. Setiap beberapa menit sekali, tatapannya bergulir ke arah layar ponsel yang membisu di sudut meja. Masih tidak ada pesan maupun panggilan dari Senapati. Grania menghela napas panjang. Ia tahu betul tabiat kekasihnya. Jika sudah marah, Senapati akan menggunakan jurus silent treatment hingga Grania yang memohon maaf duluan. "Ya sudah, nanti pas jam istirahat aku coba telepon Mas Sena," gumamnya pelan, mencoba berdamai dengan keadaan. Di tengah kesibukannya mengetik, mendadak tengkuk Grania terasa dingin. Ia merasa seperti ada pasang mata yang sedang memperhatikannya dari luar pintu divisi. Grania refleks mendongak dan celingukan, tetapi koridor di luar tampak lengang, hanya ada beberapa rekan kerjanya yang lalu lalang. Ia mengusap tengkuknya dengan bingung. "Perasaan tadi ada yang merhatiin... tapi kok nggak ada siapa-siapa, ya?" Menepis rasa aneh itu, Grania kembali menunduk. Hari ini divisinya dihadapkan pada tenggat waktu yang ketat untuk rapat dewan direksi besok pagi. Mau tidak mau, ia harus lembur jika tidak ingin kena tegur kepala divisi. Jam pulang kantor sudah lewat jam kerja normal, tetapi Grania masih berkutat di depan komputer. Ruangan yang tadinya bising perlahan-lahan makin sepi hingga akhirnya tersisa dirinya seorang. Jarum jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam ketika Grania menyelesaikan dokumen terakhirnya. "Aduh, ternyata sudah jam sembilan..." Ia bergegas membereskan tasnya. Sebelum melangkah keluar dari gedung kantor, Grania kembali mengecek ponselnya dengan secuil harapan. Namun, layar itu tetap bersih dari notifikasi Senapati. "Mungkin Mas Sena memang masih kecewa banget sama aku..." gumamnya sedih. Grania melangkah keluar gedung. Karena jarak antara kantor dan kontrakan kecilnya tidak terlalu jauh, ia memilih berjalan kaki. Selain hemat ongkos angkutan malam, hembusan angin malam biasanya bisa sedikit menjernihkan pikirannya yang kacau. Namun, baru berjalan beberapa ratus meter dari area kantor, sebuah mobil sedan familiar mendadak berhenti tepat di sampingnya. Pintu mobil terbuka dan Senapati keluar dari sana dengan wajah keruh. "Mas Sena?" mata Grania membelalak kaget sekaligus lega. "Kamu... kamu nungguin aku?" Senapati tidak menjawab. Pria itu melangkah maju dan merengkuh bahu Grania, berniat memeluknya. Namun, baru saja aroma parfum Senapati tercium dan tubuh mereka bersentuhan, perut Grania mendadak bergolak hebat. Sensasi mual dahsyat menghantam dada Grania tanpa kompromi. Ugh! Grania refleks mendorong dada Senapati dengan kuat, berbalik ke arah trotoar, dan langsung membungkuk meremas perutnya, berusaha menahan rasa ingin muntah yang teramat sangat. Sensasi mual itu nyata dan menyiksa, membuat wajah Grania seketika pucat pasi. Huek! "Grania! Kamu bener-bener ya! Bikin aku malu saja!" bentak Senapati, suaranya menggelegar di tepi jalan yang sepi. Senapati menatap Grania dengan tatapan jijik dan penuh kemarahan. "Bisa-bisanya kamu langsung mau muntah cuma karena aku memelukmu?! Selama tiga tahun ini aku sabar meladeni penyakit aneh mu itu, tapi sekarang aku benar-benar muak!" Air mata Grania langsung menetes deras. Dengan tubuh gemetar, ia mencoba meraih lengan Senapati untuk menjelaskan. "Mas... aku minta maaf. Aku... aku nggak tahu kenapa bisa seperti ini lagi. Tolong maafkan aku, Mas..." "Nggak usah pegang-pegang!" Senapati menepis tangan Grania kasar. "Kita putus hari ini!" tegas Senapati tanpa keraguan sedikit pun. "Aku muak sama kamu! Pacaran tiga tahun tapi rasanya kayak pacaran sama tembok, bergandengan tangan aja kamu mual! Jangan pernah hubungi aku lagi, dan anggap lamaran kemarin nggak pernah terjadi. Kalau memang di sini kamu cuma bisa buat laki-laki jijik, lebih baik kamu pulang saja ke desa!" Brak! Senapati masuk ke dalam mobilnya dan membanting pintu keras-keras, lalu menancap gas meninggalkan Grania yang berdiri mematung di pinggir jalan. Grania jatuh terduduk di trotoar, menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis sesenggukan di bawah remang lampu jalan. "Mas Sena... kenapa harus seperti ini?" bisiknya di antara isak tangis yang memecah kesunyian malam. Grania terus tergugu di tepi trotoar yang dingin. Rasa bersalah, sedih, dan bingung bercampur menjadi satu. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa tidak jauh dari tempatnya terduduk, di area parkir sebuah kafe di seberang jalan, seorang pria berdiri mematung memperhatikan seluruh kejadian itu. Asgakar. Pria yang tak sengaja ditabrak Grania tadi pagi itu berdiri di kegelapan, memperhatikan mobil Senapati yang melaju pergi meninggalkan Grania sendirian. Potongan bentakan keras Senapati tadi terngiang jelas di telinga Asgakar. “...Bergandengan tangan aja kamu mual! Jangan pernah hubungi aku lagi!” Asgakar menatap Grania yang masih menangis terisak sambil memegangi dadanya. Matanya menyipit, lalu perlahan jemarinya bergerak menyentuh bibirnya sendiri… mengingat kembali momen tadi pagi ketika gadis itu menindihnya di depan toilet. Gadis itu tidak mual sedikit pun saat menabrak dan memeluknya tadi pagi. Namun, giliran disentuh oleh kekasihnya sendiri, gadis itu justru mual hingga muntah. Sebuah kenyataan aneh yang mendadak membuat dada Asgakar berdesir. “Ternyata… dia juga mengalami hal yang sama,” gumamnya. “Sungguh menarik…” to be continuedHari ini perkejaan Grania lebih sibuk dari pada sebelumnya karena proposal kerjanya dan semua yang di butuhkan langsung di ACC oleh Asgakar. Tak hanya itu, Grania juga di minta memeriksa kebutuhan untuk praktek di lapangan. Asgakar yang tak sengaja melihat Grania masih berada di ruangannya pun mendelik. "Jangan sampai kamu pingsan lagi dan menyusahkan banyak orang karena kamu telat makan siang lagi!" Grania yang semula fokus dengan berkas di depan nya mengangkat kepalanya. Sontak dia langsung berdiri ketika melihat Asgakar ada di depan ruangannya. "Tu-tuan Asgakar...." "Sejak kapan Tuan di sana?" "Kenapa memangnya? Aku hanya lewat, bukan ingin mengganggumu." Galaxy yang ada di belakangnya menahan tawa dengan alasan Asgakar. Sementara dia tahu sendiri jika Asgakar penasaran dengan apa yang di kerjakan oleh Grania. Setelah mengatakan itu, Asgakar pergi begitu saja dari sana tanpa mengatakan apapun lagi. Grania yang melihat itu tentu saja kembali bingung. "D
Sesaat setelah Grania kabur dari hadapan Asgakar barulah dia tersadar akan sesuatu. Napasnya masih tersengal ketika dia berlari melewati tangga darurat. "Ya ampun!" Ia mulai panik karena ternyata Asgakar ingat dengan kejadian itu. "Aduh, gimana nanti kalau aku di pecat karena lancang? Aku masih butuh pekerjaan ini." Grania mendadak panik, tapi saat ini ia tak bisa melakukan apapun karena Asgakar juga sudah tak terlihat batang hidungnya. Setelah di rasa dia lebih tenang, dia melanjutkan langkahnya kembali. Grania pasrah, dia menuju biliknya merapikan mejanya lalu memilih untuk pulang. Di kantor juga sudah sepi. Saat dalam perjalan pulang, pikirannya sudah bercabang ke mana-mana. "Duh, Grania bodoh sekali. Kenapa harus Tuan Asgakar?!" rutuk Grania. Ia memukul kepalanya karena kesal dengan dirinya sendiri. Sementara itu, tanpa Grania sadari ada seorang yang sejak tadi memperhatikan nya bahkan ketika Grania berjalan pulang ke arah kontrakan nya. Asgakar. "
Samuel terduduk di kursinya dengan wajah pias. Tak satu pun kata mampu keluar dari mulutnya saat seluruh borok kinerjanya dikuliti habis-habisan oleh Asgakar di depan semua orang. ‘Siapa yang mengadukan semua ini?!’ batin Samuel murka. Di sisi lain meja, Grania masih terpaku. Ia tak menyangka proposal buatannya bisa menang dan dihargai setinggi ini. Namun, belum sempat rasa haru memenuhinya, rasa pening dahsyat mendadak kembali memukul kepalanya. Pandangannya mulai berkunang-kunang. ‘Jangan kambuh sekarang, tolong…’ batin Grania memohon pada tubuhnya sendiri. Melihat kondisi Grania yang tampak hampir ambruk, Galaxy segera mengambil alih kendali rapat. "Nona Grania, sepertinya Anda sedang kurang sehat," kata Galaxy ramah. "Segeralah ke klinik perusahaan untuk beristirahat. Rapat hari ini sudah selesai. Mengenai detail proposal Anda, kita akan bahas besok setelah kondisi Anda membaik. Bagi anggota yang lain, silakan kembali ke ruangan masing-masing. Bonus pembuatan proposal aka
Semua peserta rapat menikmati sarapan mereka dengan cepat, termasuk Grania. Khasiat obat dan ramuan herbal hangat yang terselip di mejanya bekerja cukup efektif. Rasa pening dan mual yang menyiksanya perlahan-lahan mereda.Di ujung meja utama, Asgakar duduk tenang sambil sesekali memperhatikan Grania. Di sampingnya, Galaxy sibuk merapikan dokumen evaluasi yang akan mereka gunakan untuk menilai proposal Samuel dan timnya.Saat Grania berdiri untuk membuang sampah, tercium aroma parfum maskulin beraroma kayu cendana dari arah meja pimpinan. Tubuh Grania seketika membeku. Ingatannya berputar cepat ke kejadian kemarin pagi di depan toilet.Aroma parfum ini...Grania memberanikan diri mendongak. Tepat pada saat itu, tatapan mata tajam Asgakar terkunci padanya. Sebuah ukiran senyum tipis yang amat samar terbit di bibir pria itu.Mata Grania membelalak lebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat sebuah fakta menghantam kesadarannya.‘Ja-jadi... pria yang kutabrak dan kucium kemarin pag
Semalaman Grania menangis hingga ketiduran di lantai. Ketika fajar menyingsing, ia mendesis kesakitan saat mencoba menegakkan tubuhnya. Seluruh persendiannya terasa kaku, dan kepalanya berdenyut hebat serasa mau pecah.Drrt... Drrt...Ponsel Grania bergetar. Ia meraih benda itu dan membaca pesan singkat di grup divisi:[Rapat penting pagi ini akan dipimpin langsung oleh jajaran direksi, termasuk Tuan Muda Asgakar dan asistennya. Jika divisi pemasaran berhasil mempresentasikan hasil kerja dengan baik dan disetujui, seluruh anggota tim akan mendapatkan bonus besar.]Grania memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memproses kabar itu."Bonus..." gumamnya lirih dengan suara serak. "Uang tabunganku dicuri Mas Sena... Aku nggak boleh menyerah. Aku harus kumpulkan uang lagi dari nol untuk rumah Nenek. Aku nggak boleh izin hari ini."Ia memaksakan diri berdiri. Setelah meredakan denyut di kepalanya sejenak, Grania bergegas mandi dan bersiap. Untuk menutupi matanya yang sembab dan bengkak akibat
Dengan tubuh lemas dan pandangan kabur oleh air mata, Grania berusaha menopang dirinya sendiri untuk bangkit dari trotoar. Tatapan aneh dan bisik-bisik orang di sekitar membuatnya malu luar biasa. Ia mengusap air matanya dan mempercepat langkah menuju kontrakan kecilnya.Grania hanya ingin bersembunyi.Di seberang jalan, Asgakar masih berdiri mematung di dekat mobilnya. Matanya menajam menatap punggung Grania yang perlahan menghilang di balik kegelapan gang."Ada ya laki-laki model begitu," gumam Asgakar dingin, mengepalkan tangannya."Laki-laki model bagaimana maksudmu, Boss?"Asgakar terlonjak kaget. Ia menoleh gusar pada pria yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. "Sialan, Gal! Bikin kaget saja!"Galaxy—sahabat karib sekaligus asisten pribadinya—hanya terkekeh santai. Sebagai satu-satunya orang yang tahu luar dalam kehidupan Asgakar, Galaxy memang biasa bersikap agak lancang jika sedang berdua saja."Lagian kamu kenapa sih? Dari tadi ngomel sendiri sambil melamun," tanya Gala







