Partager

Bab 3

Auteur: Sangkarachan
last update Date de publication: 2026-09-12 10:31:56

Dengan tubuh lemas dan pandangan kabur oleh air mata, Grania berusaha menopang dirinya sendiri untuk bangkit dari trotoar.

Tatapan aneh dan bisik-bisik orang di sekitar membuatnya malu luar biasa. Ia mengusap air matanya dan mempercepat langkah menuju kontrakan kecilnya.

Grania hanya ingin bersembunyi.

Di seberang jalan, Asgakar masih berdiri mematung di dekat mobilnya. Matanya menajam menatap punggung Grania yang perlahan menghilang di balik kegelapan gang.

"Ada ya laki-laki model begitu," gumam Asgakar dingin, mengepalkan tangannya.

"Laki-laki model bagaimana maksudmu, Boss?"

Asgakar terlonjak kaget. Ia menoleh gusar pada pria yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. "Sialan, Gal! Bikin kaget saja!"

Galaxy—sahabat karib sekaligus asisten pribadinya—hanya terkekeh santai. Sebagai satu-satunya orang yang tahu luar dalam kehidupan Asgakar, Galaxy memang biasa bersikap agak lancang jika sedang berdua saja.

"Lagian kamu kenapa sih? Dari tadi ngomel sendiri sambil melamun," tanya Galaxy curiga.

"Nggak apa-apa," sahut Asgakar cepat. "Mana data yang kuminta?"

Galaxy mendengus, lalu menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal. Sebagai asisten, ia sudah menyelesaikan perintah Asgakar dengan cepat, walau kepalanya dipenuhi tanda tanya besar.

"Aneh banget," seloroh Galaxy seraya bersedekah tangan. "Seumur-umur aku jadi asistenmu, baru kali ini kamu minta usut identitas cewek. Dan yang bikin lebih heran lagi... kamu kan biasanya alergi berat sama cewek! Disentuh sedikit langsung mual. Ini kok malah minta data karyawan divisi bawah?"

Asgakar tak menghiraukan celotehan sahabatnya. Ia menarik berkas di dalam amplop dan membacanya dengan teliti.

Lembar pertama memuat latar belakang Grania. Gadis itu hidup sebatang kara di Jakarta.

Sejak kecil, ia dibesarkan oleh neneknya di kampung halaman dalam kondisi serba kekurangan.

Alasan utama Grania merantau dan bekerja banting tulang hingga sering mengambil lembur adalah demi mengumpulkan uang untuk merenovasi rumah reyot neneknya di kampung.

Namun, saat matanya bergeser ke lembar berikutnya, rahang Asgakar seketika mengeras.

Di sana tertera laporan latar belakang Senapati. Pria itu ternyata selama ini memanfaatkan kepolosan Grania, menguras finansial gadis itu hanya demi membiayai gaya hidup wanita simpanannya yang lain.

"Gila!" umpat Asgakar berdesis.

Galaxy yang kaget melihat respons emosional Asgakar langsung merebut berkas itu. Matanya membola saat membaca alur transaksi dan manipulasi yang dilakukan mantan kekasih Grania.

"Tunggu, As... aku mau bicara serius," ujar Galaxy, raut wajahnya mendadak berubah intens. "Kenapa kamu bisa seemosional ini sama cewek yang baru kamu kenal? Kamu ada hubungan apa sama dia?"

Asgakar menarik napas panjang, lalu meminum air mineral di dekatnya hingga kandas. "Aku nggak tahu, Gal. Tapi tadi pagi... kami nggak sengaja tabrakan di depan toilet."

"Terus?"

"Bibirnya nempel di bibirku. Dan... aku nggak merasakan gejala alergi sama sekali."

Mata Galaxy melotot sempurna. "Serius?! Kamu nggak ruam? Nggak mual sampai mau muntah?"

Asgakar menggeleng. "Sama sekali tidak. Malah... pas aku lihat dia dipeluk cowoknya tadi di tepi jalan, dia yang justru mual hebat sampai muntah. Sementara saat sama aku pagi tadi, dia biasa saja."

Galaxy terdiam. Otaknya berputar cepat memproses keanehan medis sahabatnya ini.

"Kalau yang kamu omongin benar... berarti cuma dia cewek di dunia ini yang tubuhmu bisa toleransi?"

"Mungkin."

"Kita butuh test drive buat membuktikannya," cetus Galaxy mendadak.

Kening Asgakar berkerut. "Maksudmu—"

Belum sempat Asgakar menyelesaikan kalimatnya, Galaxy sengaja menarik lengan Asgakar dan menyenggolkan tubuh pria itu ke seorang wanita asing yang bertubuh jangkung yang baru saja melintas di dekat mereka.

Bruk!

"Maaf, Mbak, tidak sengaja!" seru Galaxy cepat pada wanita itu.

Namun, efeknya seketika mematikan bagi Asgakar.

Hanya dalam hitungan detik setelah kulit wanita asing itu bersentuhan dengan lengannya, napas Asgakar mendadak sesak.

Sensasi panas membakar membakar seluruh permukaan kulitnya, diikuti rasa mual melilit yang luar biasa dahsyat. Warna merah ruam menyebar cepat di leher dan wajahnya.

"Gal..." panggil Asgakar lirih dengan bibir gemetar pucat.

Galaxy menoleh dan seketika panik setengah mati melihat kondisi sahabatnya. "Sial! Asgakar!"

Tanpa berpikir panjang, Galaxy memapah tubuh Asgakar yang mulai terkulai lemas menuju mobil, lalu menancap gas menuju rumah sakit terdekat.

Begitu sampai di area UGD, Asgakar sudah hilang kesadaran dengan wajah pucat pasi.

Di luar ruang perawatan, Galaxy berjalan bolak-balik seraya mengacak rambutnya frustrasi. Rasa bersalah menghantam dadanya.

"Bodoh banget aku! Niat mau ngetes malah bikin dia masuk UGD!" gumam Galaxy menyesal.

Namun di sisi lain, kepalanya mendapatkan konfirmasi. Reaksi alergi parah Asgakar masih ada dan sangat mematikan pada wanita lain.

Itu artinya... hanya Grania satu-satunya wanita di dunia ini yang kebal terhadap alergi ajaib Asgakar!

**

Sementara itu, di sebuah kontrakan sempit, Grania terduduk di sudut tempat tidur.

Isak tangisnya belum juga reda. Bayangan bentakan Senapati dan tatapan jijik orang-orang di jalanan terus berputar di kepalanya.

"Mas... kenapa kamu tega banget sama aku?" bisiknya serak. "Aku tahu aku salah karena penyakit anehku ini... tapi kenapa kamu harus permalukan aku seperti itu?"

Ting!

Bunyi notifikasi ponsel memecah keheningan. Grania buru-buru merogoh saku tasnya.

Secercah harapan terbit—berharap Senapati menyesal dan mengirimkan pesan permintaan maaf.

Namun, harapan itu hancur berkeping-keping begitu ia membaca pesan yang masuk:

"Kita putus. Aku udah nggak kuat lagi sama kamu. Tiga tahun pacaran juga sia-sia karena kamu nggak bisa ambil hati orang tua aku. Soal cincin itu, kamu buang aja. Itu bukan emas atau berlian, cuma titanium murah. Kamu juga nggak pantas pakai barang mewah dari aku!"

Airmata Grania menetes makin deras. Dada rasanya dihantam batu besar.

Ia mencengkeram ponselnya erat-erat, tak percaya pria yang ia cintai tulus selama tiga tahun sanggup melontarkan kata-kata serendah itu.

Belum sempat rasa sakit di dadanya mendingin, notifikasi berikutnya dari aplikasi perbankan masuk ke ponselnya.

Mata Grania membelalak lebar. Seluruh saldo tabungannya telah dipindahbukukan secara penuh ke rekening milik Senapati.

Sebuah pesan singkat dari Senapati kembali menyusul:

"Aku ambil semua saldomu sebagai kompensasi selama tiga tahun ini aku nemenin kamu dan bayarin makan kamu."

Tubuh Grania gemetar hebat. Ia mencoba menelepon nomor Senapati dengan jemari yang kebas, namun panggilan itu langsung terputus.

Pria itu telah memblokir nomornya.

"Nggak... Nggak mungkin…" Grania menjerit histeris dalam tangisnya.

Uang seratus juta itu adalah seluruh hasil keringatnya selama bertahun-tahun. Uang tabungan yang ia sisihkan sedikit demi sedikit dari gaji dan bonus lemburnya untuk memperbaiki rumah neneknya di kampung yang sudah hampir roboh.

"Jangan ambil uang itu, Mas... Tolong... Itu uang untuk Nenek..." tangis Grania pecah di tengah kamar.

to be continued

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 8

    Hari ini perkejaan Grania lebih sibuk dari pada sebelumnya karena proposal kerjanya dan semua yang di butuhkan langsung di ACC oleh Asgakar. Tak hanya itu, Grania juga di minta memeriksa kebutuhan untuk praktek di lapangan. Asgakar yang tak sengaja melihat Grania masih berada di ruangannya pun mendelik. "Jangan sampai kamu pingsan lagi dan menyusahkan banyak orang karena kamu telat makan siang lagi!" Grania yang semula fokus dengan berkas di depan nya mengangkat kepalanya. Sontak dia langsung berdiri ketika melihat Asgakar ada di depan ruangannya. "Tu-tuan Asgakar...." "Sejak kapan Tuan di sana?" "Kenapa memangnya? Aku hanya lewat, bukan ingin mengganggumu." Galaxy yang ada di belakangnya menahan tawa dengan alasan Asgakar. Sementara dia tahu sendiri jika Asgakar penasaran dengan apa yang di kerjakan oleh Grania. Setelah mengatakan itu, Asgakar pergi begitu saja dari sana tanpa mengatakan apapun lagi. Grania yang melihat itu tentu saja kembali bingung. "D

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 7

    Sesaat setelah Grania kabur dari hadapan Asgakar barulah dia tersadar akan sesuatu. Napasnya masih tersengal ketika dia berlari melewati tangga darurat. "Ya ampun!" Ia mulai panik karena ternyata Asgakar ingat dengan kejadian itu. "Aduh, gimana nanti kalau aku di pecat karena lancang? Aku masih butuh pekerjaan ini." Grania mendadak panik, tapi saat ini ia tak bisa melakukan apapun karena Asgakar juga sudah tak terlihat batang hidungnya. Setelah di rasa dia lebih tenang, dia melanjutkan langkahnya kembali. Grania pasrah, dia menuju biliknya merapikan mejanya lalu memilih untuk pulang. Di kantor juga sudah sepi. Saat dalam perjalan pulang, pikirannya sudah bercabang ke mana-mana. "Duh, Grania bodoh sekali. Kenapa harus Tuan Asgakar?!" rutuk Grania. Ia memukul kepalanya karena kesal dengan dirinya sendiri. Sementara itu, tanpa Grania sadari ada seorang yang sejak tadi memperhatikan nya bahkan ketika Grania berjalan pulang ke arah kontrakan nya. Asgakar. "

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 6

    Samuel terduduk di kursinya dengan wajah pias. Tak satu pun kata mampu keluar dari mulutnya saat seluruh borok kinerjanya dikuliti habis-habisan oleh Asgakar di depan semua orang. ‘Siapa yang mengadukan semua ini?!’ batin Samuel murka. Di sisi lain meja, Grania masih terpaku. Ia tak menyangka proposal buatannya bisa menang dan dihargai setinggi ini. Namun, belum sempat rasa haru memenuhinya, rasa pening dahsyat mendadak kembali memukul kepalanya. Pandangannya mulai berkunang-kunang. ‘Jangan kambuh sekarang, tolong…’ batin Grania memohon pada tubuhnya sendiri. Melihat kondisi Grania yang tampak hampir ambruk, Galaxy segera mengambil alih kendali rapat. "Nona Grania, sepertinya Anda sedang kurang sehat," kata Galaxy ramah. "Segeralah ke klinik perusahaan untuk beristirahat. Rapat hari ini sudah selesai. Mengenai detail proposal Anda, kita akan bahas besok setelah kondisi Anda membaik. Bagi anggota yang lain, silakan kembali ke ruangan masing-masing. Bonus pembuatan proposal aka

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 5

    Semua peserta rapat menikmati sarapan mereka dengan cepat, termasuk Grania. Khasiat obat dan ramuan herbal hangat yang terselip di mejanya bekerja cukup efektif. Rasa pening dan mual yang menyiksanya perlahan-lahan mereda.Di ujung meja utama, Asgakar duduk tenang sambil sesekali memperhatikan Grania. Di sampingnya, Galaxy sibuk merapikan dokumen evaluasi yang akan mereka gunakan untuk menilai proposal Samuel dan timnya.Saat Grania berdiri untuk membuang sampah, tercium aroma parfum maskulin beraroma kayu cendana dari arah meja pimpinan. Tubuh Grania seketika membeku. Ingatannya berputar cepat ke kejadian kemarin pagi di depan toilet.Aroma parfum ini...Grania memberanikan diri mendongak. Tepat pada saat itu, tatapan mata tajam Asgakar terkunci padanya. Sebuah ukiran senyum tipis yang amat samar terbit di bibir pria itu.Mata Grania membelalak lebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat sebuah fakta menghantam kesadarannya.‘Ja-jadi... pria yang kutabrak dan kucium kemarin pag

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 4

    Semalaman Grania menangis hingga ketiduran di lantai. Ketika fajar menyingsing, ia mendesis kesakitan saat mencoba menegakkan tubuhnya. Seluruh persendiannya terasa kaku, dan kepalanya berdenyut hebat serasa mau pecah.Drrt... Drrt...Ponsel Grania bergetar. Ia meraih benda itu dan membaca pesan singkat di grup divisi:[Rapat penting pagi ini akan dipimpin langsung oleh jajaran direksi, termasuk Tuan Muda Asgakar dan asistennya. Jika divisi pemasaran berhasil mempresentasikan hasil kerja dengan baik dan disetujui, seluruh anggota tim akan mendapatkan bonus besar.]Grania memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memproses kabar itu."Bonus..." gumamnya lirih dengan suara serak. "Uang tabunganku dicuri Mas Sena... Aku nggak boleh menyerah. Aku harus kumpulkan uang lagi dari nol untuk rumah Nenek. Aku nggak boleh izin hari ini."Ia memaksakan diri berdiri. Setelah meredakan denyut di kepalanya sejenak, Grania bergegas mandi dan bersiap. Untuk menutupi matanya yang sembab dan bengkak akibat

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 3

    Dengan tubuh lemas dan pandangan kabur oleh air mata, Grania berusaha menopang dirinya sendiri untuk bangkit dari trotoar. Tatapan aneh dan bisik-bisik orang di sekitar membuatnya malu luar biasa. Ia mengusap air matanya dan mempercepat langkah menuju kontrakan kecilnya.Grania hanya ingin bersembunyi.Di seberang jalan, Asgakar masih berdiri mematung di dekat mobilnya. Matanya menajam menatap punggung Grania yang perlahan menghilang di balik kegelapan gang."Ada ya laki-laki model begitu," gumam Asgakar dingin, mengepalkan tangannya."Laki-laki model bagaimana maksudmu, Boss?"Asgakar terlonjak kaget. Ia menoleh gusar pada pria yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. "Sialan, Gal! Bikin kaget saja!"Galaxy—sahabat karib sekaligus asisten pribadinya—hanya terkekeh santai. Sebagai satu-satunya orang yang tahu luar dalam kehidupan Asgakar, Galaxy memang biasa bersikap agak lancang jika sedang berdua saja."Lagian kamu kenapa sih? Dari tadi ngomel sendiri sambil melamun," tanya Gala

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status