Share

Bab 4

Penulis: Sangkarachan
last update Tanggal publikasi: 2026-09-13 10:57:25

Semalaman Grania menangis hingga ketiduran di lantai. Ketika fajar menyingsing, ia mendesis kesakitan saat mencoba menegakkan tubuhnya. Seluruh persendiannya terasa kaku, dan kepalanya berdenyut hebat serasa mau pecah.

Drrt... Drrt...

Ponsel Grania bergetar. Ia meraih benda itu dan membaca pesan singkat di grup divisi:

[Rapat penting pagi ini akan dipimpin langsung oleh jajaran direksi, termasuk Tuan Muda Asgakar dan asistennya. Jika divisi pemasaran berhasil mempresentasikan hasil kerja dengan baik dan disetujui, seluruh anggota tim akan mendapatkan bonus besar.]

Grania memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memproses kabar itu.

"Bonus..." gumamnya lirih dengan suara serak. "Uang tabunganku dicuri Mas Sena... Aku nggak boleh menyerah. Aku harus kumpulkan uang lagi dari nol untuk rumah Nenek. Aku nggak boleh izin hari ini."

Ia memaksakan diri berdiri. Setelah meredakan denyut di kepalanya sejenak, Grania bergegas mandi dan bersiap.

Untuk menutupi matanya yang sembab dan bengkak akibat menangis semalaman, ia terpaksa mengenakan kacamata berbingkai tebal.

Sementara itu, di koridor utama kantor, Asgakar melangkah dengan wajah datar dan dingin.

Di sampingnya, Galaxy berjalan mengekor sambil membawa tumpukan dokumen rapat.

Dari kejauhan, mata tajam Asgakar menangkap sosok Grania yang baru saja keluar dari lift.

Langkah gadis itu tampak agak limbung, wajahnya pucat pasi bagai mayat, dan ia berkali-kali memegangi pelipisnya.

‘Dia sakit?’ batin Asgakar. Dada pria itu mendadak berdesir aneh.

Asgakar berdeham, mencoba menutupi rasa khawatirnya sebelum menoleh pada Galaxy.

"Galaxy, minta katering siapkan sarapan hangat untuk seluruh peserta rapat divisi pemasaran sekarang. Sediakan susu hangat dan pereda mual."

Galaxy menaikkan sebelah alisnya, heran. "Hah? Tumben banget? Bukannya jadwal rapat dari dulu nggak pernah pakai sarapan?"

"Lakukan saja tanpa banyak tanya," potong Asgakar tegas. "Pastikan mereka sarapan dulu sebelum rapat dimulai."

Galaxy mendengus pelan, tetapi ia mengangguk paham.

Setelah melihat tatapan mata Asgakar yang tak lepas dari Grania, Galaxy tahu betul untuk siapa perhatian ekstra itu sebenarnya ditujukan.

Di ruang divisi pemasaran, Grania sedang menyusun dokumen presentasinya dengan tangan gemetar. Rasa mual di perutnya terus bergejolak.

"Grania, kamu sakit? Kenapa wajahmu pucat sekali?"

Grania mendongak dan mendapati Samuel, Ketua Divisi Pemasaran, sudah berdiri di dekat mejanya.

"Aku nggak apa-apa, Pak Samuel. Cuma kurang tidur," jawab Grania pelan, mencoba tersenyum.

Samuel menatap Grania dengan raut khawatir. Pria itu mengulurkan tangan berniat menepuk pundak Grania untuk memberi semangat.

Namun, refleks Grania bekerja lebih cepat. Ia langsung mundur satu langkah menghindar.

Melihat penolakan itu, telapak tangan Samuel mengudara sejenak sebelum perlahan mengepal.

Samuel menahan kekesalannya. Ia memang menyukai Grania, tetapi ingatan saat Grania pernah mual hebat hingga hampir muntah saat mereka berjabat tangan dulu masih menorehkan luka pada harga dirinya.

"Baiklah," ujar Samuel dingin. "Segera bersiap ke ruang rapat utama. Jangan sampai membuat kesalahan di depan Tuan Asgakar."

Grania mengangguk paham. Ketika rombongan divisinya mulai berjalan menuju ruang rapat, ia menyusul dari belakang sambil terus menahan kepalanya yang kian berdenyut.

Begitu pintu ruang rapat utama dibuka, seluruh anggota divisi pemasaran tertegun.

Di atas meja rapat, telah tertata rapi porsi sarapan hangat, segelas susu, dan papan nama untuk masing-masing peserta.

Yang membuat Grania makin bingung, papan namanya diletakkan tepat di barisan depan, sangat dekat dengan kursi utama pimpinan rapat.

"Silakan duduk dan nikmati sarapannya sebelum rapat dimulai," panggil Galaxy yang berdiri di depan layar proyektor, sebelum ia kembali keluar sejenak.

Grania melangkah ragu dan duduk di kursinya. Ketika ia hendak menggeser piring sarapannya, mata Grania menangkap dua butir obat yang terselip rapi di samping cangkir susu hangatnya.

Obat pereda pusing dan mual.

Grania tertegun. Ia mengedarkan pandangan, tetapi rekan-rekan kerjanya yang lain sibuk makan dan tidak mendapatkan obat yang sama.

‘Siapa yang menaruh obat ini di mejaku? Apakah... Pak Galaxy?’ batin Grania bertanya-tanya.

Ia sama sekali tidak menduga bahwa pria dingin yang duduk di ujung meja sana, Asgakar, sedang memperhatikannya dari balik dokumen rapat.

Begitu melihat Grania mulai menyantap sarapannya, sebuah senyum tipis tersungging di wajahnya yang rupawan.

to be continued

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 8

    Hari ini perkejaan Grania lebih sibuk dari pada sebelumnya karena proposal kerjanya dan semua yang di butuhkan langsung di ACC oleh Asgakar. Tak hanya itu, Grania juga di minta memeriksa kebutuhan untuk praktek di lapangan. Asgakar yang tak sengaja melihat Grania masih berada di ruangannya pun mendelik. "Jangan sampai kamu pingsan lagi dan menyusahkan banyak orang karena kamu telat makan siang lagi!" Grania yang semula fokus dengan berkas di depan nya mengangkat kepalanya. Sontak dia langsung berdiri ketika melihat Asgakar ada di depan ruangannya. "Tu-tuan Asgakar...." "Sejak kapan Tuan di sana?" "Kenapa memangnya? Aku hanya lewat, bukan ingin mengganggumu." Galaxy yang ada di belakangnya menahan tawa dengan alasan Asgakar. Sementara dia tahu sendiri jika Asgakar penasaran dengan apa yang di kerjakan oleh Grania. Setelah mengatakan itu, Asgakar pergi begitu saja dari sana tanpa mengatakan apapun lagi. Grania yang melihat itu tentu saja kembali bingung. "D

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 7

    Sesaat setelah Grania kabur dari hadapan Asgakar barulah dia tersadar akan sesuatu. Napasnya masih tersengal ketika dia berlari melewati tangga darurat. "Ya ampun!" Ia mulai panik karena ternyata Asgakar ingat dengan kejadian itu. "Aduh, gimana nanti kalau aku di pecat karena lancang? Aku masih butuh pekerjaan ini." Grania mendadak panik, tapi saat ini ia tak bisa melakukan apapun karena Asgakar juga sudah tak terlihat batang hidungnya. Setelah di rasa dia lebih tenang, dia melanjutkan langkahnya kembali. Grania pasrah, dia menuju biliknya merapikan mejanya lalu memilih untuk pulang. Di kantor juga sudah sepi. Saat dalam perjalan pulang, pikirannya sudah bercabang ke mana-mana. "Duh, Grania bodoh sekali. Kenapa harus Tuan Asgakar?!" rutuk Grania. Ia memukul kepalanya karena kesal dengan dirinya sendiri. Sementara itu, tanpa Grania sadari ada seorang yang sejak tadi memperhatikan nya bahkan ketika Grania berjalan pulang ke arah kontrakan nya. Asgakar. "

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 6

    Samuel terduduk di kursinya dengan wajah pias. Tak satu pun kata mampu keluar dari mulutnya saat seluruh borok kinerjanya dikuliti habis-habisan oleh Asgakar di depan semua orang. ‘Siapa yang mengadukan semua ini?!’ batin Samuel murka. Di sisi lain meja, Grania masih terpaku. Ia tak menyangka proposal buatannya bisa menang dan dihargai setinggi ini. Namun, belum sempat rasa haru memenuhinya, rasa pening dahsyat mendadak kembali memukul kepalanya. Pandangannya mulai berkunang-kunang. ‘Jangan kambuh sekarang, tolong…’ batin Grania memohon pada tubuhnya sendiri. Melihat kondisi Grania yang tampak hampir ambruk, Galaxy segera mengambil alih kendali rapat. "Nona Grania, sepertinya Anda sedang kurang sehat," kata Galaxy ramah. "Segeralah ke klinik perusahaan untuk beristirahat. Rapat hari ini sudah selesai. Mengenai detail proposal Anda, kita akan bahas besok setelah kondisi Anda membaik. Bagi anggota yang lain, silakan kembali ke ruangan masing-masing. Bonus pembuatan proposal aka

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 5

    Semua peserta rapat menikmati sarapan mereka dengan cepat, termasuk Grania. Khasiat obat dan ramuan herbal hangat yang terselip di mejanya bekerja cukup efektif. Rasa pening dan mual yang menyiksanya perlahan-lahan mereda.Di ujung meja utama, Asgakar duduk tenang sambil sesekali memperhatikan Grania. Di sampingnya, Galaxy sibuk merapikan dokumen evaluasi yang akan mereka gunakan untuk menilai proposal Samuel dan timnya.Saat Grania berdiri untuk membuang sampah, tercium aroma parfum maskulin beraroma kayu cendana dari arah meja pimpinan. Tubuh Grania seketika membeku. Ingatannya berputar cepat ke kejadian kemarin pagi di depan toilet.Aroma parfum ini...Grania memberanikan diri mendongak. Tepat pada saat itu, tatapan mata tajam Asgakar terkunci padanya. Sebuah ukiran senyum tipis yang amat samar terbit di bibir pria itu.Mata Grania membelalak lebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat sebuah fakta menghantam kesadarannya.‘Ja-jadi... pria yang kutabrak dan kucium kemarin pag

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 4

    Semalaman Grania menangis hingga ketiduran di lantai. Ketika fajar menyingsing, ia mendesis kesakitan saat mencoba menegakkan tubuhnya. Seluruh persendiannya terasa kaku, dan kepalanya berdenyut hebat serasa mau pecah.Drrt... Drrt...Ponsel Grania bergetar. Ia meraih benda itu dan membaca pesan singkat di grup divisi:[Rapat penting pagi ini akan dipimpin langsung oleh jajaran direksi, termasuk Tuan Muda Asgakar dan asistennya. Jika divisi pemasaran berhasil mempresentasikan hasil kerja dengan baik dan disetujui, seluruh anggota tim akan mendapatkan bonus besar.]Grania memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memproses kabar itu."Bonus..." gumamnya lirih dengan suara serak. "Uang tabunganku dicuri Mas Sena... Aku nggak boleh menyerah. Aku harus kumpulkan uang lagi dari nol untuk rumah Nenek. Aku nggak boleh izin hari ini."Ia memaksakan diri berdiri. Setelah meredakan denyut di kepalanya sejenak, Grania bergegas mandi dan bersiap. Untuk menutupi matanya yang sembab dan bengkak akibat

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 3

    Dengan tubuh lemas dan pandangan kabur oleh air mata, Grania berusaha menopang dirinya sendiri untuk bangkit dari trotoar. Tatapan aneh dan bisik-bisik orang di sekitar membuatnya malu luar biasa. Ia mengusap air matanya dan mempercepat langkah menuju kontrakan kecilnya.Grania hanya ingin bersembunyi.Di seberang jalan, Asgakar masih berdiri mematung di dekat mobilnya. Matanya menajam menatap punggung Grania yang perlahan menghilang di balik kegelapan gang."Ada ya laki-laki model begitu," gumam Asgakar dingin, mengepalkan tangannya."Laki-laki model bagaimana maksudmu, Boss?"Asgakar terlonjak kaget. Ia menoleh gusar pada pria yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. "Sialan, Gal! Bikin kaget saja!"Galaxy—sahabat karib sekaligus asisten pribadinya—hanya terkekeh santai. Sebagai satu-satunya orang yang tahu luar dalam kehidupan Asgakar, Galaxy memang biasa bersikap agak lancang jika sedang berdua saja."Lagian kamu kenapa sih? Dari tadi ngomel sendiri sambil melamun," tanya Gala

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status