Inicio / Mafia / Penawar Sang Boss Mafia / 22. Pilih Salah Satu

Compartir

22. Pilih Salah Satu

Autor: MyMelody
last update Fecha de publicación: 2026-08-15 15:11:31

Don tetap duduk tenang mendengar ucapan Marco. Dia memutar cincin tebal yang melingkar di jarinya. Permukaan cincin itu berwarna hitam pekat, dihiasi ukiran sebuah gunung dengan puncak-puncak yang menyala dalam kobaran api. Di bawahnya terukir dua kata dalam bahasa Latin.

LUCEO NON URO. I shine, not burn.

Itulah lambang Klan MacKenzie, simbol yang diwariskan turun-temurun dan hanya dikenakan oleh mereka yang memiliki tempat di lingkaran terdalam keluarga itu.

Bagi orang biasa, cincin tersebut m
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Penawar Sang Boss Mafia   117. Kebahagiaan

    Sembilan bulan kemudian.Matahari sore di Tuscany memancarkan sinar keemasan yang hangat, menerobos masuk melalui dinding kaca raksasa kamar bersalin privat di dalam castello.Setelah melewati musim dingin yang panjang, keheningan musim semi yang damai menyelimuti seluruh area perkebunan anggur.Di atas ranjang megah berseprai putih, Selena berbaring dengan wajah puas, sedikit Lelah, tetapi terpancar kebahagiaan sempurna.Rambut coklat gelapnya terurai halus di atas bantal. Di dadanya, seorang bayi mungil yang terbungkus kain selimut lembut berujung renda emas tertidur lelap dengan teratur.Don duduk di sisi ranjang, sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari istri dan anaknya.Pria yang biasanya mengenakan setelan formal dan membawa senjata pembunuh itu, kini bertelanjang dada dengan celana kain santai, mengusap pipi bayi mungilnya dengan jemarinya yang amat hati-hati."Dia sangat mirip denganmu, Don," bisik Selena halus, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Don. "Lihat garis rah

  • Penawar Sang Boss Mafia   116. Menyingkirkan Masa Lalu

    "Putri kesayangan?" Selena terkekeh dingin, sebuah tawa yang sarat akan penghinaan paling dalam. Dia sebenarnya ingin mengusirnya dari hadapannya saat itu juga, tapi Selena ingin tahu apa mau pri itu darinya."Kau menjualku ke pria mesum hanya untuk melunasi utang judimu!""Papa kepepet dan dijebak, Sayang. Mengertilah semua ini. Papa tidak ada maksud sama sekali untuk menjualmu pada bandit tua itu.""Jangan panggil aku 'Sayang' kalau itu ucapan manis doang.""Selena, kau putri kesayangaku, dan aku ini tetap Papamu. Tunjukkan sopanmu sedikit."Don hendak maju, ingin mencabik-cabik laki-laki tak tahu diri itu, tapi Selena menahannya."Kau biarkan Mama sekarat tanpa obat sementara uang celengan yang aku kumpulkan dengan susah payah, kau habiskan uang untuk pelacur! Dan sekarang kau berani menyebutku putri kesayangan?"Ibu Rebecca menundukkan kepala seraya mengusap air mata kepedihan, mengingat betapa kejamnya perlakuan suaminya di masa lalu.Saat dia sedang sakit, pria itu malah mabuk-m

  • Penawar Sang Boss Mafia   115. Pertemuan

    "Aku sudah tidak sabar untuk memeluknya lagi," bisik Selena sambil meraih mantel bulunya. Don membantu Selena mengenakan mantel tersebut dengan lembut.Pagi itu, Selena dan Don akan berangkat ke klinik rehabilitasi dan perawatan privat berstandar internasional di pinggiran Florence terasa amat tenang."Mamamu sudah dirawat sesuai dengan kebutuhannya, dia baik-baik saja."Selena mengangguk pelan. Mereka terus berjalan melewati bunga-bunga lavender bermekaran di halaman, menyebarkan aroma lembut yang menenangkan.Untuk pertama kalinya setelah sekian bulan sejak Don menariknya keluar dari kehidupan lamanya yang kelam, Selena melangkah menyusuri koridor bersih berlantai kayu.Di sampingnya, Don berjalan tegap dengan pakaian santai, tapi tetap memancarkan dominasi seorang boss mafia, jemarinya menggenggam erat tangan Selena yang sedikit gemetaran."Kau siap, Piccola?" bisik Don rendah, menghentikan langkah mereka di depan pintu bernomor 104.Selena mengangguk pelan, menarik napas dalam-dal

  • Penawar Sang Boss Mafia   114. Kebun Anggur

    Kebun AnggurSesuai dengan janji Don malam sebelum sidang klan, seluruh ponsel dan gawai miliknya telah dinonaktifkan total.Tidak ada kabar darurat dari klan, atau pun bayangan musuh, dan yang paling penting, tidak ada selusin pengawal berjas hitam yang membuntut di belakang mereka."Aku akan membuatmu menjadi wanita paling Bahagia hari ini, Selena," bisik Don mesra.Selena tersenyum lebar, dia sudah tidak sabar menunggu dari semalam.Siang itu, hamparan kebun anggur di bukit Tuscany membentang luas bagaikan karpet hijau bergaris keemasan di bawah tersiram cahaya matahari sore yang hangat.Angin sejuk berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan manisnya buah anggur yang siap dipetik."Aku suka tempat ini, Don, ucap Selena sambil melayangkan pandangannya sekeliling."Senang mendengarnya, Piccola."Di tengah-tengah bukit, di bawah naungan pohon zaitun tua yang rindang, Don membentangkan kain piknik tebal berwarna krem di atas rumput.Pria yang biasanya dibalut setelan jas mahal atau

  • Penawar Sang Boss Mafia   113. Bayi Kita

    Malam makin larut di castello Tuscany. Angin sejuk pegunungan berhembus lembut menerobos celah gorden teras kamar utama yang megah.Selena berdiri di teras berlantai batu, mengenakan jubah mandi sutra longgar yang melindunginya dari dingin udara malam.Di belakangnya, Don melangkah mendekat tanpa suara, melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Selena dan menarik tubuh wanitanya rapat ke dalam dekapannya."Lagi mikir apa, Wanitaku?" bisik Don parau, menempelkan bibirnya di leher hangat Selena, menghirup aroma vanila lavender yang selalu berhasil menenangkan jiwanya.Selena menyandarkan kepalanya di dada tegap Don, merasakan detak jantung suaminya yang teratur dan kuat."Hmm, lagi mikir betapa cepatnya semuanya berubah, Don. Dari mini market yang pengap dan sempit, lalu lantai pelabuhan kotor saat mengangkut barang, sampai memegang berkas warisan klan terbesar di Eropa."Don terkekeh pelan, jemari besarnya menyusup ke bawah jubah sutra Selena, mengusap lembut perut rata istrinya yang me

  • Penawar Sang Boss Mafia   112. Tunjukkan pada Dunia

    Kakek Vargas tersenyum puas, matanya memancarkan rasa kagum yang tak bisa dia tutupi saat menatap istri Don. "Jawaban yang sangat tepat, Selena. Dulu aku ragu saat Don membawamu dari dermaga. Tapi hari ini, aku sadar bahwa Don tidak cuma memilih seorang istri, tapi juga pilar terkuat untuk masa depan klan ini."Don merangkulkan tangannya di belakang sandaran kursi Selena, jemarinya mengusap bahu istrinya dengan penuh sayang dan kebanggaan yang teramat sangat."Aku tidak pernah salah memilih, Kakek.""Ya, ya, pamerlah sesukamu," gurau Kakek Vargas seraya melambaikan tangan, meski raut kebahagiaan terpancar jelas di wajah tuanya.Usai makan malam yang dipenuhi tawa dan obrolan hangat, Kakek Vargas memberi isyarat pada Marco yang berdiri setia di dekat pintu.Marco melangkah maju membawa sebuah map kulit berwarna hitam pekat dengan lambang segel lilin merah khas Patriarch.Kakek Vargas menerima map tersebut, lalu menggesernya ke tengah meja tepat di hadapan Don dan Selena."Apa ini, Kak

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status