LOGINWajah Valerie sedikit membeku. "Oh, itu, emm, itu khusus untuk ibu hamil, Selena. Aku tidak perlu minum karena aku kan tidak hamil.""Apoteker Swiss pasti cuma memakai bahan herbal alami, kan?" pangkas Selena datar seraya menatap Valerie tanpa berkedip."Tentu saja!""Makanya, tidak mungkin ada bahan berbahaya di dalam ramuan murni untuk penerus klan.""Selena, masa kau tak percaya padaku. Aku pasti akan memberikan yang terbaik untuk penerus klan Mackenzie. Semua bahannya ada di kertas petunjuk.""Really? Memang ada di kertas petunjuk. Tapi aku yakin pasti ada campuran lain yang lupa kau sebutkan."Don yang menangkap perubahan nada suara Selena seketika berdiri. Insting kewaspadaan dalam tubuhnya langsung meyala. Don melangkah mendekat dan berdiri tepat di samping Selena, menatap Valerie bagaikan iblis yang siap mencabut nyawa."Ke-kenapa kau bicara begitu, Selena?" cicit Valerie, langkah kakinya refleks mundur satu langkah saat melihat tatapan Don. "Aku berniat baik!""Kalau berniat
"Aku baik-baik saja, Don!"Selena menarik napas panjang. Wajahnya yang cantik tidak bisa menyembunyikan kejenuhan yang sedang melandanya."Siapa yang bilang?" tanya Don masih tak terpengaruh dengan kekesalan Selena."Don, ini sudah dokter ketiga hari ini," gerutu Selena seraya menyilangkan tangan di dada, mengenakan gaun katun longgar yang amat nyaman."Jangan banyak protes, Piccola.""Aku cuma mual pagi hari, bukan kena infeksi virus mematikan."Suasana di balkon lantai atas penthouse Milan sore itu begitu hangat, Di hadapan Selena, tiga dokter spesialis kandungan dan lima pengawal bertubuh kekar berdiri kaku.Sementara Don duduk tenang di kursi santai seraya membolak-balik berkas medis Selena dengan kacamata bacanya."Dengar, Piccola. Bagi dunia luar kau cuma mual," sahut Don tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya."Ya, ya," balas Selena dengan bibir manyum."Tapi bagi musuh-musuhku, kau sedang membawa generasi penerus klan. Satu goresan kecil saja di kulitmu, aku bisa
Pagi hari di Milan menyapa dengan udara sejuk. Saat Selena terbangun dari tidur lelapnya, sisi ranjang di sebelahnya sudah dingin dan kosong. Don tidak ada di kamar."Ke mana perginya si Don?" gumam Selena mengernyitkan dahi, menyapu pandangannya ke sekeliling suite. Karena tidak menemukan Don, Selena memutuskan untuk ke kamar mandi terlebih dahulu.Dengan tubuh yang masih lelah karena habis digempur Don sampai jam dua pagi, Selena menyeret langkah kakinya menuju kamar mandi.Tak lama kemudian, Selena kembali ke ruang utama kamar hotel itu. Ponselnya yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar menyala. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalSaat Selena membuka pesan tersebut, matanya membelalak. Foto-foto di layar memperlihatkan Don sedang berdiri sangat dekat dengan Valerie di sebuah butik perhiasan mewah.Dalam foto selfie yang diambil Valerie secara sembunyi-sembunyi dari sudut menyamping, wajah Valerie tersenyum sangat dekat dengan pipi Don. Sementara Don tampak fokus
Suasana di penthouse suite lantai paling atas hotel mewah itu terasa hangat. Lampu temaram memancarkan nuansa romantis, sementara pemandangan gemerlap kota Milan membentang indah dari balik dinding kaca raksasa.Selena baru saja keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi sutra putih yang longgar. Rambut coklat tua yang masih agak basah terurai bebas di bahunya.Di ujung tempat tidur, Don duduk bertelanjang dada, jemarinya sibuk mengetik laporan di tablet kerjanya."Kau tidak mau mandi dulu, Honey?" tanya Selena sambil mengoleskan krim di kulitnya yang halus dan lembut.Mata Selena menatap punggung kokoh suaminya yang dipenuhi beberapa goresan samar, bukti malam-malam panas yang mereka lewati bersama."Aku masih selesaikan dulu laporang, tanggung kalau ditinggal."Selena menatap kuku-kukunya yang mulai panjang. Dia harus memotong kuku-kuku sebelum melukai kulit punggung Don lebih dalam lagi saat mereka bercinta."Sedang mikir apa?" tanya Don yang menyadari kalau Selena tiba-tiba sediki
"Apa rencana kalian sore malam nanti?" tanya Kakek Vargas sambil meraih cangkir di depannya.Don melirik Selena sebentar lalu meraih tangan wanita itu."Aku ingin mengajak istriku ke Fashion Week.""Kedengarannya menarik."Tentu saja! Ini pengalaman pertama Selena dan aku akan memperkenalkannya pada jajaran direksi dan mitra bisnis."Baiklah. Semoga semua berjalan sesuai dengan rencana kalian."Selena dan Don mengangguk hampir bersamaan."Kalian sudah melakukan perjalanan jauh. Karena itu, Kakek sudah mempersiapkan kamar tamu utama di lantai satu. Silakan beristirahat sejenak sebelum kalian pergi."Tanpa banyak basa-basi lagi, Selena dan Don pamit untuk istirahat sebentar."Don, kira-kira, siapa wanita yang dimaksud Kakek Vargas tadi?" tanya Selena begitu mereka tiba di kamar."Siapa lagi si ular betina kalau bukan wanita yang pernah menghinamu."***Gemerlap lampu ballroom Grand Hotel Milan memantulkan kemewahan malam puncak Fashion Week. Pengusaha papan atas, diplomat, dan elit maf
"Kamu yakin Kakek tidak sedang rencanakan hal yang aneh-aneh untuk kita?" tanya Selena ragu."Tenang aja, kalau sampai Kakek Tua itu celakakan kita berdua, maka dia terima akibatnya."Don menggenggam tangan Selena. Mereka berdua berjalan menelusuri perkebunan anggur di milik keluarga Mackenzie yang membentang bagaikan lukisan alam yang tak bertepi."Kau sering ke sini, Don?" tanya Selena sambil memandang kebun itu dengan penuh kekaguman."Waktu remaja, aku sering menghabiskan waktu di sini bersama beberapa teman. Itu pun hanya pas liburan musim panas."Beberapa pekerja kebun anggur mengangguk dan menyapa ramah begitu melihat Don dan Selena."Ayo, sebentar lagi kita tiba," ajak Don.Di tengah hamparan bukit hijau itu berdiri sebuah castello batu megah berusia ratusan tahun. Langkah kaki Don dan Selena bergema di sepanjang koridor luas yang dihiasi lukisan-lukisan leluhur klan Mackenzie.Di ujung ruangan kaca yang menghadap langsung ke kebun anggur, seorang pria tua bertubuh tegap duduk







