Home / Mafia / Penawar Sang Boss Mafia / 78. Menahan Diri

Share

78. Menahan Diri

Author: MyMelody
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-12 16:06:54

"Tuan! Seseorang menyusup ke brankas dokumen pelabuhan tiga!"

"Maksudmu? Kenapa hal ini bisa terjadi?"

"Begini, Tuan! Kami menangkap salah satu anak buah Julian, tapi dia membawa dokumen transfer saham klan!" Suara Marco terdengar panik dari seberang telepon saat mencoba menjelaskan pada Don.

Don berhenti melangkah di pelataran parkir, matanya berkilat tajam menyipit berbahaya.

"Bagaimana bisa sistem keamanan lapis lima jebol tanpa peringatan, Marco?"

"Peretasnya memakai kode enkripsi internal
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Penawar Sang Boss Mafia   87. Alat Rias

    "Maaf," ujar Selena yang ikut terluka melihat kesedihan di mata Don."Kau tidak salah apa-apa, Selena. Tak perlu meminta maaf." Don memeluk istrinya sambil membelai rambutnya dengan mesra."Besok acara besarmu, tidurlah.""Bukan acara besarku, tapi acara kita berdua, Don.""Iya, tapi kau adalah ratu dalam hatiku dan klan ini.""Terima kasih, Don. Dan kamu adalah raja di hatiku," balas Selena dengan senyum lebar, dia menggenggam tangan Don dan mengajaknya untuk kembali ke kamar.***Suasana di kamar rias utama Mansion Mackenzie riuh rendah. Empat perias profesional dan dua asisten busana sibuk mondar-mandir merapikan kain sutra, memoles riasan, serta menata mahkota berlian mikro di atas kepala Selena."Huuuaaamm, aku ngantuk," bisik Selena menguap lebar. Saat kepala dan rambutnya dihias, membuatnya hampir tertidur.Selena duduk di depan cermin besar berukir emas. Gaun pengantin sutra hitam rancangan khusus Don membalut tubuhnya dengan sempurna, elegan, tegas, sekaligus memancarkan kean

  • Penawar Sang Boss Mafia   86. Investasi Bodong

    Clarissa mencengkeram jemari Selena di lehernya, matanya melotot dipenuhi rasa takut dan keraguan yang mendalam. "Kau gila, Selena ...""Aku memang gila," sahut Selena menyunggingkan senyum beracunnya. "Tapi aku yang memegang kendali atas bernapas atau tidaknya paru-parumu detik ini."Tiba-tiba, dari arah pintu lorong luar ruang kerja, suara langkah kaki berat Don terdengar mendekat. Pintu jati berukir itu terdorong terbuka sedikit, memancarkan sinar cahaya lampu dari luar.Clarissa menahan napasnya kaku. Selena menyeringai tipis, lalu menepuk-nepuk pipi Clarissa seraya melepaskan cengkeraman tangannya."Pikirkan penawaranku sebelum esok malam," bisik Selena cepat.Don melangkah masuk ke dalam ruang kerja dengan pistol teracung kaku di tangan kanannya, matanya menyapu kegelapan ruangan seraya mengunci sosok Selena yang berdiri di dekat meja."Selena?" panggil Don dengan suara bariton yang dalam dan penuh selidik. "Kau sedang apa di sini malam-malam begini? Dan ... siapa di belakangmu?

  • Penawar Sang Boss Mafia   85. Vitamin

    Tangan Selena gemetar saat memegang denah di tangannya."Aku harus mengerti maksud denah ini."Setelah mempelajari sebentar, Selena sadar bahwa pada peta tersebut, beberapa titik penting seperti saluran udara utama, meja minuman kehormatan untuk Don, dan mimbar pengukuhan Selena telah ditandai dengan tinta merah tebal bertuliskan satu kata latin: Venum-9.Itu adalah salah satu jenis racun mematikan tak berbau yang sanggup melumpuhkan seluruh sistem organ penting, hanya dalam hitungan detik.Mata Selena membelalak. Di bawah peta itu, terselip selembar catatan kecil dengan tulisan tangan tinta perak yang sangat dikenalnya:'Pastikan racun ini masuk ke gelas Don dan gadis itu saat toast pertama. Setelah mereka tumbang, serahkan takhta pada Julian.—E.M.'"Gila, dia benar-benar sudah gila. Ibu macam apa sih yang bisa merancang kematian anaknya sendiri?"Selena menarik napas tajam. Ibunda Don tidak hanya datang untuk mengacaukan pernikahan mereka. Wanita itu datang untuk membantai anaknya s

  • Penawar Sang Boss Mafia   84. Ini Apa?

    "Maksudmu?" tanya Don bingung.Selena hanya menyentuh bahu Don singkat, lalu melangkah mendekati Eleanora dan Clarissa. Dengan ketenangan tak tertandingi, mata jeli Selena memindai penampilan Eleanora dari atas hingga bawah. Tiba-tiba, sudut bibir Selena terangkat miring.Di kerah gaun hitam Eleanora, tersemat sebuah bros kecil berbentuk kelopak mawar berbahan baja gelap—simbol akses rahasia yang persis sama dengan perhiasan yang dipakai Julian saat bertarung di pelabuhan sore tadi.'Jadi kau bukan cuma pulang, Nyonya Tua, batin Selena tajam. Kau adalah dalang di balik kemunculan Julian.'"Nyonya Eleanora," panggil Selena, suaranya tenang, tapi bergema tegas. "Kau bilang hukum adat butuh persetujuanmu? Tapi seingatku, ada pasal pengecualian di klan ini."Eleanora mengerutkan dahinya tipis. "Pengecualian?""Ujian Pengukuhan Klan di depan seluruh elit internasional saat Pesta Gala," ujar Selena mantap."Kau kira aku bodoh tidak tahu aturan Klan?" sentak Eleanora."Dengar! Jika calon Nyo

  • Penawar Sang Boss Mafia   83. Biar Aku yang Tangani

    "Masih ingat jalan pulang rupanya, Mama?" sapa Don.Suaranya memecah keheningan aula. Pria itu melangkah maju satu langkah, memagari tubuh Selena di belakang punggung tegapnya."Kenapa sekarang, Ma?"Mata Don yang membara mengunci sosok wanita paruh baya bergaun hitam yang baru saja melintasi ambang pintu.Wanita itu, Nyonya Eleanora Mackenzie, menyunggingkan senyum tipis yang dingin. Jemari berhias cincin permata hitamnya meremas kepala tongkat perak berukir serigala."Begini caramu menyambut Mamamu yang kembali dari perjalanan jauh, Don? Tidak ada pelukan? Ciuman? Kata-kata hangat, atau air mata kebahagiaan untukku?""Air mataku sudah habis selama bertahun-tahun lalu sejak aku ditinggal saat masih berumur lima tahun," desis Don, suaranya bergetar menahan amarah yang teramat sangat, bercampur dengan kesedihan dan kerinduan yang mungkin sudah membusuk di relung hatinya.Eleanora melangkah makin dalam ke tengah ruangan. Di belakangnya, berdiri seorang gadis muda bergaun sutra biru muda

  • Penawar Sang Boss Mafia   82. Gelas Kristal

    Pintu ganda aula utama yang terbuat dari kayu jati berukir mendadak didorong terbuka lebar dari luar. Marco melangkah masuk dengan napas memburu dan wajah pias yang luar biasa kaku.Langkah kaki Marco yang tergesa-gesa mengalahkan suara para designer yang sibuk merundingan konsep gaun wedding Selena.Don menghentikan gerakan tangannya yang hendak memutar gelas wiski. Matanya mengunci wajah Marco yang panik."Marco," panggil Don rendah, perubahan auranya seketika membuat para desainer menahan napas ketakutan. "Ada apa? Kau lupa cara mengetuk pintu? Kenapa harus terburu-buru seperti dikejar hantu?"Marco menyatukan kedua tangannya yang gemetaran, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Don dan Selena dengan penuh hormat."Mohon maaf atas ketidaksopanan saya, Tuan Muda, Nyonya Besar," ujar Marco dengan suara bergetar yang ditahan sedemikian rupa. "Tapi ... ini hal yang sangat mendesak."Selena melangkah turun dari panggung bundar, mengibaskan gaun ujicobanya dan mendekati Don."Ada

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status