LOGIN“Saya akan menanggung semua biaya rumah sakit ayahmu, tetapi dengan satu syarat, menikahlah dengan putraku" Kaera terpaksa menjual kebebasan hidupnya demi uang operasi $19.000 untuk menyembuhkan mata ayahnya. Dia tau jika semua hanya pernikahan kontrak untuk memberikan seorang penerus, dan dia harus tinggal satu atap dengan monster kejam serta kekasih simpanannya yang sangat licik. "Jika kau terus menolak, besok kau akan melihat kekasih dan semua wanita simpanan mu mati!" Ancaman dari sang ayah yang memaksa Gerald Romano, ketua mafia nomor satu yang kejam dan paling membenci pernikahan untuk menikahi seorang gadis miskin pilihan ayahnya. Bagi Gerald, wanita hanyalah pemuas hasrat, dan dia bersumpah akan membuat hidup istri barunya seperti di neraka.
View More"Minumlah, Nona Kaera," bisik Xavier dengan lembut, membantu Kaera menegakkan tubuhnya yang lemah.Kaera meneguk air itu dengan lahap, tenggorokannya yang seperti terbakar perlahan-lahan terasa sejuk. Napasnya masih memburu, tetapi secercah harapan mulai hidup kembali di matanya yang sayu."Terima kasih, Tuan Xavier..." suara Kaera terdengar serak, hampir seperti bisikan pelan. "Bagaimana... bagaimana keadaan Ayahku?"Xavier menghela napas berat, duduk bersimpuh di samping jeruji besi. "Kabar baik, Nona. Kondisi Ayah Anda hari ini mulai membaik. Dokter menanganinya dengan baik." Jawab Xavier. Air mata Kaera menetes membasahi pipinya. Senyum tipis terukir di bibirnya yang pucat. "Syukurlah...tidak sia-sia pengorbanan ku ini jika Ayahku mulai membaik, aku tidak tau kapan bisa melihatnya lagi." "Jangan bicara begitu, Nona. Anda harus bertahan," Ujar Xavier mencoba meyakinkan Kaera. “Tuan Handan masih menunggu kepulangan Anda, Nona." Kaera menunduk, meremas kain bajunya yang kotor. Hat
"Tuan..." suara Lila menguar lembut, selembut sutra yang membelai malam, berbanding terbalik dengan jeritan histeris Elena yang masih menggaung di balik pintu.Gerald melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup rapat. aroma lavender yang menenangkan berpadu dengan remang cahaya lampu tidur. Tetapi, ketenangan itu seketika sirna begitu punggung Gerald membentur daun pintu yang tertutup.Lila, yang masih duduk di tepi ranjang dengan buku di pangkuannya, tertegun ketika melihat sorot mata pria di depannya. Tatapan yang seakan ingin di manjakan olehnya. "Tuan Gerald..." panggil Lila pelan, menutup buku di tangannya lalu berdiri perlahan.Sebelum Lila sempat melangkah lebih dekat, Gerald sudah lebih dulu merenggut jarak di antara mereka berdua. tangannya langsung menarik pinggang Lila dan mencengkram nya erat, hampir menyisakan rasa nyeri. Tanpa sepatah kata pun, bibir pria itu langsung membungkam bibir Lila dalam sebuah ciuman yang menuntut, liar, dan jauh dari kata lembut."A-akh... Gera
Jarum jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul dua dini hari. Keheningan mansion Romano seketika pecah oleh derit engsel besi pintu ruang bawah tanah.Gerald melangkah masuk membawa kotak P3K dan sebotol air mineral. Di sudut sel yang gelap, Kaera meringkuk di atas lantai kotor dengan napas tersengal-sengal dan demam tinggi.Perlahan Kaera mendongak ketika mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Tatapan keduanya bertemu, sorot mata polos itu terlihat penuh kebencian dan kesakitan yang luar biasa. “Apakah Anda akan membunuh saya sekarang, Tuan Gerald?" Ucap Kaera pelan, suaranya serak. "Duduk dan minum ini," Titah Gerald dengan datar.Kaera memalingkan wajahnya. "Saya... tidak butuh... belas kasihan dari orang seperti Anda...""Aku bilang minum, Kaera!" Gerald mencengkeram bahu gadis itu untuk menegakkan tubuhnya."AAKH!" Jerit tertahan lolos begitu saja dari bibir Kaera. Gerakan itu membuat luka cambuk di punggungnya kembali robek, mengeluarkan cairan merah yang membasahi pu
Hening malam di lantai atas mansion Romano terasa begitu sunyi, tetapi hening di dalam sel bawah tanah jauh lebih menyeramkan. Di atas lantai yang dingin dan kotor, Kaera terbaring miring dengan napas yang halus dan pendek-pendek. Luka cambukan di punggungnya berdenyut nyeri, menyebarkan rasa panas yang membakar setiap kali dia mencoba bergerak. Piyama tipisnya yang robek kini lengket oleh darah yang mulai mengering.Di dalam kegelapan yang sel, Kaera tidak menangis lagi. Air matanya sudah habis. Dia hanya memaku pandangannya pada dinding batu yang berlumut, memikirkan bayangan wajah ayahnya.“Kaera... Kamu satu-satunya alasan Daddy tetap bertahan hidup...”Suara lembut ayahnya terngiang-ngiang di kepalanya, menjadi satu-satunya ingatan tipis yang menahannya agar tidak menyerah pada rasa sakit yang kehilangan kesadaran."Aku tidak boleh mati di sini" bisik Kaera dalam hatinya, mengepalkan jemarinya hingga buku kuku-kukunya memutih. "Aku harus bertahan... Aku harus keluar dari tempat






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.