MasukSetelah meninggalkan kediaman Empu Baryana. Tirtayasa dan Dipa Anggara melanjutkan perjalanan menuju Perguruan Golok Khayangan. Karena perjalanan mereka tidak terburu buru siang hari sesampainya di kaki Gunung Bukit Tunggul Tirtayasa mengajak Dipa menuju desa terdekat.
Dipa yang baru pertama kali keluar dari desa nya sedikit kikuk bertemu dengan orang orang yang ada di desa itu.
"Ayo Dipa kita makan di kedai makan itu." Kata Tirtayasa seraya menunjuk ke arah kedai makan yang ada di pinggir jalan desa itu.
"Baik kek." jawab Dipa sambil berjalan disamping Tirtayasa.
Ketika masuk dan mengambil tempat duduk di pojok warung, segera pelayan tua menghampiri Tirtayasa.
"Selamat datang di kedai sedehana kami Tuan. Mau pesan apa Tuan?" Sambut pelayan itu dengan ramah.
"Aku pesan 2 porsi ayam bakar 1 untukku dan lagi untuk cucuku. Ada yang kamu mau pesan lagi Dipa?"
"Ti..Tidak kek,sudah lebih dari cukup." jawab Dipa dengan gugup, bagaimana pun ini kali pertama dia makan di kedai makan. Didesanya bahkan dia tidak diperbolehkan masuk ke kedai karena dianggap sial. Seringkali dia hanya makan buah buahan hutan hanya untuk menghilangkan lapar.
Tirtayasa cukup paham kondisi Dipa dari apa yang dia ceritakan di saat pertemuan pertama mereka.
Selama mereka makan, Tirtayasa merasakan getaran energi disekitar kedai makan itu. Agar tidak menimbulkan curiga dia tetap tenang menyantap makanan yang sudah dihidangkan dengan tidak menurunkan kewaspadaan.
Setelah selesai makan dan membayar makanan mereka berdua segera meninggalkan kedai makan itu. Tidak berapa lama 2 orang berdiri dan menuju arah Tirtayasa dan Dipa berjalan.
Sesampainya di ujung jalan desa.
"Dipa segera naik ke punggung kakek. Ayo cepat!!" perintah Tirtayasa kepada Dipa yang nampak kebingungan, namun dia tidak membantah langsung naik ke punggung Tirtayasa. Begitu Dipa naik ke punggungnya, Tirtayasa melesat dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai sempurna.
Kedua orang tadi yang mengikuti Tirtayasa dan Dipa kaget kehilangan buruan mereka. Segera mereka pun melesat dengan ilmu meringankan tubuh mengejar buruannya yang mungkin sudah jauh.
"Mereka tidak terkejar Kakang Jaya. Kurang ajar!!. kata salah satu dari kedua orang itu sambil menghentakan kakinya ke tanah untuk melampiaskan kekesalannya.
"Tenang saja Darto. Kalau mereka melewati desa selanjutnya pasti mereka akan bertemu dengan anggota kita yang lain." Jaya menimpali.
Sebenarnya bukan hal sulit untuk Tirtayasa menghadapi dua orang itu, namun saat ini dia sedang bersama Dipa dan apabila dia bertarung didalam wilayah desa tersebut maka akan menimbulkan banyak perhatian dari orang banyak.
"Siapa mereka Kakek?" Tanya Dipa yang baru saja turun dari punggungnya.
"Kakek tidak tahu Dipa. Tapi saat ini kakek tidak mau berurusan dengan segala macam hal yang menyakut pertarungan. Tujuan kakek agar kita cepat sampai di perguruan." Kata Tirtayasa.
Setelah mereka berjalan 3 hari dan beristirahat dimana saja, lebih sering nya di hutan hutan pinggir desa. Sampailah mereka di kaki bukit kepala naga dimana Perguruan Golok Khayangan berada.
Perguruan Golok Khayangan adalah perguruan yang cukup disegani di dunia persilatan tanah Pasundan. Selain perguruan yang banyak menghasilkan para pendekar yang cukup tangguh, ajaran yang diajarkan di perguruan ini tidak hanya kanuragan tapi termasuk budi pekerti.
Hal inilah yang membuat banyak orang ingin belajar di Perguruan Golok Khayangan.
Sudah banyak murid murid yang sudah dinyatakan lulus dapat diterima sebagai prajurit pilihan kerajaan.
Dari kaki Bukit Kepala Naga menuju Gerbang memang cukup jauh dan menanjak. Calon murid yang ingin belajar harus melewati tangga yang sudah disusun dari batu.
"Salam Hormat Ketua Tirtayasa." Setelah mereka sampai di gerbang dan disapa oleh prajurit penjaga. Tirtayasa hanya mengangguk dan tersenyum. Kemudian dia bersama Dipa menuju ke balai utama.
Sepanjang perjalanan menuju balai utama. Orang yang berpapasan dengan Tirtayasa menunduk dan mengucapkan salam hormat, mata mereka tidak lepas dari Dipa setelah mereka berdua lewat.
Dipa bukan tidak sadar bahwa dia jadi perhatian semua orang, tapi dia tidak bisa berbuat banyak dan terus berjalan mengikuti Tirtayasa.
"Mang Sarman, tolong antarkan Dipa ke kediamanku dulu, ada hal yang perlu aku bicarakan dengan para Tetua." Kata Tirtayasa kepada pembantu yang sudah mengabdi lama di Perguruan Golok Khayangan.
"Baik Tuan Tirta. Ayo Den Dipa mamang antar ke tempat Tuan Tirtayasa." Kata Mang Sarman kepada Dipa.
"Eh.Eh..panggil Dipa saja mang,tidak usah pakai embel embel den." Kata Dipa sambil nyengir karena agak jengah mendengar kata panggilan Raden.
Di balai utama Perguruan Golok Khayangan berkumpul para tetua dan para guru. Ketua Perguruan Tirtayasa mendengarkan laporan dari setiap orang. Banyak laporan mengenai sepak terjang dari komplotan Kuda Hitam yang sudah sangat meresahkan. Bahkan ada satu desa yang diluluh lantakan karena tidak mau membayar upeti kepada komplotan Kuda Hitam.
Pihak kerajaan sudah beberapa kali mencoba memburu mereka tapi tetap lolos. Tidak sedikit parajurit yang menjadi korban. Komplotan ini selain anggota yang mempunyai kanuragan yang cukup tinggi juga mempunyai mata mata yang banyak. Sehingga pergerakan dari pihak ataupun dari para pendekar golongan putih sudah tercium sejak awal.
Belum jelas tujuan mereka mendirikan kelompok ini tapi keberadaananya cukup menyita perhatian dari semua pihak.
"Ketua Tirta, kita mendapatkan undangan pertemuan dari Perguruan Tinju Besi untuk membahas masalah Kuda Hitam di 3 purnama kedepan. Ada baiknya kita hadir di pertemuan itu." Salah satu tetua berkata yang bernama Rangkuti.
"Tentu saja Rangkuti. Kita harus ikut andil dalam masalah ini. Terlebih dalam perjalanan kemarin mereka beberapa kali menghadangku." Ucap Tirtayasa.
Kemudian Tirtayasa menceritakan dari mulai semedi nya di Gunung Guntur sampai pertemuan awalnya dengan Dipa dalam perjalanannya ke Gunung Bukit Tunggul. Sengaja dia tidak menceritakan mengenai batu langit. Dia bilang hanya menyambangi Empu Baryana.
"Mulai besok aku serahkan Dipa di bawah pelatihanmu Hanjaya." Ucap Tirtayasa kepada salah satu tetua. Sengaja Tirtayasa mengarahkan pelatihan Dipa dibawah pelatihan Hanjaya. Karena pembawaan Hanjaya yang cukup tenang dan sedikit unggul dari tetua lainya dalam permainan jurus golok.
"Baik Ketua Tirta." Kata Hanjaya sambil menganguk.
Hanjaya sendiri mempunyai latar belakang yang hampir sama dengan Dipa. Seorang anak yatim piatu dan dibawa oleh ketua perguruan terdahulu atau guru dari Tirtayasa.
Perguruan Golok Khayangan mempunyai 4 tetua dan masing masing tetua membawahi 3 guru. Guru untuk pelatihan dasar ditujukan untuk murid yang baru saja bergabung sampai dengan tingkat 2, Guru untuk pelatihan menengah untuk murid yang berada ditingkat 3 dan 4 , dan Guru yang ketiga pelatihan lanjutan untuk murid yang berada di tingkat 5 sedangkan para murid yang sudah melewati tingkat 5 akan di gembleng oleh para tetua langsung.
Menjelang sore pertemuan itu pun selesai. Masing masing tetua dan guru dibawahnya kembali ke baraknya kecuali Hanjaya dia mengikuti Tirtayasa untuk menjemput Dipa.
Setelah puluhan kali benturan itu nampak Mata Geni mulai merosot tenaga dalamnya. Sesekali dia mundur untuk mengambil napas."Anak muda ini luar biasa, tenaga dalamnya tidak surut sedikit pun. Nampaknya ini akan jadi pertarunganku yang terakhir. Tidak masalah selama lawanku lebih kuat dariku." Batin Mata Geni.Setelah bentrokan terakhir. Mata Geni melompat mundur, dadanya naik turun dan tangan kanannya gemetar memegang pedang neraka. Namun wajahnya terlihat gembira dengan senyum tulus."Kau cukup hebat anak muda. Kita akhiri saja pertarungan ini. Aku tidak akan menyesal jika mati ditanganmu. Hahaha." Ucap Mata Geni perlahan mengeluarkan semua tenaga dalamnya dan menyalurkan ke pedang neraka yang sedang dipegangnya. Pedang neraka mengobarkan api merah yang lebih panas dari sebelumnya."Jangan manahan dirimu anak muda."Ucap Mata Geni kemudian dengan sisa tenaganya dia melesat kearah Dipa."Tentu saja. aku tidak akan menahan.Hiyaa." Ucap Dipa menyambut seragan Mata Geni.Duarrrr!Ledakan
Adilasa dan Adimana melepaskan jubahnya yang sejak awal dia kenakan.Brukk! Brukk!Suara ketika jubah itu jatuh ke tanah yang tampaknya cukup berat. Mereka berdua menyerang Dipa dengan peningkatan kecepatan yang luar biasa."Hhhhmmm..kecepatan mereka meningkat dan pola serangannya lebih berbahaya dari sebelumnya." Batin Dipa.Dia meningkatkan tenaga dalam ke jurus Mata Naganya. Kedua mata Dipa semakin menampakan sinar kebiruan. Dan ini tidak luput dari perhatian Mata Geni dan Anjani."Hhhmmm..jadi begitu cara kerja jurusnya itu. Membekukan lawan tanpa sadar memperlambat gerakannya. Tapi kenapa dia menahan diri? padahal sudah sejak tadi dia dapat mengalahkan mereka berdua." Batin Mata Geni.Mata Geni melirik ke arah Anjani yang memperhatikan terus setiap gerakan pemuda itu."Ternyata pemuda itu tidak hanya memiliki tenaga dalam tinggi tapi cerdas dalam melihat keadaan. Dia pasti tahu Nona Anjani memperhatikan setiap gerakannya untuk mencari kelemahannya kemudian melaporkannya kepada ke
Dipa melesat dengan kecepatan luar biasa ke arah gerbang utara diikuti oleh Tirtayasa dan golongan putih lainnya."Kakek berhati hatilah, jauh didepan sana ada ratusan orang sedang menyamarkan diri diantara pepohonan." Suara Dipa terngiang dalam kepala Tirtayasa.Tirtayasa yang mendapat pesan rahasia dari Dipa segera membari tanda kepada yang lain untuk lebih waspada. Dan benar saja dalam jarak 100 langkah dari arah depan mereka berseliweran berbagai senjata rahasia dari mulai pisau kecil, jarum bahkan senjata aneh berbentuk segitiga yang setiap ujungnya tajam.Dipa yang berada paling depan berdiri tegak di salah satu dahan pohon yang cukup besar kemudian mengeluarkan jurus Tiupan Naga sehingga senjata senjata itu pun luluh lantak sebelum mengenainya. Namun tidak semua golongan putih bisa selamat, beberapa puluh orang tumbang karena terkena senjata itu.Tiba tiba dari arah depan meluncur dua bola cahaya sebesar kerbau kearah Dipa."Yang lain menjauhlah." Teriak Dipa Anggara.Blaar!Bla
Gerbang selatan.Panglima Chendala dan Panglima Warangan berkelebat cepat ke arah gerbang selatan yang saat ini tengah terjadi pertarungan. Keduanya langsung mengamuk membabat lawan tanpa ampun. Sepasang Serigala Perak, Wira dan Wulan melihat keadaan itu langsung mencoba melesat ke arah Panglima Warangan mencegah agar tidak jatuh korban terlalu banyak dari golongan putih.Trang! Trang!Pedang Wira dan Wulan menangkis pedang besar dari Panglima Warangan. Ketiga terlempar kebelakang beberapa langkah namun masih bisa berdiri kokoh. Parit kecil tebentuk karena kaki mereka yang terseret akibat benturan itu."Wulan berhati hatilah, tenaga dalam orang ini setingkat dengan guru."Ucap Wira kepada saudara kembaranya.Wulan menganguk dengan tegas."Ayo anak kecil mari kita bermain lagi,hahaha." Panglima Warangan meremehkan.Wulan yang mendengar itu mendengus kesal kemudian memberi isyarat ke Wira untuk menyerang kembali.Pertarungan Sepasang Serigala Perak dan Panglima Warangan berlangsung sengi
Kanaka dan Lota terlempar menjauh dari area pertarungan karena ledakan akibat pertarungan Saksana dan Pariga.Kanaka berdiri sambil menepuk nepuk bajunya yang penuh dengan debu begitupun dengan Lota."Nampaknya banteng gendut itu mendapatkan lawan yang kuat, namun pancaran energinya masih terasa tanda dia baik baik saja." Batin Kanaka. Dia melihat kearah Lota yang sedang menatapnya dengan tajam."Ayo pak tua kita lanjutkan pertarungan kita."Ucap Kanaka dengan memberi tanda untuk maju dengan tangan kanannya.Lota yang cukup mengerti dengan apa yang Kanaka lakukan,naik pitam karena mendapat tantangan.Lota menggereng dan kedua tangan Lota membentuk cakar beruang. Asap hitam tipis keluar dari setiap jari yang membentuk cakar.Kanaka menyeringai dia pun tidak mau kalah, disalurkan tenaga dalamnya. Asap kekuningan mulai keluar dari setiap cakarnya."Goarrr!" Kanaka mengereng.Seolah ada aba aba kedua serempak maju dengan cakar yang dilambari oleh tenaga dalam. Sabetan demi sabetan mengenai
Dua bayangan besar melesat ke arah gerbang timur markas Kelompok Kuda Hitam diikuti oleh para pendekar golongan putih. Dengan senjata besarnya yang dibawa dipundaknya tidak berpengaruh besar terhadap gerakan cepatnya. Tidak berapa lama mereka tiba di gerbang timur markas kelompok Kuda Hitam.Saksana dan Pariga berdiri sejauh 100 langkah dari gerbang timur.Bumm!Bumm!Dua gada besar di turunkan dari pundak mereka, tanah sedikit bergetar karenanya.Didepan gerbang berdiri tiga orang tinggi besar dari Kelompok Kuda Hitam. Dua orang memakai jubah panjang dengan membawa tameng di tangan kirinya dan pedang besar ditangan kanannya. Satu orang lagi yang berdiri ditengah dengan memakai jubah dari bulu beruang hitam dan kepalanya ditutup oleh kulit kepala beruang yang sudah dikeringkan oleh bahan tertentu."Kalian kesini hanya mengantarkan nyawa,hahahah." Ucap orang yang memakai jubah dari kulit beruang yang bernama Lota."Guru apakah mengerti apa yang diucapkan orang itu?"Tanya Pariga kepada S







