LOGINSetelah menjemput Dipa dari kediaaman Ketua Tritayasa. Hanjaya membawa Dipa ke barak untuk murid tingkat dasar.
"Nah, Dipa kau akan tinggal di barak nomor 7 dengan murid yang lain, 1 barak diisi oleh 4 orang. Untuk semua kebutuhan sehari harimu akan dipenuhi oleh perguruan." Ucap Hanjaya setelah sampai di depan barak.
Tampak ada 3 orang yang seumuran dengan Dipa sedang beristirahat di depan barak setelah mereka selesai latihan seharian. Sena, Dirga dan Denta segera berdiri dan menghampiri Hanjaya dan Dipa.
"Salam Guru Hanjaya." ucap mereka hampir bersamaan.
Kemudian Hanjaya memperkenalkan Dipa sebagai murid tingkat dasar seperti mereka.
"Besok pagi aku tunggu kalian dilapangan untuk latihan seperti biasa. Sena tolong jelaskan ke Dipa apa saja yang perlu disiapkan untuk latihan besok pagi." Kata Hanjaya.
"Baik Guru." Jawab Sena.
Setelah Hanjaya pergi Sena mengajak Dipa masuk ke dalam barak. Masih ada 1 tempat tidur dari bambu yang tersisa.
"Disini jangan sungkan Dipa. Kita sama sama belajar di perguruan ini. Asal kamu tahu Dipa setiap 6 bulan sekali ada pertandingan antar barak di tingkat murid dasar. Selain tanding kanuragan, tanding kepintaran pun diadakan." Kata Denta yang berbadan lebih besar dari ketiga temannya.
"Betul Dipa. Kita akan tetap di barak yang sama sampai nanti kita di tingkat tinggi." timpal Dirga.
Keesokan paginya pada saat sinar matahari baru remang remang. Keempat orang anak laki laki laki itu Dipa,Sena, Dirga dan Denta bergegas untuk menuju lapangan yang mana beberapa orang dari barak yang lain sudah berkumpul disana. Guru Hanjaya yang sudah berada dilapangan.
Latihan diawalin dengan berlari mengitari lapangan, setelah itu para murid dasar akan memulai gerakan dasar untuk memperkuat tenaga luar.
Ditingkat dasar ini para murid belum mempelajari tenaga dalam. baru ditingkat menegah lah pelajaran mengenai tenaga dalam diajarkan. Setelah latihan pertama selesai para murid membersihkan diri dan makan pagi dilanjutkan dengan pelajaran mengenai budi pekerti , baca tulis, dan filosofi kehidupan.
Dipa sangat tertarik apabila masuk ke pelajaran budi pekerti dan filosofi kehidupan. Hampir semua apa yang disampaikan oleh para guru dihayati secara mendalam.
Selama sebulan memang latihan tidak berubah dari pagi sampai dengan sore hari akan menjalani hal yang sama.
Dibulan berikut nya barulah Hanjaya akan meningkatkan porsi latihan.
"Mulai besok untuk pelajaran budi pekerti akan dijalani 2 kali dalam sepekan. Kita akan lebih banyak latihan untuk meningkatkan kekuatan fisik." Ucap Hanjaya disambut dengan senyuman para muridnya yang memang sejak awal ingin berlatih olah kanuragan ketimbang belajar hal lain.
Sebelum matahari terbit.
"Ayo semua berkumpul. Sekarang kalian tidak perlu lari dilapangan. Lari menuruni bukit kepala naga kemudian naik lagi keatas bukit. Lakukan sebanyak 2 kali." Ucap Hanjaya dengan tegas.
Para murid yang awalnya bersemangat menepok jidatnya karena mereka tahu untuk naik ke atas bukit Kapala Naga saja cukup melelahkan.
Sejak Dipa menerima pancaran sinar dari batu langit pada berada dipunggung Tirtayasa DLAM perjalanannya ke Gunung Bukit Tunggul tempo hari. Kondisi fisik Dipa banyak berubah selain tidak cepat lelah, luka yang terdapat di tubuhnya pun lebih cepat sembuh.
Terlihat dalam latihan naik dan turun bukit Kepala Naga ini. Dipa belum terlihat lelah setelah 2 kali menaiki bukit.
Dipa yang pertama naik ke atas bukit untuk kedua kalinya disusul oleh seorang murid dari barak yang lain kemudian muncul Denta yang mempunyai badan cukup besar untuk anak berumur 10 tahun.
Dengan napas yang tersengal sengal Denta menghampiri Dipa yang sejak tadi sudah sampai.
"Bagai..bagaimana bisa kau sampai lebih dulu Dipa." Kata Denta sambil membungkuk dan meringis.
"Aku cukup berlari saja Denta." Jawab Dipa santai sambil nyengir.
Tapi sampai nya Dipa lebih dulu ke atas bukit tidak lepas dari perhatian Hanjaya. Dia melihat dengan samar serabut sinar biru yang keluar dari tubuh Dipa.
"Siapa sebenarnya anak ini? Apakah karena keanehan ini Ketua Tirtayasa membawanya ke perguruan." Gumam Hanjaya.
Tidak sembarang orang bisa melihat sinar biru yang keluar dari tubuh Dipa. Hanya orang yang mempunyai tenaga dalam tinggi saja yang dapat melihat dan merasakannya.
Setelah cukup istirahat mereka melanjutkan dengan mempelajari jurus dasar. Menjelang sore hari mereka kembali di barak masing masing.
"Dari kelompok kita hanya kau dan Denta yang cukup bertahan Dipa." Kata Sena kepada Dipa yang sesampai nya di barak langsung terkapar dilantai.
"Apakah badan kalian sakit?" Sena berkata lagi.
"Besok nampaknya aku tidak akan sanggup lagi kawan. Hari ini sangat melelahkan" Dirga menyela.
"Besok pasti akan latihan lebih berat lagi. Mungkin porsi untuk naik turun bukit akan ditambah oleh Guru Hanjaya." Kata Dipa.
"Wah jangan berkata begitu Dipa. Kau tidak lihat kedua kakiku gemetar begini. Benar kata Dirga mungkin besok kita tak sanggup lagi." Kata Denta. Diselingi tawa dari keempat anak itu.
Perasaan Dipa merasa hangat. Sejak di perguruan Golok Khayangan dan mengenal ke tiga temannya itu dia sangat bahagia. Tidak jarang hal hal konyol dilakukan ketiga temannya ketika bersama.
Keesokan harinya latihan pun di mulai sama dengan hari kemarin naik turun bukit sebanyak 2 kali. Namun hari ini setelah istirahat mereka dilanjutkan dengan belajar budi pekerti dan filosofi kehidupan.
Dipa merasa pemahaman mengenai pelajaran yang diberikan oleh gurunya dapat dengan mudah dipahami. Bahkan di setiap tanya jawab Dipa yang paling menonjol.
Perubahan ini tentu saja belum disadari oleh Dipa sendiri. Sinar biru pancaran dari batu langit yang terdapat dalam tubuh Dipa merubah susunan saraf dengan menyeluruh selain fisik, pemahaman akan sesuatu yang baru pun lebih cepat Dipa pahami.
Tidak terasa sudah 5 bulan Dipa dan ketiga temannya berlatih di perguruan. Tampak badan mereka lebih berisi karena latihan fisik yang dilakukan tiap hari.
"Bulan depan adalah pertandingan antar barak murid tingkat dasar. Kira kira siapa yang akan mewakili barak kita untuk tanding ilmu pengetahuan?" Tanya Sena kepada teman temannya ketika berjalan ke arah barak setelah selesai latihan.
"Dipaaa..". Tunjuk Denta dan Dirga secara bersamaan kepada Dipa. Disertai gelak tawa.
"Lah kenapa harus aku?" Tanya Dipa.
"Karena kau yang paling pintar , bodoh! Pletak!" Denta sambil menjitak kepala Dipa.
"Aduh!" Dipa mengaduh. Tapi tidak tampak dendam atau sakit hati. Tingkah konyol seperti itu memang kerap mereka lakukan.
"Selain tanding ilmu pengetahuan, kita hrs siap dengan tanding jurus dasar. Besok kita latihan di hutan kecil belakang barak kita agar jurus jurus kita semakin kokoh." Lanjut Sena.
"Setuju." Timpal yang lain.
Tanding jurus dasar ini hanya dilakukan dengan memperagakan kekompakan. 1 kelompok beranggotakan teman 1 barak. Masing masing barak beranggotakan 4 orang.
Di bawah Hanjaya ada 7 barak untuk murid dasar. Begitu juga dengan tetua lainnya. 7 barak murid dasar, 7 barak murid menengah dan 7 barak murid tinggi.
Tanding antar perorangan akan dilakukan di murid menengah dan murid tinggi.
Setelah puluhan kali benturan itu nampak Mata Geni mulai merosot tenaga dalamnya. Sesekali dia mundur untuk mengambil napas."Anak muda ini luar biasa, tenaga dalamnya tidak surut sedikit pun. Nampaknya ini akan jadi pertarunganku yang terakhir. Tidak masalah selama lawanku lebih kuat dariku." Batin Mata Geni.Setelah bentrokan terakhir. Mata Geni melompat mundur, dadanya naik turun dan tangan kanannya gemetar memegang pedang neraka. Namun wajahnya terlihat gembira dengan senyum tulus."Kau cukup hebat anak muda. Kita akhiri saja pertarungan ini. Aku tidak akan menyesal jika mati ditanganmu. Hahaha." Ucap Mata Geni perlahan mengeluarkan semua tenaga dalamnya dan menyalurkan ke pedang neraka yang sedang dipegangnya. Pedang neraka mengobarkan api merah yang lebih panas dari sebelumnya."Jangan manahan dirimu anak muda."Ucap Mata Geni kemudian dengan sisa tenaganya dia melesat kearah Dipa."Tentu saja. aku tidak akan menahan.Hiyaa." Ucap Dipa menyambut seragan Mata Geni.Duarrrr!Ledakan
Adilasa dan Adimana melepaskan jubahnya yang sejak awal dia kenakan.Brukk! Brukk!Suara ketika jubah itu jatuh ke tanah yang tampaknya cukup berat. Mereka berdua menyerang Dipa dengan peningkatan kecepatan yang luar biasa."Hhhhmmm..kecepatan mereka meningkat dan pola serangannya lebih berbahaya dari sebelumnya." Batin Dipa.Dia meningkatkan tenaga dalam ke jurus Mata Naganya. Kedua mata Dipa semakin menampakan sinar kebiruan. Dan ini tidak luput dari perhatian Mata Geni dan Anjani."Hhhmmm..jadi begitu cara kerja jurusnya itu. Membekukan lawan tanpa sadar memperlambat gerakannya. Tapi kenapa dia menahan diri? padahal sudah sejak tadi dia dapat mengalahkan mereka berdua." Batin Mata Geni.Mata Geni melirik ke arah Anjani yang memperhatikan terus setiap gerakan pemuda itu."Ternyata pemuda itu tidak hanya memiliki tenaga dalam tinggi tapi cerdas dalam melihat keadaan. Dia pasti tahu Nona Anjani memperhatikan setiap gerakannya untuk mencari kelemahannya kemudian melaporkannya kepada ke
Dipa melesat dengan kecepatan luar biasa ke arah gerbang utara diikuti oleh Tirtayasa dan golongan putih lainnya."Kakek berhati hatilah, jauh didepan sana ada ratusan orang sedang menyamarkan diri diantara pepohonan." Suara Dipa terngiang dalam kepala Tirtayasa.Tirtayasa yang mendapat pesan rahasia dari Dipa segera membari tanda kepada yang lain untuk lebih waspada. Dan benar saja dalam jarak 100 langkah dari arah depan mereka berseliweran berbagai senjata rahasia dari mulai pisau kecil, jarum bahkan senjata aneh berbentuk segitiga yang setiap ujungnya tajam.Dipa yang berada paling depan berdiri tegak di salah satu dahan pohon yang cukup besar kemudian mengeluarkan jurus Tiupan Naga sehingga senjata senjata itu pun luluh lantak sebelum mengenainya. Namun tidak semua golongan putih bisa selamat, beberapa puluh orang tumbang karena terkena senjata itu.Tiba tiba dari arah depan meluncur dua bola cahaya sebesar kerbau kearah Dipa."Yang lain menjauhlah." Teriak Dipa Anggara.Blaar!Bla
Gerbang selatan.Panglima Chendala dan Panglima Warangan berkelebat cepat ke arah gerbang selatan yang saat ini tengah terjadi pertarungan. Keduanya langsung mengamuk membabat lawan tanpa ampun. Sepasang Serigala Perak, Wira dan Wulan melihat keadaan itu langsung mencoba melesat ke arah Panglima Warangan mencegah agar tidak jatuh korban terlalu banyak dari golongan putih.Trang! Trang!Pedang Wira dan Wulan menangkis pedang besar dari Panglima Warangan. Ketiga terlempar kebelakang beberapa langkah namun masih bisa berdiri kokoh. Parit kecil tebentuk karena kaki mereka yang terseret akibat benturan itu."Wulan berhati hatilah, tenaga dalam orang ini setingkat dengan guru."Ucap Wira kepada saudara kembaranya.Wulan menganguk dengan tegas."Ayo anak kecil mari kita bermain lagi,hahaha." Panglima Warangan meremehkan.Wulan yang mendengar itu mendengus kesal kemudian memberi isyarat ke Wira untuk menyerang kembali.Pertarungan Sepasang Serigala Perak dan Panglima Warangan berlangsung sengi
Kanaka dan Lota terlempar menjauh dari area pertarungan karena ledakan akibat pertarungan Saksana dan Pariga.Kanaka berdiri sambil menepuk nepuk bajunya yang penuh dengan debu begitupun dengan Lota."Nampaknya banteng gendut itu mendapatkan lawan yang kuat, namun pancaran energinya masih terasa tanda dia baik baik saja." Batin Kanaka. Dia melihat kearah Lota yang sedang menatapnya dengan tajam."Ayo pak tua kita lanjutkan pertarungan kita."Ucap Kanaka dengan memberi tanda untuk maju dengan tangan kanannya.Lota yang cukup mengerti dengan apa yang Kanaka lakukan,naik pitam karena mendapat tantangan.Lota menggereng dan kedua tangan Lota membentuk cakar beruang. Asap hitam tipis keluar dari setiap jari yang membentuk cakar.Kanaka menyeringai dia pun tidak mau kalah, disalurkan tenaga dalamnya. Asap kekuningan mulai keluar dari setiap cakarnya."Goarrr!" Kanaka mengereng.Seolah ada aba aba kedua serempak maju dengan cakar yang dilambari oleh tenaga dalam. Sabetan demi sabetan mengenai
Dua bayangan besar melesat ke arah gerbang timur markas Kelompok Kuda Hitam diikuti oleh para pendekar golongan putih. Dengan senjata besarnya yang dibawa dipundaknya tidak berpengaruh besar terhadap gerakan cepatnya. Tidak berapa lama mereka tiba di gerbang timur markas kelompok Kuda Hitam.Saksana dan Pariga berdiri sejauh 100 langkah dari gerbang timur.Bumm!Bumm!Dua gada besar di turunkan dari pundak mereka, tanah sedikit bergetar karenanya.Didepan gerbang berdiri tiga orang tinggi besar dari Kelompok Kuda Hitam. Dua orang memakai jubah panjang dengan membawa tameng di tangan kirinya dan pedang besar ditangan kanannya. Satu orang lagi yang berdiri ditengah dengan memakai jubah dari bulu beruang hitam dan kepalanya ditutup oleh kulit kepala beruang yang sudah dikeringkan oleh bahan tertentu."Kalian kesini hanya mengantarkan nyawa,hahahah." Ucap orang yang memakai jubah dari kulit beruang yang bernama Lota."Guru apakah mengerti apa yang diucapkan orang itu?"Tanya Pariga kepada S







