Share

Bab 4 Senjata Pusaka

Penulis: Haryadi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-30 12:28:38

"Aku langsung pada inti pembicaraan kita Baryana." ucap Tirtayasa.

Kemudian dia meletakan batu yang jatuh dari langit dihadapan Empu Baryana. Empu Baryana yang sudah puluhan tahun berkutat dengan senjata pusaka dapat melihat bahwa batu dihadapannya itu merupakan batu energi yang cukup mempunyai energi cukup besar yang masih tersegel.

"ini batu yang luar biasa Kakang. Tidak sembarang orang dapat menggunakan energi didalamnya. Hanya orang terpilihlah yang dapat membangkitkan energi dalam batu ini." ucap Empu Baryana.

Empu Baryana melirik ke arah Dipa.

"Siapa namamu nak?" tanya Empu Baryana yang sejak semula anak itu tidak diperkenalkan oleh Tirtayasa.

"Nama saya Dipa, Tuan." jawab Dipa.

"Hahaha, jangan panggil Tuan,panggil saja aku Kakek Baryana seperti kau memanggil Kakang Tirtayasa dengan kakek." Ucap Empu Baryana. Dipa hanya mengangguk mengiyakan.

"Nampaknya anak yang kau bawa ada hubungan nya dengan batu ini Kakang?" tanya Empu Baryana ke Tirtayasa.

"Iya Baryana, sesuai dengan pesan Eyang Guru bahwa dalam perjalanan aku kemari akan dipertemukan dengan orang yang berjodoh dengan batu langit itu." ucap Tirtayasa.

"Energi dari batu ini masih tersegel dan masih liar Kakang. Walaupun anak ini berjodoh dia harus berlatih keras agar bisa menyelaraskan dengan energi yang terkandung didalam batu ini."

Dipa dalam hati nya sedikit kaget mendengar bahwa Tirtayasa dan Empu Baryana mengatakan bahwa dialah orang yang berjodoh dengan batu langit itu.

"Itulah Baryana, rencananya aku akan membawa Dipa ke perguruan untuk digembleng menjadi pendekar. Harapan kita dimasa yang akan datang dia akan menjadi pendekar pilih tanding yang membela kebenaran." Ungkap Tirtayasa.

"Itu lebih baik Kakang. Aku akan mulai bersemedi nanti malam untuk meminta petunjuk dari dewata mengenai batu langit ini." ucap Empu Baryana.

Setelah itu dia mengajak Tirtayasa dan Dipa ketempat peristirahatan yang berada dirumahnya.

Malam pun tiba. Duduk di bale bambu dengan beralas kain berwarna hitam Empu Baryana pun larut dalam semedinya. Perlahan energi halus merembes keluar dari tubuh Empu Baryana. Dalam semedi nya dia mendapat petunjuk dari eyang guru nya, Indrasakti.

Keesokan pagi nya Tirtayasa dan Dipa sudah selesai melakukan persiapan pulang ke Perguruan Golok Khayanagan. Karena tugas pertama yang diamanat kan oleh Eyang Guru  nya sudah selesai yaitu mengantarkan batu langit ke Empu Baryana untuk dijadikan senjata pusaka.

Diteras depan duduk mereka bertiga sambil menikmati wedang jahe dan umbi rebus yang banyak terdapat di sekitaran hutan Gunung Bukit Tunggul.

" Kakang, dalam semediku semalam eyang guru memberiku petunjuk mengenai batu langit ini. Mulai hari ini aku akan mencari bahan yang akan dijadikan pelengkap senjata ini". Ucap Empu Baryana mengawali pembicaraan mereka.

"Bahan yang aku butuhkan belum tentu ada di Gunung ini Kakang. Aku perlu untuk lakukan perjalanan ke beberapa daerah yang mempunyai bahan ini." Ucap Empu Baryana meneruskan.

Tirtayasa hanya menganguk dan meminum wedang jahe nya.

"Apakah bahan yang dibutuhkan cukup sulit Baryana?" tanya Tirtayasa.

"Beberapa bahan cukup sulit kakang dan hanya ada dibeberapa tempat. Bahkan ada yang perlu keluar dari tanah pasundan untuk mendapatakan nya." Jelas Empu Baryana sambil menengok ke arah Dipa.

"Dan kau Dipa. Berlatihlah dengan tekun ke Kakang Tiryayasa. Kau tidak saja berjodoh dengan senjaka pusaka yang aku buat nanti tapi kamu akan menjadi harapan untuk banyak orang yang tidak mendapatkan keadilan."

"Baik kakek. Dipa akan berusaha dan berlatih dengan keras. Dipa berjanji tidak akan mengecewakan Kakek Tirtayasa dan Kakek Baryana." Jawab Dipa sambil menunduk menandakan rasa hormat kepada dua orang tua di depan nya.

Empu Baryana dan Tiryasasa tersenyum.

"Bagus Dipa." Ucap Titayasa sambil tersenyum dan menatap ke arah Dipa.

"Nah Kakang Tirtayasa. Kakang bisa kesini sekitar 10 Tahun lagi untuk mengambil senjata pusaka ini. " Kata Empu Baryana.

"Selama itukah Baryana?' Tirtayasa sedikit terkejut.

"Tentu saja  akan cukup lama Kakang Tirta. Senjata ini perlu waktu untuk menetralisir energi didalamnya. Aku pun perlu meningkatkan tenaga dalam untuk pembuatannya."

"Aku yakin senjata yang kau buat akan menjadi senjata sakti mandraguna Baryana." Ucap Tirtayasa yang terlihat kagum dengan kemampuan Empu Baryana.

Bagaimana tidak Empu Baryana dipercaya oleh beberapa kerajaan untuk membuat senjata pusaka kerajaan. Bahkan ada yang  berasal dari tanah seberang tanah pasundan. Kemampuan Empu Baryana dalam membuat senjata pusaka sulit di cari tandingannya.

Setelah Tirtayasa dan Dipa berangkat meninggalkan kediamannya menuju ke Perguruan Golok Khayangan. Empu Baryana pun segera bergegas bersiap untuk menempuh perjalanan guna mencari bahan bahan yang akan dia tempa dengan batu langit.

===

Disuatu tempat tersembunyi tepatnya di sebuah goa ditengah hutan. Suasana dalam goa sedikit remang remang yang hanya terdapat 1 obor yang menempel di dinding goa. terlohat 3 orang mengelilingi meja  dari batu pipih. Disetiap lengan mereka terlihat rajah kuda berwarna hitam. Sudah jelas bahwa ketiga orang ini adalah anggota dari komplotan Kuda Hitam.

" Bayangan Setan sudah aku bereskan, nyawanya sudah melayang entah kemana..he..he..he. Siapa suruh punya kemampuan segede upil tapi menyanggupi mengambil tugas seberat itu dari Ketua." Kata orang pertama.

"Bayangan Setan dan Enam Pendekar Maut dari Lembah Sumbing sudah gagal melaksanakan tugas dari ketua. Pasti ketua tidak akan senang akan hal ini." Orang kedua menimpali.

" Tirtayasa terlalu tangguh Kakang, bahkan 10 orang seperti Bayangan Setan pun tidak akan mudah mengalahkannya." Ucap orang ketiga.

"Bagaimanapun hasilnya besok pagi kita harus segera berangkat ke markas. Sebarkan ke semua teliksandi agar terus memata matai perguruan perguruan yang ada di kerajaan ini. Segera laporkan apabila pergerakan yang mencurigakan dari mereka terlebih lagi sesudah Tirtayasa mendapatkan batu langit itu." Kata  orang kedua yang nampaknya mempunyai kedudukan lebih tinggi dari kedua orang lainnya.

"Baik Kakang."Jawab kedua orang lainnya secara bersamaan.

Setelah mereka berbicara panjang lebar. Mereka beranjak dari tempat duduk mereka dan keluar dari goa yang tersembunyi itu. Kemudian mereka melesat ke tiga arah yang berbeda. Mereka selalu berpencar setelah melakukan pertemuan ini bertujuan untuk mengecoh apabila pertemuan mereka di mata matai oleh musuh.

Ketiga orang itu merupakan para  tetua dari komplotan Kuda Hitam. Mereka bertugas memastikan tugas yang diberikan ketua dari Kuda Hitam berhasil atau tidaknya. Seperti yang menimpa Bayangan Setan, setelah dia gagal mengambil batu langit dari Tirtayasa dan dalam keadaan sekarat maka salah satu dari tetua mendatanginya langsung membunuhnya agar Bayangan Setan tidak dimanfaatkan oleh musuh yang mencari informasi mengenai keberadaan markas Kuda Hitam.

Memang markas Kuda Hitam ini sangat sulit dicari, selain sering berpindah dan apabila ada anggota yang membocorkan markas Kuda Hitam maka hidupnya tidak akan lama lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pendekar Golok Naga Biru   Bab 49 Ruang Tanpa Waktu

    Tanpa membuang waktu keesokan paginya mereka berempat. Dipa,Kanaka, Pariga dan Anjani beranagkat ke Gunung Tangkuban Perahu untuk menemui Nyi Wiwara. Dengan menggunakan ilmu meringakan tubuh perjalanan akan lebih cepat walaupun sedikit menguras tenaga dalam mereka.Mereka tiba dikaki gunung Tangkuban Perahu menjelang malam. Dan akhirnya mereka sepakat untuk meneruskan perjalanan keesokan harinya. Menjelang matahari terbit kabutpun masih tebal ketika mereka berempat memulai perjalannnya kembali.Tepat di puncak Gunung Tangkuban Perahu, disebuah tanah lapang yang cukup asri dengan rumah kayu yang sederhana, nampak kepulan asap tipis membumbung dari cerobong asap yang terdapat dibagian belakang rumah itu. Pepohonan rimbun yang ada disekitar tanah lapang itu semakin membuat suasana yang cukup nyaman untuk orang yang tinggal disana dengan udara sejuk khas pegunungan.Dipa dan ketiga rekannya tiba dipelataran rumah kayu itu tepat tengah hari."Tempat yang cukup nyaman." Anjani bergumam.Kem

  • Pendekar Golok Naga Biru   Bab 48 Dunia Tanpa Malam

    Dipa masih terkapar diatas tanah setelah bentrokan itu. Kanaka dan Pariga akhirnya membawa Dipa ke salah satu bangunan yang belum hancur untuk dilalukan pengobatan. Golok Naga Biru masih tergelak di atas tanah tidak ada yang sanggup memindahkannya.Begitupun dengan Serongpati akhirnya tewas setelah terluka cukup parah karena pedang Turangga. Jiwa Anjani begitu terguncang karena tewasnya Serongpati apalagi setelah mendapat kabar bahwa neneknya ibu dari Serongpati pun tewas oleh Turangga.Anggota Kelompok Kuda Hitam pun menyerah kepada golongan putih dan untuk sementara dikumpulkan di salah satu bangunan dengan penjagaan ketat. Anjani ditahan diruangan terpisah namun tetap dalam pengawasan.Diruang pengobatan. Dipa tak sadarkan diri seharian penuh namun kekuatan tubuhnya tetap bekerja menyembuhkan luka luka yang dia alami. Dialam bawah sadarnya dia duduk berhadapan dengan Antamarta naga biru yang bersemayam ditubuhnya."Anta kau tahu mengenai lima orang yang menyerang dan menculik Wira

  • Pendekar Golok Naga Biru   Bab 47 Lima Panglima

    Serongpati membuka matanya perlahan. Tampak seseorang berdiri membelakanginya dengan gagah dan menggenggam Golok Naga Biru."Anak muda kenapa kau menyelamatkanku?"Ucap Serongpati. Anjani berlari menghampiri Serongpati dan Dipa."Nona tolong bawa ayahmu menjauh." Ucap Dipa kepada Anjani. Anjani mengangguk dan membawa Serongpati kearah pepohonan yang masih utuh."Sial, sudah dua kali kau menghalangiku bocah.Bukankah kau hendak memusnahkan Kelompok Kuda Hitam? Lantas kenapa kau menghalangiku membunuh Serongpati?"Ucap Turangga."Aku memang benci akan Kelompok Kuda Hitam, namun aku lebih benci pengkhianat." Balas Dipa."Hahahaha..kau tidak tahu akan berhadapan dengan kekuatan yang tidak bisa kau tandingi anak muda apabila kau berani menghalangiku. Bagi bangsa kami Serongpati hanya alat untuk tujuan kami. Dia sudah terikat perjanjian yang tidak bisa dia batalkan." Ucap Turangga."Uhuuukk..uhhukk." Turangga terbatuk dan memuntahkan darah yang berwarna hitam.Dia jatuh berlutut, tangan kananny

  • Pendekar Golok Naga Biru   Bab 46 Pertarungan Puncak 5 – Pengkhianatan

    Dipa dan Serongpati mencoba berdiri dengan menopang ke senjatanya masing masing. Napas mereka tersengal sengal dengan darah yang dari mulut. Bentrokan itu bukan saja mengakibatkan ledakan yang memekakan telinga namun membuat luka dalam.Kerusakan diarea pertarungan pun semakin parah. Seluruh tembok benteng gerbang utara hancur. Beberapa orang bahkan menjadi korban karena riak energi dari pertarungan itu."Hahahaha..sungguh aku tak menyangka pertarungan kita sampai sejauh ini."Ucap Serongpati sambil mencoba berdiri.Kanaka dan Pariga memperhatikan Dipa dari kejauhan."Pariga perlukah kita kesana untuk membantunya?"Tanya Kanaka."Kalian jangan mendekat kesini."Satu suara menggema dalam kepala Kanaka dan Pariga. Rupanya Dipa sempat melirik ke arah mereka dan tahu akan maksud mereka untuk ikut dalam pertarungan dan mengirimkan suara jarak jauh.Kanaka dan Pariga kemudian terdiam tidak ingin menggangu pertarungan Dipa.Disisi lain Wira dan Wulan pun telah tiba di gerbang utara. Segera mere

  • Pendekar Golok Naga Biru   Bab 45 Pertarungan Puncak 4

    Dipa berdiri dengan tegak dengan menggengam erat Golok Naga Biru ditangan kanannya. Matanya yang tajam berwarna kebiruan menatap ke arah Serongpati yang sedang melayang diudara."Dipa kali ini kau akan menghadapi lawan dengan tingkat yang berbeda, berkonsentrasilah. Mungkin nanti saat yang tepat untuk mengeluarkan apa yang telah kuajarkan padamu." Ucap Antamarta."Jadi kau rupanya yang diceritakan Turangga. Menarik."Ucap Serongpati.Serongpati turun perlahan, pandangan matanya tidak lepas dari Dipa yang masih tegak dihadapannya. Dia menurunkan tekanan tenaga dalamnya sebagai pertanda bahwa dia tidak membahayakan tapi tentu saja Dipa tetap waspada. Namun itu kesempatan untuk golongan putih untuk memulihkan diri dari tekanan tenaga dalam Serongpati. Sebagian menjauh dari Dipa dan Serongpati karena tahu selanjutnya akan terjadi pertarungan hebat yang belum pernah mereka saksikan."Kenapa kau melakukan semua ini? Kau tahu banyak orang yang tidak berdosa menjadi korban karena kelompokmu?"

  • Pendekar Golok Naga Biru   Bab 44 Pertarungan Puncak 3

    Setelah puluhan kali benturan itu nampak Mata Geni mulai merosot tenaga dalamnya. Sesekali dia mundur untuk mengambil napas."Anak muda ini luar biasa, tenaga dalamnya tidak surut sedikit pun. Nampaknya ini akan jadi pertarunganku yang terakhir. Tidak masalah selama lawanku lebih kuat dariku." Batin Mata Geni.Setelah bentrokan terakhir. Mata Geni melompat mundur, dadanya naik turun dan tangan kanannya gemetar memegang pedang neraka. Namun wajahnya terlihat gembira dengan senyum tulus."Kau cukup hebat anak muda. Kita akhiri saja pertarungan ini. Aku tidak akan menyesal jika mati ditanganmu. Hahaha." Ucap Mata Geni perlahan mengeluarkan semua tenaga dalamnya dan menyalurkan ke pedang neraka yang sedang dipegangnya. Pedang neraka mengobarkan api merah yang lebih panas dari sebelumnya."Jangan manahan dirimu anak muda."Ucap Mata Geni kemudian dengan sisa tenaganya dia melesat kearah Dipa."Tentu saja. aku tidak akan menahan.Hiyaa." Ucap Dipa menyambut seragan Mata Geni.Duarrrr!Ledakan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status