LOGINHari Pertandingan pun tiba. Dipa dan ketiga temannya berkumpul dilapangan tempat pertandingan akan diadakan.
Ditengah lapangan disediakan panggung persegi empat yang sudah disiapkan oleh para guru. Tampak di sebelah kanan panggung Tirtayasa dan keempat tetua lainnya. Hanjaya, Rangkuti, Wicaksana dan Lestari. Lestari khusus menangani murid putri saja.
"Hari ini kita akan memulai pertandingan antar barak, dari mulai tingkat dasar 1 dan 2, tingkat menengah 3 dan 4, dan tingkat tinggi 5. Pertandingan ini hanya untuk mengukur sampai dimana pemahaman mengenai jurus jurus dari perguruan kita. Dan lakukan semua dengan jujur tidak perlu ada kecurangan seyogyanya pertandingan ini adalah untuk mempererat rasa persaudaraan kita." Ucap Tirtayasa setelah berdiri.
Setelah Tirtayasa berbicara mengenai tujuan pertandingan dan nasihat kepada para murid dilanjutkan dengan Rangkuti menjelaskan tentang aturan pertandingan. Semua murid mendengarkan dengan seksama.
Dipa dan ketiga temannya mendapatkan urutan ke 4 sesuai pengundian yang dilakukan para guru.
"Untuk barak no 7 silahkan naik ke atas panggung." Kata pemimpin pertandingan seorang guru dari tingkat 1 dan 2 ,Suta.
Dipa, Denta, Dirga dan Sena menaiki tangga yang tidak terlalu tinggi. Setelah di atas panggung mereka memberi hormat kepada Tirtayasa dan para tetua.
Jurus demi jurus dasar dilakukan dengan sempurna yang menitikberatkan pada permainan jurus tangan kosong. Selama jurus dimainkan Dipa begitu semangat jurus mengalir begitu saja dikarenakan beberapa hari sebelum bertanding mereka sering berlatih dibelakang barak.
Satu hal yang tidak disadari oleh Dipa adalah semakin lama dia memainkan jurus, semakin banyak serabut sinar biru yang keluar dari tubuhnya.Hal ini tidak luput dari perhatian Tirtayasa dan ke empat tetua. Mereka saling memandang satu sama lain mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang istimewa ditubuh Dipa.
"Tidak aku kira tanda tanda nya akan muncul secepat ini." Batin Tirtayasa sambil mengelus dagu nya.
"Hanjaya setelah pertandingan ini selesai ajak para tetua lainnya untuk ke ruanganku, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan." Suara Tiryayasa kepada Hanjaya dengan ilmu Rambat Suara.
"Baik Ketua." Jawab Hanjaya. Satu ilmu ini memang berguna untuk berkomunikasi jarak dekat tanpa harus mengeluarkan suara ketika berbicara.
Ketika Dipa dan yang lainnya turun dari panggung tepuk tangan yang riuh dari para murid yang menonton karena jurus yang dimainkan begitu kompak. Pertandingan dilanjutkan dengan murid dasar dari barak yang lain.
Pertandingan tingkat menengah tingkat 3 dan 4 lebih seru lagi. Pada tingkatan ini para murid akan saling adu jurus dan diperbolehkan untuk menggunakan tenaga dalam. Tentunya dengan peraturan yang ketat agar tidak melukai satu sama lain. Para guru dan tetua tidak hanya melihat kemampuan murid tingkat menengah ini dari sisi kanuragan saja tapi dari pengendalian emosi dan karakter dari setiap murid yang menonjol.
Sedangkan pertandingan akhir untuk para murid tingkat 5 tidak berhadapan satu sama lain tetapi adu ajian yang sudah diajarkan. objeknya adalah batu yang sudah disediakan. Kekuatan dari ajian yang dilakukan tergantung dari seberapa besar tenaga dalam yang dimiliki oleh setiap murid. Semakin besar tenaga dalam yang dimiliki batu sebesar kambing bisa dihancurkan.
Sorak sorai dari pada murid ketika para kakak seperguruan mereka dapat menghancurkan batu dengan Ajian Tapak Naga. Beberapa murid tinggi yang berbakat tersenyum puas karena usahanya tidak sia sia sedangkan beberapa murid yang lain terlihat sedikit kecewa karena Ajian Tapak Naga yang mereka keluarkan tidak dapat menghancurkan batu. Padahal untuk membuat batu sampai retak saja adalah kemajuan yang cukup besar untuk murid sekelas mereka.
Menjelang sore hari semua pertandingan selesai. Hanjaya berdiri kemudian mengeluarkan pengumunan.
"Pertandingan hari ini sudah selesai selanjutnya penilaian mengenai hasil pertandingan ini akan diumumkan esok hari. Perguruan hanya akan mengumumkan 3 besar saja dari mulai tingkat dasar sampai tingkat tinggi. " Ucap Hanjaya.
"Untuk tiga besar yang terpilih bersiaplah karena di 6 bulan kedepan ada pertandingan antar perguruan di kotaraja dan kalian akan terpilih untuk mewakili perguruan. Sekarang bubar dan beristirahatlah di barak masing masing." Lanjut Hanjaya.
Murid murid pun membubarkan diri begitu juga dengan Dipa dan ketiga temannya. Tetapi tidak dengan para tetua segera mereka menuju ruangan Tirtayasa. Dalam ruangan itu duduk mereka berlima dalam meja bundar.
"Hanjaya, Rangkuti, Wicaksana dan Lestari, bagaimana menurut kalian hasil dari pertandingan hari ini?" Ucap Tirtayasa sambil menatap masing masing orang yang disebut dengan penuh wibawa.
"Pertandingan hari ini cukup memuaskan Ketua. Beberapa murid yang mempunyai bakat sudah terlihat termasuk murid putri di bawah Tetua Lestari.Hal ini tentu saja sesuai dengan harapan kita." Kata Wicaksana seraya diamini oleh Lestari.
"Tapi perhatian saya lebih pada saat murid tingkat dasar yang bertanding di awal. Apakah para tetua lain memperhatikan?". Kata Rangkuti.
"Tentu saja. Aku melihat ada yang berbeda dengan salah satu murid Tetua Hanjaya."Timpal Lestari.
"Dari awal Dipa masuk perguruan di bawa oleh Ketua Tirtayasa, aku merasakan ada hal yang istimewa dalam diri anak itu. Tapi entah apa aku juga belum mengerti. Sampai suatu saat aku melihat serabut sinar biru yang keluar dari tubuhnya setiap dia melakukan jurus yang dipelajari." Ucap Hanjaya.
"Betul aku pun merasakan getaran dari energi yang masih tipis dari anak itu yang belum pernah aku rasakan selama aku berada di perguruan Golok Khayangan ini, Tetua Hanjaya." Timpal Wicaksana.
"Tentu saja dia istimewa karena dia adalah anak yang terpilih." Kata Tirtayasa.
Keempat tetua menatap Tirtayasa dengan penuh penasaran.
"Dipa aku temukan pada saat aku dalam perjalanan menuju Gunung Bukit Tunggul menemui Baryana." Tirtayasa melanjutkan.
"Pada awalnya anak itu tidak memiliki keistimewaan apa apa bahkan sering kali mendapatkan perlakuan yang menyedihkan dari anak anak di desa tempat dia tinggal. Tapi kedaannya berubah pada saat dia berdekatan batu langit." Tirtayasa menjelaskan.
"Batu langit? " Tanya Hanjaya.
"Betul Hanjaya. Batu itu menyimpan energi yang sangat besar dah hanya bisa dikendalikan oleh orang yang berjodoh. Ditangan kita batu itu hanya akan seperti batu biasa saja." Kata Tirtayasa.
"Maksud Ketua, Dipa adalah orang yang berjodoh dengan dengan batu langit itu ?" Tanya Rangkuti. Tirtayasa mengangguk.
"Aku sengaja membawa ke perguruan ini agar Dipa tidak dimanfaatkan oleh golongan hitam di masa yang akan datang. Terlebih dengan komplotan Kuda Hitam yang sekarang telah banyak meresahkan." Kata Tirtayasa yang pada awalnya dia ingin merahasiakan tentang Dipa namun keadaan berbeda setelah ada perubahan dalam diri Dipa pada saat pertandingan hari ini.
"Aku harap kita bisa merahasiakan keberadaan Dipa untuk sementara waktu sampai dia siap. Aku akan mencoba mencari cara agar energi yang keluar dari tubuh anak itu bisa disamarkan. Apabila energinya tidak kita redam maka akan menarik perhatian dari golongan hitam." Ungkap Tirtayasa
"Baik Ketua." Jawab para Tetua bersamaan.
Tanpa membuang waktu keesokan paginya mereka berempat. Dipa,Kanaka, Pariga dan Anjani beranagkat ke Gunung Tangkuban Perahu untuk menemui Nyi Wiwara. Dengan menggunakan ilmu meringakan tubuh perjalanan akan lebih cepat walaupun sedikit menguras tenaga dalam mereka.Mereka tiba dikaki gunung Tangkuban Perahu menjelang malam. Dan akhirnya mereka sepakat untuk meneruskan perjalanan keesokan harinya. Menjelang matahari terbit kabutpun masih tebal ketika mereka berempat memulai perjalannnya kembali.Tepat di puncak Gunung Tangkuban Perahu, disebuah tanah lapang yang cukup asri dengan rumah kayu yang sederhana, nampak kepulan asap tipis membumbung dari cerobong asap yang terdapat dibagian belakang rumah itu. Pepohonan rimbun yang ada disekitar tanah lapang itu semakin membuat suasana yang cukup nyaman untuk orang yang tinggal disana dengan udara sejuk khas pegunungan.Dipa dan ketiga rekannya tiba dipelataran rumah kayu itu tepat tengah hari."Tempat yang cukup nyaman." Anjani bergumam.Kem
Dipa masih terkapar diatas tanah setelah bentrokan itu. Kanaka dan Pariga akhirnya membawa Dipa ke salah satu bangunan yang belum hancur untuk dilalukan pengobatan. Golok Naga Biru masih tergelak di atas tanah tidak ada yang sanggup memindahkannya.Begitupun dengan Serongpati akhirnya tewas setelah terluka cukup parah karena pedang Turangga. Jiwa Anjani begitu terguncang karena tewasnya Serongpati apalagi setelah mendapat kabar bahwa neneknya ibu dari Serongpati pun tewas oleh Turangga.Anggota Kelompok Kuda Hitam pun menyerah kepada golongan putih dan untuk sementara dikumpulkan di salah satu bangunan dengan penjagaan ketat. Anjani ditahan diruangan terpisah namun tetap dalam pengawasan.Diruang pengobatan. Dipa tak sadarkan diri seharian penuh namun kekuatan tubuhnya tetap bekerja menyembuhkan luka luka yang dia alami. Dialam bawah sadarnya dia duduk berhadapan dengan Antamarta naga biru yang bersemayam ditubuhnya."Anta kau tahu mengenai lima orang yang menyerang dan menculik Wira
Serongpati membuka matanya perlahan. Tampak seseorang berdiri membelakanginya dengan gagah dan menggenggam Golok Naga Biru."Anak muda kenapa kau menyelamatkanku?"Ucap Serongpati. Anjani berlari menghampiri Serongpati dan Dipa."Nona tolong bawa ayahmu menjauh." Ucap Dipa kepada Anjani. Anjani mengangguk dan membawa Serongpati kearah pepohonan yang masih utuh."Sial, sudah dua kali kau menghalangiku bocah.Bukankah kau hendak memusnahkan Kelompok Kuda Hitam? Lantas kenapa kau menghalangiku membunuh Serongpati?"Ucap Turangga."Aku memang benci akan Kelompok Kuda Hitam, namun aku lebih benci pengkhianat." Balas Dipa."Hahahaha..kau tidak tahu akan berhadapan dengan kekuatan yang tidak bisa kau tandingi anak muda apabila kau berani menghalangiku. Bagi bangsa kami Serongpati hanya alat untuk tujuan kami. Dia sudah terikat perjanjian yang tidak bisa dia batalkan." Ucap Turangga."Uhuuukk..uhhukk." Turangga terbatuk dan memuntahkan darah yang berwarna hitam.Dia jatuh berlutut, tangan kananny
Dipa dan Serongpati mencoba berdiri dengan menopang ke senjatanya masing masing. Napas mereka tersengal sengal dengan darah yang dari mulut. Bentrokan itu bukan saja mengakibatkan ledakan yang memekakan telinga namun membuat luka dalam.Kerusakan diarea pertarungan pun semakin parah. Seluruh tembok benteng gerbang utara hancur. Beberapa orang bahkan menjadi korban karena riak energi dari pertarungan itu."Hahahaha..sungguh aku tak menyangka pertarungan kita sampai sejauh ini."Ucap Serongpati sambil mencoba berdiri.Kanaka dan Pariga memperhatikan Dipa dari kejauhan."Pariga perlukah kita kesana untuk membantunya?"Tanya Kanaka."Kalian jangan mendekat kesini."Satu suara menggema dalam kepala Kanaka dan Pariga. Rupanya Dipa sempat melirik ke arah mereka dan tahu akan maksud mereka untuk ikut dalam pertarungan dan mengirimkan suara jarak jauh.Kanaka dan Pariga kemudian terdiam tidak ingin menggangu pertarungan Dipa.Disisi lain Wira dan Wulan pun telah tiba di gerbang utara. Segera mere
Dipa berdiri dengan tegak dengan menggengam erat Golok Naga Biru ditangan kanannya. Matanya yang tajam berwarna kebiruan menatap ke arah Serongpati yang sedang melayang diudara."Dipa kali ini kau akan menghadapi lawan dengan tingkat yang berbeda, berkonsentrasilah. Mungkin nanti saat yang tepat untuk mengeluarkan apa yang telah kuajarkan padamu." Ucap Antamarta."Jadi kau rupanya yang diceritakan Turangga. Menarik."Ucap Serongpati.Serongpati turun perlahan, pandangan matanya tidak lepas dari Dipa yang masih tegak dihadapannya. Dia menurunkan tekanan tenaga dalamnya sebagai pertanda bahwa dia tidak membahayakan tapi tentu saja Dipa tetap waspada. Namun itu kesempatan untuk golongan putih untuk memulihkan diri dari tekanan tenaga dalam Serongpati. Sebagian menjauh dari Dipa dan Serongpati karena tahu selanjutnya akan terjadi pertarungan hebat yang belum pernah mereka saksikan."Kenapa kau melakukan semua ini? Kau tahu banyak orang yang tidak berdosa menjadi korban karena kelompokmu?"
Setelah puluhan kali benturan itu nampak Mata Geni mulai merosot tenaga dalamnya. Sesekali dia mundur untuk mengambil napas."Anak muda ini luar biasa, tenaga dalamnya tidak surut sedikit pun. Nampaknya ini akan jadi pertarunganku yang terakhir. Tidak masalah selama lawanku lebih kuat dariku." Batin Mata Geni.Setelah bentrokan terakhir. Mata Geni melompat mundur, dadanya naik turun dan tangan kanannya gemetar memegang pedang neraka. Namun wajahnya terlihat gembira dengan senyum tulus."Kau cukup hebat anak muda. Kita akhiri saja pertarungan ini. Aku tidak akan menyesal jika mati ditanganmu. Hahaha." Ucap Mata Geni perlahan mengeluarkan semua tenaga dalamnya dan menyalurkan ke pedang neraka yang sedang dipegangnya. Pedang neraka mengobarkan api merah yang lebih panas dari sebelumnya."Jangan manahan dirimu anak muda."Ucap Mata Geni kemudian dengan sisa tenaganya dia melesat kearah Dipa."Tentu saja. aku tidak akan menahan.Hiyaa." Ucap Dipa menyambut seragan Mata Geni.Duarrrr!Ledakan







