LOGINDARI balik kerimbunan hutan berpohon rapat, terdengar suara jeritan yang panjang dan memilukan. Siapa yang menjerit, itu tak jelas. Yang pasti jeritan itu adalah jeritan kematian. Suaranya yang melengking menggema panjang itu bagaikan membangunkan setiap jasad yang sudah terkubur mati.
Sementara itu, hembusan angin cukup kencang dan menderu. Gumpalan awan hitam bergulung-gulung di langit, menyekap matahari, membuat alam terasa mati. Sesekali terdengar gelegar petir melecutkan lidahnya
"Dia menyelamatkan nyawaku dari ancaman maut si Dupa Dewa, Paman. Entah apa maksudnya bersikap begitu, mungkin ingin kupuji atau ingin tunjukkan ilmunya yang cetek itu padaku. Yang jelas, para mudi Perguruan Serikat Jagal akan benci jika melihat si Dogol ini, sebab ia murid murtadnya Dupa Dewa!""Murid murtad berani nekat. Dia bikin jiwaku hampir sekarat karena serangannya yang tiba-tiba melesat! Aku perlu membalasnya supaya ia tidak kualat dan menjadi orang sesat!"Comblang Sajak mulai kerahkan tenaga dengan mengangkat kedua tangannya. Tetapi Gadis Dungu segera mencegah dengan satu tangan terangkat ke depan. "Tak perlu, Paman. Dia bukan orang tandingan kita. Paman Comblang Sajak hanya akan buang-buang tenaga jika melawan si Dogol. Ada baiknya kita bicara saja, apa perlunya Paman sembunyi di balik semak tadi?"Comblang Sajak hembuskan napas dan kendorkan urat-uratnya. Ia tak berani melanggar larangan si Gadis Dungu. Namun di belakang si Gadis Dungu, wajah Baraka
Mata bulat bening berbulu lentik itu alihkan pandang dengan sikap angkuh. Bibir mungil menggemaskan masih mencibir sinis seraya berucap kata dengan nada ketus, "Pura-pura tidak tahu! Bukankah kau sudah mengenal namaku sebagai Gadis Dungu! Kurasa semua murid Perguruan Serikat Jagal mengenal nama Gadis Dungu sebagai namaku! Tak usah berlagak bodoh kau, nanti kalau ada setan lewat kau benar-benar bodoh melebihi seekor kerbau!""Aku bukan murid Perguruan Serikat Jagal!" sentak Baraka dengan menggeram dongkol."Kalau begitu kau seorang pengkhianat yang sudah murtad dari ajaran gurumu; si Dupa Dewa itu!""Terserah! Anggap saja begitu!" jawab Baraka dengan ketus pula, wajahnya menjadi keruh karena bersungut-sungut."Lalu, siapa namamu!" tanya si gadis dengan acuh tak acuh setelah keduanya sama-sama diam dua helaan napas. "Namaku... namaku ya itu tadi; Baraka!""Ah, jawab yang benar!" sambil tangannya mengipas di depan hidung, lalu ia bersidekap dengan gen
2 Hari itu tidak ada gadis yang lebih beruntung daripada si Gadis Dungu. Tepat nyawanya terancam 'Racun Jamur Setan' Pendekar Kera Sakti datang menolongnya. Dalam keadaan sekarat, Baraka berhasil menyedot 'Racun Jamur Setan' itu dengan Suling Naga Krishna-nya dan dilanjutkan dengan menyembuhkan luka Gadis Dungu dengan hawa ‘Kristal Bening’. Akibatnya, keganasan 'Racun Jamur Setan' pun dapat dikalahkan. Gadis Dungu menjadi sehat, bahkan merasa seperti tidak pernah mengalami luka apa pun.Bilur-bilur merah akibat jurus 'Petir Menangis' yang hampir mencabik-cabik kulitnya itu pun lenyap tanpa bekas seujung jarum pun. Ketika gadis berjubah merah menyadari keadaannya yang telah pulih kembali, bukan ucapan terima kasih yang terlontar pertama kali dari mulutnya, melainkan sebuah pertanyaan yang bernada heran ditujukan untuk dirinya sendiri."Mengapa aku masih hidup?" sambil pandangi tubuhnya sendiri, tangannya, kakinya, dadanya, lalu buru-buru menatap ke depan. Di
Wuuutt...! Deeeb...!"Eehg...!" Gadis Dungu tersentak dan terjungkal ke depan, lalu berguling-guling. Suara gendang lenyap seketika. Kedua orang berwajah angker itu terkulai lemas di rerumputan. Tubuh mereka terkapar bermandi darah dengan napas masih ngos-ngosan.Sementara itu, si Gadis Dungu segera memuntahkan darah kental kehitam-hitaman. Tubuhnya berlutut dengan tangan berpegangan pada sebongkah batu setinggi perut manusia dewasa. Ia memuntahkan darah beberapa kali dan tampaknya tak bisa bergerak lagi. Keadaan itulah yang membuat mata si Pendekar Kera Sakti menjadi tegang tak berkedip."Celaka! Siapa orang yang menghantam si Gadis Dungu dengan sinar merah yang mirip senjata cakra tadi!" pikir Baraka dengan mata mulai bergerak nanar."Pertarungan ini benar-benar pertarungan yang curang!" geram Baraka, seakan hatinya tak bisa menerima perlakuan si penyerang gelap yang membokong Gadis Dungu itu.Baru saja ia ingin bergerak terjun ke tengah pertarungan tersebut, tiba-tiba sekelebat bay
Baraka membatin, "Siapa pun mereka, aku harus hentikan pertarungan ini. Karena jika ada orang lain yang tidak terlibat tapi mendengar desing gesekan kedua golok tadi, pasti akan mengalami luka yang cukup berbahaya!"Si kumis lebat berkata kepada si brewok, "Togayo, jangan biarkan ia bertahan! Kita cabik-cabik tubuh gadis bodoh itu dengan jurus kita sekali lagi!""Aku sudah siap, Gayong! Heeeeaah...!"Gayong, si kumis lebat, dan Togayo si brewok, mulai kelebatkan senjata mereka untuk saling digesekkan kembali. Baraka sudah bersiap melepaskan pukulan jarak jauhnya berupa sentilan dari jari tangannya yang mengandung kekuatan tenaga dalam sebesar tendangan kuda binal itu.Namun agaknya jurus 'Jari Guntur' si Pendekar Kera Sakti terpaksa ditahan untuk sementara. Baraka menjadi penasaran karena ingin melihat sejauh mana perempuan yang dipanggil Gadis Dungu itu bertahan. Karena beberapa kejap setelah Gayong berseru membangkitkan tenaga dalamnya, Gadis Dungu tamp
"Mengapa kedua orang itu terengah-engah kecapekan!" tanya Baraka dalam batinnya. "Tampaknya gadis itu tak keluarkan tenaga sedikit pun, sehingga tampak tenang dan tak ada kelelahan pada dirinya. Diapakan kedua orang berwajah angker itu!"Dari tempatnya bersembunyi, Baraka mendengar ucapan si gadis yang ditujukan kepada kedua lawannya dalam jarak sepuluh langkah kurang itu. "Sebaiknya kalian tak perlu memburuku lagi. Ku ingatkan pada kalian agar pulang dan temui guru kailan, katakan bahwa aku bukan gadis kemarin sore yang mudah ditumbangkan!"Si brewok berusaha bangkit berdiri dengan sedikit sempoyongan karena kedua kakinya terasa lemas. Ia masih mencoba untuk bersikap angker dan bicaranya masih bernada penuh geram kemarahan. Ia menuding si gadis dengan pergunakan goloknya."Jangan merasa unggul dulu, Gadis Dungu! Kami belum merasa kalah melawanmu. Kalau kau sanggup menghindari jurus gabungan kami yang bernama jurus 'Petir Menangis', barulah kau boleh merasa ungg
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai
“Buktinya kau sudah pandai mencium bibirku""mencium bibir itu kan pekerjaan yang mudah. Yang sulit mencium anak panah!" Baraka menanggapi dengan kelakar, Muria Wardani geli. Keiakar itulah yang sering membuat Muria Wardani merasa betah bicara dengan Pendekar Kera Sakti.&ldqu
Orang yang tidur dengan berjalan, yang bisa bertarung sambil mendengkur, tak ada lain kecuali si Bwana Sekarat utusan dari Pulau Serindu yang mempunyai ratu Hyun Jelita alias Gusti Mahkota Sejati Ratu Ayu Sejagat. maka ketika Baraka tampil di depan para prajurit kadipaten, maka ia beri isyarat ke
Gusraak...!Ia buru-buru bangkit karena mendengar seruan Dewi Gapit Mesra yang bergegas menyerangnya kembali."Hiaaat...!" Lompatannya kali ini menyerupai seekor singa betina yang buas dan sangat bernafsu terhadap mangsanya. Senjata cakra bergerigi itu dikibaskan ke arah dada Telaga







