Mag-log inKini pedang emas sudah ada di tangan Baraka. Dan tubuh Rangka Cula yang terkena jurus 'Yudha' itu menjadi terpotong-potong dengan sendirinya setiap ruasnya, sampai terakhir kepalanya jatuh ke tanah dalam keadaan sudah tidak sempurna lagi.
Brukk...!
Tubuh Rangka Cula rubuh dalam keadaan paha dan lutut sudah terpisah. Dan itulah kehebatan jurus 'Yudha', yang menjadi satu dengan jurus 'Manggala', pemberian dari seorang ratu di alam gaib, yaitu Ratu Hyun Ayu Kartika Wangi.
"B
Sindiran itu tak dihiraukan oleh Rara Santika. Dalam benak perempuan cantik itu sudah dipenuhi oleh kecamuk yang menegangkan, sehingga ia bagaikan kehilangan selera bercinta, bagaikan tak memiliki hasrat untuk bermesraan, ia pandangi Baraka dengan sorot pandangan mata cukup tajam. Baraka jadi salah tingkah sendiri."Berarti semalam ia telah datang ke tempat kita, Baraka. Semalam ia telah... telah merenggut kehangatanmu ketika kau tidur dengan nyenyak.""Dia atau kau?" pancing Baraka dengan kalem."Dia!" sentak Rara Santika dengan jengkel, karena ia malu jika dituduh merenggut kehangatan Baraka pada saat si tampan tertidur. "Aku tidak pernah lakukan hal seperti itu. Jangan rendahkan diriku, Baraka!""Mengapa aroma wangimu masih tertinggal di kulit tubuhku?""Sumina juga mempunyai keringat beraroma wangi seperti yang kumiliki. Ketika kami masih berusia delapan hari, kami dimandikan oleh Ayah di Telaga Seribu Bunga, sebelum telaga itu kering akibat ke
BERULANG kali Rara Santika menyarankan agar Baraka tidak coba-coba menantang pertarungan dengan Gundik Sakti. Tetapi saran itu justru memacu semangat Baraka untuk segera menemui Gundik Sakti dan lakukan pertarungan. Repotnya, kepercayaan Baraka kepada Rara Santika menjadi semakin tipis setiap kali Rara Santika memberi saran untuk tidak melawan Gundik Sakti."Satu hal perlu kau ketahui, bahaya yang akan mengancammu dan sulit kau hindari jika berhadapan dengan saudara kembarku itu adalah kekuatan ilmu peletnya," kata Rara Santika ketika mereka melangkah tinggalkan kedai. "Sumina mempunyai ilmu pemikat sangat kuat. Jika ia berkeliaran, bukan hanya seorang perawan yang dicarinya untuk tumbal Darahkula, tetapi ia juga mencari seorang lelaki muda dan tampan untuk dijadikan pemuas gairahnya. Dan apabila lelaki itu sudah tidak mampu lagi memuaskan hasratnya, orang itu akan dibunuh atau dijadikan budak penggali terowongan bawah tanah.""Aku masih bisa atasi hal itu.""Ti
"Apakah kau juga tinggal di Gua Tumbal Perawan?"Rara Santika menggeleng. "Sejak berusia empat tahun kami berpisah, sebab perkawinan kedua orangtua kami mengalami perceraian. Sumina diambil Ibu dan aku dibesarkan oleh Ayah. Sayang keduanya kini telah tiada, sehingga tak bisa dijadikan saksi bahwa aku bukan Sumina, bukan si Gundik Sakti.""Siapa nama ibumu?" pancing Baraka ingin mencocokkan dengan penjelasan Resi Pakar Pantun tempo hari."Ibuku dikenal dengan nama Nyai Selir Iblis, sedangkan ayahku dikenal dengan nama Ki Panjuru Gesang.""Hmmm... ya, nama ibunya persis seperti nama yang disebutkan Resi Pakar Pantun," gumam Baraka dalam hatinya."Belasan tahun aku dan Sumina tidak pernah saling jumpa, karena Ayah dan Ibu menjadi bermusuhan. Ayah beraliran putih, sedangkan Ibu tak mau ikut aliran Ayah, sehingga terjadilah perceraian itu. Sesekali aku mendengar kabar tentang saudara kembarku itu, sesekali pula Sumina mendengar kabar tentang kemajuanku.
“Aaahg, aaahg, aaahg...!" Jejak Setan mengejang-ngejang di tanah. Beberapa saat kemudian segera hembuskan napas panjang-panjang, lalu diam tak bergerak karena ditinggal pergi oleh rohnya.Pendekar Kera Sakti tertegun bengong pandangi kematian Jejak Setan. Rasa sesal timbul dalam hatinya karena ia terlambat mencegah hantaman Rara Santika. Semula ia pikir Jejak Setan mampu bertahan dan akan larikan diri sebelum mengalami luka parah tapi ternyata Rara Santika tak memberi kesempatan kepada Jejak Setan untuk larikan diri. Serangannya yang beruntun telah membuat lawannya tumbang dan tak bernyawa lagi.Ketika pandangan mata Baraka dan Rara Santika bertemu, perempuan itu menampakkan sikap kesalnya, seakan tak mau disalahkan. Bahkan ia berkata dengan nada dingin."Dia menyerangku lebih dulu. Sudah kuperingatkan agar jangan menyerangku tapi ia nekat. Aku sekadar membela diri untuk selamatkan nyawaku!""Kita tinggalkan saja tempat ini! Kau ikut aku ke desa men
Jleeg...! Ia berdiri tegak menghadap ke arah datangnya sinar merah tadi."Keluar kau. Setan! Untuk apa bersembunyi di balik semak, karena aku dapat membunuhmu dari sini sekarang juga!"Wuuuuusss...!Sesosok tubuh melompat dari balik semak. Orang itu bersalto dua kali di udara, lalu dalam sekejap sudah berada di depan Rara Santika dalam jarak empat langkah. Baraka sempat terbelalak kaget melihat kehadiran orang tersebut, sebab ia merasa kenal dengan tokoh yang baru saja muncul dari semak-semak."Jejak Setan...!" gumam Baraka pelan sekali. Lelaki bertampang seram yang mengenakan pakaian serba hitam itu berusia sekitar lima puluh tahun. Baraka belum lama ini berhadapan dengan si Jejak Setan, murid dari mendiang Nyai Pegat Raga. Sekalipun Jejak Setan bertubuh kekar, namun Baraka sempat membuatnya lari terbirit-birit ketika Baraka melindungi Resi Pakar Pantun yang nyaris ditumbangkan oleh si Jejak Setan.Untuk menyadap pembicaraan Jejak Setan dengan Rar
Menurut Rara Santika, tak jauh dari tempat itu ada sebuah desa. Di sana mereka bisa dapatkan makanan sebagai pengisi perut. Baraka segera mengajak Rara Santika untuk mencari kedai di desa tersebut."Kau saja yang ke sana," ujar Rara Santika. "Aku menunggumu di sini. Bawalah makanan kemari dan kita makan bersama di sini.""Mengapa kau tak mau pergi ke desa itu? Mengapa harus menunggu di sini?" tanya Baraka bernada curiga.Rara Santika tidak langsung menjawab, melainkan diam termenung beberapa saat. Setelah Baraka mengulangi pertanyaannya, perempuan cantik itu pun akhirnya menjawab dengan suara lirih bernada duka, tubuhnya disandarkan di sebuah pohon yang menjulang tinggi."Kehadiranku di desa itu hanya akan menimbulkan masalah.""Masalah apa?" desak Baraka semakin ingin tahu."Kesalahpahaman."Perempuan itu menjawab pendek sambil menatap bola mata Pendekar Kera Sakti. Jaraknya yang hanya dua langkah itu membuat Baraka dapat rasakan get
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai
“Buktinya kau sudah pandai mencium bibirku""mencium bibir itu kan pekerjaan yang mudah. Yang sulit mencium anak panah!" Baraka menanggapi dengan kelakar, Muria Wardani geli. Keiakar itulah yang sering membuat Muria Wardani merasa betah bicara dengan Pendekar Kera Sakti.&ldqu
Orang yang tidur dengan berjalan, yang bisa bertarung sambil mendengkur, tak ada lain kecuali si Bwana Sekarat utusan dari Pulau Serindu yang mempunyai ratu Hyun Jelita alias Gusti Mahkota Sejati Ratu Ayu Sejagat. maka ketika Baraka tampil di depan para prajurit kadipaten, maka ia beri isyarat ke
Gusraak...!Ia buru-buru bangkit karena mendengar seruan Dewi Gapit Mesra yang bergegas menyerangnya kembali."Hiaaat...!" Lompatannya kali ini menyerupai seekor singa betina yang buas dan sangat bernafsu terhadap mangsanya. Senjata cakra bergerigi itu dikibaskan ke arah dada Telaga







