LOGINKini pedang emas sudah ada di tangan Baraka. Dan tubuh Rangka Cula yang terkena jurus 'Yudha' itu menjadi terpotong-potong dengan sendirinya setiap ruasnya, sampai terakhir kepalanya jatuh ke tanah dalam keadaan sudah tidak sempurna lagi.
Brukk...!
Tubuh Rangka Cula rubuh dalam keadaan paha dan lutut sudah terpisah. Dan itulah kehebatan jurus 'Yudha', yang menjadi satu dengan jurus 'Manggala', pemberian dari seorang ratu di alam gaib, yaitu Ratu Hyun Ayu Kartika Wangi.
"B
"Mengapa kedua orang itu terengah-engah kecapekan!" tanya Baraka dalam batinnya. "Tampaknya gadis itu tak keluarkan tenaga sedikit pun, sehingga tampak tenang dan tak ada kelelahan pada dirinya. Diapakan kedua orang berwajah angker itu!"Dari tempatnya bersembunyi, Baraka mendengar ucapan si gadis yang ditujukan kepada kedua lawannya dalam jarak sepuluh langkah kurang itu. "Sebaiknya kalian tak perlu memburuku lagi. Ku ingatkan pada kalian agar pulang dan temui guru kailan, katakan bahwa aku bukan gadis kemarin sore yang mudah ditumbangkan!"Si brewok berusaha bangkit berdiri dengan sedikit sempoyongan karena kedua kakinya terasa lemas. Ia masih mencoba untuk bersikap angker dan bicaranya masih bernada penuh geram kemarahan. Ia menuding si gadis dengan pergunakan goloknya."Jangan merasa unggul dulu, Gadis Dungu! Kami belum merasa kalah melawanmu. Kalau kau sanggup menghindari jurus gabungan kami yang bernama jurus 'Petir Menangis', barulah kau boleh merasa ungg
KAKI Gunung Tunggir yang biasanya dilanda sunyi, kali ini dihiasi dengan suara-suara aneh. Hembusan angin yang menuju ke barat membawa gelombang suara aneh terasa janggal bagi telinga seorang pemuda berambut poni. Pemuda yang memiliki rajah naga emas melingkar di punggung lengannya itu hentikan langkah sejenak kala telinganya menangkap suara aneh tersebut."Suara apa itu sebenarnya? Seperti suara kodok, tapi lebih mirip suara burung gagak? Atau jangan-jangan suara kodok yang sedang mau ditelan burung gagak? Jangan-jangan suara burung gagak yang sudah ditelan seekor kodok?" pikir si pemuda berompi tanpa lengan itu. Pemuda itu tak lain adalah Pendekar Kera Sakti atau yang lebih dikenal dengan nama Baraka. Kadang ada yang menjulukinya dengan nama Tabib Suling Dewa, sebab ia mampu sembuhkan berbagai macam penyakit dengan kesaktiannya.Namun beberapa orang sering memanggilnya dengan nama sanjungan 'si tampan', karena memang ia mempunyai wajah tampan dan senyum menawan yang
Kedua perempuan itu mengadu kipas di udara. Ledakan besar terjadi bersama menyebarnya sinar biru terang dari perpaduan kedua kipas tersebut. Salah satu kipas terpental dan hancur berkeping-keping. Tapi perempuan yang tanpa kipas itu masih tampak berani lakukan penyerangan terhadap lawannya, ia berjumpalitan di tanah beberapa kali, kemudian berhenti dalam keadaan berlutut satu kaki dan sentakkan tangannya ke depan. Sinar merah lurus keluar dari ujung jari tangannya yang menguncup itu.Slaaap...!Sinar lurus dihadang oleh kipas yang dikembangkan di depan dada.Deeb...! Blaaarr...!Zlaaap...! Orang yang memegang kipas lenyap seketika. Bukan hancur karena hantaman sinar tadi, melainkan berpindah tempat di belakang orang yang tidak memegang kipas, ia mampu bergerak luar biasa cepatnya, hingga tak terlihat ke mana arah gerakannya. Tahu-tahu ia tebaskan kipasnya ke punggung la wan.Wuuuut...! Breeett...!"Aaahg...!" perempuan yang tak berkipas meme
Orang yang baru datang berwajah kembar dengan Rara Santika itu pandangi Baraka dengan tajam. Tapi sebelum ia bicara, Rara Santika lebih dulu dekati Baraka dan berkata. "Cantik sekali adik kembarku itu, bukan! Tapi sayang dia berada di jalan yang sesat! Perhatikan kesamaannya denganku. Bukankah hal yang pantas jika setiap orang menyangka diriku adalah Gundik Sakti! Padahal dialah orang yang selama ini berjuluk si Gundik Sakti.""Aku bukan Gundik Sakti!" seru perempuan yang baru datang itu. "Aku adalah Rara Santika! Kau jangan melemparkan dosa padaku, Sumina!" tudingnya kepada perempuan yang di samping Baraka.Perempuan itu hanya tersenyum sinis, lalu berkata kepada Baraka dengan nada manja, "Dia ketakutan kepada kita, sebab dia tahu jika kekuatan kita menjadi satu, dia akan hancur lebur dalam sekejap saja! Tapi, aku tak ingin kau ikut celaka. Kalau tubuhmu luka atau lecet sedikit saja, nanti masa bercumbu kita kurang hangat, Baraka. Sebaiknya kau menyisi dulu, biar kuha
Raja Maut kerahkan tenaganya dengan tangan membuka ke atas membentuk cakar pada jari-jarinya. Tangan itu segera menyentak ke sana-sini dengan cepat, kemudian berhenti di pertengahan dada. Seluruh jarinya menggenggam kecuali jari tengah dari kedua tangan. Jari tengah itu saling merapat, kemudian dengan kaki menghentak ke bumi, kedua tangan yang jari tengahnya saling merapat lurus itu menyentak ke depan.Suuut...!Selarik sinar biru tanpa putus melesat dari ujung kedua jari tengah itu. Sinar itu semakin jauh semakin melebar dan membesar, hingga akhirnya menghantam tubuh Rara Santika. Namun dalam jarak dua langkah sebelum mencapai tubuh perempuan montok itu, sinar biru tersebut telah pecah menyebar dan menimbulkan ledakan yang amat dahsyat.Blegaaaarrr...!Air sungai meluap seketika, tanah bagaikan dihentak gelombang dari kedalaman bumi. Batu-batuan terpental, ada yang pecah seketika, ada pula yang hanyut terbawa arus sungai. Pepohonan tumbang beberapa bagia
Suara tua si Raja Maut masih terdengar cukup lantang, wajahnya kelihatan memancarkan kemarahan cukup besar, ia berseru kembali kepada Rara Santika, "Gundik Sakti, mata tuaku ini tak bisa ditipu oleh kelicikanmu! Aku masih cukup jelas mengenalimu sebagai orang yang membawa lari muridku; Sri Murti, dan menjadikannya sebagai tumbal tiga purnama yang lalu! Sekarang aku menuntut balas atas kematian muridku itu, juga atas kematian para tumbal lainnya!""Jika kau masih bersikeras untuk mengadu kesaktian denganku, aku pun akan melayanimu dengan senang hati, Monyet Tua!" seru perempuan itu dengan keras dan berkesan kasar, ia segera dekati Baraka yang sedang bingung dalam mengambil sikap dan berbisik lirih, "Menjauhlah sedikit, biar kubereskan dulu si monyet tua ini! Jangan ikut campur, karena dia berilmu lumayan tinggi.""Mengapa... mengapa ia bersikeras menganggapmu sebagai Gundik Sakti, Santika?""Itulah kebodohannya. Kebodohan itu harus dibantai agar tidak menular kep
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai
“Buktinya kau sudah pandai mencium bibirku""mencium bibir itu kan pekerjaan yang mudah. Yang sulit mencium anak panah!" Baraka menanggapi dengan kelakar, Muria Wardani geli. Keiakar itulah yang sering membuat Muria Wardani merasa betah bicara dengan Pendekar Kera Sakti.&ldqu
Orang yang tidur dengan berjalan, yang bisa bertarung sambil mendengkur, tak ada lain kecuali si Bwana Sekarat utusan dari Pulau Serindu yang mempunyai ratu Hyun Jelita alias Gusti Mahkota Sejati Ratu Ayu Sejagat. maka ketika Baraka tampil di depan para prajurit kadipaten, maka ia beri isyarat ke
Gusraak...!Ia buru-buru bangkit karena mendengar seruan Dewi Gapit Mesra yang bergegas menyerangnya kembali."Hiaaat...!" Lompatannya kali ini menyerupai seekor singa betina yang buas dan sangat bernafsu terhadap mangsanya. Senjata cakra bergerigi itu dikibaskan ke arah dada Telaga







