LOGIN"Jadi... selama ini kaulah yang memberi kabar tentang pemuda-pemuda yang akan diculiknya?"
"Ya. Karena itu syarat untuk menjadi muridnya."
"Kau salah, Sundari. Kau tidak boleh membantu pihak yang sesat seperti Nyai Sedah itu."
"Tapi aku ingin memiliki ilmu seperti yang dimilikinya!"
"Ada jalan lain, tanpa harus membantunya melakukan kejahatan."
Sundari kian menangis di sela malam bercahaya rembulan. Baraka mencoba memahami jalan pikiran lugu gadis desa itu.
"Hei, hei... orangnya sudah pergi dari tadi kok masih tuding-tuding terus!" tegur Baraka sambil mencolek pundak gadis buta itu."Aku tahu kalau dia sudah pergi. Aku memaki bekas tempatnya jatuh tadi!" Salju Kelana tak mau disalahkan agar tak terlihat kebutaannya."Siapa nenek itu tadi?""Nyai Bantat Maki, bibinya Calo Mayat.""Ia juga tokoh sesat, tukang teluh upahan!" kata Hantu Laut yang sudah mulai segar kembali itu. "Dulu aku dan Tapak Baja pernah menghajarnya sampai hampir mati. Sekarang dia mau balas dendam padaku. Padahal yang banyak menghajarnya adalah mendiang si Tapak Baja!""Sekarang dia sudah pergi, takut dengan sahabat cantikku ini, Hantu Laut," Baraka membanggakan kecantikan Salju Kelana dengan suara agak keras. Hantu Laut hanya menyeringai dengan mata menatap gadis itu tanpa mau berkedip lagi."Kudengar kau sahabat Pendekar Kera Sakti, Hantu Laut. Berarti kau sahabatku juga."Hantu Laut menjawab, "Tidak. Aku tidak seheb
Percakapan tersebut sebenarnya ingin dilanjutkan, namun Baraka melihat Hantu Laut terkena pukulan tenaga dalam sang nenek melalui tongkatnya. Tubuh besar itu tumbang terjungkal dan tak mampu bangkit lagi. Hantu Laut mengerang kesakitan sambil pegangi dadanya yang membiru legam itu. Sang nenek semakin buas, ia segera menghantamkan kepala tongkatnya untuk memecahkan kepala gundul si Hantu Laut."Sekaranglah saatnya kubalas dendamku padamu, murid orang sesat! Heeeaaaah...!"Pendekar Kera Sakti cepat sentakkan tangan, dan nyala sinar biru berkelok-kelok bagai lidah petir melesat dari telapak tangan itu, Pukulan 'Cahaya Kilat Biru' menghantam tongkat sang nenek dari kejauhan.Wuuus...!Duaaarrr...! Sang nenek berjubah merah terpental berjungkir balik di udara. Tongkatnya terlepas dari genggamannya. Ia jatuh setelah membentur pohon.Pendekar Kera Sakti segera melesat ke pertengahan jarak antara sang nenek dan Hantu Laut.Zlaaap...! Jleeg...!
ATAS saran dan bujukan Baraka, Salju Kelana tak jadi menghadiri undangan pertemuan di Kadipaten Balungan. Ia diminta ikut membantu menyelesaikan perkara kematian Tabib Getar Hati. Ternyata Salju Kelana bersedia membantu menyingkapkan tabir misteri pembunuhan sang tabib itu."Tapi benar bukan kau pelakunya!""Aku berani sumpah, biar cacat seumur hidup jika aku membunuh Tabib Getar Hati," ujar Salju Kelana."Aku datang untuk minta disembuhkan dari pengaruh Racun Hitam ini. Tapi setelah dilakukan penyembuhan, Tabib Getar Hati menyatakan tidak sanggup menangkal racun dalam tubuhku ini. Aku disarankan untuk mencari tabib lain. Salah satu nama yang disebutkan adalah namamu: Tabib Suling Dewa. Setelah itu aku pamit pergi mencari Tabib Suling Dewa.""Kapan hal itu terjadi?" potong Baraka."Lima hari yang lalu," jawab Salju Kelana tak ada kesan berbohong sedikit pun. Pendekar Kera Sakti manggut-manggut. Ia mengenang saat-saat lima hari yang lalu, di mana ka
"Jangan menyentuhnya, Putri Malu!" sentak Salju Kelana."Ak... aku... aku tidak sengaja melukainya. Aku... oh, semua ini gara-gara kau, Setan!" pekik Anggani dengan gusar sekali, ia merasa menyesal melepaskan pukulan berbahaya itu ke arah Baraka. Pukulan itu mestinya ditujukan untuk Salju Kelana, karena dapat menghancurkan tubuh lawan menjadi serpihan kecil-kecil. Jika ternyata keadaan Baraka masih utuh walau mengalami luka bakar yang amat berbahaya, itu lantaran tenaga dalam yang melapisi tubuh Pendekar Kera Sakti cukup besar dan mampu menahan sinar merahnya Anggani.Sekalipun demikian, Anggani merasa sangat menyesal, karena bagaimanapun juga Baraka pernah berjasa padanya; membebaskan Tabib Getar Hati dari tawanan Ratu Sukma Semimpi. Tak patut rasanya jika ia harus melukai Baraka separah itu."Tinggalkan kami dan jangan kau bertemu denganku lagi kalau ingin umurmu panjang!" kata Salju Kelana dengan nada berat, pertanda ia menahan kemarahannya."Aku harus
"Salju Kelana, sudah berapa hari ini aku mencarimu, dan ternyata kutemukan kau di sini!""Untuk apa kau mencariku! Nada bicaramu menandakan kemarahan yang besar. Jelaskan persoalannya supaya kita tidak sailng bunuh secara sia-sia.""Tidak ada pembunuh yang sia-sia bagiku, karena aku mencarimu untuk menuntut balas atas kematian ibuku.""Hahh...!" Pendekar Kera Sakti terperangah kaget.Salju Kelana hanya kerutkan dahi dan diam beberapa saat. Perempuan bertongkat itu merasa heran mendengar kabar tersebut, terlihat dari raut mukanya yang langsung berkerut dahi dan membungkam mulutnya."Siapa yang membunuh ibumu?" Baraka ingin mengulang jawaban tersebut. Karena dalam hatinya merasa ragu jika Anggani menuduh Salju Kelana sebagai pembunuh ibu Anggani; Tabib Getar Hati."Siapa lagi yang membunuhnya kalau bukan tamu terakhir yang datang kepada ibu dan meminta tolong untuk disembuhkan dari kebutaannya! Dialah orangnya yang membunuh ibuku, Baraka! Kala
Pendekar Kera Sakti merasa dilecehkan oleh kata-kata Salju Kelana, namun ia menerimanya dengan lapang dada. Ia sendiri heran, mengapa kebutaan Salju Kelana belum sembuh juga. Mungkinkah racun yang membutakan mata Salju Kelana itu tidak bisa ditangkal? Lalu dengan apa cara memulihkan penglihatan Salju Kelana itu? Keadaan seperti itu sangat diperhatikan oleh Pendekar Kera Sakti, membuat hati Baraka sangat prihatin dan sedih. Karena saat ia memandang Salju Kelana dalam kebutaan, ia seperti memandang kekasihnya; Hyun Jelita dalam kebutaan juga. Secara tidak sadar Baraka merasa ikut bertanggung jawab memulihkan keadaan Salju Kelana.Padahal jika Salju Kelana tidak mirip dengan Hyun Jelita mungkin Baraka tak begitu merasa menderita melihat sang gadis berjalan meraba-raba dengan tongkatnya."Sebenarnya kau ingin pergi ke mana, Salju Kelana?" tanya Baraka sambil memandangi gadis itu tiada habis. Kemiripannya yang seperti Hyun Jelita digunakan oleh Pendekar Kera Sakti untuk mel
Sejak tadi Dayang Selatan berdiri bagai mematung memandang ke arah jurang. Remang-remang cahaya rembulan tampakkan lekak-lekuk jurang dengan beberapa tanaman di tebingnya yang merimbun. Dasar jurang terlalu jauh untuk dilihat dan terlalu gelap, karena tak sepenuhnya mendapatkan sinar rembulan bil
"Jangan diam saja!" bentak Nyi Sumirah. "Tinggalkan dia di situ. Pergilah sana, cepat!""Aku akan membawa pergi pemuda ini! Apa pun yang terjadi, aku harus membawanya pulang ke perguruanku!""Persetan dengan perguruanmu! Hiaaah...!" Badik itu segera ditusukkan ke perut Ratna Pamegat
Trangngng..!Suaranya nyaring sekali. Kejap berikutnya, Yayi menggunakan jurus 'Mata Malaikat'. Seharusnya dada Baraka bolong dalam satu tusukan pedang dengan kecepatan tinggi. Tapi nyatanya ujung pedang itu justru dijepit dengan dua jari Pendekar Kera Sakti tepat di depan dada.Tab
Wusss... wusss...!Zrattt.. ! Mereka saling memunggungi. Sama-sama diam tak bergerak. Posisi mereka tetap dalam kuda-kuda kokoh. Semua mata memandang tak berkedip. Tak bersuara. Dan tiba-tiba terdengar suara tetes air menggema di ruangan yang sunyi itu.Tes... tes... tes...!







