INICIAR SESIÓNSetelah memutar mata cincin menjadi ada dalam telapak tangannya, Bulan Sekuntum berpikir kembali kepada hilangnya Baraka. Bahkan ia segera turun lagi dari atas bukit cadas itu, menuju ke tempat di mana Baraka diletakkan bersama suling mustikanya, ia memeriksa tempat itu dengan lebih teliti lagi.
"Suling mustikanya tidak ikut pergi? Berarti ada orang yang mencuri tubuh Baraka dan tidak peduli dengan suling mustika ini! Hmmm..., sebaiknya aku harus segera mencari Baraka dan suling mustik
"Tentu. Tapi suling bukan sembarang suling. Harus suling mustika. Jadi jika kau ingin bisa begitu, kau harus punya suling mustika seperti yang kumiliki ini."Baraka berkata begitu sambil menunjukkan suling mustikanya yang dipegangnya. Dan pada saat itulah seberkas sinar merah melesat dari balik sebuah pohon di belakang Cumbu Bayangan. Sinar itu tidak ditujukan untuk Cumbu Bayangan, namun ada seseorang yang dengan sengaja ingin menghantam Baraka menggunakan sinar merahnya itu.Weeess...!Tentu saja Pendekar Kera Sakti mudah menangkisnya karena saat itu sedang memegang Suling Naga Krishna. Dengan badan sedikit melompat seperti kera, suling mustika itu digunakan untuk menangkis sinar merah tersebut.Deeb...!Wwuusss...! Sinar merah itu membalik arah dengan lebih cepat dan lebih besar. Akibatnya sebuah pohon menjadi sasaran sinar merah besar itu.Blegeerr...!Pohon itu hancur lebur menjadi serpihan-serpihan kecil. Sampai akarnya pun tak t
Suttt...! Dan dari tengah dahi si orang tua itu melesat sinar putih lurus bagaikan sebatang kawat baja yang menghantam ke arah dada Baraka.Clappp...!Baraka menangkisnya dengan suling ditangan. Kemudian sinar itu membalik dengan lebih cepat dan lebih besar lagi.Wesss...!"Konyol!!" sentak si Poci Dewa sambil melompat bersalto ke arah samping. Sinar putihnya yang membalik akhirnya menghantam sebongkah batu besar jauh di belakang tempat berdirinya semula.Blegarrr...!Batu besar itu pecah dan menghamburkan kerikil-kerikil ke udara jumlahnya hampir ribuan kerikil. Ketika salah satu kerikil sempat melesat jatuh di kaki Cumbu Bayangan, gadis itu terbelalak melihat batuan kerikil itu menjadi debu putih yang menggumpal. Sekali injak lenyap."Gila betul pemuda itu! Dia bisa membalikkan jurus berbahaya itu dan menambah kekuatannya. Padahal jika jurus itu tidak memantul balik, hanya akan membuat batu itu hancur menjadi serpihan kecil, tapi ti
"Wah, gadis itu bakal remuk nganggur kalau begitu caranya?" pikir si pengintai.Kemudian ia melesat keluar dari persembunyiannya.Zlappp...!Dalam sekejap ia sudah berada di depan Poci Dewa. Mata si Poci Dewa terkesiap memandang kemunculan seorang pemuda yang tidak diketahui dari mana datangnya. Pemuda itu berambut poni tak mengenakan ikat kepala. Bajunya rompi berwarna keemasan tanpa lengan. Di punggung lengannya terlihat rajah naga emas melingkar. Melihat ciri-ciri seperti itu, Poci Dewa langsung sadar akan siapa yang ada di depannya saat itu."Kau...!""Aku bukan kau. Aku Baraka, Eyang.""Iya, maksudku mau bilang; kau Pendekar Kera Sakti, mau apa menghadapku tanpa memberi kabar sebelumnya?""Bagaimana aku mau memberi kabar kepadamu, Eyang. Aku belum tahu siapa dirimu!""Aku yang berjuluk Poci Dewa! Aku tahu siapa kau, sebab aku kenal dengan gurumu; Setan Bodong itu.""O, jadi Eyang Poci sahabat guruku?""Benar.
SEBUAH pukulan membuat si gadis melayang tinggi dan tersangkut di dahan pohon. Jika bukan pula bertenaga dalam tinggi tak mungkin bisa membuat gadis itu nyangsang di pohon. Dan jika bukan si gadis punya lapisan tenaga dalam tebal, tentunya sudah hancur berkeping-keping, setidaknya jebol punggungnya. Seandainya ada yang melihat pertarungan tersebut, pasti akan mengatakan pertarungan itu adalah pertarungan tak seimbang. Yang dipukul gadis cantik berusia sekitar dua puluh satu tahun. Wajahnya masih imut-imut, penuh pancaran pesona muda belia. Sedangkan yang memukulnya tadi seorang lelaki berusia sekitar delapan puluh tahun lebih.Tokoh tua yang tubuh kurusnya dililit kain putih menyilang di pundak model biksu itu dikenal dengan nama Poci Dewa, karena dialah satu-satunya tokoh di dunia persilatan yang aliran silatnya menggunakan gerak-gerak seperti poci teh. Di padepokannya ia mempunyai aneka macam poci, bahkan ada yang berasal dari tanah Tiongkok.Poci Dewa selalu berpaka
"Keparat! Kau belum tahu siapa aku sebenarnya, hah! Terima ini jurusku yang bukan sekadar permainan anak kemarin sore. Hiaaah...!"Sang Ratu lepaskan pukulan bersinar biru bagaikan bola berekor.Wuusss...! Sinar biru itu keluar dari telapak tangannya yang dihantamkan ke arah Pendekar Kera Sakti. Maka sinar biru itu pun meluncur cepat ke arah sang Pendekar.Melihat kemunculan sinar biru itu, Baraka segera melepaskan pukulan 'Tapak Guntur ' yang memancarkan sinar biru terang.Claaap...!Sinar biru terang segera beradu dengan sinar biru di pertengahan jarak.Blaab...! Blegaaarr...!Cahaya ungu berkerilap dari hasil benturan dua sinar tadi. Ledakan menggelegar pun sempat mengguncang tanah lapang alun-alun, membuat orang-orang menjadi gaduh karena ketakutan. Namun di luar dugaan, ternyata sinar ungu itu menguncup dan membentuk gumpalan sinar biru lagi yang melesat ke arah Baraka.Wuuusss...!"Gila! Sinarnya masih utuh!" senta
Namun Baraka bagai tidak memainkan jurus sedikit pun. Ia hanya berjalan pelan mondar-mandir di depan sang Ratu sambil mata memandang dan bibir sunggingkan senyum. Senyum itu tetap merupakan 'Penakluk Hawa' yang membahayakan bagi perempuan mana pun juga."Bersiaplah, Kekasihku...!" geram sang Ratu sambil mengubah posisi kuda-kudanya, makin mendekat lagi."Seranglah aku jika kau perempuan yang gemar bercinta."Sang Ratu bagai ditantang kemesraannya. Untuk membuktikan kehebatan bercintanya, sang Ratu segera melepaskan serangan lebih dulu dengan satu lompatan kecil yang mencapai tanah depan Baraka"Hiiaah...!"Jleeeg ..! Lalu mereka beradu kecepatan tangan dalam memukul dan menangkis.Plak, plak, plak, plak, plak....Zlaaab...! Baraka bergerak melingkar hingga berada di belakang sang Ratu. Gerakan itu tak diketahui oleh sang Ratu karena Baraka menggunakan Jurus 'Gerak Kilat Dewa Kayangan'-nya.Ketika perempuan itu
"Badai Kelabu! Jika aku terpaksa membunuhmu, bukan karena aku tidak menghargai persahabatan kita selama ini, tapi karena aku mempertahankan batu pusakaku ini! Jangan kau salahkan diriku jika nyawamu sampai melayang, karena kau tak mau mengikuti saranku untuk segera pulang ke Pulau Hitam!""
Pada waktu prajurit itu belum tiba di istana, Singo Bodong sudah hampir membawa lari tombak pusaka tersebut. Tapi ketika ia didesak terus untuk memainkan satu jurus tombak oleh Hantu Laut, dan ia kibaskan tombak itu dengan sembarangan, Hantu Laut sempat terpental dan Singo Bodong pun cepat melepa
Tabib Akhirat meringis sebentar, lalu cepat-cepat bangkit dan kembali menghadap sang ketua. Wajah sang ketua tetap tak ada perubahan, dingin dan datar. Seakan tak pernah memukul Tabib Akhirat dengan kekuatan tenaga penuh. Wajah Tabib Akhirat pun menjadi pucat."Jelaskan yang sebenarnya!" pe
Kepergian Loh Gawe bukan sekadar kepergian seorang bawahan yang ingin melapor kepada atasannya. Hantu Laut tahu, Loh Gawe ketakutan menghadapi dirinya bersama Pusaka Tombak Kematian. Karenanya, Hantu Laut semakin bangga atas kekuatan dirinya, dan kian besar tekadnya untuk menundukkan Ratu Pekat d







