LOGINDalam lamunannya Baraka berkata membatin, "Jika gelang itu ada di tangan Anak Petir, berarti dia cukup berbahaya. Tingkahnya akan semakin ganas dan sudah tentu dia akan bikin ulah yang bukan-bukan. Mungkin saja ia sekarang sedang menyusun rencana untuk menyerang Tanjung Samudera, sebab ia tampaknya sangat bernafsu untuk menguasai negeri itu."
Renungan itu terputus, karena ekor mata Pendekar Kera Sakti tiba-tiba menangkap seberkas sinar merah yang melesat dari balik kerimbunan pohon bam
Puiih...!Wuuuss...!Angin kencang terlepas dari mulutnya. Hembusannya begitu besar dan membadai. Tubuh yang dihembus angin kencang itu adalah tubuh Ranggu Pura. Dan anak muda yang terbakar itu terhempas dalam keadaan api birunya padam seketika.Blabb...!Baraka ingin lakukan sesuatu, namun gerakannya tertahan karena ia melihat keadaan Ranggu Pura sudah tak terbungkus api. Bahkan kulitnya tidak mengalami luka bakar sedikit pun. Pendekar Kera Sakti segera menyadari bahwa Buyut Gerang tadi melakukan penyelamatan dengan semburan napas dari mulutnya.Namun keadaan Ranggu Pura masih tak bisa berdiri karena luka tendangan tadi. Kini si jubah abu-abu memandang Baraka dengan wajah garang karena masih memendam kemarahan kepada Ranggu Pura."Apa maksudmu mencampuri urusanku, Pendekar Kera Sakti!""Kakek tahu namaku, rupanya?""rajah naga yang ada dipunggung lenganmu menjadi ciri dari nama dan gelarmu sebagai Pendekar Kera Sakti. Bagiku t
"Tentu. Tapi suling bukan sembarang suling. Harus suling mustika. Jadi jika kau ingin bisa begitu, kau harus punya suling mustika seperti yang kumiliki ini."Baraka berkata begitu sambil menunjukkan suling mustikanya yang dipegangnya. Dan pada saat itulah seberkas sinar merah melesat dari balik sebuah pohon di belakang Cumbu Bayangan. Sinar itu tidak ditujukan untuk Cumbu Bayangan, namun ada seseorang yang dengan sengaja ingin menghantam Baraka menggunakan sinar merahnya itu.Weeess...!Tentu saja Pendekar Kera Sakti mudah menangkisnya karena saat itu sedang memegang Suling Naga Krishna. Dengan badan sedikit melompat seperti kera, suling mustika itu digunakan untuk menangkis sinar merah tersebut.Deeb...!Wwuusss...! Sinar merah itu membalik arah dengan lebih cepat dan lebih besar. Akibatnya sebuah pohon menjadi sasaran sinar merah besar itu.Blegeerr...!Pohon itu hancur lebur menjadi serpihan-serpihan kecil. Sampai akarnya pun tak t
Suttt...! Dan dari tengah dahi si orang tua itu melesat sinar putih lurus bagaikan sebatang kawat baja yang menghantam ke arah dada Baraka.Clappp...!Baraka menangkisnya dengan suling ditangan. Kemudian sinar itu membalik dengan lebih cepat dan lebih besar lagi.Wesss...!"Konyol!!" sentak si Poci Dewa sambil melompat bersalto ke arah samping. Sinar putihnya yang membalik akhirnya menghantam sebongkah batu besar jauh di belakang tempat berdirinya semula.Blegarrr...!Batu besar itu pecah dan menghamburkan kerikil-kerikil ke udara jumlahnya hampir ribuan kerikil. Ketika salah satu kerikil sempat melesat jatuh di kaki Cumbu Bayangan, gadis itu terbelalak melihat batuan kerikil itu menjadi debu putih yang menggumpal. Sekali injak lenyap."Gila betul pemuda itu! Dia bisa membalikkan jurus berbahaya itu dan menambah kekuatannya. Padahal jika jurus itu tidak memantul balik, hanya akan membuat batu itu hancur menjadi serpihan kecil, tapi ti
"Wah, gadis itu bakal remuk nganggur kalau begitu caranya?" pikir si pengintai.Kemudian ia melesat keluar dari persembunyiannya.Zlappp...!Dalam sekejap ia sudah berada di depan Poci Dewa. Mata si Poci Dewa terkesiap memandang kemunculan seorang pemuda yang tidak diketahui dari mana datangnya. Pemuda itu berambut poni tak mengenakan ikat kepala. Bajunya rompi berwarna keemasan tanpa lengan. Di punggung lengannya terlihat rajah naga emas melingkar. Melihat ciri-ciri seperti itu, Poci Dewa langsung sadar akan siapa yang ada di depannya saat itu."Kau...!""Aku bukan kau. Aku Baraka, Eyang.""Iya, maksudku mau bilang; kau Pendekar Kera Sakti, mau apa menghadapku tanpa memberi kabar sebelumnya?""Bagaimana aku mau memberi kabar kepadamu, Eyang. Aku belum tahu siapa dirimu!""Aku yang berjuluk Poci Dewa! Aku tahu siapa kau, sebab aku kenal dengan gurumu; Setan Bodong itu.""O, jadi Eyang Poci sahabat guruku?""Benar.
SEBUAH pukulan membuat si gadis melayang tinggi dan tersangkut di dahan pohon. Jika bukan pula bertenaga dalam tinggi tak mungkin bisa membuat gadis itu nyangsang di pohon. Dan jika bukan si gadis punya lapisan tenaga dalam tebal, tentunya sudah hancur berkeping-keping, setidaknya jebol punggungnya. Seandainya ada yang melihat pertarungan tersebut, pasti akan mengatakan pertarungan itu adalah pertarungan tak seimbang. Yang dipukul gadis cantik berusia sekitar dua puluh satu tahun. Wajahnya masih imut-imut, penuh pancaran pesona muda belia. Sedangkan yang memukulnya tadi seorang lelaki berusia sekitar delapan puluh tahun lebih.Tokoh tua yang tubuh kurusnya dililit kain putih menyilang di pundak model biksu itu dikenal dengan nama Poci Dewa, karena dialah satu-satunya tokoh di dunia persilatan yang aliran silatnya menggunakan gerak-gerak seperti poci teh. Di padepokannya ia mempunyai aneka macam poci, bahkan ada yang berasal dari tanah Tiongkok.Poci Dewa selalu berpaka
"Keparat! Kau belum tahu siapa aku sebenarnya, hah! Terima ini jurusku yang bukan sekadar permainan anak kemarin sore. Hiaaah...!"Sang Ratu lepaskan pukulan bersinar biru bagaikan bola berekor.Wuusss...! Sinar biru itu keluar dari telapak tangannya yang dihantamkan ke arah Pendekar Kera Sakti. Maka sinar biru itu pun meluncur cepat ke arah sang Pendekar.Melihat kemunculan sinar biru itu, Baraka segera melepaskan pukulan 'Tapak Guntur ' yang memancarkan sinar biru terang.Claaap...!Sinar biru terang segera beradu dengan sinar biru di pertengahan jarak.Blaab...! Blegaaarr...!Cahaya ungu berkerilap dari hasil benturan dua sinar tadi. Ledakan menggelegar pun sempat mengguncang tanah lapang alun-alun, membuat orang-orang menjadi gaduh karena ketakutan. Namun di luar dugaan, ternyata sinar ungu itu menguncup dan membentuk gumpalan sinar biru lagi yang melesat ke arah Baraka.Wuuusss...!"Gila! Sinarnya masih utuh!" senta
Peri Malam mencibir, memuakkan Selendang Maut. Lanjutnya lagi."Ingat, kita pernah mempertaruhkan nyawa demi seorang pria. Tapi apa nyatanya? Pria itu hanya mempunyai kebusukan. Dan setiap pria memang tak lebih dari seonggok daging busuk yang patut dilenyapkan!"Selendang Maut hanya m
"Membunuh itu hal yang mudah, tapi mengampuni lawan adalah hal yang sulit! Dulu kudapatkan wejangan seperti itu dari guruku.""Mungkin benar kata gurumu. Tapi tahukah kau, tak ada ampun lagi buat perempuan macam dia, hah?!"Peri Malam sudah berusaha bangkit. Mulutnya semburkan darah s
Selendang Maut masih tetap diam, hanya mengangguk-anggukkan kepalanya."Paman Giri, Pusaka Air Mata Malaikat kutemukan!" Kata Baraka kepada Pujangga Kramat.Orang berperut agak buncit itu memandang tak berkedip dengan perasaan kagum. Hatinya berdebar-debar."Baraka," Kata Pujang
Dalam pengertian Peri Malam, sesuatu yang amat berharga dalam hidupnya adalah sebuah cinta sejati dari pria seperti Baraka. Tapi ia lupa siapa Baraka, ia hanya terpengaruh oleh bayangan hatinya sendiri, sehingga pada akhirnya ia pun berkata. "Baik. Akan kuserahkan kembali padamu. Tapi setelah itu







