MasukLangkah mereka menuju ke Gunung Bunting terhenti oleh pemandangan yang menarik perhatian. Sesosok mayat mereka temukan tergeletak di rerumputan dalam keadaan hangus menjadi arang. Baraka berdebar-debar karena menyangka mayat yang tak jelas bentuk dan rupanya itu adalah salah satu dari ketiga sahabatnya yang hilang.
"Jangan-jangan dia adalah Pinang Sari!"
"Apakah kau yakin mayat ini adalah mayat seorang perempuan?"
"Hmm... sulit diyakini. Sama sekali tak bisa dikenali jeni
Langkah mereka menuju ke Gunung Bunting terhenti oleh pemandangan yang menarik perhatian. Sesosok mayat mereka temukan tergeletak di rerumputan dalam keadaan hangus menjadi arang. Baraka berdebar-debar karena menyangka mayat yang tak jelas bentuk dan rupanya itu adalah salah satu dari ketiga sahabatnya yang hilang."Jangan-jangan dia adalah Pinang Sari!""Apakah kau yakin mayat ini adalah mayat seorang perempuan?""Hmm... sulit diyakini. Sama sekali tak bisa dikenali jenisnya; pria atau wanita? Tak ada sisa pakaian dan rambut sedikit pun.""Aku yakin mayat ini adalah mayat lelaki.""Dari mana kau tahu?"“Tak ada sisa perhiasan menempel di raga hangus ini."Baraka manggut-manggut membenarkan dugaan Tembang Selayang. Mayat yang sudah tidak berasap sedikit pun itu benar-benar tak ubahnya dengan seonggok arang menyerupai orang meringkuk. Sangat sukar untuk dikenali ciri-cirinya. Tak ada senjata apa pun yang tertinggal di sekitar may
"Ada kalanya manusia mengalami kelengahan, ada kalanya manusia menemukan masa kejayaannya. Sayang waktu aku melawan Branjang Kawat kelengahanku tercuri olehnya, sehingga ia hampir saja merenggut nyawaku kalau aku tak segera larikan diri.""O, begitu.. Jelasnya kau tak bisa unggul melawan Branjang Kawat. Begitu saja singkatnya."Baraka sengaja bicara dengan senyum seakan mengejek kekalahan gadis itu. Yang dilakukan oleh si gadis hanya tarik napas dan segera mengalihkan pembicaraan."Jelaskan apa maksudmu menghadang langkahku!""Aku ingin tahu namamu, Nona Cantik," jawab Baraka makin berkesan menggoda. Hati gadis itu agak jengkel dan berusaha ditahannya kuat-kuat."Untuk apa kau mengetahui namaku?""Karena aku mencurigaimu membawa lari ketiga sahabatku.""Kecurigaanmu tidak benar!""Itulah sebabnya aku ingin tahu namamu karena aku ingin meminta maaf padamu," bujuk Baraka dengan suaranya yang lembut dan punya daya pesona tersendir
Zlaapp...!"Pinang... jangan ikut mengejar! Nanti aku sendirian di sini!" Tua Bangka gemetar takut. Gerakan si pemilik sinar merah itu cukup cepat, atau memang Pendekar Kera Sakti salah arah dalam mengejarnya. Orang tersebut tak berhasil ditangkap oleh Pendekar Kera Sakti. Beberapa saat lamanya Baraka mencari orang itu ke beberapa arah, namun tetap tidak berhasil ditemukan."Agaknya aku sudah telanjur salah arah dalam mengejarnya. Sebaiknya aku segera kembali menemui Tua Bangka. Barangkali kakek ompong itu punya bayangan siapa kira-kira orang yang ingin membunuhnya itu."Namun alangkah terkejutnya Baraka begitu kembali ke tempat semula, ternyata Tua Bangka sudah tidak ada di tempat. Pinang Sari dan Darah Prabu juga tidak ada di tempat. Yang tinggal hanya mayat orang berompi hitam."Ke mana mereka perginya!" pikir Baraka sambil memandang ke sana-sini."Apakah orang yang kukejar tadi yang membawa pergi mereka? Oh, kalau begitu aku tertipu oleh pancin
"Matanya siapa?" sela Baraka menanggapi dengan santai juga."Mungkin mata kalian itulah yang dibohongi!" gerutu Tua Bangka.Darah Prabu dan Pinang Sari menjadi heran dan menampakkan wajah keraguannya. Akhirnya Darah Prabu berkata, "Aku perlu tanyakan kepada Guru tentang kebenaran pusaka itu. Ada atau tidak, dan benarkah Empu Tapak Rengat tidak mau memegang senjata pusaka lagi. Aku perlu jawaban dari Guru secepatnya.""Aku akan mendampingimu," kata Pinang Sari. "Aku juga perlu menceritakan kematian guruku kepada Resi Badranaya, sebab kudengar kabar dari seorang tokoh tua yang telah tiada; Resi Badranaya adalah kakak sepupu mendiang guruku."Baraka menyahut, "Kalau begitu aku akan ke Gunung Bunting untuk temui Empu Tapak Rengat. Akan kutanyakan kebenaran tentang pusaka itu juga.""Baiklah, kita berpisah untuk sementara waktu Baraka," kata Pinang Sari."Sepertinya kita akan jumpa lagi dalam peristiwa Kapak Kubur ini. Kita sama-sama mencari kete
"Begitukah menurutmu, Kek?" Darah Prabu tersenyum, segera memandang Baraka dan bertanya, "Apakah kau datang bersama kakekmu ini, Kang?""Aku bukan kakeknya Baraka!" potong Tua Bangka."Aku... aku adalah penasihatnya Pendekar Kera Sakti. Ya, penasihat pribadi!"Baraka melirik dengan sedikit bersungut-sungut. Tua Bangka tak enak hati, sehingga berkata kepada Darah Prabu, "Maksudnya, penasihat yang jarang sehat. He, he, he...!"Tiba-tiba gadis cantik itu berkerut dahi dan berkata pelan, “Tua Bangka, aku sepertinya pernah melihatmu sebelum ini.""O, ya! Di mana kau melihatku, Anak manis?""Entah. Aku lupa. Tapi aku merasa pernah melihatmu. Mungkin... mungkin dalam mimpi.""Memang dari muda aku sering menjadi impian para gadis," kata Tua Bangka dengan nada sombong, membuat Baraka mencibir geli."Apakah kau kenal dengan Papan Rayap tadi, Darah Prabu!" tanya Baraka mengalihkan pembicaraan.“Tidak. Aku tidak kenal de
Di lain kejap, Suling Naga Krishna yang berwarna kuning keemasan menjadi hijau matang. Suling Naga Krishna yang telah berwarna hijau matang dijulurkan lurus ke depan. Saat Baraka mengalirkan tenaga dalam, lubang-lubang yang ada di Suling Naga Krishna menyemburkan asap berwarna hijau."Wusss...!"Asap yang mengandung racun itu segera lenyap diterbangkan angin. Baraka menarik nafas lega, selanjutnya tinggal menyembuhkan luka Pinang Sari. Dengan satu sentakan tangan kanannya, jari tengah Baraka mengeras lurus dan dari ujung jari itu melesat sinar putih bening seperti kaca. Sinar itu menghantam pertengahan dada Pinang Sari. Aji Kristal Bening digunakan oleh Baraka.Clapp...!Dess...!Lebih dari lima helaan napas sinar bening mirip kaca itu dibiarkan menghantam tubuh Pinang Sari. Beberapa saat kemudian, tampak kulit tubuh yang terluka itu bergerak-gerak. Dari berubah warnanya sampai gerakannya membentuk kesatuan seperti semula.Trang, trang, tran
Sebagai manusia biasa yang juga punya hati dan perasaan, tentu saja Pendekar Kera Sakti tak sampai hati melihat orang jahat meiukai ibunya. Oleh karena itu, Pendekar Kera Sakti hendak meloncat keluar dari tempat persembunyiannya untuk menyelamatkan jiwa ibunya.Namun mendadak, kata-kata Rat
"Kau tak perlu bertanya-tanya lagi. Kau akan tahu sendiri. Batu mustika di tanganmu itu akan membawamu ke Lembah Rongga Laut. Setelah berhasil menyelamatkan Kemuning, batu mustika 'Menembus Laut Bernapas Dalam Air' keluarkan dari dalam perutmu dengan menempelkan telapak tangan di pusar. Kerahkan
"Ya. Ya, begitulah," sahut Baraka, membenarkan tebakan Kemuning."Aku tadi sempat mendengar kau menyebutkan nama. Benarkah namamu Baraka ?""Kalau tidak ada kau, mungkin aku telah terbujur menjadi mayat. Oh ya, aku tadi sempat mendengar kau menyebutkan nama. Benarkah namamu Baraka?"
Orang yang memanggul harpa tertawa. Wajahnya yang sesungguhnya tampan, dengan tajam memandang Sepasang Pendekar Golok Sakti yang juga kakak-kakak seperguruannya. Kemudian, pandangannya diarahkan pada Dewi Salindri yang semakin sengit melihat tatap mata nakal itu, sehingga napasnya turun-naik. Mat







