Se connecterSlapp... slapp...!
Duarr...! Darrr...!
"Aaaaahh.!" Gundaraka menjerit sambil terpelanting jatuh, sedangkan Sancawisa tidak sempat berteriak karena kepalanya hancur oleh sinar merahnya Aswarani. Gundaraka masih menggelepar di tanah karena dadanya terkena sinar merah tadi, bukan hanya terbakar hangus, tapi juga berlubang besar. Dada itu pecah tepat di bagian sebelah kanan. Kejap berikutnya Gundaraka tidak berkutik lagi. Ia menghembuskan napas terakhir setelah mengejang sampai peru
"Baik! Kudengar kau pun juga menantang pertarungan denganku. Semula aku ingin melupakan tantangan itu, tak ingin melayaninya. Karena kupikir kau pemuda yang layak dibelai, bukan layak dihancurkan. Tapi karena sikapmu sudah tak mau bersahabat lagi denganku, terpaksa kulayani tantanganmu. Sekarang, di sini juga, kita awali pertarungan kita. Tunjukkan kepada perempuan-perempuan itu bahwa kau mampu mengungguli ilmuku! Tapi tentunya kau tahu bahwa sekarang aku mengenakan Gelang Naga Dewa ini!"Aswarani menunjukkan gelang yang dimaksud dengan mengangkat tangan kirinya, ia menyambung kata, "Kau tak akan mampu kalahkan aku jika gelang ini masih ada di tanganku, Baraka!""Kusarankan, kembalikan gelang itu pada pemiliknya!"Anak Petir tertawa. "Hah, hah, hah, hah...! Kau mau coba-coba memerintahku, Pendekar Kera Sakti! Oh, jangan harap ucapanmu bisa membuatku tunduk dan menuruti perintahmu! Gelang ini adalah nyawaku. Kalau memang kau inginkan gelang ini kembali kepada pem
Ki Lurah Tunggoro segera keraskan semua uraturatnya, mengerahkan tenaga untuk melawan rasa panas yang membakar tangannya. Bulan Sekuntum sentakkan kaki dan melesat menerjang Ki Lurah Tunggoro dengan pedangnya.Wuuttt...! Namun tiba-tiba Ki Lurah Tunggoro melemparkan sesuatu dari tangan kirinya. Ternyata sinar hijau seperti bola kecil yang diarahkan kepada Bulan Sekuntum.Pedang pun dikibaskan untuk menangkis tenaga dalam berbentuk sinar hijau itu.Wusss...! Dam...!Ledakan tersebut membuat Bulan Sekuntum terpental tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, ia jatuh terguling-guling sampai dalam jarak tujuh langkah dari tempatnya."Bulan Sekuntum terluka," bisik Dinada. "Lihat, wajahnya mulai pucat dan kebiru-biruan! Kita harus segera bertindak.""Jangan dulu," cegah Baraka. "Bulan masih mampu bangkit, ia pasti akan menyerang kembali."Tetapi tiba-tiba Ki Lurah Tunggoro mengangkat kedua tangannya ke atas dalam keadaan telapak tangan terbu
"Mengapa heran?""Pada waktu pertarungan pertama; bukankah Raja Hantu sudah memegang Gelang Naga Dewa? Mengapa ia tidak bisa tumbangkan Nini Kutang Katung, bahkan gelang itu dititipkan kepadamu?""Tentu saja karena gelang itu baru diperoleh dari pencuriannya. Gelang itu hanya akan berguna jika pemakainya sudah lakukan puasa selama tujuh hari sambil memakai gelang tersebut. Jika belum lakukan puasa selama tujuh hari, gelang itu tidak bedanya dengan gelang biasa bagi pemakainya.""Apakah gelang itu sudah ada tujuh hari di tangan Anak Petir?""Lebih," jawab Dinada cepat. "Tentunya sudah dipuasai oleh Aswarani."Percakapan demi percakapan dilakukan sambil memandang ke sana kemari, mencari suara pertarungan yang terjadi antara Nini Kutang Katung dan Aswarani. Tetapi suara pertarungan itu tidak mereka dengar, gerak bayangan orang berlari pun tidak mereka lihat.Dinada hampir putus asa. Hatinya kesal membayangkan kebodohan Pendekar Kera Sakti. Untu
"Tahan. Tak perlu kau kejar, biar diselesaikan oleh Aswarani!""Minggir kau!" bentak Dinada. Ia berusaha lolos dari hadangan Baraka, namun hal itu sulit dilakukan karena Baraka selalu merintanginya."Dinada, tenanglah dulu! Ada berita bagus untuk dirimu tentang pamanmu; si Raja Hantu itu!""Aku akan mengejarnya dulu! Minggir, Baraka...!""Hei, sabar! Nenek itu tak akan lepas dari kejaran Aswarani!""Bodoh!" sentak Dinada dengan cemberut. Kemudian ia melemas karena merasa sudah tertinggal jauh, tak mungkin terkejar lagi. Dinada duduk di atas sebuah batu, di bawah pohon teduh. Wajahnya cemberut dan tak mau memandang Baraka."Lagak manjanya mulai keluar lagi," gumam Baraka dalam hati. Ia hanya tersenyum tipis lalu mendekati Dinada pelan-pelan."Dari mana saja kau, Dinada! Mengapa sampai terpisah dariku!"Dinada diam saja. Mulutnya masih meruncing. Sesekali ia mendesis dengan tangan mengepal kuat pertanda menahan kejengkelan.
"O, jadi pamannya Dinada sudah tewas di tangannya!" kata Baraka dalam hati. "Kalau begitu perempuan tua ini lebih berbahaya dari dugaanku. Aku harus lebih hati-hati dalam melawannya."Nini Kutang Katung menggerak-gerakkan mulutnya, seperti sedang mengunyah robekan sarung. Baraka berfirasat, lawannya sedang membaca mantra."Bocah bagus, terimalah jurus 'Bumi Lokamurka' ini!" ujar sang Nenek. Kemudian ia menghentakkan tongkatnya ke tanah.Dugg...!Werrrr...! Bumi bergetar. Tiba-tiba dari ujung tongkat yang dihentakkan ke tanah itu mengeluarkan selarik sinar merah sebesar lidi melesat ke pertengahan kaki Pendekar Kera Sakti.Srrapp...!Sinar yang bagaikan menembus permukaan tanah itu melesat dengan cepat, kemudian tanah tersebut menjadi retak dan terbelah menjadi dua bagian.Grrak...! Werrrr...!Tanah berguncang hebat. Belahan tanah itu merenggang lebar, sebagian ada yang longsor ke dalam. Baraka yang tak menduga akan terjadi hal
Slapp... slapp...!Duarr...! Darrr...!"Aaaaahh.!" Gundaraka menjerit sambil terpelanting jatuh, sedangkan Sancawisa tidak sempat berteriak karena kepalanya hancur oleh sinar merahnya Aswarani. Gundaraka masih menggelepar di tanah karena dadanya terkena sinar merah tadi, bukan hanya terbakar hangus, tapi juga berlubang besar. Dada itu pecah tepat di bagian sebelah kanan. Kejap berikutnya Gundaraka tidak berkutik lagi. Ia menghembuskan napas terakhir setelah mengejang sampai perutnya naik ke atas. Begitu perut terhempas turun, napas pun lepas bersamanya."Gerakannya begitu cepat dan tepat pada sasaran!" pikir Baraka. "Kurasa Penguasa Teluk Neraka sendiri seandainya masih hidup dan melawan Aswarani akan tumbang dalam waktu sekejap."Wajah perempuan itu menegang. Nafsu membunuhnya masih terlihat membayang melalui pandangan mata dan helaan napasnya, ia seperti merasa belum puas dengan hanya membunuh dua orang. Baraka mulai paham akan hal itu, maka ia pun sege
"Selagi pingsan kurasa ia tak akan tahu kalau aku telah menikmati tubuhnya," Pikir Dirgo dengan binal. Maka, ia pun bergegas kembali melepas apa saja yang melekat di tubuhnya. Ia kembali bersikap seakan hendak melakukan resapan getar nadi. Tetapi lelaki yang bergelar Manusia Sontoloyo itu mulai d
Datuk Marah Gadai menggeram ketika melihat Cadaspati menyeringai bagai mengejek kekuatannya."Jahanam kau! Rupanya kau sudah bosan bernapas. Cadaspati! Tak ada waktu lagi untuk bermain-main denganmu! Sekaranglah saatnya kucabut nyawamu! Hiaaat...!"Datuk Marah Gadai menyentakkan kaki
Sekalipun tubuhnya kurus kering, namun ketika sebuah pukulan menghantam punggungnya dengan keras, orang itu hanya tersentak sedikit. la masih tegak berdiri tanpa mengeluarkan suara mengaduh sedikit pun. Hanya saja, beberapa saat kemudian ia membuka mulutnya, dan mulut itu mengeluarkan asap. Seper
Menurut pandangan hatinya, hanya dua orang itulah yang bisa dan pantas menjadi penggantinya, sebagai Ketua Perguruan Merpati Wingit. Tetapi sebelum niatnya terlaksana, satu dari kedua orang pilihannya itu telah tewas. Kini tinggal Selendang Maut yang menjadi satu-satunya calon pengganti dirinya,







