LOGINIa tergolong salah satu dari sekian tokoh sakti yang punya hasrat untuk menguasai rimba persilatan di seluruh tanah Jawa. Ia punya harapan untuk menjadi penguasa tanah Jawa, hingga tak segan-segan turunkan tangan dan cabutkan pedang untuk membunuh siapa pun yang menjadi penghalangnya.
Datuk Marah Gadai memandangi air telaga dengan perasaan dongkol. Matanya yang berkesan bengis itu semakin tampak bengis, karena sebuah perasaan kecewa yang dikarenakan oleh sesuatu hal semakin menggerogot
LANGKAH pemuda tampan berompi keemasan tak berlengan itu terhenti seketika. Kakinya yang dibungkus celana keemasan lusuh itu segera mengarah ke balik pohon, ia bersembunyi di sana. Pemuda berambut panjang lurus sebatas pundak tanpa ikat kepala itu tak lain adalah, murid Setan Bodong. Bernama Baraka dan bergelar Pendekar Kera Sakti. Apa yang membuat Baraka hentikan langkah dan ambil tempat sembunyi? O, rupanya ada seorang gadis sedang menuju ke arahnya. Dari kejauhan saja gadis itu sudah tampak cantik, apalagi dari dekat. Tentu lebih cantik lagi."Aku ingin kenal dengannya. Wajahnya mirip dengan calon istriku yang menjadi penguasa di Puri Gerbang Kayangan," pikir Baraka.Ia bergeser sedikit untuk merapatkan diri dari persembunyian. Dalam hati sang Pendekar Kera Sakti masih membatin, "Dia benar-benar mirip Hyun Jelita, calon istriku itu. Bibirnya ranum, hidungnya mancung, potongan rambutnya yang disanggul naik itu juga mirip sanggulan rambut kekasihku. Bentuk badannya ya
Gagang kapak terpental terbang dalam ketinggian melebihi pucuk pohon. Dewa Beruk terperangah bengong. Sementara itu, Tua Bangka cepat sentakkan kakinya ke tanah, dan tubuhnya pun melesat ke atas cukup tinggi, ia bersalto satu kali di udara dan tangannya segera menyambar gagang kapak tersebut.Wuuuttt...!Teeb...!Baraka terpaksa gunakan Gelang Brahmananda-nya.Wings... Wings... Wings... Wings... Wings...!Dar, dar, dar...!Tiap mata kapak yang menghantam Gelang Brahmananda selalu timbulkan ledakan dan nyala api merah yang memercik. Ketiga mata kapak itu tetap terbang memutar dan kembali ke tempat semula. Pada saat itu Tua Bangka acungkan gagang kapak ke atas, lalu tiga mata kapak itu hinggap ke ujung gagangnya dan menjadi rekat seperti sedia kala.Tembang Selayang, Baraka, dan Dewa Beruk sama-sama terperanjat melihat Kapak Kubur kini ada di tangan Tua Bangka. Sesuatu yang membuat Tembang Selayang sulit kedipkan mata adalah gerakan salto Tua Bangka yang melesat tinggi itu adalah geraka
"Aaahgg...!" Pawang Kera memekik keras sekali dengan tubuh melengkung ke depan, kemudian rubuh tak bernyawa. Dewa Beruk semakin buas, murkanya dilepaskan tiada batas. Pada waktu itu, rombongan Pendekar Kera Sakti tiba di tempat tersebut. Namun mereka tidak segera bertindak karena perlu mempelajari keadaan setempat.Tiba-tiba Tua Bangka berseru dengan mata melebar dan wajah menegang,"Cucuku...! Cawan...! Cawan Pamujan! Oooh... itu dia cucuku! Cawan Pamujaaan...!"Seorang gadis yang kedua tangannya diikat ke belakang berseru memanggil Tua Bangka."Kakeeek...!"Gadis berpakaian hijau muda dengan rambut di konde dua itu segera berlari menerobos hiruk-pikuknya pertarungan. Gadis cantik berwajah imut-imut itu membuat pandangan mata Pendekar Kera Sakti terpana beberapa saat. Tua Bangka segera berlari tertatih-tatih menyambut kedatangan cucunya. Baraka dan Tembang Selayang menjadi cemas.“Tua Bangka, jangan mendekati pertarungan! Tua Bangka,
Jawaban Ki Punjul membuat mata Tembang Selayang menatapnya tak berkedip. Tua Bangka ikut-ikutan memandang Ki Punjul dengan hasrat mendengarkan cerita seru. Ki Punjul menjelaskan kembali apa yang dilihat dengan mata kepalanya sendiri."Ada dua prajurit yang lari kemari, masuk ke dalam kedai ini. Tapi mereka segera dilempar keluar oleh Guci Kopong, lalu di sana mereka disambut oleh Dewa Beruk yang bersenjata kapak dari emas. Kedua prajurit itu akhirnya hangus dan menjadi arang tak berbentuk lagi. Mengerikan sekali untuk dikenang. Senjatanya sangat ganas, kurasa orang kadipaten akan dibantai habis oleh Dewa Beruk yang murka itu."Semakin jelas sekarang, bahwa pusaka Kapak Kubur memang ada di tangan Dewa Beruk. Cerita tersebut membuat Baraka dan Tembang Selayang tertegun beberapa saat. Tua Bangka ikut-ikutan termenung, bagaikan sedang membayangkan kengerian dari pertarungan tersebut."Sekarang ke mana perginya Dewa Beruk, Ki?" tanya Tembang Selayang."Mereka
"Ooh... Baraka, lihat itu!" seru Tua Bangka sambil merapatkan diri pada Baraka. Apa yang dituding Tua Bangka menjadi pusat perhatian mereka. Tiga sosok mayat terkapar dalam keadaan mengerikan, yang satu tercabik-cabik, satunya lagi terbakar hangus menjadi arang, dan yang satunya lagi terpotong-potong menjadi beberapa bagian. Diperkirakan potongan itu berjumlah tiga puluh tiga bagian."Semakin jelas, seseorang telah menggunakan pusaka Kapak Kubur dalam waktu belum terlalu lama dari kedatangan kita ini, Tembang Selayang.""Ya, aku pun berpendapat demikian. Tapi siapa mereka ini?"Tua Bangka tiba-tiba berkata, "Tombak mereka ada di bawah batu itu.""Oh benar. Mereka bersenjata tombak dan... dilihat dari jenis hiasan benang bawah mata tombak itu, sepertinya mereka para prajurit sebuah negeri," gumam Tembang Selayang."Benar. Aku ingat tombak ini merupakan ciri tombak prajurit Kadipaten Balungan!" ujar Tembang Selayang dengan wajah tegang. "Aku masih ha
"Lalu, apa maksud Empu Tapak Rengat sebenarnya?" pikir Pendekar Kera Sakti dalam renungannya. "Ada di pihak mana sebenarnya Empu Tapak Rengat itu?"Tembang Selayang tak enak hati melihat Baraka termenung, ia yakin yang direnungkan adalah ayahnya, ia yakin Baraka bercuriga buruk kepada ayahnya. Sedangkan ia sendiri juga punya pertanyaan yang membingungkan tentang ayahnya itu. Akhirnya Tembang Selayang berkata kepada Baraka. "Sebaiknya kau urus dulu orang tua ini. Biarkan aku datang sendiri ke Perguruan Monyet Sakti untuk merebut Kapak Kubur itu.""Jangan gegabah dulu. Persoalannya agak meleset dari perkiraan kita. Ternyata ayahmu tidak diculik oleh sang Adipati."Tembang Selayang diam, seakan mengakui bahwa ayahnya memang tidak diculik oleh orang utusan sang Adipati. Tapi ia tidak mempunyai keputusan apa pun karena dicekam oleh kebimbangan bertindak.Pendekar Kera Sakti berkata lagi, sementara Tua Bangka hanya menjadi pendengar yang sesekali memandang jauh
SENJA tegak menantang untuk segera menyambut kehadiran sang dewi malam. Hanya desau angin yang bersedia menemani sepi di Lembah Kebencian. Namun, keheningan di alam sekitar, berlainan benar dengan isi hati Pendekar Kera Sakti yang tengah bergolak dan bergemuruh...."Terima kasih atas segala
Namun, tetap tak ada sahutan."Ya, Tuhan...," sahut si kakek untuk kesekian kalinya.Sedih bukan main rasa hati kakek bertubuh kurus tinggi itu. Rasa sesal dan berdosa memburunya pula. Kalau dia tidak meminta Pendekar Kera Sakti untuk turut mengatasi masalah yang sedang dihadapinya, b
Dewi Cinta Kasih tak kuasa membalas tatapan cucunya. Kepalanya tertunduk. Butiran air mata yang bergulir lagi jatuh ke pangkuannya."Eyang...," sebut Sekar Telasih, duduk bersimpuh dihadapan neneknya. "Jika Eyang benar-benar hendak mengakhiri hidup dengan bunuh diri, mana keyakinan Eyang ya
Maka dalam sekejap mata, tubuh Pendekar Kera Sakti seakan telah berubah menjadi segumpal asap berwarna biru. Timbul tiupan angin yang menderu ganas setiap pemuda dari lembah kera itu melancarkan pukulan dan tendangan. Sementara, Setan Selaksa Wajah yang masih kebingungan karena 'Benteng Rajah Aba







