MasukAkhirnya, ketika batu itu hampir menggilas tubuhnya, Karang Wesi segera kerahkan pukulan 'Angin Lahar'.
Tepat pada saat batu besar mendekatinya, kedua tangannya yang telah mengandung pukulan 'Angin Lahar' itu digunakan untuk menahan gerakan batu.
Gluduk gluduk gluduk...! Plakk...! Gluduk gluduk..!
Ternyata batu tetap menggelinding dan menggilas tubuh Karang Wesi yang tak mampu menghindar lagi itu. "Aaaa...!" suara jerit ketakutannya hilang seketika sewaktu batu menggilasn
Pendekar Kera Sakti berpikiran begitu karena ia khawatir akan keselamatan Tembang Selayang; si cantik berdada sekal itu. Dalam bayangan Baraka, jika memang kapak pusaka itu ada di tangan Dewa Beruk, maka Dewa Beruk akan menggunakannya untuk melawan siapa saja yang ingin merampas kapak pusaka tersebut. Dan keyakinan Baraka mengatakan, bahwa Tembang Selayang akan celaka jika berhadapan dengan lawan yang bersenjata kapak pusaka itu.Tanpa banyak berunding lagi mereka segera berkelebat menuju lereng gunung tersebut yang menghadap ke arah barat."Cari jalan terdekat agar sebelum petang tiba kita sudah sampai di perguruan itu!" kata Baraka kepada Tembang Selayang.Namun mendadak langkah mereka terhenti karena Baraka terpekik melihat ke arah lembah sebelah kanannya.“Tunggu...! Siapa itu yang terkapar di sana!"Tembang Selayang kerutkan dahi menatap ke arah lembah.-o0o-Orang yang terkapar itu kenakan pakaian abu-abu, rambutnya putih,
Pendekar Kera Sakti manggut-manggut dan tampak senang sekali mendengar keterangan tersebut. Tembang Selayang diam memandangi ayahnya dengan rasa kagum terhadap kapak pusaka itu."Karena ukurannya tak seberapa besar, dan tangkainya dari logam kosong, maka kapak pusaka itu sangat ringan dan mudah dibawa ke mana-mana. Tetapi jika ditebaskan dari atas ke bawah, maka dalam jarak sejauh dua puluh tombak pun masih bisa keluarkan sinar merah menyerang lawan. Orang yang terkena sinar merah itu akan terpotong menjadi tiga puluh tiga bagian.""Hebat sekali!" gumam Baraka semakin yakin lagi dengan keterangan Tembang Selayang saat di perjalanan kemarin."Jika kapak ditebaskan dari kiri ke kanan, akan keluarkan sinar biru yang dapat membuat lawan mati hangus menjadi arang dalam sekejap. Jika ditebaskan dari kanan ke kiri, akan keluarkan sinar hijau yang membuat lawan mati dalam keadaan tercabik-cabik mengerikan. Jika lawan hanya tergores oleh salah satu mata kapak, maka lukan
"Dia terluka berat bagian dalamnya!"Tembang Selayang terperanjat, ia segera mengangkat wajah sang Ayah. Ternyata wajah itu bukan saja pucat pasi melainkan biru bagaikan mayat yang hampir membusuk."Ayaaaah...!" seru Tembang Selayang sambil mendekap tubuh sang Ayah. Pendekar Kera Sakti bergegas memeriksanya sesaat, tanpa pedulikan tangis Tembang Selayang."Baringkan di tempat teduh!" kata Baraka. "Kurasakan denyut nadinya masih ada."Pukulan tenaga dalam yang mengandung racun telah kenai bagian dada Empu Tapak Rengat. Terlambat sedikit saja, nyawa sang Empu akan melayang. Untung Baraka bergerak cepat dengan dibantu Tembang Selayang.Baraka menempelkan Suling mustikanya di urat nadi pergelangan tangan kanan Empu Tapak Rengat. Hanya dalam dua tarikan napas, warna biru di wajah Empu Tapak Rengat berangsur-angsur lenyap. Di lain kejap, Suling Naga Krishna yang berwarna kuning keemasan menjadi biru legam. Suling Naga Krishna yang telah berwarna biru leg
"Sial. Hatiku deg-degan memandang ia berbaring begini!" gerutu Baraka dalam hati, tapi di mulutnya ia berkata lain. "Aku tak takut pada ancaman mereka. Tapi aku menemukan kejanggalan yang perlu kita pikirkan.""Kejanggalan apa?""Guci Kopong tadi bilang, akan datang memanggil ketuanya dan seakan ketuanya sanggup membuat kita mati hangus menjadi arang atau terpotong tiga puluh tiga bagian.""Itu sesumbarnya saja.""Mungkin memang benar. Tapi dari mana ia bisa sesumbar begitu kalau bukan karena ia pernah melihat bukti? Dan siapa orang yang bisa bertindak begitu jika bukan orang yang memiliki Kapak Kubur!"Tembang Selayang diam sebentar merenungkan, tiba-tiba ia tersentak bangkit dan menatap tegang kepada Baraka."Benar juga! Berarti pusaka Kapak Kubur ada di tangan Dewa Beruk!"Baraka hanya angkat bahu dengan senyum tipisnya.-o0o-PERGURUAN Monyet Sakti terletak di lereng Gunung Bunting sebelah barat. Jika i
“Tembang Selayang... rupanya kau sekarang punya pemuas dahaga semuda itu, hmm...! Pantas aku tak pernah melihatmu. Wajahmu pucat sekali. Apakah dikurung terus oleh anak muda itu?"Teebb...!Tembang Selayang mencekal tangan orang tersebut tanpa memandangnya. Wajahnya dingin dan ketus."Jangan macam-macam padaku, Guci Kopong!"Krraakk...! Terdengar seperti suara tulang patah. Guci Kopong meringis dengan mata terpejam. Mulutnya ternganga karena menahan rasa sakit."Ada yang ingin kau katakan lagi padaku!" pertanyaan itu bernada datar dan dingin, tanpa diikuti pandangan mata ke arah orang yang ditanya.Guci Kopong tak bisa menjawab karena genggaman tangan Tembang Selayang bagaikan kian meremukkan pergelangan tangannya. Pendekar Kera Sakti hanya memandanginya tanpa berbuat apa-apa. Senyumnya mekar di bibir, seakan menertawakan orang gemuk yang berlagak jagoan itu."Hei, lepaskan dia, Tembang!" seru orang berbadan agak kurus dari Guci
Gadis itu hanya sunggingkan senyum kaku. Rupanya ia tak enak hati kata-kata tersebut ikut didengar oleh Baraka, ia segera mengajak Baraka untuk duduk di salah satu bangku kosong. Sementara itu, para pengunjung kedai lainnya sibuk dengan percakapan masing-masing. Wiraga yang berpakaian serba biru dirangkap rompi merah tua itu segera mendekati tempat duduk Tembang Selayang, ia duduk di depan Tembang Selayang, sedangkan Pendekar Kera Sakti duduk di samping Tembang Selayang."Adhiyasa ingin sekali jumpa denganmu, Tembang Selayang. Temuilah dia, tapi....""Sampaikan salamku saja kepada Adhiyasa jika kau bertemu dengannya.""Kurasa kami akan lama tidak saling jumpa.""Kenapa begitu?""Adhiyasa sedang pergi. Sudah dua purnama ini tak menampakkan batang hidungnya!""Pergi ke mana?" tanya Tembang Selayang pelan, seakan tak mau didengar Pendekar Kera Sakti."Kabarnya ia sedang memburu pusaka Kapak Kubur.""Hahh...!" Tembang Selayang kage
Saat berpikir-pikir, wajah tampan pemuda tinggi tegap itu jadi tampak polos. Sinar kejujuran dan keluguan semakin terpancar dari sorot matanya. Dia cengar-cengir lagi. Sambil terus mengedarkan pandangan, kakinya terayun.Dimasukinya Hutan Saradan yang sunyi lengang. Disibaknya semak belukar
"Aku tahu, selama sembilan puluh tahun, kau tinggal di Istana Abadi di negeri para siluman. Karena puluhan tahun tinggal di suatu tempat yang tak mengenal putaran waktu itu, darahmu mengandung satu kekuatan gaib yang luar biasa ampuh...," ujar Putri Budukan kemudian. "Siapa pun yang meminum caira
Lelaki berpakaian putih-putih yang tengah mengintai dari balik batang pohon besar itu mendengus gusar. Tubuhnya bergetar karena menahan hawa amarah."Biadab!" geramnya. "Keterlaluan sekali perbuatan Sabit Maut dan Cangkul Sakti itu! Aku harus bertindak!"Tanpa pikir panjang, lelaki ya
Tiba-tiba, Dewi Pedang Halilintar menerjang. Ketajaman pedangnya benar-benar hendak memenggal leher Ksatria Seribu Syair!Tentu saja lelaki yang tak tahu kesalahannya itu tak mau mati konyol. Dua jempol kakinya menotol lempengan batu. Dan, ringan sekali tubuhnya melayang lalu mendarat di ta







