分享

Pendekar Pedang Tengkorak
Pendekar Pedang Tengkorak
作者: SWEET_OWL

Bab 1

作者: SWEET_OWL
last update publish date: 2026-06-10 13:44:24

Langit mendung menggantung rendah, menggiring hujan deras membasahi bumi. Angin dingin menyusup di antara pepohonan yang bergoyang pelan, menebar aroma tanah basah dan dedaunan membusuk.

Di pinggiran hutan yang sunyi dan dingin, sebuah kereta mewah ditarik dua ekor kuda berlari kencang menerjang jalan berlumpur yang penuh genangan. Sesekali kedua kuda meringkik keras, melawan terpaan hujan dan beban perjalanan. Suara roda berderak bercampur dengan guyuran air menciptakan irama malam yang tak biasa.

Sepuluh pria berbaju hitam mengikuti di belakang, langkah mereka mantap menyatu dengan irama derap kuda. Wajah mereka tertutup separuh, membawa aura waspada yang mencolok di tengah pekatnya senja. Setiap tangan menggenggam senjata.

Mereka adalah pengawal terlatih, mata mereka terus bergerak, menelusuri setiap sudut hutan yang gelap.

Di dalam kereta, duduk sebuah keluarga kecil—sepasang suami istri bersama dua anak lelaki mereka. Si sulung berusia sekitar sepuluh tahun, sedangkan adiknya baru tujuh tahun. Pakaian dan sikap mereka menunjukkan bahwa ini bukan keluarga biasa. Mungkin bangsawan, atau setidaknya pedagang kaya yang disegani.

Anak-anak mereka mulai terlelap, tertidur di pangkuan ibunya yang sesekali mengusap rambut keduanya dengan lembut. Meskipun tampak tenang di luar, sang ibu menyimpan rasa khawatir sejak mereka memasuki hutan.

"Ki, berapa lama lagi kita akan sampai?" tanya sang kepala keluarga, seorang pria berbadan besar berusia empat puluhan.

"Maaf, Juragan," sahut sang kusir tua dengan nada hati-hati. "Jika jalanan tak digenangi air, kita bisa tiba tengah malam. Tapi dengan hujan seperti ini... sepertinya baru akan sampai esok pagi."

Pedagang itu mengangguk, wajahnya letih. "Baik. Pecut kudanya lebih cepat lagi."

"Siap, Juragan."

Perjalanan awal berjalan lancar meski hujan tak kunjung reda. Namun, saat rombongan tiba di tengah hutan yang lebat, kuda-kuda itu tiba-tiba meringkik liar dan berhenti mendadak. Kereta berguncang keras. Roda bagian belakang sempat terperosok ke dalam lumpur, menciptakan hentakan yang membangunkan anak-anak dari tidur gelisah mereka.

"Ada apa, Ki?" tanya sang pedagang, tersadar dari kantuk yang hampir menguasainya. Wajahnya tampak kesal, namun berubah cemas saat melihat raut panik sang kusir.

"Anu... juragan... saya rasa kita dalam bahaya," jawabnya lirih. Suaranya tercekat, matanya tak lepas dari bayangan samar yang bergerak cepat di antara pepohonan.

Belum sempat sang pedagang bertanya lebih jauh, suara benturan dan teriakan keras terdengar dari luar. Jeritan pendek, denting logam yang saling beradu, dan ringkik kuda yang menggila menciptakan kekacauan mencekam. Malam yang awalnya sunyi kini berubah jadi medan pertarungan hidup dan mati.

Dengan hati-hati ia menyingkap tirai kereta dan memandang ke luar.

"Bandit..." gumamnya, wajahnya langsung pucat pasi.

Istri dan anak-anaknya panik. "Suamiku! Bagaimana ini? Kami tak ingin mati di sini!" teriak sang istri sambil memeluk kedua anak mereka yang menangis ketakutan. Sang ibu menggigil, tidak hanya karena hawa dingin, tapi juga karena ketakutan yang menyesakkan dada.

"Tenang. Kita menyewa jasa Rumah Kuda Terbang. Mereka bukan penjaga biasa," ucap sang pedagang, mencoba menenangkan meski nadanya tak meyakinkan.

Namun ketika ia kembali mengintip ke luar, harapannya pupus. Para pengawal dari Rumah Kuda Terbang sedang terdesak. Jumlah bandit jauh lebih banyak. Dari balik kabut tipis yang mulai naik dari tanah basah, siluet-siluet bersenjata tampak mengelilingi kereta mereka seperti sekawanan serigala lapar.

Hujan tiba-tiba berhenti, lalu senyap.

Pedagang kaya itu menegakkan tubuhnya, namun belum sempat ia bangkit, tirai kereta tersingkap kasar. Sebilah golok dingin langsung menempel di lehernya, tajamnya begitu dekat hingga jakunnya nyaris teriris. Napasnya tercekat, keringat dingin langsung membasahi pelipisnya.

Istrinya menjerit ngeri.

"Serahkan semua harta kalian!" bentak si bandit bertopeng.

"A-aku... aku akan memberikannya," sahut sang pedagang tergagap. "Tapi... tolong, lepaskan keluargaku."

Pemimpin bandit itu menatap tajam. Ia berpikir sejenak sebelum mengangguk pelan. "Turun. Ikuti aku."

"Istriku, jaga anak-anak. Aku akan kembali," ucapnya lirih, meski ia tahu harapan itu amat tipis.

Sebelum turun, ia sempat menatap wajah istri dan anak-anaknya dalam-dalam seperti tatapan terakhir yang menyimpan sejuta kata yang tak sempat terucap.

“Apa pun yang terjadi, lindungi mereka," bisiknya nyaris tak terdengar.

Dengan langkah berat, ia mengikuti sang perampok menjauh ke sisi hutan.

Sang istri mengintip dari celah tirai. Ia melihat mereka berdiri di dekat pohon besar, tampak seperti tengah berdiskusi. Namun, tiba-tiba tangan sang bandit terangkat ke udara.

Kilatan tajam melesat. Golok besar menebas leher suaminya dalam sekali ayunan.

Kepalanya terjatuh, menggelinding pelan ke tanah becek. Darah hangat mengalir cepat membasahi tanah, bercampur dengan lumpur, menciptakan genangan kematian. Udara di sekeliling seperti membeku. Waktu seakan berhenti, hanya menyisakan suara tetes air dari pepohonan dan desiran angin yang berubah menjadi jeritan tak bersuara.

"SUAMIKU!" teriak sang istri histeris.

Ia berlari keluar, tak mempedulikan bandit lain yang berjaga. Kedua putranya menyusul. Mereka semua memeluk tubuh pria itu—ayah dan suami mereka—yang kini terbujur kaku, bersimbah darah. Anak sulungnya menjerit memanggil nama ayahnya, sedangkan si bungsu hanya bisa menangis dalam diam, tubuhnya menggigil hebat.

Jerit tangis mengoyak senyap hutan.

Namun pimpinan bandit hanya memandang mereka tanpa rasa. Ia sudah terlalu sering menyaksikan pemandangan semacam ini. Baginya, kematian hanyalah angka. Tangis hanyalah suara. Hati nurani? Sudah lama ia kubur bersama masa lalunya.

Ia memberi aba-aba. Anak buahnya segera menarik ketiganya dengan kasar.

"TIDAK! Jangan sakiti mereka!" jerit sang ibu, berusaha melindungi kedua anaknya. Tangannya merangkul anak-anaknya erat, meski tubuhnya sendiri gemetar tak berdaya.

Ia bersujud di hadapan sang bandit. "Kumohon... ambil semua yang kami punya, tapi biarkan anak-anakku hidup!"

Sang bandit hanya menatap diam. Namun matanya mulai memancarkan nafsu rendah saat melihat rupa sang wanita. Meski usianya tak lagi muda sekitar tiga puluhan tahun, paras dan tubuhnya masih terawat baik.

Wanita itu menyadari tatapan itu. Ia mundur, memeluk tubuhnya sendiri dengan gemetar. Namun tidak ada tempat untuk lari.

“Tidak, tuan. Jangan lakukan itu, aku mohon.” Wanita itu menjadi ketakutan. Bencana yang sebentar lagi akan dialaminya sepertinya jauh lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri.

“Tutup mata kalian,” pekiknya pada kedua anaknya.

Kedua bocah itu tidak terlalu mengerti, namun tetap mengikuti perintah ibunya untuk menutup mata.

Ketika bandit itu mendekat, ia mencoba melawan. Tapi tenaga seorang wanita tak bisa menandingi brutalnya seorang perampok bersenjata. Dalam pekik ketakutan dan suara rintihan, kehormatan dan harapan yang tersisa ikut tercabik dalam kegelapan malam.

Tangis dan jeritnya menembus langit yang baru saja berhenti menangis.

Malam itu, di tengah hutan basah yang sunyi, tragedi menyelimuti keluarga kecil itu dengan tragis.

Di balik semak-semak, seekor burung hantu memekik lalu terbang menjauh, seolah membawa kabar duka pada langit yang kembali menabur gerimis. Hutan menelan jeritan itu dalam-dalam, menyimpannya sebagai rahasia malam yang mungkin tak akan pernah terungkap.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 38

    Kondisi Sekar memang berangsur pulih dalam waktu singkat setelah meminum ramuan yang Janubaya berikan. Bisul-bisul di sebagian tubuhnya juga menghilang, hanya meninggalkan bercak-bercak merah seperti sebelumnya."Paman tidak bisa melakukan apa-apa lagi sekarang, andai saja bahan-bahannya cukup, maka kau bisa pulih sepenuhnya." Janubaya masih tidak puas dengan hasil pengobatannya. Bukan hanya Sekar, tapi warga Desa Mandian Bulan pun belum sepenuhnya terbebas dari racun tersebut. Janubaya hanya membantu mencegah agar racun itu tidak menjalar lebih jauh dengan menetralisirnya."Sekarang aku akan mengajak kalian menemui bibimu. Ia sangat ingin bertemu denganmu."Sekar mengikuti Janubaya, begitu juga dengan Catra yang berjalan di belakangnya. Sekarang mereka sudah berada di ruang tamu, yang di sana ada seorang perempuan tampak berusia tiga puluh tahunan dengan seorang anak laki-laki."Nimas, ini adalah keponakanku, Sekar yang pernah aku ceritakan padam

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 37

    Catra dan Sekar baru mendapat giliran saat hari sudah mulai gelap, ketika semua orang sudah meninggalkan tempat itu. Kedatangan mereka disambut dengan senyuman hangat oleh seorang anak laki-laki."Jati, apakah masih ada pasien yang mengantri?" tanya seseorang dari dalam."Iya, ayah. Mereka pasien yang terakhir." balas bocah yang bernama Jati itu."Suruh mereka masuk,""Baik, ayah." Bocah itu memandang Catra dan Sekar sebentar sebelum mempersilahkan mereka memasuki rumahnya.Catra tersenyum lebar sementara Sekar tampak memperhatikan wajah bocah itu. "Kalau bocah ini memanggil paman dengan sebutan ayah, berarti…" ia larut dalam pikirannya sendiri. Sekar baru tersadar saat Catra menurunkannya dari gendongannya."Silahkan, pasien untuk berbaring di sini." ujar pria yang sedang berdiri membelakangi Catra dan Sekar, terlihat sibuk menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk mengobati pasiennya.Melihat Sekar yang belum j

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 36

    Catra dan Sekar sedang istirahat di tepi sungai untuk membersihkan tubuh mereka. Sudah beberapa hari berlalu sejak keduanya berurusan dengan para bandit, dan untungnya kondisi Sekar sudah berangsur pulih.Mereka memang sengaja tidak beristirahat di pedesaan atau kota, untuk menghindari ada orang yang mengenali Sekar, mengingat lukisan wajahnya sudah tersebar di mana-mana. Saat ini mereka enggan berurusan dengan Pembunuh Bayang Darah kalau tidak dalam keadaan terpaksa.Saat Sekar ingin menciduk air untuk diminum karena merasa haus, ia dikejutkan oleh penemuan sesosok tubuh yang mengapung di tengah-tengah sungai."Raka lihat itu, ada mayat!" Sekar menunjuk ke satu arah yang diikuti oleh Catra.Tanpa menunggu perintah dari Sekar, ia sudah menggunakan Ajian Seribu Langkah untuk membawa mayat itu ke tepian sungai. Catra berjalan di atas air tanpa hambatan seolah itu adalah padang yang luas.."Kau benar, pria ini memang sudah meninggal." Catra

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 35

    "Menebas Langit Membelah Samudra!"Teknik kedua dari Pedang Tengkorak ini berisikan dua gerakan, saat pedangnya diangkat tinggi-tinggi ke atas, maka melepaskan cahaya hitam pekat yang bergerak cepat ke arah targetnya.Ekawira menyadari serangan yang dilancarkan Catra sangat berbahaya, sehingga meski tubuhnya sekeras baja, tapi ia tak berniat untuk menahannya secara langsung. Ekawira memilih untuk melemparkan tubuhnya ke samping.Keputusan yang diambil Ekawira sangat tepat, karena pada tempatnya berdiri sebelumnya secara tiba-tiba terjadi sebuah ledakan yang begitu keras, bahkan menciptakan lubang yang sangat besar pada dinding gua di belakangnya.Ekawira mengerutkan kening, tidak menyangka Catra memiliki teknik pedang setinggi ini. Kalau saja serangan itu berhasil mendarat di tubuhnya, sudah pasti ia akan kehilangan nyawa.Meskipun berhasil menghindari serangan tersebut, tidak semerta-merta membuat Ekawira menjadi aman karena Catra sudah

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 34

    "Ketua," jerit para bandit, mereka ingin bergerak membantu Ekawira namun secara tepat waktu Sekar melompat ke hadapan mereka untuk menghalau. Ia menghunuskan pedang, seolah berkata siapapun yang berani maju selangkah lagi maka Sekar akan memenggal kepala mereka. Hal itu membuat mereka tak berani bergerak lebih jauh.Para bandit sudah melihat sendiri kemampuan Catra, jadi mereka menebak kemampuan gadis ini juga tidak kalah mengerikannya.Di alam bawah sadar, Ekawira sedang berbicara dengan sesosok gumpalan hitam yang melayang di udara."Kenapa kau memanggilku kemari? Bukankah sebelumnya aku sudah memberimu kekuatan yang besar!""Maaf Yang Agung, tapi sekarang nyawaku dalam bahaya. Aku telah dikalahkan oleh seseorang.""Jadi, apa yang kau inginkan?""Aku… tolong berikan aku kekuatan yang lebih besar lagi."Suasana menjadi hening setelah Ekawira berkata demikian, sebelum gumpalan hitam itu kembali bersuara."Member

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 33

    "Apa yang terjadi?" bisik pelan Catra saat dirinya sudah berada di samping Sekar, setelah membantunya mengalahkan beberapa musuh yang mengepung gadis itu."Maaf, tapi mereka menyadari penyamaranku." Sekar bereaksi datar, sebab fokusnya saat ini mengarah pada komplotan bandit yang mulai mengerumuni keduanya dengan masing-masing golok yang diarahkan kepada mereka."Tidak apa-apa," Catra tak menyalahkan Sekar, walaupun keadaan ini tidak seperti yang mereka rencanakan, namun Catra yakin bisa mengatasinya. Lagipula keadaan seperti ini akan terjadi cepat atau lambat.Bersamaan dengan itu, komplotan bandit membukakan jalan untuk seseorang yang baru saja datang. "Ketua!""Bagus!" Ekawira bertepuk tangan dengan kondisi setengah sadar karena masih dalam kondisi mabuk. "Selama ini tidak ada seorangpun yang berani mengganggu ketenanganku disini, tapi karena kalian sudah datang, maka tidak usah berpikir lagi untuk kembali. Aku akan menjadikan tubuh kalian per

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status