Masuk
Langit mendung menggantung rendah, menggiring hujan deras membasahi bumi. Angin dingin menyusup di antara pepohonan yang bergoyang pelan, menebar aroma tanah basah dan dedaunan membusuk.
Di pinggiran hutan yang sunyi dan dingin, sebuah kereta mewah ditarik dua ekor kuda berlari kencang menerjang jalan berlumpur yang penuh genangan. Sesekali kedua kuda meringkik keras, melawan terpaan hujan dan beban perjalanan. Suara roda berderak bercampur dengan guyuran air menciptakan irama malam yang tak biasa. Sepuluh pria berbaju hitam mengikuti di belakang, langkah mereka mantap menyatu dengan irama derap kuda. Wajah mereka tertutup separuh, membawa aura waspada yang mencolok di tengah pekatnya senja. Setiap tangan menggenggam senjata. Mereka adalah pengawal terlatih, mata mereka terus bergerak, menelusuri setiap sudut hutan yang gelap. Di dalam kereta, duduk sebuah keluarga kecil—sepasang suami istri bersama dua anak lelaki mereka. Si sulung berusia sekitar sepuluh tahun, sedangkan adiknya baru tujuh tahun. Pakaian dan sikap mereka menunjukkan bahwa ini bukan keluarga biasa. Mungkin bangsawan, atau setidaknya pedagang kaya yang disegani. Anak-anak mereka mulai terlelap, tertidur di pangkuan ibunya yang sesekali mengusap rambut keduanya dengan lembut. Meskipun tampak tenang di luar, sang ibu menyimpan rasa khawatir sejak mereka memasuki hutan. "Ki, berapa lama lagi kita akan sampai?" tanya sang kepala keluarga, seorang pria berbadan besar berusia empat puluhan. "Maaf, Juragan," sahut sang kusir tua dengan nada hati-hati. "Jika jalanan tak digenangi air, kita bisa tiba tengah malam. Tapi dengan hujan seperti ini... sepertinya baru akan sampai esok pagi." Pedagang itu mengangguk, wajahnya letih. "Baik. Pecut kudanya lebih cepat lagi." "Siap, Juragan." Perjalanan awal berjalan lancar meski hujan tak kunjung reda. Namun, saat rombongan tiba di tengah hutan yang lebat, kuda-kuda itu tiba-tiba meringkik liar dan berhenti mendadak. Kereta berguncang keras. Roda bagian belakang sempat terperosok ke dalam lumpur, menciptakan hentakan yang membangunkan anak-anak dari tidur gelisah mereka. "Ada apa, Ki?" tanya sang pedagang, tersadar dari kantuk yang hampir menguasainya. Wajahnya tampak kesal, namun berubah cemas saat melihat raut panik sang kusir. "Anu... juragan... saya rasa kita dalam bahaya," jawabnya lirih. Suaranya tercekat, matanya tak lepas dari bayangan samar yang bergerak cepat di antara pepohonan. Belum sempat sang pedagang bertanya lebih jauh, suara benturan dan teriakan keras terdengar dari luar. Jeritan pendek, denting logam yang saling beradu, dan ringkik kuda yang menggila menciptakan kekacauan mencekam. Malam yang awalnya sunyi kini berubah jadi medan pertarungan hidup dan mati. Dengan hati-hati ia menyingkap tirai kereta dan memandang ke luar. "Bandit..." gumamnya, wajahnya langsung pucat pasi. Istri dan anak-anaknya panik. "Suamiku! Bagaimana ini? Kami tak ingin mati di sini!" teriak sang istri sambil memeluk kedua anak mereka yang menangis ketakutan. Sang ibu menggigil, tidak hanya karena hawa dingin, tapi juga karena ketakutan yang menyesakkan dada. "Tenang. Kita menyewa jasa Rumah Kuda Terbang. Mereka bukan penjaga biasa," ucap sang pedagang, mencoba menenangkan meski nadanya tak meyakinkan. Namun ketika ia kembali mengintip ke luar, harapannya pupus. Para pengawal dari Rumah Kuda Terbang sedang terdesak. Jumlah bandit jauh lebih banyak. Dari balik kabut tipis yang mulai naik dari tanah basah, siluet-siluet bersenjata tampak mengelilingi kereta mereka seperti sekawanan serigala lapar. Hujan tiba-tiba berhenti, lalu senyap. Pedagang kaya itu menegakkan tubuhnya, namun belum sempat ia bangkit, tirai kereta tersingkap kasar. Sebilah golok dingin langsung menempel di lehernya, tajamnya begitu dekat hingga jakunnya nyaris teriris. Napasnya tercekat, keringat dingin langsung membasahi pelipisnya. Istrinya menjerit ngeri. "Serahkan semua harta kalian!" bentak si bandit bertopeng. "A-aku... aku akan memberikannya," sahut sang pedagang tergagap. "Tapi... tolong, lepaskan keluargaku." Pemimpin bandit itu menatap tajam. Ia berpikir sejenak sebelum mengangguk pelan. "Turun. Ikuti aku." "Istriku, jaga anak-anak. Aku akan kembali," ucapnya lirih, meski ia tahu harapan itu amat tipis. Sebelum turun, ia sempat menatap wajah istri dan anak-anaknya dalam-dalam seperti tatapan terakhir yang menyimpan sejuta kata yang tak sempat terucap. “Apa pun yang terjadi, lindungi mereka," bisiknya nyaris tak terdengar. Dengan langkah berat, ia mengikuti sang perampok menjauh ke sisi hutan. Sang istri mengintip dari celah tirai. Ia melihat mereka berdiri di dekat pohon besar, tampak seperti tengah berdiskusi. Namun, tiba-tiba tangan sang bandit terangkat ke udara. Kilatan tajam melesat. Golok besar menebas leher suaminya dalam sekali ayunan. Kepalanya terjatuh, menggelinding pelan ke tanah becek. Darah hangat mengalir cepat membasahi tanah, bercampur dengan lumpur, menciptakan genangan kematian. Udara di sekeliling seperti membeku. Waktu seakan berhenti, hanya menyisakan suara tetes air dari pepohonan dan desiran angin yang berubah menjadi jeritan tak bersuara. "SUAMIKU!" teriak sang istri histeris. Ia berlari keluar, tak mempedulikan bandit lain yang berjaga. Kedua putranya menyusul. Mereka semua memeluk tubuh pria itu—ayah dan suami mereka—yang kini terbujur kaku, bersimbah darah. Anak sulungnya menjerit memanggil nama ayahnya, sedangkan si bungsu hanya bisa menangis dalam diam, tubuhnya menggigil hebat. Jerit tangis mengoyak senyap hutan. Namun pimpinan bandit hanya memandang mereka tanpa rasa. Ia sudah terlalu sering menyaksikan pemandangan semacam ini. Baginya, kematian hanyalah angka. Tangis hanyalah suara. Hati nurani? Sudah lama ia kubur bersama masa lalunya. Ia memberi aba-aba. Anak buahnya segera menarik ketiganya dengan kasar. "TIDAK! Jangan sakiti mereka!" jerit sang ibu, berusaha melindungi kedua anaknya. Tangannya merangkul anak-anaknya erat, meski tubuhnya sendiri gemetar tak berdaya. Ia bersujud di hadapan sang bandit. "Kumohon... ambil semua yang kami punya, tapi biarkan anak-anakku hidup!" Sang bandit hanya menatap diam. Namun matanya mulai memancarkan nafsu rendah saat melihat rupa sang wanita. Meski usianya tak lagi muda sekitar tiga puluhan tahun, paras dan tubuhnya masih terawat baik. Wanita itu menyadari tatapan itu. Ia mundur, memeluk tubuhnya sendiri dengan gemetar. Namun tidak ada tempat untuk lari. “Tidak, tuan. Jangan lakukan itu, aku mohon.” Wanita itu menjadi ketakutan. Bencana yang sebentar lagi akan dialaminya sepertinya jauh lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri. “Tutup mata kalian,” pekiknya pada kedua anaknya. Kedua bocah itu tidak terlalu mengerti, namun tetap mengikuti perintah ibunya untuk menutup mata. Ketika bandit itu mendekat, ia mencoba melawan. Tapi tenaga seorang wanita tak bisa menandingi brutalnya seorang perampok bersenjata. Dalam pekik ketakutan dan suara rintihan, kehormatan dan harapan yang tersisa ikut tercabik dalam kegelapan malam. Tangis dan jeritnya menembus langit yang baru saja berhenti menangis. Malam itu, di tengah hutan basah yang sunyi, tragedi menyelimuti keluarga kecil itu dengan tragis. Di balik semak-semak, seekor burung hantu memekik lalu terbang menjauh, seolah membawa kabar duka pada langit yang kembali menabur gerimis. Hutan menelan jeritan itu dalam-dalam, menyimpannya sebagai rahasia malam yang mungkin tak akan pernah terungkap.Setelah kejadian di Hutan Barat, seharusnya Catra bisa sedikit bersantai. Namun entah mengapa, perasaannya justru tidak bisa benar-benar tenang.Sosok misterius yang mengikuti mereka dari Hutan Barat masih terbayang di kepalanya.Kemudian ada pria berjubah hitam dari Pasukan Bayang Darah. Pria itu datang untuk membunuhnya. Namun semuanya berubah setelah melihat tanda tengkorak di punggungnya.Catra belum menemukan jawabannya, dan semakin ia memikirkannya, semakin banyak pertanyaan yang muncul.“Lingga.” Suara Damar membuat Catra tersadar.“Hm?”“Kau melamun lagi.”“Aku sedang berpikir.”“Memikirkan pria berjubah hitam tadi?”Catra menoleh.Damar tersenyum tipis. “Benar, kan?”Catra tidak menjawab.Damar terkekeh. “Tenang saja. Aku juga memikirkannya.”Sebelum percakapan mereka berlanjut, terdengar langka
Cahaya Kotaraja semakin jelas terlihat. Matahari telah tenggelam sepenuhnya di balik pegunungan. Langit berubah menjadi biru gelap, sementara lampu-lampu mulai menyala di sepanjang jalan menuju kota.Catra masih berdiri diam. Tatapannya tertuju pada gerbang Kotaraja yang terlihat dari kejauhan. Namun pikirannya tidak berada di sana.Ada sesuatu yang sejak tadi mengikutinya. Bukan sekadar perasaan. Catra yakin, seseorang sedang mengawasinya.“Lingga?” Suara Damar membuat Catra tersadar.“Hm?”“Kau tiba-tiba berhenti.”Catra tidak langsung menjawab. Ia kembali melihat ke arah jalan di depan. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Setidaknya, tidak terlihat.“Tidak ada apa-apa.”“Kau yakin?” Damar mengerutkan kening.“Ya.”Damar memperhatikan Catra beberapa detik, kemudian ia tersenyum tipis.“Baiklah.”Mereka kembali berj
Catra tiba-tiba merasa kepalanya sedikit berat. “Banyak sekali.” Damar tertawa. “Sekarang kau mulai memahami.” “Memahami apa?” “Bahwa dunia tidak hanya terdiri dari orang-orang yang kau kenal.” Catra diam. Damar melanjutkan, “Dan kekuatan seseorang juga tidak hanya bisa dilihat dari nama perguruannya.” “Lalu bagaimana?” “Kemampuan. Tenaga dalam. Pengalaman. Teknik. Senjata.” Damar menoleh. “Dan yang paling penting...” “Tekad.” Catra menatapnya. Damar tersenyum. “Namun kalau kau ingin memahami dunia persilatan, kau harus memahami tingkatan kekuatan terlebih dahulu.” Catra langsung tertarik. “Yang tadi?” “Ya.” Damar mengangguk. “Di dunia persilatan, kekuatan seseorang umumnya dibagi berdasarkan tingkat tenaga dalam yang mereka miliki.” “Tenaga dalam?” “Ya.” Damar mengangkat telunjuknya. “Tubuh manusia memiliki jalur-jalur energi. Seiring seseorang berlatih, tenaga dalam akan terkumpul dan membentuk lingkaran-lingkaran tenaga di dalam tubuh.” “Lingk
Catra dan Damar masih berjalan menyusuri jalan tanah yang mengarah menuju Kotaraja, namun perjalanan kali ini terasa berbeda.Bukan karena mereka sedang dikejar. Bukan pula karena ada musuh yang menunggu di depan. Melainkan karena untuk pertama kalinya, Catra mulai menyadari betapa luasnya dunia yang selama ini tidak pernah ia kenal.Selama bertahun-tahun, hidupnya hanya berputar di sekitar satu tujuan. Menjadi lebih kuat, mencari kebenaran tentang pembantaian keluarganya, menemukan orang-orang yang bertanggung jawab, dan suatu hari nanti membalas semuanya.Ia tidak pernah benar-benar peduli dengan dunia di luar tujuan tersebut. Namun sekarang, setelah bertemu begitu banyak orang dan mengetahui bahwa Pedang Tengkorak ternyata menjadi alasan berbagai pihak mengincarnya, Catra mulai memahami satu hal.Dunia ini jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.“Jadi...” Catra akhirnya membuka suara.
“Saudara... ya?” Langkah Catra terhenti sejenak.Beberapa meter di depannya, Damar sudah lebih dahulu berjalan meninggalkan Hutan Barat. Pria muda itu sama sekali tidak menoleh, seolah kalimat yang baru saja diucapkannya bukan sesuatu yang besar.Namun bagi Catra, kalimat itu terasa berbeda.“Saudara...” Catra mengulanginya pelan. Di balik topeng hitamnya, sepasang matanya memandang kosong ke arah punggung Damar.Sudah berapa lama ia tidak mendengar kata itu?Sejak pembantaian atas keluarganya belasan tahun lalu, ia sudah melupakan kata itu, karena saudara satu-satunya yang Catra miliki sudah meninggal sejak itu juga, setidaknya begitulah yang ia yakini.Catra tersenyum tipis, namun senyum itu tidak bertahan lama. Ada kesedihan yang tersembunyi di balik matanya, sebelum ia tersadar dan perlahan mengepalkan tangan.Tidak.Ia tidak ingin kembali tenggelam dalam kenangan itu,
Hutan Barat kembali dipenuhi ketegangan. Angin yang sebelumnya bergerak lembut kini terasa seolah berhenti. Daun-daun yang bergoyang perlahan di atas kepala mereka menciptakan suara berdesir yang justru membuat suasana semakin mencekam.Catra berdiri dengan kedua kaki kokoh menapak tanah. Di hadapannya, pria berjubah hitam itu masih menggenggam pedang dengan satu tangan.Namun ada sesuatu yang berubah, tatapan dingin di balik topengnya tidak lagi hanya tertuju pada Catra sebagai seorang musuh. Tatapan itu kini tertuju pada tanda tengkorak yang terlihat di punggung Catra.“Dari mana kau mendapatkannya?”Pertanyaan itu kembali terdengar.Catra mengerutkan kening, ia tidak mengerti mengapa pria tersebut tiba-tiba tertarik pada tanda lahir di tubuhnya. Namun setelah beberapa saat berpikir, Catra akhirnya menjawab dengan jujur.“Itu?” Ia sedikit memiringkan tubuh, berusaha melihat bagian punggungnya sendiri.“Tanda lahir.”







