MasukSuara ringkikan kuda memecah keheningan malam, mengoyak sunyi hutan yang basah oleh hujan. Di tengah jalan setapak yang becek dan gelap, seekor kuda melaju kencang, menendang lumpur dan genangan air ke segala arah.
Di atas punggungnya, seorang bocah lelaki kecil, tubuhnya ringkih namun genggamannya erat pada tali kendali. Nafasnya terengah, matanya sesekali menoleh ke belakang, penuh cemas seakan bayangan maut tengah memburunya dari balik kegelapan. Bocah itu terlihat terlalu kecil untuk menunggangi kuda secepat itu, namun gerakannya lincah, nyaris seperti seorang penunggang kawakan. Tapi jelas, bukan keberanian yang mendorongnya—melainkan rasa takut yang lebih dalam dari kematian itu sendiri. Ia tak tahu ke mana arah tujuannya. Tak ada peta. Tak ada rencana. Hanya satu tujuan yang merasuki seluruh pikirannya—menjauh... sejauh mungkin dari tragedi. Namun, gelapnya malam dan derasnya hujan yang baru saja reda membuat penglihatannya terbatas. Kuda itu tak sempat menghindari akar pohon besar yang menjulur dari tanah. Dalam satu hentakan keras— “HIIKKK!” Kuda itu tersandung. Tubuh kecil bocah itu melayang, terpental dari pelana. Tubuhnya berputar di udara, dan baru disadarinya bahwa mereka berada di pinggiran jurang curam. “Tidaaaak! Tolong… siapapun tolong aku…!” Teriakannya menggema di antara dinding-dinding tebing, sebelum tubuh mungil itu menghilang dalam gelap, ditelan ketinggian yang seolah tak berujung. *** Di atas sebuah batu besar yang menjorok ke bibir jurang, seorang pria tua duduk sendiri, menatap langit malam yang diselimuti mendung. Di tangannya, sebotol arak usang menjadi satu-satunya teman yang setia. Tubuhnya kurus kering, kulitnya pucat tertutup luka lama. Tulang-tulangnya menonjol, seolah tubuhnya telah lama melupakan nikmatnya makanan. Sorot matanya redup, tak lagi bersinar seperti dulu, seperti nyala api yang dibiarkan hampir padam. “Heh… hidup ini memang payah,” gumamnya, setengah tertawa, setengah menjerit. Ia menenggak arak itu dengan kasar, lalu menatap botol di tangannya. “Hanya kau… yang tak pernah meninggalkanku.” Tetesan arak jatuh ke batu, bersatu dengan embun dingin yang menempel. Di balik pandangan matanya yang sayu, berkelebat bayangan seorang wanita muda—senyumnya lembut, tatapannya teduh. Satu-satunya wanita yang pernah mengisi relung hatinya, namun tak bisa ia miliki karena jalan hidup yang ia pilih. Demi kekuatan, demi kehormatan... ia mengorbankan satu-satunya hal yang benar-benar berarti. Dan kini, yang tersisa hanya sesal. “Andai waktu bisa kuputar kembali,” lirihnya, mata mulai berkaca-kaca. “Aku akan memilihmu… bukan kekuatan.” Sebelum kesedihannya menelan seluruh dirinya, suara keras membelah malam. “Tolong aku…!” Pria tua itu mendongak, wajahnya berubah. “Oh, Langit! Bahkan di tengah sesalku, kau masih sempat mengirimi aku masalah baru!” serunya dengan geram. Tapi pria tua bukan orang yang akan membiarkan suara minta tolong itu begitu saja berlalu. Ia tahu… suara itu bukan sekadar teriakan biasa, melainkan sebuah panggilan nasib. Dengan satu hentakan kakinya ke batu, tubuh pria tua itu melayang di udara, seperti tertiup badai gaib. Kecepatan dan ringannya gerakan itu tak mencerminkan usianya. Dalam satu gerakan akurat, ia meraih tubuh kecil yang jatuh dengan cepat dan memeluknya erat. Saat mendarat, mereka berada tepat di depan mulut sebuah gua tersembunyi, tempat di mana lelaki tua itu tinggal selama bertahun-tahun. “Seorang bocah…?” gumamnya, memandangi wajah kecil yang tak sadarkan diri, basah oleh air mata dan keringat. “Tak terluka… tapi dia takut. Sangat takut.” Wajah polos itu masih menyimpan sisa tangisan, bibirnya gemetar bahkan dalam pingsan. Pria tua itu menarik nafas panjang, lalu membawanya masuk ke dalam gua. Gua itu sederhana, tapi cukup nyaman. Dindingnya bersih, dan obor-obor kecil menyala menerangi interior batu yang hangat. Di salah satu sudut, terdapat ranjang batu berlapis kulit binatang, satu-satunya tempat istirahat di tempat sunyi itu. Ia meletakkan bocah itu dengan hati-hati. “Biarlah kau tidur dulu, bocah kecil. Besok, aku akan mencari tahu siapa dirimu... dan mengapa langit menurunkanmu kepadaku.” *** “Ugh…” Bocah kecil itu perlahan membuka mata. Cahaya obor yang hangat membuat pandangannya menyipit. Ia segera duduk dan menatap sekeliling dengan gugup. Hatinya berdegup kencang. “Di… di mana aku?” Tangannya memeriksa tubuhnya sendiri. Masih utuh. Masih bernyawa. Matanya melebar, tak percaya. “Aku… aku selamat?” Namun rasa lega itu segera berubah menjadi kesedihan yang menyesakkan. Wajah ayahnya… jerit ibunya… darah yang berceceran… suara kakaknya saat melarikan diri… semua muncul lagi dalam benaknya seperti badai. “Ayah… Ibu… Kakak…” Air matanya jatuh lagi, membasahi wajahnya yang masih begitu muda. Begitu rapuh. Sebagian jiwanya ikut terkubur di tempat kejadian itu. Ia teringat—mereka melarikan diri. Ia dan kakaknya. Saat itu, para bandit tergiur dengan tubuh ibunya sehingga mereka mulai melupakan keberadaan bocah itu dan kakaknya, lebih memilih untuk menyalurkan aksi bejat mereka secara bergantian. Melihat kesempatan itu sang ibu memerintahkan mereka untuk melarikan diri. Bisa dibilang, mereka bisa kabur karena pengorbanan sang ibu di sisa-sisa hidupnya. Walaupun tidak melihat secara langsung, tapi bocah itu yakin bahwa ibunya tidak akan selamat. Kini, ia sendiri. Kesepian menelannya bulat-bulat. Ia menggigit bibirnya sendiri, menahan tangis yang mulai pecah kembali. Bagaimana mungkin seorang anak sekecil itu memikul trauma sebesar dunia? Saat air matanya masih jatuh, ia mendengar suara langkah kaki berat mendekat dari dalam gua. Suara itu membuat bulu kuduknya berdiri. Ia segera menyilangkan tangan, memeluk lutut, dan menatap ke arah sumber suara. Siluet itu muncul di ambang pintu gua. Pria tua kurus, berambut kusut, berpakaian compang-camping, menatapnya dengan senyum samar. Andai bocah itu tak melihat senyumnya, mungkin ia sudah mengira itu mayat hidup. “Si-siapa… siapa kau?” ucapnya terbata-bata, tubuhnya gemetar hebat. “Hehe… kau sudah siuman, sobat kecil,” jawab pria tua itu dengan santai. Ia melangkah lebih dekat. Namun bocah itu segera mengangkat kedua tangan, memeluk dirinya sendiri sambil menutup matanya. “Ja-jangan… tolong… jangan bunuh aku!” teriaknya putus asa. “Aku… aku belum mau mati!” Pria tua itu berhenti di tempatnya. Wajahnya berubah serius. Ia melihat ketakutan murni, bukan hanya trauma biasa. Ini adalah luka dalam jiwa—luka yang mungkin tak akan pernah sembuh. “Tenanglah, bocah… Aku tidak akan menyakitimu,” ujarnya pelan. Bocah itu tak langsung percaya. Tubuhnya gemetar, mulutnya bergetar sambil terus mengulang kata-kata. “Jangan bunuh aku…” Pria tua itu menatapnya lama, lalu duduk di lantai, menaruh botol araknya ke samping, dan bersandar pada lutut. “Hidup ini sudah cukup kejam padamu, ya? Bahkan sebelum kau mengerti dunia… kau sudah diambil dari tempat teramanmu.” Pria tua itu tak mengharap balasan. Ia tahu, anak itu butuh waktu. Tetapi dalam hatinya, untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, ia merasa tidak sendiri lagi.Melati mendorong tubuh Danar dengan keras agar terlepas dari genggaman tangannya. Saat Danar terjengkang, ia mengambil kesempatan untuk melarikan diri keluar dari ruangan.Danar hanya tertawa kecil menyaksikan Melati yang mulai menjauh. Ia juga melarang kedua penjaga untuk menghentikan langkah gadis itu."Biarkan saja dia pergi…" teriak Danar, "Aku ingin tahu bagaimana reaksinya saat melihat kekasihnya itu terbunuh." gumamnya kecil seraya meninggalkan tempat itu.Melati sendiri telah bergegas menuruni anak tangga. Setiap langkahnya selalu memikirkan nasib Arya. Melati takut kalau kekasihnya itu benar-benar akan kehilangan nyawa."Maafkan aku, Arya. Ini semua salahku." Melati berlari sekuat tenaga sambil berharap bahwa Arya akan baik-baik saja.***Suasana di halaman depan kediaman keluarga Melati bertambah heboh saat Chitra memberikan hukuman pancung kepada Arya. Algojo yang diperintahkan juga sudah bersiap-siap untuk menjalankan
Catra bergegas pergi ke kediaman orang tua Melati setelah mendengar cerita pemilik warung sebelumnya, mengatakan bahwa Melati dan kekasihnya diarak menuju ke sana.Berbekal petunjuk pemilik warung, tidak sulit untuk menemukan kediaman megah tersebut, apalagi di sepanjang jalan juga dipenuhi warga kota yang sedang berbondong-bondong untuk melihat kehebohan itu.Di depan kediaman Melati, seorang gadis segera berlari menuju ke arah wanita cantik setengah baya sambil menangis tersedu-sedu. Ialah Melati itu sendiri yang sedang memohon pengampunan untuk kekasihnya kepada ibunya."Ibu, kumohon lepaskan Arya, dia tidak bersalah. Aku yang memaksanya untuk membawaku kabur." Melati memeluk wanita paruh baya itu."Tapi, lihat Arya bahkan tidak menuruti kemauanku, dan sebaliknya membawaku pulang. Ibu… Arya… dia adalah pemuda yang baik." Melati masih terisak tangis. Matanya sudah bengkak, menandakan bahwa dirinya sudah menangis dalam waktu yang cukup lama.
Catra memastikan gerombolan pembuat onar itu benar-benar meninggalkan warung makan, barulah ia menghampiri tiang yang menjadi tempat menancapnya koin-koin perak sebelumnya. Dengan satu pukulan tangan yang dialiri tenaga dalam, sudah cukup untuk membuat koin-koin tersebut beterbangan. Kemudian, ia mengumpulkan semua dalam satu genggaman tangannya."Kisanak, kalian bisa keluar sekarang!" Suara Catra memenuhi seluruh warung.Dengan raut yang masih dipenuhi ketakutan, pemilik warung bersama istri dan karyawannya keluar dari persembunyian. Lalu, ia seorang diri menghampiri Catra dengan tergesa-gesa."Terima kasih tuan, karena sudah menolong kami." Ia membungkuk hormat.Catra tidak menjawab, dan hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian ia memberikan kepingan perak yang didapat dari Lembu Ireng sebelumnya sekaligus bayaran untuk tagihan makannya.Pemilik warung menolaknya secara halus dan mengatakan lebih baik Catra menyimpan untuk dirinya saja.
Pandangan Seto menyapu seluruh ruangan, begitu juga dengan ketiga rekannya, dan mereka tidak menemukan orang lain, kecuali seorang pemuda yang sedang duduk dengan membelakangi mereka. Tidak salah lagi, sudah pasti ialah orangnya yang melepaskan tusuk gigi tersebut.Dengan amarah menggebu-gebu Seto mulai melangkah mendekati pemuda yang terlihat santai itu. "Ternyata hanya cecunguk kecil, hebat sekali berani ikut campur. Biar kupatahkan dulu satu tanganmu baru kau menyadari kalau sudah salah memilih lawan!"Ketiga rekannya hanya melihat saja, berharap ada tontonan yang menarik akan disajikan Seto sebentar lagi."Tamatlah sudah riwayat pemuda itu, berani-beraninya ia mengusik harimau yang sedang mengamuk." celetuk pria bergigi ompong."Aku jadi penasaran bagaimana saudara Seto akan mengakhiri ini? Mematahkan kedua tangannya atau mencincang-cincang tubuhnya?" Pria yang memiliki paras garang ikut berpendapat.Di antara mereka, hanya ketuanya yang tidak bersuara. Ia hanya fokus pada apa ya
Catra mulai menelusuri jalanan kota Teja saat dirinya sudah berpisah dengan kakek yang ditemuinya di hutan. Ia merasa takjub saat menemukan bangunan-bangunan mewah yang berdiri di sepanjang jalan. Meskipun bangunan tersebut masih terbuat dari papan, namun kualitas kayunya cukup langka.Memang, pada zaman tersebut rumah-rumah mewah sekalipun masih dibangun menggunakan kayu, hanya yang membedakannya ada pada kualitas setiap kayu yang digunakan.Catra menjadi teringat pada rumah mereka dahulu yang memiliki halaman luas dan terdiri dari dua lantai. Pada masanya, rumah tersebut sudah termasuk besar dan hanya bisa dimiliki oleh orang-orang kaya saja.Pemuda itu terus melangkah sambil mencoba mengingat kembali letak kediaman kakek-neneknya 13 tahun silam. Namun, sebelum Catra menemukannya, perutnya mulai keroncongan. Untungnya setelah berjalan sekitar lima menit, ia bisa menemukan sebuah warung makan."Silahkan masuk, tuan." Kedatangan Catra disambut senyuman hangat oleh seorang gadis muda y
Warga desa Merangin segera berkumpul mendekati Catra setelah melihat para perampok yang telah jatuh bertumbangan di tanah. Begitu juga dengan kepala desa yang dibantu oleh putrinya dan seorang warga juga ikut dalam kerumunan tersebut.Dengan kerendahan hati, kepala desa setengah berlutut di hadapan Catra untuk menyampaikan rasa terima kasihnya mewakili para warganya. "Tuan Pendekar, terima kasih atas bantuanmu. Dengan begini, kami dan desa-desa lainnya sudah terbebas dari teror para perampok."Dengan sedikit gugup, ia kembali melanjutkan, "Andai tuan tidak keberatan dan belum terburu-buru pergi, kami berniat mengadakan perayaan malam ini sekaligus untuk perjamuan kedatangan tuan." Kepala desa menyampaikan niatnya dengan sangat hati-hati, takut menyinggung perasaan Catra.Catra yang mendengarnya tidak begitu tertarik. Apalagi ia masih harus pergi ke Kota Teja. Catra tidak berniat menundanya lebih lama, sebab itulah ia menolak undangan dari kepala desa itu."Tidak perlu! Aku akan segera







