Share

Bab 2

Penulis: SWEET_OWL
last update Tanggal publikasi: 2026-06-10 13:45:06

Suara ringkikan kuda memecah keheningan malam, mengoyak sunyi hutan yang basah oleh hujan. Di tengah jalan setapak yang becek dan gelap, seekor kuda melaju kencang, menendang lumpur dan genangan air ke segala arah.

Di atas punggungnya, seorang bocah lelaki kecil, tubuhnya ringkih namun genggamannya erat pada tali kendali. Nafasnya terengah, matanya sesekali menoleh ke belakang, penuh cemas seakan bayangan maut tengah memburunya dari balik kegelapan.

Bocah itu terlihat terlalu kecil untuk menunggangi kuda secepat itu, namun gerakannya lincah, nyaris seperti seorang penunggang kawakan. Tapi jelas, bukan keberanian yang mendorongnya—melainkan rasa takut yang lebih dalam dari kematian itu sendiri.

Ia tak tahu ke mana arah tujuannya. Tak ada peta. Tak ada rencana. Hanya satu tujuan yang merasuki seluruh pikirannya—menjauh... sejauh mungkin dari tragedi.

Namun, gelapnya malam dan derasnya hujan yang baru saja reda membuat penglihatannya terbatas. Kuda itu tak sempat menghindari akar pohon besar yang menjulur dari tanah. Dalam satu hentakan keras—

“HIIKKK!” Kuda itu tersandung.

Tubuh kecil bocah itu melayang, terpental dari pelana. Tubuhnya berputar di udara, dan baru disadarinya bahwa mereka berada di pinggiran jurang curam.

“Tidaaaak! Tolong… siapapun tolong aku…!” Teriakannya menggema di antara dinding-dinding tebing, sebelum tubuh mungil itu menghilang dalam gelap, ditelan ketinggian yang seolah tak berujung.

***

Di atas sebuah batu besar yang menjorok ke bibir jurang, seorang pria tua duduk sendiri, menatap langit malam yang diselimuti mendung. Di tangannya, sebotol arak usang menjadi satu-satunya teman yang setia.

Tubuhnya kurus kering, kulitnya pucat tertutup luka lama. Tulang-tulangnya menonjol, seolah tubuhnya telah lama melupakan nikmatnya makanan. Sorot matanya redup, tak lagi bersinar seperti dulu, seperti nyala api yang dibiarkan hampir padam.

“Heh… hidup ini memang payah,” gumamnya, setengah tertawa, setengah menjerit.

Ia menenggak arak itu dengan kasar, lalu menatap botol di tangannya. “Hanya kau… yang tak pernah meninggalkanku.”

Tetesan arak jatuh ke batu, bersatu dengan embun dingin yang menempel. Di balik pandangan matanya yang sayu, berkelebat bayangan seorang wanita muda—senyumnya lembut, tatapannya teduh.

Satu-satunya wanita yang pernah mengisi relung hatinya, namun tak bisa ia miliki karena jalan hidup yang ia pilih. Demi kekuatan, demi kehormatan... ia mengorbankan satu-satunya hal yang benar-benar berarti. Dan kini, yang tersisa hanya sesal.

“Andai waktu bisa kuputar kembali,” lirihnya, mata mulai berkaca-kaca. “Aku akan memilihmu… bukan kekuatan.”

Sebelum kesedihannya menelan seluruh dirinya, suara keras membelah malam.

“Tolong aku…!”

Pria tua itu mendongak, wajahnya berubah.

“Oh, Langit! Bahkan di tengah sesalku, kau masih sempat mengirimi aku masalah baru!” serunya dengan geram.

Tapi pria tua bukan orang yang akan membiarkan suara minta tolong itu begitu saja berlalu. Ia tahu… suara itu bukan sekadar teriakan biasa, melainkan sebuah panggilan nasib.

Dengan satu hentakan kakinya ke batu, tubuh pria tua itu melayang di udara, seperti tertiup badai gaib. Kecepatan dan ringannya gerakan itu tak mencerminkan usianya. Dalam satu gerakan akurat, ia meraih tubuh kecil yang jatuh dengan cepat dan memeluknya erat.

Saat mendarat, mereka berada tepat di depan mulut sebuah gua tersembunyi, tempat di mana lelaki tua itu tinggal selama bertahun-tahun.

“Seorang bocah…?” gumamnya, memandangi wajah kecil yang tak sadarkan diri, basah oleh air mata dan keringat. “Tak terluka… tapi dia takut. Sangat takut.”

Wajah polos itu masih menyimpan sisa tangisan, bibirnya gemetar bahkan dalam pingsan. Pria tua itu menarik nafas panjang, lalu membawanya masuk ke dalam gua.

Gua itu sederhana, tapi cukup nyaman. Dindingnya bersih, dan obor-obor kecil menyala menerangi interior batu yang hangat. Di salah satu sudut, terdapat ranjang batu berlapis kulit binatang, satu-satunya tempat istirahat di tempat sunyi itu.

Ia meletakkan bocah itu dengan hati-hati.

“Biarlah kau tidur dulu, bocah kecil. Besok, aku akan mencari tahu siapa dirimu... dan mengapa langit menurunkanmu kepadaku.”

***

“Ugh…”

Bocah kecil itu perlahan membuka mata. Cahaya obor yang hangat membuat pandangannya menyipit. Ia segera duduk dan menatap sekeliling dengan gugup. Hatinya berdegup kencang.

“Di… di mana aku?”

Tangannya memeriksa tubuhnya sendiri. Masih utuh. Masih bernyawa. Matanya melebar, tak percaya.

“Aku… aku selamat?”

Namun rasa lega itu segera berubah menjadi kesedihan yang menyesakkan. Wajah ayahnya… jerit ibunya… darah yang berceceran… suara kakaknya saat melarikan diri… semua muncul lagi dalam benaknya seperti badai.

“Ayah… Ibu… Kakak…”

Air matanya jatuh lagi, membasahi wajahnya yang masih begitu muda. Begitu rapuh. Sebagian jiwanya ikut terkubur di tempat kejadian itu.

Ia teringat—mereka melarikan diri. Ia dan kakaknya. Saat itu, para bandit tergiur dengan tubuh ibunya sehingga mereka mulai melupakan keberadaan bocah itu dan kakaknya, lebih memilih untuk menyalurkan aksi bejat mereka secara bergantian.

Melihat kesempatan itu sang ibu memerintahkan mereka untuk melarikan diri. Bisa dibilang, mereka bisa kabur karena pengorbanan sang ibu di sisa-sisa hidupnya. Walaupun tidak melihat secara langsung, tapi bocah itu yakin bahwa ibunya tidak akan selamat.

Kini, ia sendiri. Kesepian menelannya bulat-bulat.

Ia menggigit bibirnya sendiri, menahan tangis yang mulai pecah kembali. Bagaimana mungkin seorang anak sekecil itu memikul trauma sebesar dunia?

Saat air matanya masih jatuh, ia mendengar suara langkah kaki berat mendekat dari dalam gua. Suara itu membuat bulu kuduknya berdiri. Ia segera menyilangkan tangan, memeluk lutut, dan menatap ke arah sumber suara.

Siluet itu muncul di ambang pintu gua.

Pria tua kurus, berambut kusut, berpakaian compang-camping, menatapnya dengan senyum samar.

Andai bocah itu tak melihat senyumnya, mungkin ia sudah mengira itu mayat hidup.

“Si-siapa… siapa kau?” ucapnya terbata-bata, tubuhnya gemetar hebat.

“Hehe… kau sudah siuman, sobat kecil,” jawab pria tua itu dengan santai.

Ia melangkah lebih dekat. Namun bocah itu segera mengangkat kedua tangan, memeluk dirinya sendiri sambil menutup matanya.

“Ja-jangan… tolong… jangan bunuh aku!” teriaknya putus asa.

“Aku… aku belum mau mati!”

Pria tua itu berhenti di tempatnya. Wajahnya berubah serius. Ia melihat ketakutan murni, bukan hanya trauma biasa. Ini adalah luka dalam jiwa—luka yang mungkin tak akan pernah sembuh.

“Tenanglah, bocah… Aku tidak akan menyakitimu,” ujarnya pelan.

Bocah itu tak langsung percaya. Tubuhnya gemetar, mulutnya bergetar sambil terus mengulang kata-kata.

“Jangan bunuh aku…”

Pria tua itu menatapnya lama, lalu duduk di lantai, menaruh botol araknya ke samping, dan bersandar pada lutut.

“Hidup ini sudah cukup kejam padamu, ya? Bahkan sebelum kau mengerti dunia… kau sudah diambil dari tempat teramanmu.”

Pria tua itu tak mengharap balasan. Ia tahu, anak itu butuh waktu.

Tetapi dalam hatinya, untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, ia merasa tidak sendiri lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 117

    Setelah kejadian di Hutan Barat, seharusnya Catra bisa sedikit bersantai. Namun entah mengapa, perasaannya justru tidak bisa benar-benar tenang.Sosok misterius yang mengikuti mereka dari Hutan Barat masih terbayang di kepalanya.Kemudian ada pria berjubah hitam dari Pasukan Bayang Darah. Pria itu datang untuk membunuhnya. Namun semuanya berubah setelah melihat tanda tengkorak di punggungnya.Catra belum menemukan jawabannya, dan semakin ia memikirkannya, semakin banyak pertanyaan yang muncul.“Lingga.” Suara Damar membuat Catra tersadar.“Hm?”“Kau melamun lagi.”“Aku sedang berpikir.”“Memikirkan pria berjubah hitam tadi?”Catra menoleh.Damar tersenyum tipis. “Benar, kan?”Catra tidak menjawab.Damar terkekeh. “Tenang saja. Aku juga memikirkannya.”Sebelum percakapan mereka berlanjut, terdengar langka

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 116

    Cahaya Kotaraja semakin jelas terlihat. Matahari telah tenggelam sepenuhnya di balik pegunungan. Langit berubah menjadi biru gelap, sementara lampu-lampu mulai menyala di sepanjang jalan menuju kota.Catra masih berdiri diam. Tatapannya tertuju pada gerbang Kotaraja yang terlihat dari kejauhan. Namun pikirannya tidak berada di sana.Ada sesuatu yang sejak tadi mengikutinya. Bukan sekadar perasaan. Catra yakin, seseorang sedang mengawasinya.“Lingga?” Suara Damar membuat Catra tersadar.“Hm?”“Kau tiba-tiba berhenti.”Catra tidak langsung menjawab. Ia kembali melihat ke arah jalan di depan. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Setidaknya, tidak terlihat.“Tidak ada apa-apa.”“Kau yakin?” Damar mengerutkan kening.“Ya.”Damar memperhatikan Catra beberapa detik, kemudian ia tersenyum tipis.“Baiklah.”Mereka kembali berj

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 115

    Catra tiba-tiba merasa kepalanya sedikit berat. “Banyak sekali.” Damar tertawa. “Sekarang kau mulai memahami.” “Memahami apa?” “Bahwa dunia tidak hanya terdiri dari orang-orang yang kau kenal.” Catra diam. Damar melanjutkan, “Dan kekuatan seseorang juga tidak hanya bisa dilihat dari nama perguruannya.” “Lalu bagaimana?” “Kemampuan. Tenaga dalam. Pengalaman. Teknik. Senjata.” Damar menoleh. “Dan yang paling penting...” “Tekad.” Catra menatapnya. Damar tersenyum. “Namun kalau kau ingin memahami dunia persilatan, kau harus memahami tingkatan kekuatan terlebih dahulu.” Catra langsung tertarik. “Yang tadi?” “Ya.” Damar mengangguk. “Di dunia persilatan, kekuatan seseorang umumnya dibagi berdasarkan tingkat tenaga dalam yang mereka miliki.” “Tenaga dalam?” “Ya.” Damar mengangkat telunjuknya. “Tubuh manusia memiliki jalur-jalur energi. Seiring seseorang berlatih, tenaga dalam akan terkumpul dan membentuk lingkaran-lingkaran tenaga di dalam tubuh.” “Lingk

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 114

    Catra dan Damar masih berjalan menyusuri jalan tanah yang mengarah menuju Kotaraja, namun perjalanan kali ini terasa berbeda.Bukan karena mereka sedang dikejar. Bukan pula karena ada musuh yang menunggu di depan. Melainkan karena untuk pertama kalinya, Catra mulai menyadari betapa luasnya dunia yang selama ini tidak pernah ia kenal.Selama bertahun-tahun, hidupnya hanya berputar di sekitar satu tujuan. Menjadi lebih kuat, mencari kebenaran tentang pembantaian keluarganya, menemukan orang-orang yang bertanggung jawab, dan suatu hari nanti membalas semuanya.Ia tidak pernah benar-benar peduli dengan dunia di luar tujuan tersebut. Namun sekarang, setelah bertemu begitu banyak orang dan mengetahui bahwa Pedang Tengkorak ternyata menjadi alasan berbagai pihak mengincarnya, Catra mulai memahami satu hal.Dunia ini jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.“Jadi...” Catra akhirnya membuka suara.

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 113

    “Saudara... ya?” Langkah Catra terhenti sejenak.Beberapa meter di depannya, Damar sudah lebih dahulu berjalan meninggalkan Hutan Barat. Pria muda itu sama sekali tidak menoleh, seolah kalimat yang baru saja diucapkannya bukan sesuatu yang besar.Namun bagi Catra, kalimat itu terasa berbeda.“Saudara...” Catra mengulanginya pelan. Di balik topeng hitamnya, sepasang matanya memandang kosong ke arah punggung Damar.Sudah berapa lama ia tidak mendengar kata itu?Sejak pembantaian atas keluarganya belasan tahun lalu, ia sudah melupakan kata itu, karena saudara satu-satunya yang Catra miliki sudah meninggal sejak itu juga, setidaknya begitulah yang ia yakini.Catra tersenyum tipis, namun senyum itu tidak bertahan lama. Ada kesedihan yang tersembunyi di balik matanya, sebelum ia tersadar dan perlahan mengepalkan tangan.Tidak.Ia tidak ingin kembali tenggelam dalam kenangan itu,

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 112

    Hutan Barat kembali dipenuhi ketegangan. Angin yang sebelumnya bergerak lembut kini terasa seolah berhenti. Daun-daun yang bergoyang perlahan di atas kepala mereka menciptakan suara berdesir yang justru membuat suasana semakin mencekam.Catra berdiri dengan kedua kaki kokoh menapak tanah. Di hadapannya, pria berjubah hitam itu masih menggenggam pedang dengan satu tangan.Namun ada sesuatu yang berubah, tatapan dingin di balik topengnya tidak lagi hanya tertuju pada Catra sebagai seorang musuh. Tatapan itu kini tertuju pada tanda tengkorak yang terlihat di punggung Catra.“Dari mana kau mendapatkannya?”Pertanyaan itu kembali terdengar.Catra mengerutkan kening, ia tidak mengerti mengapa pria tersebut tiba-tiba tertarik pada tanda lahir di tubuhnya. Namun setelah beberapa saat berpikir, Catra akhirnya menjawab dengan jujur.“Itu?” Ia sedikit memiringkan tubuh, berusaha melihat bagian punggungnya sendiri.“Tanda lahir.”

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status