Share

Bab 29

Author: SWEET_OWL
last update publish date: 2026-07-10 18:00:53

Di jalanan hutan, saat hari beranjak petang, seorang wanita bercadar yang tak lain Sekar Arum sedang melanjutkan perjalanannya. Sudah dua hari sejak ia tahu sedang menjadi incaran pasukan Pembunuh Bayang Darah.

Awalnya semua terlihat baik-baik saja, namun beberapa saat kemudian gadis itu meningkatkan kewaspadaannya.

Pandangannya mengarah pada semak belukar yang tak jauh dari sana. "Keluarlah, aku sudah menemukan tempat persembunyian kalian!"

Angin menghempas cukup k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 29

    Di jalanan hutan, saat hari beranjak petang, seorang wanita bercadar yang tak lain Sekar Arum sedang melanjutkan perjalanannya. Sudah dua hari sejak ia tahu sedang menjadi incaran pasukan Pembunuh Bayang Darah.Awalnya semua terlihat baik-baik saja, namun beberapa saat kemudian gadis itu meningkatkan kewaspadaannya.Pandangannya mengarah pada semak belukar yang tak jauh dari sana. "Keluarlah, aku sudah menemukan tempat persembunyian kalian!"Angin menghempas cukup kencang, bersamaan muncul empat orang dari balik semak-semak, menghadang jalan Sekar Arum. Di tangan mereka tersemat golok-golok tajam yang sedang dihunuskan ke arahnya."Pasukan Pembunuh Bayang Darah?" Sekar Arum menyipitkan alisnya. "Kalian benar-benar dapat menemukan jejakku?" sambungnya lagi."Memangnya siapa yang bisa menutupi jejaknya dari pasukan Pembunuh Bayang Darah? Ketika kami menargetkan seseorang, maka di ujung dunia sekalipun kami akan menemukannya!" balas salah se

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 28

    Pagi-pagi sekali Melati, Arya, dan Chitra mengantar Sekar Arum di halaman depan karena gadis itu memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya. Sementara Catra tidak terlihat lagi karena ia sudah pamitan terlebih dahulu semalam untuk berangkat.Sebelumnya Catra ingin membantu keluarga Chitra menuntaskan masalah dengan keluarga Suroso, dengan membunuh pria itu. Namun, Chitra menolaknya karena Suroso bukanlah orang sembarangan. Chitra akan mencari cara lain agar terbebas dari teror Suroso dan antek-anteknya.Suroso memiliki banyak kolega yang bekerja di istana, Chitra tidak mau Arya menjadi buronan kerajaan jika membunuhnya. Sebab itulah Catra memilih pergi karena tak ada lagi yang bisa dilakukannya.Sekar Arum juga tak berniat menghadiri acara pernikahan Arya dan Melati, walaupun Melati memintanya untuk tetap tinggal. Sekar beralasan kalau harus segera melanjutkan amanah yang diberikan mendiang mahagurunya."Hati-hati di jalan, Sekar. Maaf tidak bisa

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 27

    Arya dan Sekar Arum ditempatkan dalam ruangan yang sama, namun berbaring di tempat tidur berbeda. Melati tidak khawatir meninggalkan mereka berdua saja karena sebenarnya Arya dan Sekar Arum masih memiliki hubungan, begitu juga dengan Melati yang mengenal gadis itu.Di kamar tempat mereka beristirahat, Sekar Arum sudah bisa berdiri meskipun tubuhnya masih lemah. Arya juga sudah sadarkan diri, ia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pulih karena tenaga dalamnya di bawah milik Sekar Arum."Sekar, kau mau kemana?" Arya menghentikan langkah Sekar Arum yang hampir saja keluar dari ruangan itu."Aku harus pergi! Aku tidak bisa lama-lama di sini. Kalau 'orang-orang itu' menemukan keberadaanku, maka semuanya akan dalam bahaya." Sekar Arum berjalan tertatih-tatih.Melihat itu Arya ingin menghentikannya, namun malah terjatuh dari ranjang karena tubuhnya yang masih sangat lemah."Kakang Arya," Sekar Arum setengah berlari, membantu Arya untuk kemba

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 26

    Melati mengangkat kepala Arya ke pangkuannya dengan terisak tangis. Ia menunggu Arya yang belum kunjung sadarkan diri.Catra melakukan hal serupa pada Sekar Arum. Ia menatap wajahnya lekat, entah mengapa ada sebuah perasaan asing yang muncul di hatinya. Catra tidak pernah merasakan sebelum ini, namun sensasinya begitu berbeda, seolah-olah ia ingin menjaga gadis itu sepanjang hidupnya.Catra tidak tahu kalau di hatinya sudah tumbuh benih-benih cinta pada pandangan pertama!Pemuda itu mendorong tubuhnya ke belakang karena merasa kaget saat melihat Sekar Arum yang tiba-tiba membuka mata, sehingga suasana menjadi canggung."Terima kasih sudah membantuku!" Sekar Arum perlahan bangkit dan mengucapkan terima kasih kepada Catra karena sebelum pingsan ia bisa melihat Catra yang mencoba membantunya.Catra tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepala. Ia lalu bangkit untuk meninggalkan tempat itu. Namun suara seseorang tiba-tiba menghentikan langka

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 25

    "Kupikir siapa yang datang, ternyata anda, tuan Caraka? Tapi sepertinya aku salah dengar sebelumnya? Bukankah kita sudah sepakat tidak ada dendam lagi?" Lembu Ireng memasang senyuman ramah di hadapan Catra yang sudah menunjukkan batang hidungnya. Sebenarnya ia merasa kaget karena pemuda ini belum juga mati setelah menerima racun darinya."Apakah ia adalah seorang tabib? Atau dirinya memiliki penawar racunku?" Lembu Ireng larut dalam tebakannya sendiri.Catra tidak menggubrisnya. Ia sudah jengah dengan sikap Lembu Ireng yang bermuka dua.Sebenarnya jika tidak diperlukan Catra enggan ikut campur masalah ini karena akan merepotkan. Namun, akhirnya ia memilih untuk turun tangan setelah melihat kelicikan Lembu Ireng.Ia tidak bisa membiarkan orang-orang seperti Lembu Ireng terus menyebarkan kejahatan, mengingat pesan dari kakek gurunya. Sebenarnya ada alasan lain Catra memutuskan untuk membantu, tapi ia tidak mengakui hal tersebut. Pandangannya hanya t

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 24

    "Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, tapi aku akan menahannya sampai masalah ini selesai!" Wanita bercadar mengalihkan pandangannya ke arah rombongan yang sudah mengepung mereka. Setidaknya sudah ada puluhan anak buah Suroso yang berkumpul di sana, termasuk Lembu Ireng dan kawanannya.Warga kota yang menyadari sebentar lagi akan terjadi pertarungan berdarah mulai berhamburan meninggalkan tempat itu. Tidak ada lagi yang berniat tinggal di sana, mereka berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing."Tuan, ayo tinggalkan tempat ini." ajak pemilik warung, namun Catra menolaknya secara halus dan meminta pria tua itu untuk pergi sendirian saja.Catra memang tidak ingin ikut campur, namun ia juga mau menyaksikan pertarungan itu, jadi lebih memilih untuk menonton dari kejauhan. Ia mengambil jarak yang masih bisa mendengar seluruh percakapan mereka dengan jelas."Kuakui kau adalah pendekar yang tangguh, tapi aku ingin lihat bagaimana kau akan menghad

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status