เข้าสู่ระบบSetelah tawanya mereda, Rangga menarik napas panjang lagi. Wajahnya masih sisa frustasi, tapi sekarang lebih ke lelah.
Dia menatap Wira. “Wir, gue anak kos. Gue kerja serabutan, gue kuliah. Gue gak bisa nerima orang lain di kosan gue. Makan aja kadang masih nyicil.” Wira diam, lalu bertanya tenang, “Apa itu kosan, kuliah, dan serabutan?” Rangga menghela napas lagi. “Tempat tinggal gue itu kecil, sempit, namanya kosan.” Dia menggerakkan tangannya, mencoba menggambarkan bentuk ruangan. “Kuliah itu belajar. Dan gue gak punya duit banyak buat nampung orang.” Dia menunjuk ke arah Wira. “Apalagi lu.” Wira mengangguk pelan, lalu berkata, “Aku bisa menahan diri untuk tidak makan. Aku hampir mencapai Dharmasraya.” Tangannya ikut bergerak mengikuti penjelasan Rangga, tapi malah jadi aneh dilihat. Rangga menggaruk kepalanya. “Apaan lagi itu dharma apa sih… pokoknya gue gak bisa lu ikut gue. Paham?” Wira diam beberapa detik, lalu mengangguk. Dia berdiri. Lalu mulai melepas bajunya. Rangga langsung panik. “Woi, woi, woi—stop! Lu mau ngapain?!” Dia celingak-celinguk. Beberapa orang sudah mulai memperhatikan. “Pake lagi, cepet pake! Astaga… lu mau ngapain sih?!” Wira berhenti, lalu memakai bajunya kembali. “Ini pakaianmu,” katanya tenang. “Kau bilang tidak bisa menerima aku, maka akan kukembalikan.” Rangga langsung menutup wajahnya. “Gak gitu juga…” gumamnya. “Aduh, gue susah banget ngomongnya…” Dia menarik napas lagi, lalu berkata pelan tapi tegas. “Udah gini aja. Lu bebas mau ke mana. Tapi jangan ikutin gue lagi. Tolong.” Rangga berdiri. Dia baru mau berbalik untuk pergi, Langkahnya berhenti. Dari ujung jalan, sekelompok orang datang. Beberapa wajah langsung dia kenali. Salah satunya memegang pipinya, menunjuk ke arah Rangga. Rangga langsung bergumam pelan. “Mampus gue.” Wira ikut berdiri, menoleh ke arah yang sama. Orang-orang itu mendekat, membawa balok, batu, bahkan ada yang menggenggam senjata tajam. Orang-orang di sekitar langsung sadar. Tanpa banyak suara, mereka menjauh. Beberapa buru-buru pergi. Tukang kopi langsung membereskan dagangannya dan cabut tanpa menoleh lagi. Suasana berubah dalam hitungan detik. Salah satu preman yang paling depan, yang memegang balok, menunjuk ke arah Rangga. “Woi, diem di situ lu.” Dia berjalan makin dekat, wajahnya garang. Rangga refleks mundur, lalu menabrak Wira di belakangnya. Tanpa mikir, dia langsung geser dan bersembunyi di belakang punggung Wira. “Liat tuh… yang tadi manggil temen-temennya,” bisiknya cepat. Wira menoleh sedikit, melihat Rangga yang jelas ketakutan, lalu mengalihkan pandangan ke depan. Matanya menangkap balok, batu, dan senjata tajam di tangan mereka. “Preman?” katanya pelan. “Bandit maksudmu?” “Iya,” jawab Rangga cepat. “Bandit, penjagal, pemalak, kriminal.” Dia mengangguk-angguk sambil menunjuk ke arah mereka. Wira melangkah maju beberapa langkah, berdiri di antara Rangga dan kelompok itu. Sekitar sepuluh orang kini mendekat. Salah satu dari mereka menunjuk. “Bang Cokro, dia yang nabok kita, bang.” Pria paling depan—Cokro—menatap Wira dari atas ke bawah. “Siapa lu?” katanya dingin. “Jagoan di sini, hah? Ini wilayah gue.” Wira tidak menjawab. Dia langsung melangkah dengan cepat. Cokro bahkan belum sempat mengangkat baloknya ketika tamparan itu mendarat di pipinya. Suara benturannya keras. Tubuhnya terpental ke belakang dan ditangkap oleh orang di belakangnya. “Anjing—!” teriak salah satu. Yang lain langsung maju bersamaan. Dari belakang, Rangga hanya bisa melongo. “Anjir… itu Batman beneran…” Wira bergerak tenang di tengah mereka. Satu langkah, satu gerakan. Setiap orang yang mendekat mendapat satu tamparan. Ayunan balok meleset, tusukan senjata tajam tidak pernah kena. Satu per satu jatuh. Tidak sampai satu menit, semuanya sudah terkapar di aspal, memegangi pipi mereka. Beberapa gigi berserakan di tanah. Rangga langsung teriak, matanya berbinar. “Wah gila… keren lu, Wir.” Dia maju beberapa langkah, tapi tetap setengah bersembunyi di belakang Wira. “Mampus lu,” katanya ke para preman. “Makanya jangan malak-malak.” Cokro, yang pertama kena, langsung jatuh bersujud di depan Wira. “Ampun, bang… maap, bang… saya gak tau abang…” Dia menoleh ke belakang, langsung menunjuk salah satu temannya. “Woi, Kampret, sini lu. Gara-gara lu nih.” Wira menatapnya. “Kenapa kau kesini?” Cokro langsung menunduk lagi. “Maap, bang… saya disuruh sama dia. Katanya abang jambret mereka.” Rangga langsung nyaut. “Jambret apaan? Gue yang mau dipalak, kok jadi gue yang jambret?” Cokro menoleh ke Rangga, wajahnya panik. “Saya gak tau, bang… itu kata mereka. Maap, bang… maap…” Rangga menghela napas. “Udah, Wir. Kita pergi aja. Daripada makin rame.” Dia melirik sekitar. Beberapa orang mulai berhenti, memperhatikan dari kejauhan. Wira menoleh ke Rangga. “Apa itu jambret dan palak?” Rangga menjawab cepat. “Jambret itu ngambil harta orang secara paksa.” Wira mengangguk pelan, lalu berbalik ke arah para preman. “Serahkan hartamu kepadaku sekarang.” Cokro dan Rangga sama-sama menoleh. “Haaah?” Wira tetap menatap datar. “Serahkan sekarang. Atau kupatahkan setiap tulang tubuhmu.” Cokro langsung menegang. Dia menoleh ke belakang. “Woi… keluarin semuanya!” Tanpa banyak bantah, para preman langsung mengeluarkan isi kantong mereka. Uang, handphone, bahkan ada yang melepas gelang dan kalung emas. Cokro menyodorkan semuanya dengan tangan gemetar. “Cuma segini, bang… ini aja yang ada…” Wira mengambil semuanya, lalu berbalik ke Rangga. “Sekarang aku punya harta untuk tinggal denganmu, kan?” Rangga masih melongo. Dia bergantian melihat ke arah preman, ke barang di tangan Wira, lalu ke wajah datarnya. “…Ini… apaan lagi sih…” Beberapa orang mulai mendekat, jelas penasaran. Rangga langsung sadar. “Cabut dulu. Sekarang. Buruan.” Dia langsung berbalik dan lari menjauh. Wira mengikuti di belakangnya. Rangga berlari cukup jauh dari tempat tadi, sampai akhirnya berhenti di trotoar. Napasnya terengah, dadanya naik turun tidak beraturan. “Haah… haah…” Dia batuk kecil. “Gue mau healing… malah lari mulu dari tadi…” Dia menoleh ke belakang. Wira sudah berdiri di sana, menatapnya seperti biasa. “Sekarang bisa, kan?” katanya datar, sambil menyodorkan barang-barang hasil rampasan tadi. Rangga menatap barang itu. Uang, handphone, perhiasan. Dia diam beberapa detik. Di kepalanya cuma satu kesimpulan: orang ini jelas gak normal… tapi juga jelas bukan orang yang bisa dianggap enteng. Rangga menelan ludah. “Lu… gak ngapa-ngapain gue, kan?” Wira mengernyit sedikit. “Apa maksudmu?” Rangga menunjuk ke arah belakang, ke arah para preman tadi. “Lu gak bakal gebukin gue kayak mereka, kan?” Wira menjawab tenang. “Aku tidak akan mengkhianati kebaikanmu dan kehormatanku.” Rangga menatapnya lama, lalu menghela napas. “Fix… lu masuk kategori delusi grandiosity.” Dia menunjuk barang di tangan Wira. “Lu pegang dulu itu.” Rangga menoleh ke jalan, memperhatikan kendaraan yang lewat. “Kita cari bus dulu. Gue mau pulang.” Dia melangkah ke pinggir jalan, mengangkat tangan, mencoba menghentikan bus yang lewat menuju arah kosannya.Beberapa bulan kemudian. Apa yang awalnya hanya obrolan iseng di bale rumah Rangga akhirnya benar-benar berdiri.Bukan padepokan biasa. Bukan juga sekolah biasa. Melainkan sesuatu yang aneh berada di tengah-tengah keduanya.Bangunannya luas. Beberapa rumah di sekitar sudah berubah fungsi menjadi ruang belajar, asrama, area latihan, dan kebun. Di salah satu papan besar dekat gerbang bahkan terpampang jadwal.Meditasi Dasar, Biologi Dasar, Pemahaman Alam, Latihan Fisik, Teknik DasarYang membuat banyak orang dunia bawah mengernyit setiap kali membacanya.Pagi itu, di rumah utama. Rangga berdiri di depan cermin ruang tamu memakai kemeja rapi. Rambutnya sudah disisir meski ekspresinya tetap terlihat tidak rela.Di belakangnya, Wira duduk santai sambil minum teh mint dan Rangga menatap pantulan dirinya sendiri cukup lama lalu menghela napas.“Anjir... Gue jadi kepala sekolah sekarang.” Dia memiringkan kepalanya. “Ini pake izi
Rangga turun dari bale dengan senyum yang membuat Wira langsung menggeleng pelan. Di teras, Kael, Sena, Lendra, Tora, Agung, dan Putra masih sibuk main monopoli. Agung lagi debat sama Putra soal uang sewa.“Itu tanah gue.”“Lah lu lewat situ ya bayar.”“Korupsi lu.”“Ngawur.”Rangga berdiri di belakang mereka beberapa detik lalu bertanya santai.“Lu pada darimana main monopoli?”Agung nengok.“Ya dari tadi nyet. Kenapa?”Rangga mengangguk.“Mending bantuin gue.”Hening dan Agung langsung geleng.“Gamau.”Putra lebih cepat lagi.“Ogah.”Rangga langsung menunjuk Agung.“Oke... Mulai sekarang tugas kuliah lu kerjain sendiri.”Agung membeku lalu Rangga melanjutkan.“Sampai skripsi, isi SPSS sendiri... Trua analisis sendiri. Interpretasi sendiri... Gue ga bantu lu lagi.”“YAH, KAMPRET LAH.”Agung langsung berdiri.“Jangan gitu lah nyet... Lu tau
Seminggu kemudian, Rangga duduk di bale kayu depan rumahnya sambil memandangi jalan kampung. Atau lebih tepatnya bekas jalan kampung.Karena dalam beberapa hari terakhir, suasana di sekitar rumahnya berubah drastis. Mobil pickup keluar masuk hampir setiap hari.Warga yang rumahnya berada di sekitar area Rangga satu per satu pindah setelah menerima penawaran harga yang bahkan menurut mereka sendiri terlalu tinggi untuk ditolak.Ada yang pindah ke kompleks baru, ada yang beli rumah lebih besar, qda yang langsung pensiun dini dan sekarang beberapa dari mereka masih melambai ramah setiap kali lewat.“Mas Rangga! Terima kasih ya!”Rangga membalas lambaian itu dengan senyum yang terlihat terpaksa.“Iya pak…”Mobil pickup itu pergi dan Rangga kembali menatap kosong ke depan. Di kejauhan terdengar suara.BRRRRRM.Sebuah alat berat sedang merobohkan rumah yang baru dibeli beberapa hari lalu.Debu beterbangan, tru
Ruangan kembali tenang setelah Gayatri selesai membaca perkamen itu, semua orang terdiam beberapa saat. Masing-masing mencerna informasi yang baru saja mereka kumpulkan.Akhirnya Aditya menghela napas pelan.“Setidaknya sekarang kita tahu satu hal.”Gayatri mengangguk.“Jalur yang ditempuh berbeda.”Asturi menambahkan pelan.“Dan perbedaannya bukan sekadar nama tingkatan... Fondasinya memang berbeda sejak awal.”Rangga mengangguk.“Nah itu. Kalau sekarang sih paling kita baru tahu bedanya dimana. Tapi kenapa bisa begitu? Dan kenapa berubah?”Dia mengangkat bahu.“Belum tahu.”Aditya tersenyum kecil.“Itu sudah lebih banyak daripada yang kami ketahui selama puluhan tahun.”Gayatri pun mengangguk setuju. Untuk pertama kalinya sejak lama Mandala Gupta mendapatkan petunjuk yang benar-benar masuk akal.Rangga lalu berkata santai.“Yaudah... Nanti kalau saya tahu lagi, saya kabarin pakde.”
Ruangan langsung menjadi jauh lebih serius setelah hasil Gayatri keluar. Karena kalau alat ini benar, maka Grandmaster modern ternyata hanya setara tingkat kelima.Sadhaka.Dan itu membuat seluruh asumsi mereka selama ini mulai goyah.Asturi yang sejak tadi diam memperhatikan akhirnya bersandar sedikit.“Kalau begitu… saya juga ingin mencobanya.”Rangga langsung mengangguk.“Boleh bu. Tapi sama ya, sakit kalau udah lewat batas.”Asturi tersenyum kecil.“Saya rasa saya bisa menahannya.”Dia mengulurkan telapak tangannya ke atas meja dan Rangga mulai lagi.Satu lidi.CTAS.Tidak ada reaksi.Dua. CTAS. Tiga. CTAS. Empat. CTAS dan Asturi masih terlihat santai.Lima.CTASSS.Tubuh Asturi sedikit tersentak. Mata indahnya langsung menyipit.“…!”Tangannya refleks bergerak sedikit ke belakang. Rasa sakit yang tajam itu muncul sesaat lalu menghilang.
Rangga mengangkat ikatan sapu lidi itu sedikit lebih tinggi.“Ini buat ngetes.”Hening.Gayatri, Asturi, dan Aditya tetap memperhatikan benda itu dengan ekspresi yang kurang lebih sama, mereka bingung.Karena setelah semua pembicaraan tentang Dharmasraya dan kanuragan kuno, alat tes yang keluar justru sapu lidi. Rangga sendiri santai.“Katanya tiap lidi mewakili satu tingkatan.”Lalu dia menunjuk Gayatri.“Tante tingkat berapa?”Gayatri mengernyit.“Kalau klasifikasi modern... Grandmaster.”Rangga mengangguk lalu menoleh ke Asturi.“Kalau bu Asturi?”Asturi tersenyum kecil.“Sama. Saya Grandmaster.”Rangga lalu menoleh ke Aditya.“Kalau pakde?”Aditya menjawab tenang.“Anuttara.”Agung yang duduk di belakang langsung refleks bicara.“Lho? Bukannya kata Pak Hendro Anuttara itu udah paling tinggi?”Aditya tersenyum tipis.“Untuk sistem modern.
Beberapa hari berlalu.Tekanan tidak berkurang—justru makin terasa.Pagi itu, Pak Surendra baru saja kembali ke kantornya setelah pertemuan langsung dengan keluarga Krisnapati. Wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya, tapi juga… lebih pasti.Begitu duduk, dia langsung menekan interkom.“Masuk.”
Ki Arjuna dan Ki Bratasena terus berlari menembus hutan, langkah mereka cepat tapi tidak lagi teratur.“Anak-anak itu bukan anak biasa,” kata Ki Arjuna sambil menahan napas.Ki Bratasena mengangguk, wajahnya masih tegang.“Tidak ada yang normal dari mereka.”Mereka terus bergerak, menyingkirkan ran
Di dalam hutan, tidak jauh dari goa.Ki Bratasena berdiri diam, tangannya di belakang punggung. Di depannya, Ki Arjuna baru saja datang. Wajahnya masih tegang, tapi matanya tajam.“Bagaimana?” tanya Ki Arjuna singkat.Ki Bratasena tidak langsung menjawab. Dia menoleh sedikit, seolah mengingat sesua
Mereka akhirnya pulang, membawa tiga bungkus nasi goreng dan beberapa kopi sachet.Sampai di kosan, Rangga langsung melihat Wira duduk bersila di depan pintu. Pintu terbuka, tapi lampu masih mati semua.Rangga turun dari motor.“Wir, udah jam segini, lu gak nyalain lampu sih?”Agung ikut turun samb







