Share

5. Gue Anak Kos

Author: SleepyFace
last update publish date: 2026-05-01 20:33:48

Setelah tawanya mereda, Rangga menarik napas panjang lagi. Wajahnya masih sisa frustasi, tapi sekarang lebih ke lelah.

Dia menatap Wira.

“Wir, gue anak kos. Gue kerja serabutan, gue kuliah. Gue gak bisa nerima orang lain di kosan gue. Makan aja kadang masih nyicil.”

Wira diam, lalu bertanya tenang, “Apa itu kosan, kuliah, dan serabutan?”

Rangga menghela napas lagi.

“Tempat tinggal gue itu kecil, sempit, namanya kosan.” Dia menggerakkan tangannya, mencoba menggambarkan bentuk ruangan. “Kuliah itu belajar. Dan gue gak punya duit banyak buat nampung orang.”

Dia menunjuk ke arah Wira.

“Apalagi lu.”

Wira mengangguk pelan, lalu berkata, “Aku bisa menahan diri untuk tidak makan. Aku hampir mencapai Dharmasraya.”

Tangannya ikut bergerak mengikuti penjelasan Rangga, tapi malah jadi aneh dilihat.

Rangga menggaruk kepalanya.

“Apaan lagi itu dharma apa sih… pokoknya gue gak bisa lu ikut gue. Paham?”

Wira diam beberapa detik, lalu mengangguk. Dia berdiri. Lalu mulai melepas bajunya.

Rangga langsung panik.

“Woi, woi, woi—stop! Lu mau ngapain?!”

Dia celingak-celinguk. Beberapa orang sudah mulai memperhatikan.

“Pake lagi, cepet pake! Astaga… lu mau ngapain sih?!”

Wira berhenti, lalu memakai bajunya kembali.

“Ini pakaianmu,” katanya tenang. “Kau bilang tidak bisa menerima aku, maka akan kukembalikan.”

Rangga langsung menutup wajahnya.

“Gak gitu juga…” gumamnya. “Aduh, gue susah banget ngomongnya…”

Dia menarik napas lagi, lalu berkata pelan tapi tegas.

“Udah gini aja. Lu bebas mau ke mana. Tapi jangan ikutin gue lagi. Tolong.”

Rangga berdiri. Dia baru mau berbalik untuk pergi, Langkahnya berhenti. Dari ujung jalan, sekelompok orang datang.

Beberapa wajah langsung dia kenali. Salah satunya memegang pipinya, menunjuk ke arah Rangga.

Rangga langsung bergumam pelan.

“Mampus gue.”

Wira ikut berdiri, menoleh ke arah yang sama. Orang-orang itu mendekat, membawa balok, batu, bahkan ada yang menggenggam senjata tajam.

Orang-orang di sekitar langsung sadar. Tanpa banyak suara, mereka menjauh. Beberapa buru-buru pergi. Tukang kopi langsung membereskan dagangannya dan cabut tanpa menoleh lagi.

Suasana berubah dalam hitungan detik. Salah satu preman yang paling depan, yang memegang balok, menunjuk ke arah Rangga.

“Woi, diem di situ lu.”

Dia berjalan makin dekat, wajahnya garang.

Rangga refleks mundur, lalu menabrak Wira di belakangnya. Tanpa mikir, dia langsung geser dan bersembunyi di belakang punggung Wira.

“Liat tuh… yang tadi manggil temen-temennya,” bisiknya cepat.

Wira menoleh sedikit, melihat Rangga yang jelas ketakutan, lalu mengalihkan pandangan ke depan. Matanya menangkap balok, batu, dan senjata tajam di tangan mereka.

“Preman?” katanya pelan. “Bandit maksudmu?”

“Iya,” jawab Rangga cepat. “Bandit, penjagal, pemalak, kriminal.”

Dia mengangguk-angguk sambil menunjuk ke arah mereka.

Wira melangkah maju beberapa langkah, berdiri di antara Rangga dan kelompok itu.

Sekitar sepuluh orang kini mendekat. Salah satu dari mereka menunjuk.

“Bang Cokro, dia yang nabok kita, bang.”

Pria paling depan—Cokro—menatap Wira dari atas ke bawah.

“Siapa lu?” katanya dingin. “Jagoan di sini, hah? Ini wilayah gue.”

Wira tidak menjawab. Dia langsung melangkah dengan cepat.

Cokro bahkan belum sempat mengangkat baloknya ketika tamparan itu mendarat di pipinya. Suara benturannya keras.

Tubuhnya terpental ke belakang dan ditangkap oleh orang di belakangnya.

“Anjing—!” teriak salah satu.

Yang lain langsung maju bersamaan. Dari belakang, Rangga hanya bisa melongo.

“Anjir… itu Batman beneran…”

Wira bergerak tenang di tengah mereka. Satu langkah, satu gerakan. Setiap orang yang mendekat mendapat satu tamparan. Ayunan balok meleset, tusukan senjata tajam tidak pernah kena.

Satu per satu jatuh.

Tidak sampai satu menit, semuanya sudah terkapar di aspal, memegangi pipi mereka.

Beberapa gigi berserakan di tanah. Rangga langsung teriak, matanya berbinar.

“Wah gila… keren lu, Wir.”

Dia maju beberapa langkah, tapi tetap setengah bersembunyi di belakang Wira.

“Mampus lu,” katanya ke para preman. “Makanya jangan malak-malak.”

Cokro, yang pertama kena, langsung jatuh bersujud di depan Wira.

“Ampun, bang… maap, bang… saya gak tau abang…”

Dia menoleh ke belakang, langsung menunjuk salah satu temannya.

“Woi, Kampret, sini lu. Gara-gara lu nih.”

Wira menatapnya.

“Kenapa kau kesini?”

Cokro langsung menunduk lagi.

“Maap, bang… saya disuruh sama dia. Katanya abang jambret mereka.”

Rangga langsung nyaut.

“Jambret apaan? Gue yang mau dipalak, kok jadi gue yang jambret?”

Cokro menoleh ke Rangga, wajahnya panik.

“Saya gak tau, bang… itu kata mereka. Maap, bang… maap…”

Rangga menghela napas.

“Udah, Wir. Kita pergi aja. Daripada makin rame.”

Dia melirik sekitar. Beberapa orang mulai berhenti, memperhatikan dari kejauhan. Wira menoleh ke Rangga.

“Apa itu jambret dan palak?”

Rangga menjawab cepat.

“Jambret itu ngambil harta orang secara paksa.”

Wira mengangguk pelan, lalu berbalik ke arah para preman.

“Serahkan hartamu kepadaku sekarang.”

Cokro dan Rangga sama-sama menoleh.

“Haaah?”

Wira tetap menatap datar.

“Serahkan sekarang. Atau kupatahkan setiap tulang tubuhmu.”

Cokro langsung menegang. Dia menoleh ke belakang.

“Woi… keluarin semuanya!”

Tanpa banyak bantah, para preman langsung mengeluarkan isi kantong mereka. Uang, handphone, bahkan ada yang melepas gelang dan kalung emas.

Cokro menyodorkan semuanya dengan tangan gemetar.

“Cuma segini, bang… ini aja yang ada…”

Wira mengambil semuanya, lalu berbalik ke Rangga.

“Sekarang aku punya harta untuk tinggal denganmu, kan?”

Rangga masih melongo. Dia bergantian melihat ke arah preman, ke barang di tangan Wira, lalu ke wajah datarnya.

“…Ini… apaan lagi sih…”

Beberapa orang mulai mendekat, jelas penasaran. Rangga langsung sadar.

“Cabut dulu. Sekarang. Buruan.”

Dia langsung berbalik dan lari menjauh. Wira mengikuti di belakangnya.

Rangga berlari cukup jauh dari tempat tadi, sampai akhirnya berhenti di trotoar. Napasnya terengah, dadanya naik turun tidak beraturan.

“Haah… haah…” Dia batuk kecil. “Gue mau healing… malah lari mulu dari tadi…”

Dia menoleh ke belakang. Wira sudah berdiri di sana, menatapnya seperti biasa.

“Sekarang bisa, kan?” katanya datar, sambil menyodorkan barang-barang hasil rampasan tadi.

Rangga menatap barang itu. Uang, handphone, perhiasan. Dia diam beberapa detik.

Di kepalanya cuma satu kesimpulan: orang ini jelas gak normal… tapi juga jelas bukan orang yang bisa dianggap enteng.

Rangga menelan ludah.

“Lu… gak ngapa-ngapain gue, kan?”

Wira mengernyit sedikit.

“Apa maksudmu?”

Rangga menunjuk ke arah belakang, ke arah para preman tadi.

“Lu gak bakal gebukin gue kayak mereka, kan?”

Wira menjawab tenang.

“Aku tidak akan mengkhianati kebaikanmu dan kehormatanku.”

Rangga menatapnya lama, lalu menghela napas.

“Fix… lu masuk kategori delusi grandiosity.”

Dia menunjuk barang di tangan Wira.

“Lu pegang dulu itu.”

Rangga menoleh ke jalan, memperhatikan kendaraan yang lewat.

“Kita cari bus dulu. Gue mau pulang.”

Dia melangkah ke pinggir jalan, mengangkat tangan, mencoba menghentikan bus yang lewat menuju arah kosannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pendekar Salah Zaman   117. Mampus Ada Macan Gede

    Semakin dekat ke arah air terjun, suara air mulai terdengar makin keras memenuhi hutan. Kabut tipis juga mulai muncul di sela pohon, bikin suasana sekitar jadi lebih dingin dan lembab.Langkah mereka otomatis melambat.Rangga yang paling depan akhirnya berhenti lalu nengok ke belakang.“Oke.”“Kayaknya udah deket.”Nada suaranya sekarang gak sesantai tadi.“Siap-siap aja.”Agung langsung refleks megang carrier.“Hah?”Rangga nyodorin tombak Nagasyama ke dia.“Nih.”“Lu pegang.”Agung langsung melongo.“Lah kok gue?”“Karena gue mau pake ini.”Rangga ngeluarin brass knuckle pemberian Kael dari tas samping lalu mulai masang ke kedua tangannya.Logam hitam itu langsung terasa berat dan dingin di tangan.Rendi ngeliat sambil nyengir.“Nah.”“Baru keliatan pendekar.”Rangga malah masih nyoba buka tutup tanganny

  • Pendekar Salah Zaman   116. Baru Kali Ini Gue Diserang Musang

    Mereka akhirnya duduk santai sambil ngopi depan tanah lapang itu. Setelah muter gak jelas seharian dan hampir nyasar permanen, suasana sekarang jauh lebih enak karena tujuan mereka akhirnya kelihatan jelas.Agung duduk selonjor sambil nyeruput kopi.“Beuh…”“Ini baru healing.”Rendi langsung nyaut.“Healing pala lu.”“Kaki gue mau copot.”Putra malah lagi buka cemilan sambil ngeliat air terjun di bawah.“Untung ketemu.”“Kalau enggak kita mungkin udah jalan ke Jawa Barat.”Rangga langsung ketawa kecil sambil ngaduk kopi.“Makanya percaya sama leader.”“LEADER PALSU.”Agung langsung teriak.Tidak lama kemudian Agung berdiri sambil garuk perut.“Bentar gue kencing dulu.”“Jangan jauh-jauh.”“Iya emak.”Agung jalan santai ke pinggir area hutan dekat tebing kecil sambil masih nyeruput kopi.Beberapa detik sunyi lalu ti

  • Pendekar Salah Zaman   115. Navigasi Ala Rangga

    Pagi datang bersama kabut tipis dan udara dingin sisa hujan semalam. Tenda sudah dibongkar, carrier kembali dipasang rapi, dan mereka baru selesai sarapan mie plus kopi sachet yang rasanya jauh lebih enak di gunung.Rangga berdiri sambil masang carrier ke punggungnya.“Oke.”“Kita balik ke jalur sebelumnya.”“Terus lanjut ngikutin arah sungai.”Agung yang lagi ngencengin tali tas nengok.“Lu inget sebelah mana?”Rangga langsung jawab pede.“Ya sebelah sana lah.”Dia nunjuk satu arah.Lalu diem.Matanya muter lihat sekitar.Kabut.Pohon.Semak.Semuanya keliatan mirip.Rangga perlahan nurunin tangannya.“…bentar.”Putra langsung curiga.“Bang?”Rangga garuk kepala pelan.Karena dia baru sadar sesuatu.Kemarin habis bikin tenda dan makan, mereka langsung masuk gara-gara hujan deras. Dia bel

  • Pendekar Salah Zaman   114. Hujan dan Kentut Si Bangsat

    Mereka terus berjalan mendaki mengikuti arah sungai yang makin lama makin sempit dan berbatu. Langkah mereka sekarang jauh lebih pelan dibanding pagi tadi karena sejak kejadian ular itu, semua otomatis jadi sering nengok ke atas pohon.Agung bahkan jalan sambil sesekali megang kepala sendiri.“Nyet…”“Gue jadi trauma.”“Dikit-dikit liat dahan gue kira ular.”Putra masih memperhatikan sekitar dengan serius.“Yang tadi emang serem sih.”Rendi yang awalnya paling santai sekarang juga mulai lebih hati-hati waktu lewat akar pohon besar.Sementara Rangga tetap paling depan sambil sesekali nengok ke atas pohon.“Makanya jangan jalan mepet pohon gede.”“Kalau ada yang jatoh lagi males gue nusuk-nusuk.”Waktu terus jalan, matahari mulai turun lagi dan mereka masih belum sampai mana-mana.Rendi akhirnya mulai protes.“Anjir.”“Kita gak nyampe-nyampe.”Rangga l

  • Pendekar Salah Zaman   113. Mandala Gupta

    Jauh di depan jalur yang dilewati Rangga dan yang lain, suara air terjun menggema keras memenuhi hutan.Kabut tipis bercampur cipratan air menutupi area batu besar di sekitar sana.Dan di tempat itu—mayat bergelimpangan.Tubuh manusia berserakan di antara batu dan akar pohon. Ada yang tercabik, ada yang lehernya hampir putus, ada juga yang seperti dihantam sesuatu dengan kekuatan brutal.Bau darah memenuhi udara.Di tengah area itu berdiri seekor harimau besar dengan bulu loreng hitam keemasan dan mata merah menyala.Tubuhnya jauh lebih besar dari harimau biasa.Prananya menekan area sekitar seperti binatang buas purba.Siluman itu menggeram rendah sambil berdiri tepat di depan sebuah gua kecil dekat air terjun.Seolah menjaga sesuatu.“Grrrrrrr…”Sisa orang-orang yang tadi mencoba mendekat langsung mundur dengan wajah pucat.Salah satu dari mereka bahkan gemetar.

  • Pendekar Salah Zaman   112. Nah Kan Ada Ular

    Menjelang siang langkah mereka mulai melambat. Jalur makin gak jelas, akar pohon makin banyak melintang, dan carrier di punggung mulai terasa berat walaupun udara hutan masih cukup dingin.Lalu suara air mulai terdengar.“Eh.”Agung langsung nengok.“Denger gak?”Beberapa langkah kemudian mereka akhirnya menemukan aliran sungai kecil di sela pepohonan. Airnya jernih, mengalir deras turun melewati batu-batu besar dan akar pohon.Rangga langsung berhenti sambil ngelap keringat.“Nah.”“Kalau tujuannya air terjun…”Dia nunjuk arah aliran sungai.“…berarti tinggal ngikutin ini ke atas.”Rendi langsung semangat.“Lah gampang dong berarti.”Dia mau jalan mendekati sungai. Tapi belum sempat turun ke pinggir—“WOI JANGAN DEKET-DEKET.”Rangga langsung narik carrier Rendi dari belakang.“Apaan sih.”“Wilayah beginian banyak ular goblok.”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status